Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Bangkai Mulai Tercium


__ADS_3

Sandra pun dengan jujur menceritakan yang sebenarnya dengan sang suami, bahwa Shena belum menceritakan masalah yang membuat hubungan mereka putus.a


“Brengsek!” Bagaskara beranjak dari tepat tidurnya, dia berkacak pinggang seraya mengingat bahwa dia sudah mengocek banyak untuk biaya pernikahan sang anak walaupun masih melakukan pembayaran awal.


“Pa, mungkin Shena dan Elvino belum berjodoh, Papa harus sabar ... siapa tahu nanti anak kita akan mendapatkan jodoh yang pas.” Sandra mendekati sang suami lalu mengelus punggung yang kokoh itu dengan lembut agar bisa menenangkan perasaan Baskara yang sedang tersulut emosi.


“Tidak bisa begitu dong caranya, enak saja ... Papa akan buat perhitungan sama Elvino!” ancam Bagaskara yang masih tidak terima dengan sikap Elvino, di saat dia menyukai sosok yang akan menjadi calon mantunya.


“Pa, Mama tahu, Papa kesal dengan Elvino, begitu pun juga Mama, tapi apa sebaiknya kita tidak usah terlibat jauh masalah urusan anak?” tanya Sandra dengan intonasi lembut, walaupun hatinya juga tersulut emosi.


“Ya, bagaimana tidak mau menjadi urusan kita, Mah? Kita saja sudah merogoh kocek untuk acara pernikahan anak kita? Mau taruh di mana muka kita? Masa mau dibatalkan begitu saja?” Bagaskara meluapkan segala emosinya di depan sang istri.


Perkataan Bagaskara memang benar, mereka berdua sudah menyiapkan acara pernikahan untuk sang anak, karena mereka mau memberikan yang terbaik untuk anak semata wayang mereka dengan memberikan kejutan pada Shena dan Elvino. Akan tetapi, tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Beberapa saat Bagaskara terdiam sejenak, dia mengingat tawaran yang diberikan oleh Lucky saat acara pertemuan rapat tadi siang, bahwa Lucky menawarkan beberapa bantuan pada perusahaannya yang mengalami sedikit masalah.


“Apa, Papa terima saja tawaran dari Lucky, Mah?” ucap Bagaskara yang melirik ke arah Sandra.


“Maksud, Papa?” tanya Sandra yang masih kurang mengerti arah pembicaraan sang suami.


Bagaskara langsung memberitahu soal Lucky yang akan membantu mereka keluar dari masalah perusahaan dan masalah mereka yang sudah menyiapkan acara pernikahan Shena. 


Awalnya Sandra ragu untuk menyetujui rencana sang suami yang kembali menjodohkan Lucky dengan Shena karena Sandra sendiri tidak menyukai Lucky untuk menjadi menantunya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi ketika dia tidak bisa membantah ucapan dari sang suami demi nama baik keluarga mereka.


Keesokan hari, seperti biasanya Shena akan berangkat ke butik pagi-pagi untuk membuka usahanya. Dia memakai pakaian yang kasual tapi tidak mengurangi kecantikannya, langkah kakinya menuruni anak tangga lalu menghampiri ke dua orang tuanya dengan wajah yang tidak semangat.


“Pagi, Sayang!” Sandra mengecup kepala sang anak untuk membantunya semangat.

__ADS_1


“Hmmm ... pagi, Ma, Pa.” jawab Shena yang sudah duduk di kursi lalu langsung makan nasi goreng yang sudah di sediakan oleh Sandra.


Bagaskara pun berdeham, untuk mencuri perhatian pada Shena untuk memancing obrolan yang akan dia sampaikan pada anaknya. Akan tetapi, Shena masih bergeming dan enggan untuk menanggapi Baskara.


Tidak ada reaksi dari sang anak, Bagaskara pun langsung bertanya soal permasalahannya pada Shena. “Bagaimana kabar Elvino?”


Shena pun langsung menjatuhkan sendoknya dari tangan, dia melirik ke arah sang ayah, lalu ke Sandra yang menunggu jawaban dari Bagaskara.


“Shena sudah tidak ada hubungan lagi, sama Elvino, Pa!” jawab Shena tanpa beban, dia menyendokkan lagi nasi ke dalam mulutnya.


“Kenapa?” tanya Bagaskara.


“Putus!” jawab Shena, dia pun mengunyah nasi goreng dengan sangat terpaksa.


“Iya, kenapa bisa putus?” Bagaskara menatap Shena dengan tatapan serius.


Menyadari intonasi sang ayah sedikit lebih tinggi, Shena pun membalas tatapan Bagaskara dengan tatapan yang sendu. “Sudah nggak cocok.”


Shena menaruh sendoknya sedikit lebih kasar karena kesal dengan Baskara yang terus memberikan pertanyaan pada dia yang enggan untuk menjawabnya. “Pah, mungkin Elvino memang bukan jodoh Shena!”


“Shena sudah kenyang! Shena pamit berangkat dulu!” Shena bangun dari duduknya dan segera pergi dari sana dan segera pergi ke butik.


Sesampainya Shena di butik, dia pun langsung menyibukkan diri pada pekerjaannya untuk mengalihkan rasa sedih pada hatinya, sangat terlihat jelas bahwa dirinya begitu rapuh tapi dia tetap berbohong pada dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia bisa melawati semuanya.


Melva yang memperhatikan tingkah Shena ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, mulai mendekati Shena lalu menanyakan pada wanita dengan paras cantik itu.


Shena tidak bisa membohongi dirinya lebih lama lagi, dia menangis saat Melva datang dan mengusap pundaknya seraya menanyakan tentang dirinya, dia pun menceritakan apa yang terjadi dengan dia dan Elvino.

__ADS_1


Sedetail itu Shena menceritakan pada Melva bahwa Elvino orang yang sudah berhasil mengusik hatinya ternyata sudah mempunyai seorang istri.


“Dia, jahat ... Mel! Kenapa, dia nggak bilang dari awal? Kenapa juga aku harus sesakit ini mencintai Pria yang sudah beristri!” Shena menangis menumpahkan segala keluh kesahnya.


“Sabar, Shen ... mungkin dia memang bukan jodoh kamu! Sudah, move on ... lupain Elvino! Masih banyak kok laki-laki yang lebih ganteng, tajir, singgel pula. Lo nggak mau, kan, di cap sebagai pelakor?Shena seorang wanita karier, muda, cantik, berprestasi, masa di cap sebagai pelakor?” Melva memberikan saran pada Shena dan menyemangatinya.


“Thanks ya, Mel. Kamu, memang sahabatku yang paling baik,” ucap Shena, dia menerima tisu dari tangan Melva untuk menghapus air matanya.


Sementara itu di sisi lain, Celia masih berada di bawah selimut tebal, dia disambut ucapan selamat pagi oleh seorang lelaki. 


“Selamat pagi, Baby!” sapanya seraya mencium bibir wanita itu. 


“Pagi, kamu sudah bangun?” tanya Celia pada lelaki yang tengah berbaring di sebelahnya, tangannya melingkar di perut wanita itu.


“Aku menunggumu bangun sejak tadi, semalam kita belum selesai.” Suara lelaki itu berbisik tepat di telinga Celia.


Celia berada di hotel dengan lelaki yang beberapa waktu lalu memuaskannya—Roger. Saat Celia berada di rumah teman wanitanya malam tadi, sebenarnya dia hanya menunggu telepon dari Elvino, agar suaminya itu tidak curiga. Namun, sesaat setelah Elvino mematikan teleponnya, dia menyuruh Roger untuk menjemput, janji yang mereka rencanakan memang selalu gagal, mengingat dia harus menjadi istri sempurna di depan Elvino, membuatnya kehilangan banyak waktu untuk keluar rumah, sedangkan hasrat dua manusia tersebut menggebu ingin segera tersalurkan, memaksa Celia untuk berusaha mengatur rencana dan jadwal bertemu mereka. 


Pergulatan panas yang terulang beberapa kali pagi ini cukup membuat mereka lelah hingga menjelang siang pun masih berada di kamar, menghabiskan waktu dengan penyatuan adalah cara Roger dan Celia melepas rindu satu sama lain.


Jam menunjukkan pukul 12 siang. Mereka sudah rapi dengan pakaiannya, kemudian memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di hotel tersebut sebelum check out.


Roger melingkarkan tangannya di pinggang Celia saat mereka berjalan. Keduanya tampak seperti sepasang suami istri pada umumnya, tetapi siapa sangka jika status mereka hanyalah perselingkuhan. 


Roger dan Celia duduk di meja paling ujung. Mereka terlihat begitu mesra, saling suap dan saling melempar tawa manja. 


Sementara itu, di meja lain dan di hotel yang sama. Orang tua Elvino—John dan juga Emma tengah melalukan jamuan makan siang dengan teman lamanya. Mereka pun menikmati makan siang dengan saling melempar canda dan tawa, mengenang masa lalu mereka. Akan tetapi, di sela-sela tawa Emma yang mendengar cerita humor dari sahabat lamanya tentang John—suaminya, sorot mata Emma menangkap seorang wanita dengan penampilan seksi tengah bersama seorang pria begitu mesra.

__ADS_1


Bersambung....


Hai readers sayang, boleh dong kasih komentar biar author makin semangat buat update bab-bab selanjutnya. Salam sayang dari author. Terima kasih.


__ADS_2