
Mobil terpakir sempurna di basmen apartemen, Elvino membantu Shena membuka seatbelt lalu menyuruhnya untuk menunggu sebentar ketika dia keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Tangan Elvino terulur ke hadapan Shena agar istrinya itu mau menerima uluran tangannya. Begitu shena menerima uluran tangannya, tidak lupa juga tangan Elvino melindungi kepala sang istri agar tidak terbentur oleh atap pintu mobil, barulah setelah itu Elvino menggenggam erat tangan Shena untuk berjalan ke arah pintu lift.
Menyadari hal itu, Shena melepaskan genggaman dari tangan sang suami. "A–aku bisa jalan sendiri!"
"Sorry, aku cuma ... tidak bermaksud untuk lancang menggandeng tangan kamu!" ucap Elvino yang canggung, dia kecewa bila Shena menyadari hal itu dengan cepat.
Elvino pun kembali melangkahkan kakinya yang diikuti oleh Shena dari belakang, dia menekan tombol lift ke lantai atas yang akan mereka tuju.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Sena yang semakin curiga kepada Elvino.
"Tenang, sebentar lagi kita sampai." Elvino tersenyum manis ke arah istrinya.
"Kenapa aku jadi was-was begini ya? Apa jangan-jangan dia mau memperkenalkan aku dengan istri pertamanya? Atau dengan keluarganya? Ya Allah, kenapa deg-degan begini sih, kan aku belum siap untuk ketemu mereka! Nanti kalau istri pertamanya ngamuk gimana?" ucap Shena dalam hati. Keringat dingin yang mengalir ke tubuhnya.
Suara pintu lift terbuka, Elvino langsung menarik tangan Shena tanpa persetujuan dari sang empu dan lagi-lagi Shena tidak menyadarinya. Mereka menuju pintu apartemen yang hanya berisikan dua pintu apartemen di lantai lantai atas tersebut.
"Eh, tunggu, tunggu, tunggu! Kita mau ke tempat siapa? Istri pertama kamu? Atau orang tua kamu?" tanya Shena, dia menahan langkahnya sebelum masuk ke dalam.
Elvino tertawa mendengar ucapan dari Shena, ternyata hal yang membuatnya tidak menyadari bila tangannya masih di genggam saat ini adalah rasa ketakutan untuk menemui istri dan orang tuanya.
"Ada yang lucu ya, sama pertanyaanku?" tanya Shena kesal saat Elvino menertawaikannya hanya karena sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Iya, jelas sangat lucu! Jadi itu yang mengganggu kamu dari tadi sampai tangan kamu dingin?" Elvino memperlihatkan tangan mereka yang saling menggenggam satu sama lain.
"Iissh! Ya, aku nggak mau aja kalau sampai istri pertama kamu ngamuk karena kamu pulang ke rumah bawa istri kedua, nanti aku dituduh pelakor lagi!" ucap Shena yang merasa canggung dengan ucapan kata pelakor untuk dirinya, seraya melepaskan genggaman tangan Elvino dengan kasar.
Jujur bagi Elvino kata istri kedua itu mengusik hatinya, entah mengapa dia tidak menyukai jika Shena mengucap kata istri kedua, karena dalam hati Elvino yang paling dalam dia menginginkan Shena sebagai istri satu-satunya.
"Siapa yang mau ajak kamu ketemu istri pertama? Lagian buat apa juga? Buat aku, itu tidak penting sama sekali. Aku hanya ingin fokus sama pernikahan kita dan jangan lagi kamu menyebut istri kedua atau pelakor."
"Ya terus, ini tempat orang tua kamu?" ucap Shena yang sedikit memelankan suaranya.
"Bukan juga, jika kamu ingin bertemu orang tua aku, bersabarlah sebentar lagi!" ucap Elvino, dia semakin mendekat ke arah wajah Shena. "Ini apartemen kita!"
Deg, debaran jagung Shena langsung berdegum lebih cepat ketika Elvino mengatakan bila ini adalah apartemen mereka, fokus Shena pun buyar ketika Elvino kembali menggenggam tangannya sembari membuka kunci apartemennya.
Suara ciri khas pintu apartemen terbuka dengan memakai kata sandi pun terdengar di telinga Shena, hatinya semakin gugup ketika langkahnya masuk ke dalam apartemen tersebut. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
"Apa kau menyukainya? Ini akan menjadi kamar kita!" Elvino memeluk Shena dari belakang begitu saja tanpa permisi dan itu berhasil membuat Shena terkejut atas apa yang dilakukan oleh Elvino.
"Kita tidak sedekat ini, El! Lagian, siapa yang mau tidur satu kamar dan satu ranjang denganmu!" Shena mendorong tubuh Elvino agar melepas pelukkannya.
Elvino membuang napasnya dengan pelan, seraya memejamkan matanya ketika Shena mendorong dan pergi menjauh. Dia tahu jika Shena butuh waktu untuk beradaptasi terhadapnya setelah apa yang dulu pernah dia lakukan kepada wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"Maafkan aku kalau aku sudah lancang memelukmu tanpa izin terlebih dahulu," ucap Elvino yang begitu lirih.
__ADS_1
Mendengar suara Elvino yang seakan sedih dengan sikapnya, membuat hati Shena merasa tidak enak, dia melirik ke arah Elvino sembari berkata, "Baiklah, kali ini aku memaafkanmu!"
"Terima kasih, Shen! Aku janji, lain kali aku akan meminta izin lebih dulu sebelum memeluk atau menciummu," celetuk Elvino yang terlihat putus asa. Shena adalah istriny, tetapi lelaki itu tidak bisa bebas menyentuhnya.
"Apa! Cium?" Shena terkejut mendengar ucapan Elvino, baru saja dia ingin mengajukan keberatan tetapi ponsel Elvino berdering dan menutup mulutnya dengan jari telunjuk kekar itu agar dia berhenti bicara, dan bodohnya Shena dengan patuh menurut apa yang diperintahkan suaminya.
"Shen, aku harus pergi sekarang juga, ada sedikit masalah di bengkel, tapi kamu tenang saja, aku akan pulang dari bengkel sebelum malam dan ini untuk kamu, bisa kamu gunakan untuk kebutuhan rumah tangga kita ataupun kebutuhan kamu." Elvino tergesa-gesa mengambil jaket dan memberikan kartu debit pada Shena, setelah menutup telepon dari samuel.
Elvino masih tidak menyadarinya bila ucapannya membuat Shena terkejut sekaligus bingung, pasalnya Elvino hanya pegawai di bengkel itu kenapa dengan enaknya dia bebas bepergian sejak tadi.
"Aku pamit, ya!" ucap Elvino yang tanpa sadar mencium kening Shena tanpa seizin dari sang empu yang kemudian keluar dengan terburu-buru.
Shena benar-benar terkejut kali ini, segala ucapan Elvino semuanya sulit untuk dicerna oleh dirinya, setiap potongan kata Shena artikan maksud dari suaminya, apartemen yang mewah, dan juga kartu debit yang diberikan oleh Elvino untuk dirinya.
"Siapa sebenarnya Elvino?" ucap Shena pada dirinya sendiri di saat Elvino telah pergi.
Shena pun mencoba mencari sesuatu di dalam apartemen tersebut untuk bisa menemukan sesuatu yang membuatnya tahu siapa sosok suaminya sebenarnya.
Shena membuka setiap lemari dan semua tempat penyimpanan termasuk laci mencari-cari lagi sesuatu yang bisa dia ketahui tentang Elvino. Dia membuka satu persatu berharap menemukan sesuatu di sana. Namun, bukanya terdapat sebuah berangkas kecil yang bersembunyi di balik lemari yang berada di bawah meja yang terdapat di kamar paling besar.
Tangan Shena mencoba menekan beberapa angka untuk membuka brankas tersebut. Akan tetapi tak juga berhasil. Berkali-kali ia mencoba tetapi gagal. Dari mulai tanggal lahir Elvino yang pernah dia lihat di KTP-nya, juga tanggal lahirnya. Namun hasilnya nihil. Frustasi, Shena menutup kembali lemari tersebut lalu pergi ke dapur mengambil air minum guna menghilangkan dahaga yang sejak tadi di tahannya.
"Apa ya, kira-kira?" batinnya.
__ADS_1
Bersambung.....
Hai readers kesayangan aku semua. Jangan lupa jaga kesehatan yaa. Tungguin terus update-an author setiap hari. Jangan lupa like dan tinggalkan jejak komentar ya biar author makin semangat nulisnya. Sampai ketemu besok. Salam sayang buat kalian semua 💓