Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Rencana Busuk


__ADS_3

“Ehem ... sibuk ya?” tanya Shena yang sudah berada di dekat Elvino.


Sang empu yang tengah sibuk dengan berkas di tangannya sembari memperhatikan isi lemari gudang, melirik ke arah wanita yang tiba-tiba ada di sampingnya.


“Mau ngapain ke sini?” tanya Elvino dengan ketus tanpa melihat Shena. Dia terus menyibukkan diri dan mengabaikan Shena.


“Galak banget!” gerutu Shena yang memajukan bibirnya, sontak membuat Elvino melirik ke arah Shena.


Desiran rindu yang selalu Elvino tampik dengan susah payah, sekarang dapat dia nikmati di depan mata saat bibir cemberut Shena dapat dia lihat begitu jelas. Mata Elvino pun terus melihat raut wajah yang sedang menahan kesal itu tanpa berkedip.


“Aku cuma mau bilang ... kira-kira, weekend kamu sibuk nggak? Kalau ada waktu bisa temani aku selama satu hari satu malam?” Shena menunjukkan surat undangan desainer di sebuah kota.


“Sorry, nggak bisa! Bukankah aku udah bilang, hubungan kerjasama kita sudah selesai, jangan ganggu aku lagi, dan jangan libatkan urusanmu untuk merepotkanku.” Elvino menegaskan bahwa dirinya memang benar-benar enggan membantu Shena. 


Lelaki itu lantas melirik ke arah undangan tersebut lalu berjalan melewati Shena begitu saja, sembari mencatat pemasukan barang.


Shena mengembuskan napasnya dengan pasrah saat jalan satu-satunya tidak berhasil, tapi Shena yang memiliki jiwa pekerja yang gigih dan pantang menyerah, terus membujuk Elvino agar mau ikut bersamanya menghadiri acara tersebut.


“Please, bantu aku, kali ini ... saja! Setelah itu, baru aku akan menjauh dari hidup kamu, selama-lamanya, aku janji ini yang terakhir!” Shena menangkupkan kedua tangan di depan Elvino sembari memasang wajah memohonnya. Padahal wanita itu belum tau pasti, apakah dia sanggup untuk terakhir kalinya bertemu dengan Elvino, sedangkan rasa cinta itu semakin menyiksa kala mereka saling menjauh.


Mendengar ucapan dari Shena yang akan menjauh dari dirinya untuk selama-lamanya membuat hati Elvino merasakan denyutan sakit, tapi memang dia harus menjauh dari Shena.


“Gimana?” tanya Shena yang menatap nanar ke arah Elvino. Namun, sang empu masih bergeming.


Belum juga mendapatkan jawaban dari Elvino, Shena pun tersenyum getir. Dia menyadari bahwa dirinya begitu bodoh untuk terlalu berharap kepada seorang pria dingin yang terus membuatnya merasakan sakit hati.


“Ok, maaf sudah mengganggu waktu kamu.” Shena mundur secara perlahan, lalu dia kembali membalikkan tubuhnya sembari mengucapkan, “Oh, iya ... lupakan apa yang barusan aku katakan dan terima kasih selama ini sudah membantuku, aku pamit!”


Shena membuang napas kasarnya dan tersenyum tegar ke arah Elvino kemudian membuka pintu ruangan tersebut dengan raut wajah sendu, matanya mulai mengeluarkan bening air mata, segera diusapnya kasar, sadar akan tangisannya memang tak berguna. Namun, dengan cepat Elvino membuka suaranya saat melihat Shena tampak begitu kasihan.

__ADS_1


“Di mana aku harus menjemputmu?” tanya Elvino yang kembali mencatat pada dokumen yang dia pegang saat Shena kembali membalikkan tubuhnya, berpura-pura acuh.


Sesaat Shena tampak mematung, untuk mencerna ucapan dari Elvino sebelum sang empu kembali mengucapkan perkataannya.


“Saya nggak akan ngulangi pertanyaan saya untuk kedua kalinya!” Elvino menutup bukunya lalu melewati Shena dan keluar begitu saja dari ruangan tersebut.


Senyum Shena terukir jelas, dia begitu senang ketika akhirnya Elvino mau ikut bersamanya untuk datang ke acara tersebut, dia pun memberitahu kepada Elvino tentang waktu dan tempatnya. 


Shena juga telah menyiapkan sepasang setelan yang akan mereka kenakan saat datang ke acara tersebut.


Acara yang digelar di sebuah kota tersebut begitu meriah, Shena yang berpenampilan anggun dengan gaun yang dia kenakan begitu serasi dengan penampilan Elvino. Tangan Shena yang bertaut pada lengan Elvino tampak mesra, sehingga membuat sorot mata yang melihatnya merasa iri.


“Hai ... Shena! Ya ampun, ditunggu-tunggu, ternyata datang juga! Ehem siapa, nih?” tanya seseorang tersebut yang dikenal sebagai seorang desainer terkenal yang juga teman lamanya.


“Ah, kenalkan. Dia Melva asistenku dan ini—”


“Elvino Harvey Digantara!” Elvino mengulurkan tangannya kepada desainer itu. 


Shena yang duduk di samping Elvino di barisan paling pertama, begitu kagum dengan rancangan para desainer terkenal, dirinya merasa insecure. Akan tetapi, Elvino memberi power pada dirinya agar merasa bangga pada desainnya.


Shena mendapat undangan karena pemilik acara tersebut begitu kagum dan tertarik dengan rancangan yang baru saja  launching beberapa hari lalu di butiknya, karena itu dia di undang untuk menampilkan rancangan yang dia buat.


Di balik sikap Shena yang begitu ramah dengan senyumnya yang manis ternyata ada yang menarik hati seorang CEO yang berpartisipasi dalam acara tersebut.


“Hai, you! Come here!” ucap pria itu yang memanggil salah satu maid.


Pria tersebut menyuruh maid itu untuk memberi minuman kepada wanita yang bergaun navy ketika acara makan bersama tiba, lalu membayar maid itu sebagai uang penutup mulutnya.


“Baik, Tuan!” ucap maid yang menyanggupi perintah dari orang tersebut.

__ADS_1


“Good!” Pria itu menepuk bahu maid sebagai tanda senangnya.


Acara masih terus berlanjut hingga pada penampilan berikutnya di mana rancangan Shena pun ditampilkan begitu mengagumkan. 


“Good job!” bisik Elvino pada Shena, sang empu pun tersipu malu mendapatkan ucapan selamat pada dirinya.


Setelah acara tersebut telah usai, semua para desainer berserta pasangannya pun masuk ke dalam ruangan privasi untuk sekedar berbincang-bincang dan menikmati jamuan makan malam yang telah dihidangkan.


Di sela-sela mereka berbincang sembari menikmati makanan yang dihidangkan, seorang maid datang menghampiri Shena untuk memberikan satu gelas yang sudah dicampur obat tidur.


“Thank you,” ucap Shena yang begitu ramah. Dia pun langsung menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh maid tersebut. 


“Jadi, kapan kalian akan melanjutkan hubungan kalian?” tanya salah satu desainer terkenal.


“Langsung punya debay juga nggak apa-apa! Ya, kan?” timpal Mince sang pemilik acara.


Pertanyaan itu mampu membuat Elvino tersedak, dan tanpa berpikir panjang  Elvino pun mengambil gelas Shena dan menenggak habis minuman yang ada di sampingnya.


“Ha, kita lagi menikmati secara bertahap,” sahut Shena dengan canggung.


“Jangan lupa untuk mengundang loh, say!” cetusnya dengan nada bercanda.


Shena pun hanya menanggapinya dengan tawa sembari melirik ke arah Elvino yang sudah menatapnya dengan sinis. Lelaki itu tengah berusaha mengatur napasnya setelah batuk karena tersedak.


Di sisi lain, di ruangan yang sudah dia nantikan. Pria itu menanyakan kepada maid tentang apa yang dia suruh, maid itu pun menjawab sesuai yang dia perintahkan. Dia juga menyuruh maid untuk menunjukkan di mana kamar Shena.


“Siap, Tuan!” ucap maid itu yang kemudian keluar dari kamar tersebut.


Pria itu tertawa senang, ketika rencana yang ingin mendapatkan Shena akhirnya akan berhasil juga.

__ADS_1


“Shena, Shena ... kalau kamu masih bermain-main denganku, jangan salahkan aku yang akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya!” tukas Roger yang tertawa senang ketika dia mengetahui bahwa Shena datang ke acaranya tersebut.


Bersambung....


__ADS_2