
Tiba-tiba Sandra datang menghampiri keduanya dengan wajah panik.
"Shen ... El ... gawat!" pekik Sandra dengan nada gusar.
Elvino dan Shena pun kompak menoleh ke arah Sandra yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka.
"Kenapa, Ma?" tanya Shena dengan dahi berkerut bingung.
"Mama ada arisan hari ini dan lupa. Padahal Mama mau ngasih undangan ke mereka. Jadi mama tinggal dulu, ya? Nggak papa kan, El? Shen?"
Elvino dan Shena mengembuskan napas lega. Mereka pikir ada hal apa sampai Sandra terlihat sangat panik. Rupanya hanya karena janjian arisan.
"Ya nggak papa kok, Ma. Shena sama El bukan anak kecil yang harus di kawal terus, Ma."
Sandra tersenyum menatap sepasang suami istri tersebut. "Baiklah, El titip Shena, ya? Nanti minta tolong langsung anterin ke rumah jangan ke apartemen karena kalian sudah harus di pingit nggak boleh ketemu selama seminggu."
Shena dan Elvino saling melempar pandangan satu sama lain.
"Tapi, Ma–," protes Shena.
"Nggak ada tapi-tapian. Inget ya, El." Sandra mengalihkan tatapannya ke arah Elvino.
"Baik, Ma. Nanti El anter ke rumah Mama."
"Tapi, El …."
"Turuti apa kata orang tua, Shen." Elvino menanggapi dengan tatapan teduhnya.
"Tuh dengerin, Shen?" tukas Sandra.
"Iya … iya," jawab Shena mendengkus sebal. Ada sedikit ketidaksukaannya karena Elvino membela sang Mama.
Sepeninggal Sandra, tak lama Shena dan Elvino juga meninggalkan butik dan bertolak ke rumah Bagaskara sesuai pesan dari Sandra. Sepanjang perjalanan Shena menampilkan wajah cemberut. Ada rasa tidak rela jika harus berjauhan lagi dengan Elvino meski hanya dalam jangka waktu seminggu. Kini ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran sosok suaminya tersebut hingga ada membuatnya sedikit merasa kehilangan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di salah satu perumahan cukup mewah di kalangan menengah ke atas. Elvino menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Bagaskara. Ia menoleh ke arah Shena lalu mengambil tangan mulus wanita di sampingnya itu dan mengecupnya dengan lembut.
"Kenapa diem aja dari tadi, hem?" tanya Elvino.
Shena yang mendapatkan perlakuan tersebut berdebar-debar dibuatnya. Ia menoleh sekilas Elvino lalu kembali menatap ke arah jendela sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Elvino meletakkan kembali tangan Shena kemudian melepaskan seatbelt yang terpasang pada tubuhnya. Selanjutnya, ia menarik badan Shena dan merengkuh wanita tersebut.
"Hanya seminggu, kita pasti bisa lewati semuanya. Nanti kalo kangen kan bisa lewat video call. Jangan cemberut begitu. Atau aku tidak bisa menahan untuk menciumnya," ucap Elvino sambil mengelus kepala Shena dengan sayang.
Shena hanya mengangguk perlahan. Elvino melonggarkan pelukannya lalu mengecup semua bagian wajah Shena hingga wanita tersebut memejamkan mata.
"Kamu menggemaskan," ucap Elvino lalu ******* bibir Shena dengan lembut. Shena pun membalasnya. Napas mereka memburu seiring dengan decapan yang di timbulkan akibat pertarungan lidah mereka.
Hingga sebuah ketukkan mengagetkan mereka. Rupanya itu adalah perbuatan Bagaskara. Ia baru saja pulang dari kantor dan tak bisa masuk ke rumah karena mobil Elvino menghalangi pagar rumahnya. Shena mencebik kesal karena kemesraannya terganggu oleh sang papa.
Mau tak mau Elvino membuka jendela pintu mobilnya kemudian tersenyum kikuk ke arah sang mertua sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalian ngapain sih? Mobil Papa mau masuk nggak bisa nih. Kalian kenapa nggak langsung masuk aja ke dalem malah markir sembarangan!" hardik Bagaskara.
"Sabar sih, Pa!" ketus Shena.
"Iya, Pa. Ini mau masuk," balas Elvino.
"Cepatlah!" perintah Bagaskara lalu kembali ke dalam mobilnya.
Elvino membunyikan klakson agar security rumah membukakan pintu untuk mereka. Tak lama, pintu gerbang pun terbuka dan Elvino memarkirkan mobil diikuti oleh mobil Bagaskara.
Sepeninggal Bagaskara, Elvino memeluk sang istri dengan erat seolah tak mau berpisah.
"Kamu jangan lupa kabarin setiap satu jam sekali. Jangan telat makan. Jangan chatting sama cowok lain. Jangan tidur malam," cecar Elvino. Entahlah ia sedikit berubah banyak bicara setelah mengenal Shena. Padahal biasanya ia cuek dan irit bicara bahkan dengan Celia sekali pun.
"Iya … iya. Kamu juga, El. Jaga diri baik-baik. Jangan telat makan dan jangan ketemu mantan istrimu itu lagi. Aku nggak suka!" tukas Shena dengan nada sebal mengingat kejadian kemarin-kemarin saat di bengkel.
"Siap, Tuan Putri. Perintahmu adalah mutlak."
"Lepaskan pelukannya," ucap Shena.
"Tidak, setengah jam lagi."
"Kamu gila? Aku akan pegal."
"Baiklah," ucap Elvino dengan berat hati. Ia mencium kening Shena cukup lama kemudian pergi kembali ke bengkel.
Shena pun memasuki rumah dan merebahkan diri di kamarnya. Ia menatap langit-langit ruangan bernuansa pink yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Rasanya masih sama seperti saat terakhir kali ia di boyong Elvino ke apartemen. Masih rapi, bersih dan wangi.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berdering cukup keras hingga membuatnya tersentak kaget. Ia segera mengambil benda pipih yang di simpan di sling bag miliknya lalu menjawab panggilan telepon yang berasal dari Melva.
"Shen!" teriak Melva dari seberang sana.
Shena langsung menjauhkan handphone yang ia pegang dari telinga. "Apaan sih, Mel?" tanya Shena.
"Kenapa kamu nyuruh aku urusin katering bareng si Sam-Sam ini sih, Shen?" keluhnya.
"Ya memangnya kenapa? Dia kan mamanya yang punya restoran, Mel. Terus sahabatnya Elvino juga. Makanya aku libatin dia juga bareng kamu. Biar setidaknya kalian akur lah."
"Mana bisa begitu, hem? Dia ngeselin tau nggak sih asal kamu tau aja dia kek batu. Kalo nggak di tanya dia diem aja masa, Shen please. Aku kesel!"
"Sudahlah, demi sepupu dan juga bestie mu yang paling cantik ini masa kamu nggak mau, sih?"
"Ya kenapa harus dia?" tanya Melva.
"Kan udah dijelasin tadi, Mel. Kateringnya punya nyokapnya. Jadi, otomatis dia ikutan terlibat ish."
"Astaga, Shena kamu bener-bener, ya? Kaya nggak ada lainnya aja?"
"Masalahnya restoran dia paling enak kata mamah."
"Huh, ya sudahlah. Ngomong-ngomong besok di pingit, ya?"
"Diem ish!" Cebik Shena dengan nada kesal yang di hadiahi tawa oleh Melva.
"Cie … LDR dong?" goda Melva membalas kelakuannya kepadanya.
"Udah, ah. Aku mau tidur," Shena berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah, besok aku jemput ya. Kita me time di salon. Kata mamah, biar makin legit cewek mesti ke salon sebelum nikah."
Shena tersenyum malu mendengar saran dari Melva.
"Shen … Shen!" teriak Melva.
"Aku nggak budeg woi!"
Setelah beberapa jam mereka mengobrol lewat sambungan telepon dan menyudahinya, tak lama ponsel Shena kembali berdering. Senyum bak bulan sabit terukir jelas di bibirnya. Panggilan video itu langsung membuat Shena segera berdandan mempercantik diri agar terlihat cantik saat sang suami melihatnya.
__ADS_1