Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Sang Penolong


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Nadia yang masih setengah tidak sadar melihat seseorang sedang melawan ular raksasa itu. Namun ia tak tau persis siapa orang itu, pada akhirnya ia juga ikut pingsan.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


\~PAGI HARINYA\~


Burung-burung berkicau dan sinar matahari menyinari ruangan Nadia yang sedang tertidur nyenyak.


"Aduhh.." kata Nadia terbangun dengan memegang kepalanya.


Ia membuka mata.


"Hah?! tempat apa ini? dimana aku?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia lalu teringat kejadian semalam.


"Ular itu..ular"


Nadia lalu berlari keluar ruangan itu. Diluar ia melihat hutan dengan tanaman dan rerumputan hijau yang begitu indah disinari sinar matahari pagi serta terdapat sedikit embun di permukaan dedaunan hijau tersebut.


"Wow..indahnya" kata Nadia.


"Tunggu, ini rumah pohon..siapa yang membuatnya..ini begitu indah" kagum Nadia.


"Tapi bagaimana aku bisa selamat?...siapa yang menolongku?..Bagiamana dengan teman-temanku? apakah mereka selamat?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba..


🎢🎢🎢🎢🎢🎢


"Nada itu..nada seruling itu.." pikir Nadia. "Nada itu sepertinya aku familiar, tapi dimana aku mendengarnya?" pikirnya lagi.


Nadia mencoba mengingat-ingat tentang nada seruling itu. Saat ia sedang berpikir, nada merdu itu kembali muncul.


🎢🎢🎢🎢🎢🎢


"Nada itu lagi..aku harus mengetahuinya" kata Nadia.


Karena penasaran Nadia berlari menuju suara seruling itu. Dengan diiringi nada itu ia melewati hutan yang hijau dan luas. Dimana-mana terdapat hamparan pohon tinggi dan rumput yang tumbuh dengan suburnya. Ia terus berlari mencari sumber suara seruling. Nada itu berhenti.


"Hah..hah...nada itu berhenti disini" kata Nadia terengah-engah.


Sampailah ia di tengah hutan bambu yang indah. Dimana-mana hanya ada bambu hijau yang menjulang tinggi ke atas.


"Hey apa ada orang disini?" teriak Nadia.


Tidak ada jawaban, yang ada hanya angin yang menggoyangkan pohon bambu sehingga pohon bambu itu mengeluarkan suara merdu yang menenangkan.


"Hem..tidak ada siapapun disini..sebaiknya aku kembali saja" kata Nadia melangkah keluar dari hutan bambu itu.


"Tap..tap..tap"


"Sepertinya dari tadi aku ditempat yang sama deh..jangan jangan aku tersesat" kata Nadia mulai gelisah.


Nadia mencoba sekali lagi.


"Hah?! masih tempat yang sama kurasa.."


"Haah" Nadia duduk kelelahan di bawah bambu.


"Grrr"


"Em?! suara apa itu?"


"Grrr"

__ADS_1


Nadia berdiri dan mulai waspada.


"Siapa disana?"


"Grrr"


Sesuatu mulai melangkah mendekati Nadia.


"Hah?! ada yang mendekat" pikir Nadia waspada.


"Dari mana suara itu berasal?" pikir Nadia lagi.


KRESEK..KERSEK..


"Hah?! siapa disana!"


Nadia menoleh ke belakang untuk memastikan.


"Tidak ada apapun"


Tanpa ia sadari ada sesuatu di belakangnya.


"Grrr"


"Glekk.." kaget Nadia menelan ludah dan menoleh perlahan.


"Arghhh!!" suara seekor Jaguar menyerang Nadia.


"Aaaa!!" teriak Nadia memejamkan mata.


"Auwo...uwo.."


"Hah?!" Nadia membuka mata keheranan.


Jaguar itu juga heran dan menoleh ke belakang.


"Iwow!" kata Nadia melihat ke bawah.


"Tunggu..bukannya ini hutan bambu?..bagaimana dia bisa berayun?..hah?" pikir Nadia lalu ia menatap pemuda itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Yap kita sudah sampai." kata pemuda itu menurunkan Nadia.


"Eh, ini rumah pohon yang tadi," kata Nadia.


"Wah, ingatanmu sangat bagus ya" kata pemuda itu.


"Ya kali.." pikir Nadia.


"Tunggu kau bisa bicara?" kata Nadia.


"Tentu saja aku bisa!..kau kira aku apa, hah!" gertak pemuda itu.


"πŸ˜…ahahaha..aku kira kau seperti tarzan...auwo!!" kata Nadia.


"Jahat" pikir pemuda itu membungkuk lemas.


"Emm..bagaimana kau bisa berayun di pohon bambu? secara kan.." tanya Nadia ke pemuda itu.


"Oh itu..mudah, aku hany-_"


"Nadia?" kata seseorang.


Nadia menoleh "Hah?! Rio..kau selamat?" tanyanya.


"Ya tentu saja, kan aku berdiri disini." jawab Rio.

__ADS_1


"Kalau kau juga selamat berarti teman-teman kita.."


"Selamat" sahut Fikram, Dina, Manda.


Nadia dan Rio juga pemuda itu menoleh.


"Ya kami juga selamat." kata Fikram.


"Tapi siapa yang menyelamatkan kita dari ular gendut itu," kata Dina.


"Emm..aku tidak tahu..apa?.." kata Nadia melirik ke arah pemuda yang menyelamatkannya tadi.


"Eh..kenapa kau meliriku begitu?" kata Pemuda itu.


"Kau kan yang menyelamatkan kami..iya kan?..jawab!" tanya Nadia.


"E..e..e" gugup pemuda itu.


"Dia siapa, Di?" tanya Rio.


"Iya, kau siapa?" kata Manda.


"Hey..hey..siapa kamu?" tanya Fikram dengan nada menyanyi.


"Ish" Dina memukul lengan Fikram.


"Aduh..apaan sih?" rintih Fikram


"Iya, siapa kau sebenarnya?" tanya Nadia.


"Hah?! dia memang bukan Nadiku" gumam pemuda itu.


DI KERAJAAN..


"Ooo..jadi dia yang mengalahkanmu, Dus" kata Raja melihat pemuda yang menolong Nadia tadi di bola kristal miliknya.


"Iya Raja..mohon maaf raja nama saya Medusa..bukan Dus"


"Ah..suka hati saya dong! siapa kamu berani mengajariku!" marah Raja.


"Ampun raja..hamba tidak bermak-_"


"Ah, cukup..dasar Dus Atua!" bentak Raja pada Medusa sambil meminum anggurnya.


Medusa terdiam.


"Tunggu, siapa dia? Maha Raja" kata penasehat menunjuk ke arah Nadia.


Raja memuntahkan anggurnya setelah melihat Nadia.


BRUZZZZ..


"Di..di...dia masih hidup?!" panik Raja.


"Haah..kenapa aku yang kena sembur sih" gerutu Medusa dalam hati.


"Jadi..benar ramalan itu" kata penasehat raja.


"Hiih..tak akan ku biarkan ramalan itu terjadi!" geram Raja.


"Hey, ditanya malah melamun" kata Nadia melambaikan tangannya dihadapan pemuda itu.


"Hah?! iya kenapa.." bingung pemuda itu.


"Aduh..namamu itu siapa?" tanya Nadia.


"Oh..namaku..bilang dong dari dulu. Ok, jadi namaku...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2