Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Hancur!


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh sopir John tiba di rumah Elvino tepat di halamannya. Terlihat mobil Elvino sudah terparkir juga di sana, menandakan lelaki itu sudah pulang dari bengkel. Emma merasa gelisah karena dia tak tega memberitahukan berita buruk ini kepada anaknya. Namun, semuanya memang harus diketahui oleh Elvina agar dia dapat mengambil keputusan dalam mengatasi masalah rumah tangganya.


Elvino keluar dari kamarnya saat Bi Onah memberitahukan bahwa kedua orang tuanya datang. Dia tampak bertanya-tanya, kenapa papa dan mamanya datang malam-malam begini, tidak seperti biasanya. Elvino berpikir akan ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan orang tuanya.


“Elvino, Sayang,” sapa Emma sembari memeluk putranya. Ada rasa sesak saat wanita paruh baya itu memeluk hangat Elvino. Dia tak pernah menyangka rumah tangga anaknya terancam hancur karena ulah istrinya yang sudah di luar batas.


“Kenapa sih, Ma, Pa. Ada apa?” tanya Elvino seraya mengurai pelukannya dengan sang mama. Dia mengernyitkan dahinya melihat kedua orang tuanya tampak menatapnya iba.


“El, duduk dulu. Ada hal penting yang mau Papa bicarakan.” John mendudukkan tubuhnya di sofa, disusul oleh Emma.


“Masalah perusahaan Papa? Pa, kan El sudah bilang kalau El nggak mau mengurus perusahaan dulu.” El menyangka bawa John akan menyuruhnya untuk mengurus perusahaan, mengingat beberapa waktu lalu John memang sempat membahas hal ini. Namun, Elvino enggan karena dia lebih memilih untuk mengurus bengkelnya, menuangkan hobi dan kecintaannya pada otomotif.


“Bukan, Sayang. Dengarkan dulu. Kali ini masalahnya lebih besar daripada urusan perusahaan.” Emma mengelus pundak Elvino yang duduk di sampingnya, sedikit memberikan ketenangan. 


“Lalu apa?”


“Kamu lihat sendiri ini, El. Beberapa hari ini Pap menyuruh anak buah untuk mengawasi istrimu karena empat hari yang lalu, Papa dan Mama melihat dia bersama lelaki lain di hotel saat kita ada sedang makan siang dengan teman lama.”


John menyerahkan beberapa foto juga ponselnya yang berisi video kebersamaan Celia dan Roger yang terlihat begitu intim. Tangan Elvino terasa berat saat dirinya hendak menyentuh foto yang tergeletak di meja. Matanya langsung memanas seketika, tetapi dia tetap harus melihat juga video yang ada di ponsel John untuk memastikan kebenarannya.


“Sayang, yang sabar, ya.” Emma terus menenangkan sang anak. 


Elvino mencoba tegar saat memandangi foto dan video tersebut secara bergantian tanpa memedulikan ucapan Emma yang terus menyuruhnya untuk sabar dan tegar. Elvino mengembuskan napas kasar, dia meremas foto tersebut. Ingin sekali rasanya dia meluapkan amarah saat itu juga. Namun, dia masih bisa berpikir waras karena ada orang tua di sampingnya.

__ADS_1


“Ma, Pa. Terima kasih sudah mau repot-repot menunjukkan bukti perselingkuhan Celia.” Elvino tampak berat mengucap kata selingkuh yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


“Sama-sama, Sayang. Mama harap, kamu tidak akan melakukan hal yang menyakiti dirimu sendiri, ya.”


John yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Elvino, rasa sakit dan kecewa dalam hatinya ikut dirasakan sebagai seorang lelaki. 


“El, Celia sekarang masih berada di hotel, apa kamu mau menyusulnya?”  tanya John. Dia berpikir sebagai seorang lelaki, mungkin Elvino akan bertemu dengan selingkuhannya Celia  dan menyelesaikan masalah tersebut dengan segera. Akan tetapi, Emma langsung melarangnya, karena jika sekarang pergi sepertinya tidak akan baik untuk anaknya. Emosi dan pikiran yang sedang kalut tidak bisa menjadikan masalah semakin besar dan khawatir akan menimbulkan masalah baru saat dua lelaki dipertemukan, mungkin juga akan terjadi baku hantam. 


Elvino pun memilih untuk berdiam diri di rumah, dia enggan membuang tenaganya hanya untuk menjemput Celia bersama selingkuhannya. 


“Pa, Ma. El mau sendiri dulu. Maaf, bukan maksud  El mau mengusir Mama sama Papa, tapi memang El butuh ketenangan untuk memikirkan ini semua.”


“Ya sudah, kalau begitu, Papa sama Mama pulang dulu, ya. Kamu hati-hati, jangan sampai berbuat nekat.” Emma beranjak dari duduknya. 


Keduanya pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Sementara Elvino kembali lagi ke kamarnya. Dia teriak frustrasi, istri sekaligus cinta pertamanya telah menghancurkan seluruh kepercayaan yang dia punya. Dia terus berpikir bagaimana bisa dia tidak peka terhadap sikap Celia yang akhir-akhir ini mulai berubah. Elvino sama sekali tidak menyangka bahwa Celia pandai berkamuflase layaknya bunglon.


Kesal, marah, kecewa, dan sakit bercampur aduk menjadi satu. Bayangan ketika awal pacaran hingga menikah dengan Celia memutar di otak seperti film. Berulang kali Elvino mengusak rambutnya, sesekali menampar wajah dan berharap ini hanyalah mimpi.


Akan tetapi, sekeras apa pun Elvino mencoba tuk menyangkal, bukti-bukti itu terlalu jelas. Dia sangat paham, orang tuanya tidak mungkin mengada-ada. Apalagi selama ini mereka sangat mendukung hubungannya dengan Celia.


Elvino meringkuk lesu di lantai yang dingin dan bersandar pada dinding. Dia menunggu Celia pulang dan mendengar penjelasannya. Namun, hingga malam tiba Celia belum juga menampakkan batang hidungnya.


Dini hari, terdengar derit pintu terbuka perlahan. Elvino segera terjaga, matanya mengerjap-ngerjap memulihkan kesadarannya. Terlihat Celia berjalan mengendap-endap berharap Elvino tidak menyadarinya.

__ADS_1


Elvino tersenyum remeh kemudian berdiri dari posisinya, hingga membuat Celia terkejut dan hampir limbung ke belakang. 


“E-anu, Sayang. Kamu belum tidur?”


Elvino berdecih, kemudian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana yang dia pakai. Dia berjalan perlahan mendekati Celia yang kikuk karena kini Elvino tengah menatapnya tajam. Dia menelisik penampilan istrinya dari ujung rambut hingga kaki. Baju mengenakan sweater dan celana panjang. Dahi Elvino berkerut penuh tanda tanya. Pasalnya itu bukanlah style Celia yang biasa. Celia biasanya memakai pakaian terbuka meski dirinya sering menegur tak suka.


Wanita tersebut menyadari ada hal yang tidak beres. Pasalnya, selama ini Elvino tidak pernah sekali pun menampakkan wajah dingin kepadanya.


“Sa-sayang, kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?” tanya Celia berusaha mencairkan suasana. 


“Bagaimana bisa kamu bertanya seolah kamu tidak melakukan kesalahan, hem?” tukas Elvino seraya mendekatkan wajah perlahan lalu mengelus pipi Celia dengan lembut meskipun tatapannya tetap dingin.


“Sebentar, Sayang. Pasti ada kesalahpahaman di sini,” ucap Celia menghindari kontak mata dengan Elvino. Jujur dalam hati sebenarnya ia sangat takut.


“Kesalahpahaman yang seperti apa yang kamu maksud, hem? Selama ini aku sangat percaya kepadamu. Tapi nyatanya apa? Apa yang kamu balas? Pengkhianatan!”


“A-aku ti-tidak mungkin menghianatimu, Sayang. Aku tidak pernah.” Celia berkilah memikirkan cara agar aibnya tidak terbongkar karena sesungguhnya dia masih mencintai Elvino. 


“Tidak mungkin? Ha ha ha. Bahkan semut pun tidak akan percaya setelah melihat bukti-bukti kongkret yang aku punya. Lihat ini! Apakah ini yang kamu maksud tidak mungkin? Kamu membuatku kecewa, Cel! Ke-ce-wa. Paham!” Pekik Elvino dengan suara meninggi.


“Sayang, maafkan aku. A-aku tidak bermaksud. A-aku ha-hanya ...,” ucap Celia terbata-bata berusaha mencari alasan, tapi sayang otaknya seolah buntu. Tak ada ide sama sekali untuk mengelabuhi Elvino. 


“Hanya apa, hah! Arrggghhhh!” Elvino membalikkan badan kemudian menghancurkan semua yang ada di kamar. Lampu, make up, jam, botol minum, bantal , semua berserakan dan hancur di tangan Elvino. Celia hanya menangis, tubuhnya meluruh ke lantai. Sungguh, menyesal pun sudah terlambat karena Elvino kini sudah tahu semuanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2