
Di bengkel, Samuel tampak tak tenang bekerja, dia terus mengkhawatirkan kondisi Elvino. Apalagi dia enggan memeriksakan dirinya ke dokter sedangkan wajahnya sudah tampak pucat dan tubuhnya lemah tak berdaya. Ditambah lagi, dia juga tidak mau jika sampai orang tuanya tahu. John dan Ema tentu saja mengira sekarang hubungan anak dan menantunya baik-baik saja. Sejak hari pernikahan, mereka berdua memang terus menunjukkan sikap romantis dan saling menyayangi satu sama lain.
“Halo, Ma. Bisa minta nomor teleponnya Melva? Mama ada, kan?” tanya Samuel pada sang mama lewat sambungan telepon.
“Melva, tumben banget. Buat apa memangnya?” ucap sang mama sambil menahan senyumannya karena sebenarnya dia juga sangat ingin putranya itu menjalin hubungan dengan Melva.
“Urgent, Ma. Bisa kirim sekarang, please.”
“Oke, Mama akan segera kirim nomornya ke kamu.” Wanita itu kemudian mematikan teleponnya.
Beberapa saat kemudian, Samuel langsung menghubungi Melva untuk mengajaknya bertemu. Lelaki itu bingung harus kepada siapa lagi meminta bantuan dan pertolongan, yang dia tahu hanya Melvalah orang terdekat Shena.
“Halo, Mel. Bisa kita ketemuan sekarang?”
“Hah? In siapa sih, kenal juga belum udah ngajak ketemuan aja!” sahut Melva dari sambungan telepon.
“Aku Samuel, please ini urgent banget. Aku bingung harus hubungi siapa lagi. Ini soal bos kita. Kali ini, kamu jangan ngajak ribut, aku serius.”
“Dih, siapa juga yang mau ngajak ribut. Biasanya juga kamu yang mulai duluan. Ya udah kalau gitu nanti aku atur waktu dan tempatnya.” Melva tampak begitu antusias dan lega karena pada akhirnya ada satu jalan yang akan membantu memecahkan masalah sahabatnya dengan sang suami.
Beberapa menit kemudian, Melva mengirim alamat sebuah kafe. Wanita itu menyuruh Samuel untuk datang ke kafe tersebut pukul lima sore setelah butik tutup.
“Shen, aku tinggal dulu nggak appa-apa? Ada hal penting yang harus aku selesaikan di luar,” pamit Melva seraya menemui Shena yang tengah membaringkan tubuhnya di kamar atas—di butiknya.
“Ya, tapi jangan lama-lama. Aku butuh temen, Mel. Aku kesepian tau,” ucap Shena tanpa beringsut dari ranjang. Tubuhnya ia tutup dengan selimut tebal.
Melva mengendarai mobil milik Shena setelah dirinya diperbolehkan mengendarainya. Wanita itu langsung menuju Red Kafe, di mana kafe tersebut tempat Shena dan Roger bertemu sebelumnya—yang membuat mereka salah paham.
‘’Sorry, udah lama?” tanya Melva setibanya di meja yang Samuel duduki.
__ADS_1
“Santai aja, aku juga baru dateng kok. Pesen minum dulu gih, kamu udah makan belum?”
Kali ini, Samuel dan Melva tampak bekerja sama, meskipun sebelumnya mereka sering mementingkan ego masing-masing. Keduanya tak ada lagi perdebatan atau saling adu mulut, bahkan mereka malah lebih serius membicarakan tentang Shena dan Elvino.
“El sakit, dia sama sekali nggak mau aku panggilin dokter. Orang tuanya juga nggak boleh tau. Sedangkan dia cuma bisa tidur dan makan aja kalau nggak aku suruh juga nggak bakalan dipegang makanannya.” Samuel tampak putus asa mengingat keadaan Elvino.
“Kenapa sama, Shena juga begitu. Tau nggak, mereka tuh sebenarnya sama-sama kangen, tapi gengsi. Kesalahpahaman yang membuat mereka bertengkar hebat begini.”
“Apa kamu tahu masalahnya apa? Biasnya El bakalan cerita kalau suasana hatinya sedikit tenang, tapi kaali ini dia sama sekali enggan menceritakan apa pun, dia memilih diam seribu bahasa da memendam semua masalahnya sendirian.”
“Jadi, sebenarnya aku ngajak kamu ke sini memang salah satu alasannya karena aku juga mau cari bukti ....” Melva pun menceritakan semua yang terjadi pada Samuel.
Lelaki itu tampak menghela napas berat begitu selesai mendengar semuanya. “Pantesan mereka sampai bertengkar hebat, kalau aku di posisi Elvino juga pasti cemburulah lihat wanitanya bermesraan sama laki-laki lain.”
“Heh, jangan asal, ya! Kamu pikir Shena sengaja? Kamu pikir Shena mau kaya gini. El aja tuh yang keras kepala, Shenamau ngejelasin malah nggak dikasih kesempatan.” Melva tak terima sahabatnya itu disalahkan.
“Kamu yang mulai duluan, ish! Menyebalkan!” gerutu Shena sambil melirik sini ke arah Sam.
Sekarang kita pikirin jalan keluarnya. Kamu ada ide nggak?”
“Bentar, mikir. Btw, makanannya kenapa belum dateng, ya. Lama banget, mana udah laper banget.” Melva memegangi perutnya sambil bersender ke kursi. “aku nggak akan bisa berpikir kalau perutku kosong.”
Sam yang melihat Mleva seperti anak kecil pun menahan senyumannya, dia merasa gemas. Dia langsung memanggil salah satu waiters di sana dan menanyakan pesanannya.
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan mereka pun datang. Melva langsung menyantap original steak porsi double kesukaannya, sedangkan Sam hanya memesan sandwich. Lelaki itu begitu menjaga pola makannya, pntas saja tubuhnya bagus dan berbentuk.
“Serius kamu cuma makan itu? Kenyang?” Melva bertanya di sela-sela mengunyah makanan.
“Kunyah dulu baru bicara, jangan biasakan makan sambil ngoceh.”
__ADS_1
‘Ish, kebanyakan aturan. Makan aja diatur!” gerutu Melva yang tak peduli lagi dengan Sam, dia fokus dengan makanannya hingga habis tak bersisa.
“Sudah berapa hari kamu nggak makan?” goda Samuel saat melihat Melva makan tanpa jeda sama sekali.
“Udah seminggu, puas?” Lirikan tajam Malva bahkan mampu menggetarkan hati Samuel yang malah semakin menggebu untuk menggoda wanita di depannya.
“Udah kenyang? Sekarang bisa berpikir, kan? Jadi, apa ide kamu buat nyatuin mereka lagi?”
“Mending, kita pikirin keadaan Elvino dulu, kasihan. Jadi, nanti aku coba bujuk Shena biar dia mau dateng ke bengke jenguk Elvino.”
“Terus, bukti CCTV nya gimana? Apa nggak sebaiknya kita beritahu langsung besok?”
“Kita aja belum tanya manajernya, ngecek CCTV tuh nggak sebentar tau. Coba deh kamu panggil karyawan itu, terus tanyain manajernya.”
Sam pun melambaikan tangannya sebagai syarat langgilan. Namun, karyawan tersebut justru membawakal bill.
“Permisi. Maaf mau nanya, kita ada perlu dengan manajernya apakah ada di tempar?” tanya Samuel dengan ramah setelah lelaki itu membayar makanannya.
“Oh, ada Kak. Sebentar saya panggilkan. Mohon ditunggu.”
“Ada yang bisa dibantu?”
“Jadi gini, Pak, beberapa hari yang lalu, ada satu hal yang lenting terjadi di kafe ini. Ini menyangkut rumah tangga teman saya. Jadi jika diperbolehkan, apa bisa kami mwlihat rekaman CCTV pada saat itu?”
“Oh begitu, sebenarnya bisa saja, Kak. Tapi mohon maaf, untuk bagian pemegang kontrol CCTV sedang cuti. Mungkin besok atau lusa bisa kemari lagi untuk mengeceknya bersama.”
“Baik, terima kasih banyak.”
Melva dan Samuel pun gegas pergi dari kafe tersebut.
__ADS_1