
Elvino tidak tahu kabar penangkapan Lucky sekarang. Dia hanya tahu kasus lelaki tua tersebut masih dalam proses penyelidikan dan begitu kebetulannya, penangkapan itu terjadi saat dirinya hendak melaksanakan pernikahan. Lelaki pesuruh Elvino yang sejak tadi menelepon dirinya pun sama sekali tak digubris karena dia fokus pada Shena. Padahal, orang suruhannya itu hendak mengabarkan jika Lucky telah ditangkap kepolisian.
"Oke kita ke sana! Ayo, Shen, El, kalian sudah siap kan?" Sandra berdiri dan ingin keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu dulu, Tan, Om! Bagaimana nanti saya melangsungkan ijab kabul sedangkan nama yang terdaftar adalah nama pria lain?" tegur Elvino yang mengingatkan.
"Oh, iya ya! Ah, gini saja!" Sandra tersadar dari ucapan Elvino, dia berpikir sejenak lalu membisikan kepada Bagaskara.
"Ayo, Pa, buruan!" pinta Sandra yang menyuruh suaminya untuk bicara terlebih dahulu kepada penghulu.
Shena dan Elvino hanya terdiam, belum mengerti maksud dari rencana Sandra dan Bagaskara. Mereka berdua hanya terdiam menunggu langkah selanjutnya. Ternyata Sandra menyuruh Bagaskara untuk berbicara pada penghulu, memberitahu bahwa mempelai pria bukanlah sesuai data yang sudah terdaftar.
Penghulu pun menanyakan data mempelai pria yang baru, dan memberitahu bahwa hanya bisa melangsungkan pernikahan siri. Bila ingin pernikahan kedua pasang tersebut resmi baik agama dan negara, mereka bisa mengajukan setelah menikah siri.
"Cepat kasih KTP kamu!" ucap Bagaskara ketus pada Elvino. Dia pusing jika masalah terlalu bertele-tele dan ingin cepat menyelesaikan agar tidak malu terhadap tamu yang sejak tadi riuh.
Mau tidak mau Elvino menyerahkan KTP pada penghulunya, dan pada saat dilihat, penghulunya sedikit terkejut. "Nak El, sudah menikah?”
Ucapan yang dilontarkan oleh penghulu tentu saja membuat Sandra dan Bagaskara terkejut mendengarnya. Shena yang mendengar hal tersebut hanya menarik napasnya pasrah ketika kedua orang tuanya melihat ke arahnya. Seberapa besar usahanya dalam ini menutupi identitas Elvino, ternyata hanya sia-sia. Pada akhirnya mereka tetap mengetahui semuanya.
"Iya, saya sudah menikah," ucap Elvino dengan berani berkata jujur.
"Brengsek! Jadi itu alasan kalian putus? Kamu berbohong kepada kita semua termasuk anak saya? Hah!" Bagaskara langsung mencengkeram kerah baju yang dipakai oleh Elvino.
"Pa, sabar!" Sandra berusaha melerai, penghulu hanya terdiam ,dia memberi waktu pada mempelai pria untuk menjelaskannya, sedangkan Shena yang melihat papanya marah hanya bisa terdiam.
"Bagaimana Papa bisa sabar? Dia sudah membohongi kita selama ini!" ucap Bagaskara yang masih emosi.
__ADS_1
"Tapi saya akan segera bercerai dengan istri saya, Om!" ujar Elvino dengan tegas dan berhasil membuat Shena terkejut begitu juga semua yang ada di ruangan itu.
"Sudah, sudah, sudah, maaf bukan saya mau ikut campur, tapi jadwal saya padat. Jadi bagaimana selanjutnya? Apa bisa kita lanjutkan atau batalkan saja?" tanya penghulu yang mencoba mencari jalan tengah.
"Lanjutkan!" ucap Sandra mantap.
Mendengar istrinya menjawab, Bagaskara lalu melepas cengkeramannya. Bola matanya masih menatap tajam ke arah Elvino. Dia tidak ada jalan pilihan lain, selain menikahkan anaknya dengan pria yang sudah beristri.
"Baik kalau begitu, kita langsungkan ijab kabul, ya!" ujar pak penghulu.
Bagaskara keluar bersama pak penghulu dan akan di susul oleh Shena, tapi belum sempat Elvino keluar, Sandra menarik tangan Elvino seraya berkata, "Saya tidak tahu masalah kamu dengan rumah tangga kamu, yang jelas saya peringatkan, jika perceraian kamu dengan istrimu terjadi, jangan pernah menyalahkan Shena sebagai penyebab perceraian itu!"
Mendengar hal tersebut, tentu saja Elvino memantapkan jawabannya sesuai dengan kenyataan yang sedang dialaminya saat ini. Bahkan, rusaknya rumah tangga itu, dia buka tanpa ditutup-tutupi.
"Saya janji, Tante. Saya tidak akan melibatkan Shena dalam masalah rumah tangga saya. Tidak mungkin juga saya menganggap Shena sebagai perusak kehancuran hubungan kami karena memang saya sudah memutuskan untuk bercerai dengan istri saya jauh hari sebelum saya tahu Shena akan menikah. Jadi Tante tidak perlu khawatir!" Elvino seakan memberikan kepercayaan kepada Sandra dan juga berbalik menatap Shena yang enggan membuka suara sejak tadi. Wanita itu seolah terumbang ambing dengan konflik pernikahannya sekarang.
"Bagaimana? Apakah sudah siap?" tanya penghulu kepada kedua mempelai dan orang tua Shena setelah mereka berada di kursi ijab kabul.
“Maharnya apa?”
Elvino tampak kebingungan dan terlihat berpikir. Shena yang melihatnya pun langsung tersadar akan hal itu. Kemudian, dengan cepat Shena melepas kalung pemberian Elvino hang dipakaikan di ruang ganti beberapa menit yang lalu.
“Pakai mahar ini. Ini asli, kan?” tanya Shena seraya memberikan kalung itu ke tangan Elvino di bawah meja.
El lalu mengangguk menatap Shena. Kemudian menyerahkan perhiasan tersebut pada penghulu.
“Perhiasan kalung berlian, Pak.”
__ADS_1
"Baik kalau begitu," ucap Penghulu yang mengulurkan tangannya seraya mengucapkan bacaan yang akan mengantarkan Shena dan Elvino sah sebagai pasangan suami istri.
"Saya terima nikah dan kawinya Shena Dea Allona binti Bagaskara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Suara Elvino yang mengucapkan ijab kabul begitu tegas, lantang dan jelas tanpa latihan sama sekali, bahkan hanya satu kali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu melihat ke arah sekitarnya.
"Sah!" ucap semua para saksi secara serentak.
"Alhamdulillah!" Penghulu pun langsung mengangkat kedua tangannya dan membacakan doa.
Mendengar dia telah sah menikah dengan pria yang ada di sampingnya. Walaupun hanya menikah siri, Shena langsung meneteskan air mata. Debaran jantungnya berdegup kencang saat semua orang mengaminkan doa dari ucapan penghulu. Kemudian, Shena mencium punggung tangan Elvino. Lelaki itu dengan refleks juga mencium kening Shena dengan penuh kasih.
Shena tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini, senang? Iya! Kesal? Tentu dia masih kesal dengan Elvino. Namun, setelah dia mendengar semua orang mengucapkan kata sah, hatinya langsung terketuk mengingat istri pertama—Elvino, dia tidak mau dicap sebagai pelakor yang menikahi suami orang secara diam-diam tanpa diketahui oleh istri pertama suaminya.
Begitu acara ijab kabul selesai, Shena dan Elvino duduk di pelaminan, keduanya terlihat canggung satu sama lain. Apalagi Elvino, dia masih tidak menyangka jika dialah yang menjadi suami Shena, seorang yang beberapa hari terakhir membuat Elvino hampir kehilangan separuh jiwanya.
Sesekali Elvino melirik wajah cantik istrinya. Mereka masih terdiam sejak orang tuanya menyuruh untuk menikah, mungkin Shena masih marah dan kecewa, pikir Elvino. Dia pun mencoba untuk memakluminya.
Di sela-sela tamu yang memberikan ucapan selamat, Elvino mencoba untuk duduk lebih dekat lagi, merelakskan debaran jantungnya saat hati ngin sekali menyentuh tangan sang istri yang hanya berjarak beberapa senti.
Baru jari kelingking Elvino ingin menyentuh jemari sang istri secara perlahan, tetapi Shena sudah berdiri dahulu untuk menyambut tamu yang memberikan selamat atas pernikahannya. Elvino pun ikut berdiri seraya menghirup udara dalam-dalam ketika dirinya hampir saja berhasil menyentuh tangan Shena. Namun, wanita itu berusaha menghindar san menepisnya.
"Sabar!" gumam Elvino. Dia lalu pura-pura tersenyum kepada semua para tamu yang kebanyakan kalangan bisnis Bagaskara dan juga Lucky.
Para tamu pun hanya bisa memberikan ucapan untuk pengantin baru dan berbisik riuh dari kejauhan yang melihat pernikahan Shena keluarga Bagaskara. Tanpa bertanya tentang mempelai pria yang berbeda.
Usia acara pernikahan, Sandra menyuruh Shena untuk ikut Elvino ke hotel yang sudah disiapkan sebelumnya, meskipun Bagaskara keberatan bila anaknya akan disentuh oleh Elvino tapi dia mencoba untuk mengerti Sandra yang memberinya nasihat bila mereka berdua resmi suami istri.
__ADS_1
"Ma, mending langsung pulang ke rumah deh, nggak usah pake ke hotel segala!" ucap Shena yang memajukan sudut bibirnya. Namun, Sandra tetap menyuruhnya untuk patuh dan menurut padanya.
Bersambung....