
EPISODE SEBELUMNYA
"Bisa bicara!? AAAAA!"
BRUK!
"Aduh!"
Manda mendarat dengan sangat tepat di jurang seberang. Ia menggeliat memegangi lengan kanannya, mengerjapkan matanya menahan rasa nyeri. Seketika rasa sakit itu hilang, ia teringat akan makhluk aneh yang ia lihat tadi.
"K-k kau! Huwaa, LARI!!"
Ia buru-buru bangkit dan langsung berlari lagi meninggalkan makhluk yang sekarang bergelantungan seraya memerhatikan Manda.
----------------
Sementara teman-teman mereka masih fokus mengejar si pencuri walau sedari tadi tidak kunjung mendapati penampakan batang hidung pencuri tersebut.
Di tengah-tengah pengejaran, mendadak terdengar seseorang memanggil mereka.
"Teman-teman!"
Mereka menghentikan langkah lalu memutar tubuh menghadap ke belakang. Sembari mengatur napas, mereka menatap kebingungan ke arah sosok yang mendekati mereka.
"Manda?"
Ya, Manda datang berlari menghampiri mereka. Tentu mereka kebingungan, bagaimana Manda bisa ke seberang sementara tadi dia kekeh tidak mau turun.
Manda terus berlari menghampiri mereka, sampai-sampai dia bablas melewati mereka. Beruntung, Fikram memeringatkan sehingga ia tidak terlewat terlalu jauh.
"Kelewatan, Mbak. Kita di sini," ucapnya.
Manda pun berhenti seketika, lalu mundur perlahan.
Nit… nit… nit…
Bayangkan saja ada suara khas truk yang sedang mundur perlahan.
"Teman-teman, hah. Ada kera hijau– di sana– makhluk aneh– hijau, hah-hah– di san–" sebut Manda tak karuan.
"Wow, tenang Manda. Tenang, atur napas." Nadia memegang kedua bahu Manda menenangkan. "Apa, ada apa?" tanyanya setelah Manda lebih tenang..
Manda menghembuskan napasnya, "Tadi aku melihat makhluk aneh di sana. Dia seperti kera tapi hijau, seluruhnya hijau tapi seperti tanaman rambat yang di bentuk jadi boneka kera," cerocosnya panjang lebar.
"Kera hijau? Hmm?" Mereka menaikkan salah satu alis, tidak mengerti dengan penuturan Manda.
"Ya, tadi ada kera aneh itu di san-" dia menunjuk ke arah datangnya ingin menjelaskan lagi namun perkataan sudah di sela Ibu Albert.
"Kera aneh? Hijau? Tidak ada hewan seperti itu di sini," kata Ibu Albert.
"Kau mungkin hanya berhalusinasi," kata Dina, melipat tangannya di depan dada.
"Iih, tidak. Aku melihatnya sendiri, bahkan dia … dia yang mengantar aku ke sini," kata Manda.
Fikram mendekat ke arah Manda dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Manda.
"Oh, pantes. Panas," katanya.
"Apa maksud lu," Manda menatap datar Fikram.
"Kurasa kita harus kembali mengejar pencuri itu sekarang, sebelum kita kehilangan jejaknya lagi," usul Rio.
"Ayo, tapi …. kemana?" tanya Gamma.
Ngak! Ngak!
Tiba-tiba seluruh hutan menjadi sama bagi mereka. Kehilangan arah pengejaran, mereka tersesat tidak tahu harus kemana melanjutkan. Mereka saling bertukar pandang, linglung.
"Oh, baiklah kita kehilangan jejaknya lagi," ucap Dina frustasi.
"Atau tidak," ucap Nadia berhasil membuat mereka kaget.
"Hah?"
Nadia melangkah kakinya ke depan, lalu berlutut dengan pandangan menghadap ke tanah. Membersihkan beberapa daun-daun kering. Teman-temannya menghampiri.
"Jejak kaki?" ucap Rainny.
__ADS_1
Benar, jejak kaki. Nadia tidak sengaja menemukan sebuah jejak kaki yang mengarah pada tempat mirip seperti mulut gua yang tertutup tanaman lebat menjalar.
Nadia bangkit, lalu menatap tempat tersebut. "Dia mengarah ke sana," menunjuknya.
"Are you sure?" tanya Manda.
"Tempat apa ini? Kurasa sebelumnya belum ada tempat ini tadi," kata Gamma.
"Apa kau mengetahuinya Ibu Albert secara kau 'kan tau tempat-tempat di negeri ini," kata Rio.
"Hemm, kalau kau tanya aku… aku seperti pernah melihat tempat sebelumnya tapi, ah aku lupa. Masuk sajalah, lagipula jejak pencuri itu masuk ke sana siapa tau kita menemukannya," jelas Ibu Albert.
"Kita masuk," Nadia melangkah memasuki tempat itu.
mereka mengikuti Nadia.
"Hey, kalian benar-benar pergi. Aku masih cape ini, ya ampun." Keluh Manda, pada akhirnya iapun masuk melewati tirai tanaman liar itu.
Ibu Albert menjadi orang terakhir yang masuk.
"Dia datang, aku bisa merasakannya!" ucap sosok mata menyala dengan suaranya yang serak.
----------------
Nadia dan yang lainnya mulai keluar setelah melewati tanaman rambat itu. Alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan di balik tanaman rambat tersebut.
Tanah yang retak, banyak bangkai pohon yang kurus kering dan tidak memiliki satu helai daunpun, serta matahari yang secara berani memancarkan panasnya yang membara. Pemandangan yang jauh dari kata rindang apalagi sejuk dan asri.
"Aduh panas," keluh Manda mengibas-ngibaskan tangannya, mencoba menetralisir panas yang menembus kulitnya.
"Dunia yang sangat berbanding terbalik dari hutan sana," kata Gamma.
"Di, apa kau yakin pencuri itu kemari?" tanya Dina.
"Entahlah, jejak kaki itu ke mari," jawab Nadia.
"Jangan-jangan itu bukan jejak kaki pencuri tadi," kata Dina. "bisa saja, kan?"
"Berpikir positif saja," balas Ibu Albert.
"Lalu sekarang kita kemana?" tanya Rio.
"Kita kembali saja, aku rasa tidak aman berada di sini," usul Manda.
"Setuju," Dina dengan cepat menyetujuinya.
Nadia dan lainnya pun sepakat untuk kembali. Namun, di saat mereka berbalik tiba-tiba ….
Mengejutkan!
Mengejutkan sekali. Gerbang yang mengantarkan mereka ke dalam dunia kering ini tertutup oleh sebuah batu besar. Bagaimana bisa? Nah, itulah yang jadi pertanyaannya.
"Apa!" Dina terperanjat.
"Darimana datangnya batu ini?" Fikram mendekat ke arah batu besar itu.
"Oh, tidak. Tadi kera aneh, sekarang kita terjebak di sini? Tempat aneh macam apalagi ini!" teriak Manda sudah ketakutan dulu.
"Kita harus cari jalan keluar lainnya dari sini," kata Nadia.
Kwangg!
Suara lengkingan terdengar di udara. Mereka mendongak, terlihat sesuatu berputar-putar membentuk formasi mengitari teriknya matahari.
"Apa itu?" tanya Manda menatap ke atas dengan menghalangi sinar matahari yang terang itu membutakan matanya.
Di saat sedang mengamati, Ibu Albert dan Gamma membulatkan mata, "Elang!" seru mereka bersamaan.
Kelima sahabat itu menatap bingung ke arah mereka, "Elang?"
Ibu Albert dan Gamma bukannya menjawab, ia malah membalik badannya menghadap ke arah batu dan mendorongnya. Author rasa batu itu tidak akan bergeser. Bayangkan saja, dua orang manusia mencoba menggerakkan batu besar yang beratnya jauh dari bobot mereka. Ya, meski kemungkinan itu ada, tapi mungkin kesempatan berhasilnya hanya 0,001 persen. Waduh mereka denger ngga ya, takutnya kalau denger jadi patah semangat lagi mereka, kan berabe jadinya, wkwkwk.
"Bantu kami, jangan hanya melihat saja kalian!" tegur ibu dan anak itu.
Mereka terkesiap, mereka pun cepat-cepat membantu Ibu Albert menggerakkan batu itu. Sebenarnya mereka sama sekali tidak tahu untuk apa mereka melakukan itu.
"Hiii!" berbarengan mereka mencoba menggeser batu itu, tapi batu itu tidak tergeser sedikit pun. Bahkan untuk jalur semut pun tidak ada benar-benar rapat.
__ADS_1
Kwanggg!
Bayangan para elang tersebut sudah di bawah mereka menandakan mereka memang menjadi target mereka.
"Hiiii!"
"Aah, tidak ada gunanya melakukan ini, Ibu. Ayo, Di kita pergi," Gamma langsung meraih tangan Nadia dan menariknya untuk berlari meninggalkan mereka.
"Eh-eh!"
"Hey, kau mau meninggalkan Ibumu sendiri, hah. Dasar," Ibu Albert langsung menyusul mereka.
Melihat Nadia di tarik pergi begitu aja Rio mulai menyusul. Begitu pula dengan Dina yang melihat Gamma pergi.
Sementara tiga manusia yang tidak di beri aba-aba apapun bingung. Mereka pun juga ikut menyusul.
Sebenarnya mereka tidak tahu apa yang di takutkan dan kenapa harus berlari. Tapi yah, karena kelima manusia itu berlari dan terlihat ketakutan mereka ikut-ikutan saja berlari.
----------------
"Hey-hey, Ibu Albert, Gamma apa yang terjadi sebenarnya kenapa kita lari?" tanya Nadia yang masih di tarik Gamma untuk berlari.
"Hemm, jelaskan," kata Rio sudah di samping mereka.
"Ya," timpal empat orang lainnya.
"Aduh. Nak ayo jelaskan," perintah Ibu Albert pada Gamma.
"Apa? Aku?" melihat ke arah mereka.
Apa yang ia dapat? Pelototan dari mereka yang meminta penjelasan segera. Ia pun menciut dan akhirnya menjelaskan semua. Elang, tiga elang yang berputar-putar mengelilingi mereka rupanya adalah cara untuk menargetkan mangsanya. Kalau mereka tidak cepat-cepat pergi dari situ, mungkin mereka sudah jadi santapan besar bagi si elang itu.
"Hah, benarkah?" kata Nadia tak percaya.
"Baru tau aku," kata Dina.
"Dasar anak kota," cibir Ibu Albert.
"Lalu bagaimana kita akan berlindung dan selamat dari para karnivor itu Ibu? Di sini sepertinya tidak ada sesuatu untuk berlindung," tanya Gamma panik.
"Ah benar juga, di sini tidak ada apa-apa selain tanaman mati," batin Ibu Albert. "Lari saja dulu yang penting kita menjauh dari mereka!"
Kwangg!
"Mereka tidak mau melepaskan kita," kata Dina.
"Wajar saja. Kita adalah santapan lezat," jawab Gamma dari depan.
Kwangg!
Di saat sedang fokus berlari dan tenaga mereka terkuras, tiba-tiba salah satu elang itu menyambar mereka.
"Awas!" seru Rio memeringatkan, ia tidak sengaja melihat elang itu akan menyambar mereka.
"Menunduk!" seru Gamma, mereka semua menunduk dan bisa menghindari sambaran elang itu.
Berlari tanpa ada tujuan dan menjadi target predator yang tidak mau melepaskan mangsanya. Energi mereka terkuras, peluh membanjiri wajah mereka, di tambah cuaca yang terik membuat kadar air di tubuh mereka terkuras.
Itulah yang di rasakan mereka, hal itu tergambar jelas sangat jelas pada Manda. Mungkin karena kurang olahraga atau memang dia tidak pernah olahraga. Kecepatan berlarinya melambat, ia menjadi berada di barisan terakhir sekarang. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi para elang lapar itu.
"Hah, hah. Wey berhenti dulu, wey" peluh membasahi wajah chubinya. Ia mulai melambat dan semakin melamat, hingga akhirnya tidak kuat berlari lagi.
Satu elang keluar dari formasinya. Manda memegangi kedua lututnya, mengelap keringat sebesar biji jagung yang mengalir di wajahnya, serta mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Kwangg!
Mendengar lengkingan burung itu lagi Fikram—berada di posisi paling belakang saat ini—menengok untuk memastikan elang itu menyerang lagi atau tidak. Alangkah terkejutnya ia saat melihat elang itu datang menyambar. Bukan menyambar dirinya atau kawan-kawan, tapi menyambar Manda yang tertinggal cukup jauh di belakang.
"Manda, awas!"
Mendengar Fikram berteriak, teman-temannya menoleh ke belakang. Fikram langsung berlari menghampiri Manda. Sementara Manda mendongak, tidak mengerti. Fikram memeringatkan lagi dengan menunjuk, mengisyaratkan ada sesuatu di belakangnya.
Pergerakan tiba-tiba berubah menjadi gerakan yang bisa dibilang slow motion. Manda membalik tubuh, terlihatlah seekor elang melesat ke arahnya dengan tatapan lapar. Matanya membulat sempurna saat itu juga.
Kwanggg!
"Manda!"
__ADS_1
Bersambung ….