Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Suka Tapi Gengsi


__ADS_3

Untuk beberapa menit, mereka melakukan ciuman itu. Melva seolah lupa dengan prinsipnya yang enggan berpacaran karena tidak mau sakit hati. Namun, perlakuan Samuel kali ini benar-benar menghipnotis dan membuatnya luluh, entah apa pesona yang dimiliki Samuel yang jelas Melva memang sudah jatuh cinta kepadanya.


Samuel melepas ciiuamnnya dan mengelap bibir basah Melva dengan ibu jari. “Masih mau ngelak kalau tidak punya rasa terhadapku?”


Melva langsung menundukkan kepalanya, tetapi Samuel dengan cepat mengangkat dagu wanita itu dengan jri telunjuknya. “I love you!’


“I Love you too!”


Melva langsung menerobos ke bawah kungkungan Samuel dan berlari ke lantai atas. Hal itu menjadikannya wanita yang hilang akal sehat dan salah tingkah.


Samuel yang melihat kepergian Melva pun tersenyum gemas dan menggeleng-gelengkan kepala. Jatuh cinta adalah hal terindah yang Tuhan berikan, tentu saja itu membuat hati seolah berbunga dan memiliki rasa bahagia yang begitu memuncak.


Tak berapa lama, Melva kembali ke hadapan Samuel dengan membawa tas dan bersiap pergi. Ia sedikit memoles wajah dan bibirnya dengan lipstik berwarna pink kemerah-merahan. Hal itu membuat Samuel meneguk ludahnya.


Kedua netranya tak lepas dari bibir ranum yang tadi ia cecap sebentar.


"Ayok ...." ajak Melva lalu berjalan mendahului Samuel keluar dari butik. Namun, baru selangkah ia berjalan, lengan kekar Samuel mencekalnya.


"Peraturan pertama, kemana pun harus berpegangan tangan. Aku tidak mau ada yang menggodamu dan mengira kamu masih single," tandas Samuel dengan sorot mata dinginnya.


Melva menoleh ke arah tangan yang sudah digenggam oleh Samuel. Ia menghela napasnya,"Sam ...."


"Aku tidak terima penolakan dan kamu tahu itu," ucap Samuel lalu menuntun Melva untuk berjalan berdampingan di sampingnya.


Samuel membukakakan pintu mobil lalu memersilakan Melva untuk masuk. Setelah memastikan Melva duduk dengan nyaman, ia menutup pintu dan mengitari mobilnya dan menyusul masuk di kursi kemudi.


Mobil yang mereka tumpangi melesat membelah jalanan yang cukup lenggang. Sepanjang jalan, Samuel menggenggam tangan Melva tanpa mau melepasnya. Sesekali lepas hanya untuk mengoper gigi.

__ADS_1


Selain hal itu, Samuel tak mengizinkan tangannya kosong. Melva hanya bergeming karena sesungguhnya ia masih syok dengan dirinya sendiri dan hubungan mereka. Musuh debatnya kini malah berubah menjadi kekasihnya dalam waktu singkat.


Sungguh hal yang tak terduga. Ia merasa, kicauan pepatah yang bilang bahwa benci beda tipis dengan cinta adalah benar adanya. Ia tak henti mengamati pria tampan posessif yang berada di sampingnya itu.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku terlalu tampan hingga kau tak bisa menghindar dari pesonaku?" tanya Samuel tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan.


Dengan cepat, Melva langsung melengos menghadap ke jendela. Ia menjadi salah tingkah karena kepergok tengah memandangi Samuel.


"Sekali lagi pandanganmu ke arah jendela, maka jendela itu akan rusak dan aku serius," sarkas Samuel.


"Maksudnya apa sih? Masa sama jendela aja kamu segitu cemburunya?" tanya Melva tercengang dengan pernyataan Samuel. Namun, ia memilih untuk tetap memandangi jendela dan menikmati pemandangan jalanan.


Tiba-tiba mobil yang Samuel kendarai berhenti. Samuel langsung menarik tubuh Melva dan tanpa aba-aba ia menyambar bibir kenyal itu untuk kesekian kalinya sambil ********** pelan.


Melva yang terkena serangan mendadak hanya bisa melotot dan membeku. Puas menikmati bibir Melva yang menjadi candunya itu, ia kembali melajukan mobilnya.


"Aku memang gila dan itu karena kamu, Mel." Samuel menjawab enteng umpatan Melva. Baginya itu sangat menggemaskan.


"Ish, menyebalkan!" Gerutu gadis itu.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya bergeming dengan pikirannya masing-masing. Setengah jam kemudian, mereka sampai di baseman apartemen Elvino.


Keduanya turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju ke apartemen Elvino. Melva memencet bel dan tak lama kemudian muncullah Elvino membukakan pintu. Namun, Elvino sedikit terkejut. Pasalnya, kedua pria dan wanita di hadapannya ini biasanya seperti kucing dan tikus. Berbeda dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Genggaman tangan keduanya cukup menjelaskan semuanya.


"Masuk," ajak Elvino berjalan mendahului mereka ke arah kamar.

__ADS_1


Melva terus memberontak minta di lepaskan. Namun, Samuel tak menghiraukan permintaan gadis yang sudah menjadi kekasihnya beberapa saat lalu.


"Melva?" Sherena terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia menoleh ke arah Elvino. Kedua alisnya naik turun sambil tersenyum menggoda lalu keduanya terkekeh.


"A-aku bisa jelasin, Shen. Aku dan Sam-" Melva menggelengkan kepala cepat.


"Kami baru saja resmi menjadi sepasang kekasih. Mohon restunya, Bu Bos," timpal Samuel memotong kalimat Melva.


Seketika mulut Melva menganga tak percaya. Bagaimana bisa si pria dingin di sampingnya sat set tanpa jeda.


Sherena dan Elvino hanya tertawa.


"Sepertinya mitos soal lempar bunga itu benar ya, Sayang. Dan sepertinya sebentar lagi kita akan kondangan, ya?" tanya Sherena kepada Elvino.


"Sepertinya begitu, nanti kita hadiahkan mobil kalau mereka menikah ya, Sayang." Elvino mengecup sayang dahi Sherena.


"Shen," protes Melva dengan tingkah manjanya. Sedangkan, Samuel hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Elvino dan Sherena.


"Oh, ya nanti aku akan buatkan gaun pernikahan khusus buat kamu, Mel. Aku kasih gratis demi merayakan musuh jadi cinta. Ha ... Ha ... Ha ..."


Roger kini sedang berada di kantor polisi untuk menjenguk Celia. Dia sangat peduli terhadap wanita itu walaupun dia merasa kesal atas perilakunya yang mencoba menyelakai Sherena.


“Tolong aku, Roger. Aku nggak mau dipenjara.” Celia memohon pada lelaki yang kini duduk di depannya yang berhalang oleh meja.


“Cel, kenapa kamu nekat melakukan ini, hah? Sejak awal aku kira kamu udah nggak mau lagi berurusan dengan Elvino, nyatanya kamu malah berusaha mencelakai Sherena karena kamu mau mendapatkan lelaki itu. Apa kurangnya aku, Cel? Kamu terlalu bodoh mengambil tindakan. Elvino, mantan suami kamu kan, harusnya kamu tau bagaimana dia bertindak. Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan kekayaannya yang bahkan tak sebanding dengan perusahaanku, Cel. Harusnya kamu bisa lebih berhati-hati dan bisa memprediksi apa dampak dari perbuatan kamu ini!”


Roger menyampaikan kekesalannya pada Celia. Sebenarnya, Roger juga ingin membalas dendam pada Elvino sejak dirinya dihajar habis-habisan dan hampir tak selamat. Sebagai lelaki, dia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak, tetapi setelah Roger mencari tahu tentang Elvino, dia memutuskan untuk menyudahi niatnya.

__ADS_1


Bukan hanya kekayaan yang Elvino miliki dalam tampilan kesederhanaannya. Bukan pula tubuhnya yang kekar yang Roger takuti. Melainkan, Elvino adalah seorang yang berpengaruh kuat terhadap saham periklanan di perusahaan Roger, bahkan Elvino memang banyak menginvestasikan dananya ke berbagai perusahaan. Roger baru mengetahuinya karena selama ini dia hanya menjalankan perusahaan sesuai perintah orang tuanya.


__ADS_2