
“Tapi, El. Ayolah! Bantu aku lagi kali ini,” pinta Shena.
Tanpa mereka sadari para karyawan Elvino tengah menonton interaksi mereka dengan berbagai pertanyaan di otak.
Menyadari hal itu, Elvino segera menggandeng tangan Shena dan membawanya ke ruangan Elvino karena beberapa mata pasang mata memperhatikan perdebatan mereka.
Keduanya kembali beradu argumen. Namun setelah perdebatan panjang akhirnya Elvino setuju. Dia tidak tega dan tidak rela jika Shena di nikahkan dengan pria yang tidak dicintai gadis itu.
“Oke, deal. Semoga ini terakhir kali aku meminta bantuan. Tapi, aku minta nomor kamu. Biar gampang hubungin dan ehm, terutama masalah mobil. Ya! Masalah mobil,” pinta Shena dengan mimik muka memohon dan menampilkan puppy eyes-nya. Sontak hal itu membuat Elvino gemas dan tak kuasa menolak. Dia memberikan nomornya dengan sukarela karena sebenarnya dia juga sudah menginginkannya sejak lama. Namun, gengsi.
Waktu berlalu sangat cepat, setelah drama memohon kepada Elvino agar mau menemaninya lagi, hari ini tiba saatnya mereka akan memenuhi permintaan orang tua Shena untuk yang ke sekian kalinya.
Shena keluar dari butik tepat setelah Elvino menelepon dan mengabarinya bahwa dia sudah di depan butik milik Shena. Terlihat Elvino kini tengah bersandar di depan mobilnya, sambil menatap ponsel. Gadis itu berjalan menghampiri Elvino yang tampan seperti biasanya. Elvino yang memakai jas formal semakin menambah kharisma dan semakin memesona. Lengkungan sabit terbit di bibirnya.
“Sudah lama?” tanya Shena kepada Elvino.
Elvino mendongak dan membeku sesaat ketika melihat penampilan Shena. Wanita itu tampak sangat cantik hari ini. Make up natural dengan bulu mata lentik dan bibir ranum serta rambut yang di sanggul indah. Shena terlihat anggun dengan balutan gaun berwarna biru laut. Namun, Elvino mendadak menatap tak suka melihat tulang selangka dan belahan dada yang begitu rendah membuat aset Shena sedikit menyembul. Hal itu, membuat gejolak di balik celananya bereaksi. Elvino meneguk ludahnya kemudian menggelengkan kepala kemudian melepaskan jasnya untuk menutupi sebagian tubuh Shena yang terekspose indah.
Elvino mengawasi sekeliling dan benar saja, tatapan lapar para pria tertuju ke arah Shena.
“Baju kurang bahan kok dipakai!” gerutu Elvino lalu membukakan pintu mobil agar Shena segera masuk untuk menghindari tatapan aneh dari para lelaki itu.
Setelahnya Elvino mengitari mobil dan ikut masuk lantas memacu mobilnya menuju lokasi yang sudah orang tua Shena tentukan.
Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka sampai ke sebuah restoran mewah di sebuah mall.
Mereka lantas turun dari mobil Elvino memberikan kunci kepada petugas parkir valey.
__ADS_1
Dia menggenggam tangan Shena dengan hangat. Entah mengapa ada rasa seperti tersengat listrik saat kulit mereka bersentuhan. Padahal hal tersebut sudah mereka lakukan beberapa kali ketika bertemu dengan orang tua Shena. Namun, sensasinya tetap sama dan membuat candu.
Sepanjang jalan, pandangan mata Shena tak lepas dari Elvino seolah menikmati momen. Hatinya sedikit sesak karena mungkin ini benar-benar terakhir kalinya mereka menyandang status kekasih meski hanya bohongan.
“Hati-hati, Nona. Sebentar lagi air liur Anda menetes, jika melihatku dengan tatapan seperti itu.”
Mendengar hal itu, Shena langsung kikuk dan salah tingkah. Dia membuang muka ke sembarang arah. Elvino ingin tertawa melihat kelakuan Shena. Namun, sebisa mungkin dia berusaha tetap cool.
Tak berapa lama, Elvino dan Shena memasuki restoran yang sudah di reservasi khusus. Mereka di sambut oleh pramuniaga pria yang bertugas di depan pintu, kemudian di arahkan ke ruangan yang telah di sediakan. Sebelum pramuniaga itu pergi, Shena mengatakan terima kasih sambil tersenyum manis yang dibalas anggukan oleh pria itu.
Hal tersebut tak luput dari pengamatan Elvino dan membuatnya mendengus kesal melihatnya. “Kenapa harus senyum semanis itu kepada pria lain?” tanya Elvino dalam hati.
Sayangnya hal tersebut tidak di sadari oleh Shena. Setelah pramuniaga itu pergi, Shena melirik sekilas Elvino kemudian membuka daun pintu secara perlahan. Shena sangat terkejut saat melihat pemandangan di hadapannya. Bagaimana tidak? Ternyata Lucky juga berada di sana.
Berbagai pertanyaan muncul di otakknya. Namun, sudah kepalang tanggung mau pergi pun takkan mungkin bisa. Tanpa sadar, Shena meremas jemari Elvino lebih kuat seolah menahan emosi di dalamnya.
“Ini maksudnya apa, Pa?” tanya Shena. Sudut matanya terlihat kecewa. Dia enggan beranjak dari posisinya yang masih berdiri di tempat. Seolah memahami situasinya. Dia terdiam sebelum akhirnya Papa Shena mengutarakan pendapatnya untuk membatalkan perjodohan Shena dan Lucky.
Setitik kelegaan tampak di wajah Shena. Namun, berbanding terbalik dengan Lucky.
“Apa-apan ini, Om? Saya sudah menantikannya sejak lama dan Om membatalkan begitu saja? Om tidak ingat perjanjian kita? Kalau Saya dan Shena tidak jadi menikah itu artinya kerjasama kita batal!” Ancam Lucky dengan nada tinggi sambil menggebrak meja bulat besar di hadapannya.
Wajah Shena mendadak pias, dia khawatir sang Papa berubah pikiran. Namun, di luar dugaan ternyata Bagaskara justru menyetujui pembatalan kerja sama dengan perusahaan Lucky.
Hal tersebut membuat Lucky menjadi kesal kemudian melayangkan tatapan tajam kepada Bagaskara dan berkata,” Baik. Semoga Anda tidak menyesal, Tuan Bagaskara. Saya permisi!”
Tanpa berpamitan, Lucky pergi dari ruangan tersebut. Dia sangat malu diperlakukan seperti ini. Batinnya mengumpat sumpah serapah dan berjanji akan membalasnya suatu saat nanti.
__ADS_1
Usai Lucky pergi, Shena menghampiri Bagaskara. Ia memeluk sang Papa lalu berkata, “Terima kasih, Pa.”
“Sama-sama, Nak.” Bagaskara tersenyum penuh dengan syarat makna. Shena sangat bahagia karena Papanya menepati janjinya.
“Mamah enggak, nih?” canda Sandra. Shena bergantian memeluk Sandra.
“Makasih juga, Ma.”
Akhirnya mereka tertawa bersama. Elvino ikut tersenyum melihat Shena tersenyum. Seolah menular.
Setelah acara pelukan ala teletubies itu, Shena duduk tak jauh dari Elvino. Meja makannya begitu besar dan berbentuk lingkaran jadi tidak bisa membuat gadis itu berdekatan dengan Elvino.
Tak lama kemudian, datanglah beberapa pramuniaga membawa berbagai macam makanan untuk di hidangkan. Mereka pun makan dengan hikmat. Selesai makan hidangan utama, tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Bagaskara sukses membuat Shena dam Elvino kaget.
“Hubungan kalian kapan di resmikan? Kapan Shena di lamar, El?” tanya Bagaskara.
Shena tersedak mendengar pertanyaan dari Bagaskara. Segera Elvino memberikan minuman kepada Shena. Setelah berhasil menetralkan sedaknya, Shena menoleh ke arah Elvino. Tatapan maaf terpancar dari mimik mukanya. Elvino menaikkan alisnya seolah memberikan sinyal marah.
“Maaf, Om. Saya bukan memberi harapan palsu. Namun, saya belum bisa secepatnya memberikan jawaban,” jawab Elvino berusaha setenang mungkin.
“Papa nih, nggak tau situasi apa gimana? Lagian Shena belum siap, Pa!” protes Shena.
“Loh di mana salahnya? Papa tanya ke Elvino kok.” Kilah Bagaskara. Sandra hanya terdiam enggan memberikan komentar.
“Tapi, Pa—“
Bersambung ......
__ADS_1