Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Bagian Resolusi


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Andai kau masih disini, Profesor" pikir Putri Nadi teringat dengan Prof.Giana.


...Flashback End...


"Terus?" kata Manda penasaran.


"Terus..setelah itu Sang Pelindung pergi dan tiba-tiba Dr.Rutapala muncul mengagetkan ku dari belakang..dia membawa ramuan berwarna biru di dalam gelas ukur milik laboraturium" lanjut Dr.Wikan.


"Terus? terus?" tanya Manda lagi.


"Terus..akhirnya kami menyembuhkan pasien yang mengidap penyakit berbahaya itu dan memusnahkan wabah A-W12" kata Dr.Wikan.


"Terus? terus?" tanya Manda lagi.


"Ya, udah gitu doang" kata Dr.Wikan.


"Apa kau tidak curiga atau bertanya saat Putri Nadi mengagetkanmu?" kata Manda.


"Oh, tentu aku bertanya..dari mana saja ia sedari tadi tidak kelihatan?..dia menjawab..sedari tadi aku menguji ekstrak teratai biru pada cacing lintah lainnya" kata Dr.Wikan menjelaskan.


"Artinya kau punya banyak cacing lintah waktu itu.." kata Fikram agak jijik.


"Ya, lumayan lah" jawab Dr.Wikan.


"Iyuhh..untuk apa banyak-banyak..bukankah satu saja cukup" kata Fikram.


"Eit, jangan salah..tentu kami perlu banyak..karena kami harus menguji beberapa bahan yang cocok untuk membasmi virus itu..dan kami perlu objek penelitian yang benar-benar murni dan tidak tercampur-campur, karena itu terlalu berbahaya" kata Dr.Wikan.


"Jadi selama pertarungan itu kau dimana?" kata Nadia.


"Aku bersembunyi di balik tiang yang lumayan besar dan kuat" kata Dr.Wikan.


"Ooo.." kata Nadia.


"Ngomong-ngomong..apakah kau tidak curiga sesuatu dari perilaku Putri Nadi pada waktu itu?" kata Manda.


"Curiga? curiga apa?" kata Dr.Wikan tak mengerti.


"Ya, Putri Nadi tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba Sang Pelindung tiba..dan lagi di satu tempat mereka tidak ada atau bertemu..apa kau tidak curiga kalau Sang Pelindung itu Putri Nadi" kata Manda panjang lebar.


"Apah!! jadi Putri Nadi adalah Sang Pelindung..pantas saja waktu itu Profesor membisikkan sesuatu pada Dr.Rutapala dan ia merasa gelisah..mungkin Profesor tau kalau Putri Nadi adalah Sang Pelindung..kenapa dia tidak memberitahu ku, huuh..sungguh jahat" gerutu Dr.Wikan.


Rio, Nadia, Ibu Albert, dan Fikram menatap tajam Manda.


"Hehe...maaf..maaf" kata Manda menciut.


"Dari tadi kau menyebut Putri Nadi dengan Dr.Rutapala..kenapa, kenapa dia di juluki seperti itu?" tanya Rio.


"Karena-_" omongan Dr.Wikan terpotong.


"Dr.Rutapala artinya teratai biru...Putri Nadi sangat suka teratai biru..bahkan, saking sukanya terhadap bunga itu ia sampai bisa menyelamatkan spesies bunga teratai biru paling langka dan unik di Negeri Resyam dari kepunahan" kelas Ibu Albert.


"Ya betul, selain itu juga..dia adalah lulusan dari Invisible Academy..yaitu sekolah bagi calon-calon ilmuwan..dia termasuk kedalam murid terpintar waktu itu.." kata Dr.Wikan.


"Jadi?? karena Putri Nadi menyelamatkan spesies teratai yang langka dari kepunahan jadi dia di juluki Dr.Rutapala, begitu?" Tanya Fikram.


"Tepat sekali" kata Dr.Wikan.


"Emmm" semua mengangguk.


"Selain pemberani ternyata Putri Nadi juga pintar" kata Nadia.


"Huffftt" Manda terlihat sedih.


"Da, kamu kenapa? kok keliatannya sedih?" kata Fikram.


"Ya, setelah mendengar cerita tadi aku jadi teringat Dina" kata Manda sedih.


"Hemm..iya yah, dia mungkin sudah.." kata Fikram memikirkan yang tidak-tidak.


"Selamat jalan Dina dan Gamma" kata Manda sedih.


"Hiks..hiks.." Fikram dan Manda menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata.


"Kenapa dengan teman kalian sehingga mereka jadi seperti ini?" tanya Dr.Wikan.


"Oh, teman kami tadi terhisap ke dalam mulut Monster Silver Death Worm" kata Nadia.


"Ya, mungkin mereka sudah.." kata Rio sendu.


"Mereka baik-baik saja" sahut Ibu Albert.


"Hah?!" Semua menoleh ke arah Ibu Albert.


"Ya, sekali lagi aku ingatkan ya..ini Dunia Kebalikan, jadi menurut kalian apa?" kata Ibu Albert dengan tangan disilangkan.


"Artinya Dina dan Gamma masih.." kata Manda.


"Kalau di dunia tiada maka di disini" kata Nadia berpikir.


"Apakah artinya Profesor masih hidup?" seru Dr.Wikan.


"Kita harus cari Dina sekarang juga" kata Manda.


"Iya, tapi dimana?" kata Fikram.


"Ya kali, kita masuk ke perut cacing itu..ihh, aku tidak mau" kata Fikram jijik.


"Lagi pula kalau kita balik juga susah" kata Rio.


"Ya mungkin, bukannya masuk ke dalam masuk ke dalam mulut monster itu kita malah jadi zombie.." kata Nadia.


"Aha?! aku tau bagaimana" kata Dr.Wikan menuju komputer hologram besar.


"Hah?" semua bingung.


...⏳⏳⏳⏳⏳...


"Lepasin!!" Gamma menggeliat memberontak.

__ADS_1


"AHAHAHA" tertawa jahat.


Gamma memejamkan mata karena ketakutan.


"AHAHAHA" (tawa jahat dan memejamkan mata karena saking senangnya).


"TIDAKK!!" teriak Gamma membayangkan isi otaknya di ambil.


"Ssssttt..diam" bisik seseorang.


"Hah?" bingung Gamma membuka kelopak matanya dan mendapati...


"Kau!" Gamma sedikit berteriak.


"Sssttt!!" Dina menempelkan jarinya di bibir Gamma agar Gamma diam.


"Diam, nanti dia tau" bisik Dina menoleh ke arah Prof.Dexter.


Seakan syok dengan perilaku Dina, Gamma terpaku mematung dengan menatap Dina, entah kenapa tapi jantungnya berdegup kencang.


"Heh! ayo cepet..jangan nglamun mulu" kata Dina menyingkirkan jarinya dan menarik Gamma.


"Eh?! tapi..aku..kan" kata Gamma melambat karena tau dirinya tidak terikat oleh tali laser lagi.


"B..b..bagaimana bisa?" kata Gamma tak percaya dirinya bebas.


"Ah, sudah ayo..kita harus pergi dari sini sekarang" kata Dina menggandeng tangan Gamma.


"Eh?!" (Gamma tertarik).


Tap..tap..tap


Karena merasa ada janggal sedari tadi Prof.Dexter membuka matanya.


"Hah?!" Prof.Dexter terkejut melihat dua tawanannya bisa melarikan diri.


Sontak dia berdiri dan melepaskan alat penyedot itu dari kepalanya.


"Apa!! prajurit, kejar mereka!!" titah Prof.Dexter kepada prajurit kuno nya.


\~Tidak ada jawaban\~


"Prajurit!"


"Prajurit!!!"


\~Tidak ada jawaban\~


"Huh! kalian ini??..hah?!" Prof.Dexter berbalik dan mendapati semua prajuritnya terkapar tak sadarkan diri.


"Apa..apa yang terjadi?..kenapa kalian semua begini?" Bingung Prof.Dexter.


"Dina, apa kau yang melakukan itu?" Gamma masih berlari.


"Ah, sudah diam..dan cepat berlari" kata Dina fokus berlari.


"Haah 😒" reaksi Gamma mendengar jawaban Dina.


Dina dan Gamma tak menghiraukan dan tetap berlari.


"Kalian sudah melakukan kesalahan besar...!!"


"HAAAA!!KALIAN MENGURAS KESABARANKU!!" murka Prof.Dexter.


"HAAAA!!!"


Tubuh Prof.Dexter perlahan membesar sebesar raksasa dan ia berubah menjadi monster cacing berbadan perak.


ROARRRRRRRR..


Bayangan besar menyelimuti langkah Gamma dan Dina.


"Hah?" bingung Gamma dan Dina melihat bayangan besar menyelimuti langkah mereka.


Mereka pun berhenti dan berbalik.


ROARRRR...


"Dari mana monster ini datang" kata Gamma terkejut.


"Entahlah," jawab Dina.


"Apa Prof.Dexter?" tebak Gamma.


Dina menatap Gamma.


"Apa?" kata Gamma tak mengerti kenapa Dina menatapnya begitu.


ROARRR...


Suara keras menggelegar, menandakan monster itu amat murka. Dina dan Gamma mundur perlahan.


"Kita harus benar-benar pergi dari sini" kata Gamma.


"Kalau begitu, ayo lari!!" kata Dina langsung berlari meninggalkan Gamma.


"Heh! tega sekali kau" kata Gamma menyusul Dina berlari.


ROAARRRRR...BRUKK..


Ekor monster cacing mengerikan itu melingkar di segala sisi, menghalangi jalan Dina dan Gamma untuk keluar.


Cittt....


Lari Dina dan Gamma terhenti.


"Dia mengepung kita" kata Dina pada Gamma.


"Yap." kata Gamma mengiyakan.


"Ahahaha!! sekarang kalian tertangkap" kata monster itu dengan suaranya yang menyeramkan.

__ADS_1


Gamma dan Dina melihat sekeliling dengan posisi siaga.


"Hah..seharusnya aku tadi lari saja, meninggalkan dia" gumam Dina yang masih bisa di dengar Gamma.


"Apah!" kata Gamma sedikit kesal.


"Hah?! tidak, tidak ada apa-apa😗" elak Dina.


"Kau ini! huff..tenang Gamma..tenang..tidak perlu meladeni orang sepertinya" kata Gamma menahan amarahnya.


"Apa?! apa maksudmu orang sepertinya" kata Dina meninggi.


"Ya kau..orang seperti kau yang tidak tau terimakasih dan tidak ikhlas menolong orang lain" kesal Gamma.


"Oh, begitu..kalau bukan karena kau terlalu lambat..mungkin kita bisa pergi dari sini, dan juga aku tidak tau kenapa aku mau menolongmu" balas Dina.


"Oh, begitu jadi kau tidak ikhlas menolongku begitu.." kata Gamma.


"Ya, memang..lalu kenapa?" balas Dina.


"Kenapa!?..kau bilang kenapa!!" kata Gamma sedikit meninggi.


"Ya, kenapa? hah! ayo jawab" balas Dina.


"Kau ini" geram Gamma dengan tangan mengepal.


"Apa! apa!" tantang Dina.


"Kau..benar-benar" kata Gamma sudah bersiap memukul.


"😜" ejek Dina.


"CUKUP!!" sahut monster mengerikan itu.


"KALIAN BENAR BENAR MEMBUATKU MURKA!!" kata monster itu.


"Terus?" kata Dina.


"Jangan mengalihkan toping" kata Gamma masih kesal dengan Dina.


"Topik kali.." jawab Dina membenarkan.


"Ya itu lah, kita punya urusan yang belum selesai" kata Gamma.


"Oh, begitu..oke, kita selesaikan sekarang juga" kata Dina melepas jaketnya dan mengikatnya di pinggang ramping nya itu.


Mereka berdua maju perlahan bak petarung di ring tinju.


"HAAA!!! CUKUP! AKU MUAK DENGAN KALIAN!!" murka monster itu.


Ia lalu melilitkan ekornya yang keras ke tubuh Dina dan Gamma lalu mengangkatnya ke hadapan wajah monster mengerikan itu.


"KALIAN SUDAH MEMBUAT KESABARANKU HABIS!!" kata monster itu.


"Iih, lepaskan kami!!" teriak Dina dengan tubuh terlilit.


"Memohonlah kalian..AHAHHAHA!!" tawa keji monster itu.


"Ya, aku akan memohon..tolong jauhkan dia dari diriku" kata Gamma masih kesal kepada Dina.


"Permohonan macam apa itu?" kata Dina.


"Permohonan untuk MENJAUHKAN MU DARI HIDUPKU!!" teriak Gamma lantang.


"Biasa kali..NGGA USAH TERIAK TERIAK!!!" teriak balas Dina.


"Lo juga NGGA USAH NGEGAS!!" Gamma membalas.


"SUKA-SUKA GUE!!"


"BERISIKKKKK!!"


"LU JUGA BERISIKKKKKKKKKKKKKKK!"


"LU LEBIH BERISIKKKKKKKKKKKK!!!"


"LU!"


"LU!"


"LU!"


"LU!"


"CUKUPP!! AKU BENAR BENAR HARUS MENYINGKIRKAN KALIAN BERDUA!" kata Monster itu.


ROARRRRRR...


Monster itu membuka mulutnya dan menampakkan gigi-gigi tajamnya yang mengerikan.


Zraaaahhh...


"Apa..apa yang kau lakukan?" kata Dina bergidik melihat monster itu.


Zraaahhhhhh..


"Kenapa? kenapa dia?" kata Dina melihat Gamma terpaku dengan pandangan kosong.


Zrahhh..


"Hah?" bingungnya.


"Apa dia sedang menyerap memori Gamma?" pikir Dina melihat debu berwarna kuning kenari keluar dari kepala Gamma dan masuk ke dalam mulut monster mengerikan itu.


"Apa? apa yang terjadi?.." pikir Dina yang kini tatapannya pun mulai kosong.


"Aku akan semakin tak terkalahkan..semua, semua akan jadi miliku..AHAHAHAHAHA!!" tawa kejinya.


Kini monster itu tengah menyerap memori Dina dan Gamma.


"AHAHAHA" (tawa jahatnya)

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2