
EPISODE SEBELUMNYA
"Mengapa kalian tak bergabung," katanya.
"Bergabung?" Nadia kebingungan.
Rio, Fikram, Manda dan Dina terkesima melihat jiwa Putri Nadi yang sama persis dengan Nadia. Cantiknya, wajahnya, bentuk rambutnya, matanya, semua sama persis dengan Nadia. Mereka melongo.
"Salam kami haturkan pada Bunga Pelindung Negeri ini."
Jiwa dari keempat sahabat ini seketika muncul. Kaisar Kegelapan, Ibu Albert, Keluarga kerajaan Siren, dan Profesor Giana mereka semua membungkuk memberikan salam.
"Kalian, beri salam!" bisik Ibu Albert.
Mereka terkesiap seketika mereka membungkuk hormat.
"Haha, tidak perlu begitu. Kalian semua adalah pelindung negeri ini," ucap Putri Nadi tak enak hati.
"Maaf, apa maksudnya dengan bergabung?" tanya Dina.
"Kalian adalah lima elemen yang sebenarnya adalah satu kesatuan kuat. Jadi, apabila kalian menyatukan kekuatan kalian, maksudku batu kristal dari masing-masing elemen, maka kekuatan kuat akan muncul dan kalian pasti bisa menghabisi si raksasa itu," kata Kaisar Kegelapan yang masih stay dengan wajah datar nan dingin.
"Yap, kalau aku boleh sarankan. Seranglah tepat di sudut sembilan puluh derajat dari bagian tulang tujuh ruasnya. Oh awas perhatikan gerak-gerik, arah angin, juga ketajaman pandangannya," sambung Prof. Giana berbicara super cepat.
"Errr...?" mereka memandang Prof. Giana tidak mengerti apa maksud ucapan orang jenius itu.
"Haaa, ya sudahlah. Incar saja jantungnya," Prof.Giana menyederhanakan bahasanya.
Mereka ber-oh-ria.
Nadia tampak berpikir, namun kemudian ia mengatakan dengan lantang, "Baiklah, ayo coba itu. Putri Nadi dan para pahlawan tolong tunjukan kami caranya."
"Ya, mari kita kalahkan Raksasa gendut itu!" semangat Manda.
----------------
Selesai!
Pertempuran ini akan segera selesai!
"Dengan kekuatan dari para pelindung kegelapan!" Rio di dampingi naganya menancapkan pedangnya tepat di depan kaki kanan raksasa itu.
"Di barengi kekuatan tanah dan teknologi terbarukan!" Dina menancapkan jarum berderet di antara raksasa dan juga dirinya.
"Juga kekuatan air yang menjernihkan segalanya," Fikram berposisi di belakang raksasa itu, ombak miliknya mengitari tubuhnya.
"Dan kekuatan tanaman yang murka akan kejahatan," tanaman duri-duri putri malu seketika muncul, Manda berposisi sejajar dengan Fikram.
Kalau diperjelas, mereka membentuk formasi mengelilingi si raksasa.
"KAMI PARA PELINDUNG MEMINTA IZIN KEPADA PENCIPTA ALAM SEMESTA!" ucap mereka serempak.
Krik... krik....
Tidak terjadi apa-apa.
"Pffft, Kalian ini sedang apa sih, BUAHAHA!" tawa Raja Basilia melihat tingkah mereka yang menurutnya aneh. "Kami meminta izin pada pencipta alam, bla bla bla, buahahaha," ejek raksasa ini.
"Kenapa tidak jadi?" bisik Fikram.
Manda mengendikkan bahunya.
"Nadia belum mengucapkan kalimatnya," kata Rio.
"Di mana dia?" tanya Dina.
"Buahahaha!" Basilia masih tertawa terbahak-bahak.
"Maka ...." satu suara yang cukup lantang mengubah atensi mereka Basilia berhenti tertawa.
Sinar berwarna sesuai kristal mereka bersinar tepat di bawah mereka. Keempat sahabat itu tersenyum kegirangan.
"Ini bekerja," kata mereka.
DRAP! DRAP! HUP!
"BERIKAN KAMI IZIN-MU UNTUK MENGIRIM KEJAHATAN TERKUTUK INI KEMBALI KE ALAMNYA!" Nadia melompat tepat ke hadapan raksasa ini.
Ia mengangkat tinggi pedang kecilnya yang kini berubah menjadi pedang emas penuh sinar.
Bersinar, kilau-kemilau. Terdapat ukiran sirkuit dan kalau diperhatikan lebih teliti terdapat ukiran bunga tertatai. Tak lupa rangkaian lima kristal elemen yang bergabung menjadi bentuk kristal wajik besar yang berwarna warni di tengah pegangan pedang tersebut.
"Pedang emas itu," Ibu Albert, Kakek San dan yang lain terkesima melihat pedang yang di bawa Nadia dari tempat para rakyat di evakuasi, tak jauh dari daerah pertempuran itu terjadi.
"Pedang emas Sang Pelindung Teratai Biru!"
__ADS_1
HIAAAA!
Nadia mengangkat pedangnya, yang kini terlihat di mata raksasa itu sebagai pedang yang sangat besar dan tajam.
CRUTT!
"AAAAA!"
Hap!
Nadia mendarat, nafasnya ngos-ngosan.
BRUK!
Raksasa ini ambruk setelah sebuah pedang emas kecil tertancap di jantungnya. Awan gelap dan gerhana itu telah usai. Kini hanya terpancar angin dan cahaya ceria nan penuh kebaikan.
Nadia berbalik, ia menatap tangangannya. Ia tak percaya dirinya berhasil memenuhi tekadnya. Berkat dirinya kejahatan raja sesat ini berhasil diselesaikan. Keempat sahabatnya menghampirinya, memeluknya penuh kebahagaian, terutama Fikram dan Manda, kegembiraan begitu terpancar dari mereka.
"Yeeee! Kita berhasil, Di!" kata keduanya.
Yang lain menghampiri, para rakyat juga keluar dari tempat perlindungan mereka. Mereka semua berkumpul di bawah langit yang cerah ini. Rona dan tangis bahagia, serta senyum merekah terukir di wajahnya. Sorak sorai terdengar riuh.
"Yeeeee! Kita semua sudah aman! Horeee! Hidup sang Pelindung!"
"Hidup!"
"Hidup sang Pelindung!"
"Hidup!"
"Wah mereka menyoraki kita, aku merasa tersanjung," kata Fikram.
"Haha, sudah-sudah, saya tau saya ini memang hebat," bangga Dina.
Pletak!
"Jan ngadi-ngadi deh," Gamma menyentil dahi Dina.
Nadia menatap jasad dan menatap wajah bahagia para rakyat. Senyum ikut terukir di bibirnya, matanya berkaca-kaca.
"Aku berhasil, kami... berhasil mengalahkan raja in... i."
Bruk!
Nadia tiba-tiba pingsan. Baju dan kondisi mereka pun kembali seperti semula. Maka terpampanglah luka Nadia yang parah.
"Bawa ke ruang pengobatan istana!"
"Tapi istana kan sudah rubuh, Ketua," kata Gamma pada Kakek San.
"Yang rubuh hanya separuh bangunan, ruang pengobatan ada di bagian yang belum rubuh ayo cepat!"
Drap! Drap!
--------------
"Ugh... Di mana aku?" Nadia membuka matanya perlahan.
"Anda berada di ruang pengobatan istana, Tuan Putri."
Mendengar ada suara orang lain ia menoleh ke sumber suara. Sontak ia langsung bergerak merubah posisinya menjadi posisi duduk. Si pelayan yang khawatir membantu Nadia.
"Kau...?" ia bingung siapa wanita muda yang memakai pakaian sederhana ini.
"Saya pelayan istana, Tuan Putri," jawabnya sedikit membungkuk.
Nadia mengangguk kecil, kemudian ia bertanya, "Emm... di mana teman-temanku?"
"Mereka juga sedang beristirahat, Nona," jawabnya sopan.
"Apa keadaan mereka baik-baik saja? Apa luka mereka parah? A-aku harus ke san-" Nadia ingin menilik teman-temannya namun segera dicegat dan luka yang diperban di tubuhnya terasa nyeri.
"Tenanglah, Tuan Putri. Mereka baik-baik saja, mereka bersama Ketua Penyihir. Dan sejauh yang saya tahu, luka andalah yang paling parah, jadi cemaskan diri anda dulu, Tuan Putri."
"Hemm, ya baiklah," Nadia pun menurut.
"Ya sudah Tuan Putri, saya mohon pamit. Selamat beristirahat," ia undur diri dan keluar dari ruangan itu.
Nadia membatin, "Aku tidak bisa duduk di sini saja, aku harus mencari teman-temanku, aku ingin bertemu mereka."
Ia pun bangkit dan segera keluar. Ia tidak mengindahkan larangan dari pelayan itu walau tubuhnya memang terlihat masih lemah. Dengan perlahan ia pergi ke luar kamar itu.
Tap... Tap... Tap....
Ia menyusuri lorong dari tempat ia berada. Ia pikir dari ruangan tempat ia berada akan langsung pintu keluar, nyatanya tidak demikian. Ia kebingungan di persimpanangan.
__ADS_1
"Kanan, atau kiri?" ia bingung.
Ia mencoba menilik, ternyata lorong sebelah kiri langsung menghadap pintu sementara lorong kiri masih terdapat lorong lagi.
"Kucoba kiri dulu deh," ia pun melangkah ke kiri.
KREKKK!
Cuit! Cuit!
Matanya berbinar seketika, pemandangan benar-benar menyentuh hatinya. langit semburat jingga dengan cahaya matahari yang kemerahan. Matahari nampak sudah lelah dan ingin beristirahat.
Tepat sekali ada sebuah bangku taman di sana. Ia pun duduk manis di kursi tersebut sambil menatap sunset indah ini. Namun sebelum ia mendarat dengan sempurna, ia merasakan telah menduduki suatu benda keras.
"Eh?"
Ia pun merogoh sakunya. Ia mengeluarkan belati dan satu benda yang membuat ia menyunggingkan sebuah tersenyum.
"Haaa, benar juga. Untung saat aku bertarung tadi, ini tidak jatuh."
Ia memandang gelang yang ia beli di pasar istana kemarin. Gelang berbandul matahari itu ia pandangi di sebelah sunset.
"Hemmm, kapan aku serahkann ini pada Rio ya...?"
"Nadia!" dari arah kejauhan Rio menyapa gadis ini.
Nadia terkesiap, buru-buru ia menyembunyikan gelang itu, sebelum akhirnya Rio berada tepat di hadapannya.
Tap ... Tap...
"Hai," sapa Rio.
Panjang umur kau Rio.
"Oh- ha-hai," gugupnya.
"Sedang apa kau di sini? Apa lukamu sudah sembuh, sehingga kau keluar-keluar begini, hah?" khawatir Rio langsung duduk berhadapan dengan Nadia.
Nadia tak sanggup melihat manik mata Rio, ia mengelus tenguknya. "Aku sudah baikan kok. Kau sendiri bagaimana? apa lukamu su-sudah sembuh, kau kan juga keluar-keluar," balas Nadia.
"Aku? Aih, jangan khawatirkan aku, lukaku tidak separah dirimu, Di," ia menunduk. "Syukurlah, aku melihatmu di sini, setidaknya aku tahu kau baik-baik saja, aku sangat cemas tadi," gumamnya.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu, Ri?" tanya Nadia membuat Rio terkesiap.
"Ah, tidak-tidak," sangkalnya.
Nadia kebingungan, ia pun memandang ke depan. Sama halnya dengan Nadia Rio Pun memandang ke arah sunset yang cantik itu.
Hening~
"Rio," panggil Nadia memecah keheningan, Rio menoleh. "Cantik ya?"
SERRR!
Angin pun bertiup sedang, menerpa dan meniup pelan benda yang dilaluinya. Pipi Rio merona ketika melihat wajah Nadia yang tersenyum terpesona pada sunset itu.
"Iya, sangat cantik," katanya.
"Sunsetnya benar-benar indah ya," Nadia tiba-tiba menoleh, Rio terkesiap, "jadi damai rasanya melihatnya."
"Eh!? I-i-iya," ia terkesiap lagi.
Sssst, ada yang diam-diam nguping di balik kursi nih.
"HOOOOOI!!"
"Eh, iya-iya, Di kau sangat cantik!" Rio segera menutup mulutnya.
Ia terjingkrak kaget karena Fikram dan Manda tiba-tiba saja muncul mengejutkan mereka. Nadia pun tak kalah kagetnya. Mereka tidak sadar ada yang yang jatuh dari masing-masing tangan mereka.
"Cieee yang lagi berdu- mmmmmph!"
Sebelum neyelesaikan maksud mereka, Dina sudah membungkam mulut mereka terlebih dahulu.
"Hei, kalian ini di panggil kakek San, kok malah keluyuran sih, Fikram, Manda," kata Dina tersenyum kecut. "hehe kalian lanjutkan saja ya, permisi."
Dina langsung menyeret dua pengganggu itu. Rio dan Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Ada-ada saja."
Mereka tidak sengaja melihat ke bawah secara bersamaan.
"Hah? Apakah kau yang membeli ini, Di/ Rio?" ucap mereka berbarengan.
To be continue ....
__ADS_1