Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Salah Tingkah


__ADS_3

Shena terbangun akibat sentuhan sensual yang ia kira mimpi. Entah siapa yang memulai, yang pasti mereka tidur berpelukan tanpa mereka sadari. Tepatnya Elvino yang memeluk Shena dari belakang. Ia kedinginan karena semalaman, selimut di kuasai oleh Shena. 


Dalam keadaan panik, Shena segera memeriksa keadaan tubuhnya ke dalam selimut tersebut. Ternyata masih utuh, hanya saja bathrobe yang ia kenakan agak tergeser. "Elvino brengsek! Apa yang kamu lakukan, hah?" Shena beranjak dari ranjang dan membenarkan bathrobe yang ia kenakan.


"A-aku tidak melakukan apa pun, Shen. Maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja. Mungkin saja karena dingin jadi refleks aku memelukmu. Maaf, ya?" ujar Elvino.


"Tau … ah!" Shena segera bergegas menuju kamar mandi. Ia mengunci dan menyandarkan tubuh ke pintu. Napasnya tak beraturan. "Jantungku tidak aman jika terus begini. Huh, beginikah rasanya menjadi istri? Aku tidak bisa membayangkan jika kita … aaaaa tidak, tidak. Tenangkan dirimu Shen. Jadilah anggun seperti biasanya. Huh,” batin Shena. Ia segera mandi menyegarkan diri.


Sementara itu, di luar kamar mandi, Elvino bergerak gelisah mondar-mandir. Sebelum akhirnya sebuah deringan ponsel kembali terdengar mengalihkan perhatiannya. Ia segera memungut benda pipih tersebut dan menggeser tanda hijau.


"Hallo, Ma."


"Kamu ke mana aja, Sayang? Kenapa nggak pulang?"


Elvino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "A-aku di bengkel, Ma. Lembur, semalem ada mobil yang harus El selesaikan soalnya," kata Elvino berusaha menutupi. Ia berpikir, pernikahannya dengan Shena belum saatnya diketahui oleh kedua orang tuanya. Apalagi, posisinya saat ini masih sebagai suami Celia. Bisa dibabat habis sama ayahnya nanti jika mengetahui ia menikah tanpa sepengetahuan mereka.


"El … El? Dengar nggak Mama ngomong apa?"


"Ya, Ma. Ya sudah, Elvino mau cari sarapan dulu, ya Ma. Bye. Love you." Elvino menutup teleponnya dan mendapati muka asam Shena yang baru saja keluar dari kamar mandi. Shena kesal mendengar kata terakhir yang ia kira ditujukan terhadap Celia.


Tanpa mengucap kata apa pun, Shena berjalan melewati Elvino yang bingung. Dahinya berkerut. 


"Maaf, Shen soal tadi."

__ADS_1


"Berisik. Lebih baik kamu pergi saja sana. Temui istrimu tercinta sana! Aku cuma istri kedua yang tak layak kamu titik beratkan." Shena menggerutu lantas membuka koper yang dari kemarin belum ia buka. Matanya membola melihat isi dalam kopernya. Batinnya mengumpat karena isinya benda transparan semua di sana. "Ini pasti kerjaan Mama. Ish!" batinnya.


Sementara itu Elvino bingung dengan yang Shena katakan. Ia merasa ada yang janggal dengan perkataan Shena barusan. "Apakah aku melakukan kesalahan lain?" batinnya.


"Shen, aku—"


"Pergilah. Pergi!" sentak Shena mengusir Elvino. 


Akhirnya, Elvino menuruti permintaan Shena. Ia memakai kaosnya lalu berpamitan. "Aku pergi dulu, Shen. Barusan Mama telepon curiga karena aku tidak pulang."


Shena menghentikan aktivitasnya kemudian menoleh. "Jadi, tadi yang telepon mamamu?"


Elvino mengangguk mantap. Shena menepuk jidatnya karena salah paham. Ia merutuki kebodohannya yang cemburu tidak jelas. "Oh, ya sudah. Sa-sana pergi saja."


"Ma-mau apa kamu?" tanya Shena penuh waspada. Bukan karena apa, tapi Shena belum siap jika berdekatan se-intens ini dengan Elvino meski sudah berstatus suaminya. Ia masih beradaptasi dengan keadaan. Elvino kembali tersenyum lantas mengecup kening Shena seraya melirik ke arah koper. Menyadari arah mata Elvino, Shena menutup kasar koper tersebut dan tanpa sengaja tangan kirinya terjepit. Ia memekik kesakitan. "Aw–"


Elvino segera bergerak hendak membuka koper itu. Namun, di cegah oleh Shena.


"Tidak usah di buka. Pergi saja sana. He he." Shena salah tingkah di buatnya.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Nanti aku akan kembali ke sini siang. Kamu jangan ke mana-mana. Sarapan di dalam kamar aja nanti. Nggak usah ke bawah," pesan Elvino kemudian kembali mendaratkan bibir tipisnya ke dahi Shena. Hal itu membuat Shena membatu dan tersipu dibuatnya. Setelah mengatakan itu, Elvino melangkah keluar meninggalkan Shena yang masih mematung. Hingga suara pintu tertutup memulihkan kesadarannya.


"Aaaaa … mimpi apa aku ini?" pekik Shena sambil menggeleng-gelengkan kepala menghilangkan bayangan Elvino ketika menciumnya tadi.

__ADS_1


“Ke mana rasa benci dan kecewa itu? Bukankah seharusnya aku membencinya? Tapi kenapa aku malah salah tingkah dibuatnya? Jantungku terasa mau copot tiap kali wajah Elvino mendekatiku. Pesonanya memang sangat luar biasa, hingga aku tak dapat membencinya. Padahal luka yang dia berikan begitu mendalam. Semua luruh begitu saja, apa memang seharusnya aku memaafkan kesalahannya?” batin  Shena terus bergejolak saat menatap punggung Elvino yang semakin menjauh pergi dan keluar kamar hotel tersebut.


Di perjalanan menuju bengkel, Elvino tak henti bersenandung. Bayangan ekspresi Shena saat ia berpamitan sangatlah lucu. Sesekali terkekeh dan memukul setir mengekspresikan kebahagiaannya. "Menggemaskan sekali,” batinnya.


Sesampainya di bengkel, Elvino terkejut mendapati Celia yang tengah mengacaukan isi bengkelnya. Padahal, beberapa pengunjung sudah kulai mengantre di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, Elvino menarik tangan Celia dan membawa wanita tersebut menuju ruangannya. Ia mengunci pintu rapat-rapat.


"Apa-apaan sih kamu, Cel? Tidak lihatkah pengunjungku sedang memperhatikanmu bahkan ada yang dengan sengaja mengambil video brutalmu barusan?" cecar Elvino.


"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu secepat itu melayangkan gugatan cerai kepadaku? Tidak cukupkah waktu kita beberapa tahun ini bersama? Apakah aku tidak berarti di matamu?"


"Cukup! Berhenti mengungkit apa pun yang sudah terjadi. Itu pantas buatmu. Pengkhianatan memang tidak layak menerima kesempatan kedua. Aku tidak sudi berdampingan dengan wanita murahan sepertimu. Dengar ya, Cel. Sebagaimana pun kamu berusaha memohon bahkan tangis darah sekali pun aku sudah tidak peduli. Rasa cintaku sudah aku kubur sejak tahu kamu bermain dengan lelaki lain. Tidak hanya sekedar jalan, tetapi menyerahkan tubuh dengan gampang, sangat menjijikkan. Cuma lelaki bodoh yang mau menerima wanita murahan sepertimu."


"Tapi a—“


"Nggak usah ngomong panjang lebar karena itu akan sia-sia. Penjelasan apa pun tidak akan kuterima. Karena namanya perselingkuhan seperti hobi yang tak akan usai. Itu akan terus menerus kamu lakukan ketika kamu sudah melakukannya bahkan meski cuma sekali. Berhenti beromong kosong dan pergilah!" Elvino bergerak menuju sofa.


"Aku tidak mau, El. Aku masih sayang sama kamu." Celia memohon dan berlutut berharap Elvino luluh. Ia yakin Elvino tidak akan tega.


"Kamu yang pergi atau aku yang pergi. Berhentilah bersikap memelas karena aku tidak akan bersimpati lagi."


Celia menggeram dalam hati. Ia mengepalkan tangannya erat mendengar penuturan Elvino. "Baiklah. Aku akan pergi. Namun, kamu tidak akan bisa lepas dariku!" ancam Celia lalu beranjak dan pergi.


Sepeninggal Celia, Elvino lalu menelepon sang mama. Ia ingin menanyakan perihal pengajuan perceraian yang Celia katakan. Pasalnya, ia tak merasa mengajukan perceraian itu ke pengadilan. Ia terlalu sibuk dengan persoalan Shena dan Lucky hingga ia melupakan masalahnya dengan Celia. Usai menelepon, ia menghela napasnya. Ternyata benar, sang mamalah yang mengirimkan data-datanya dan Celia ke pengadilan untuk mengajukan gugatan. Ada sedikit kelegaan di hatinya mengingat perlakuan Celia yang tak akan ia maafkan. 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2