
EPISODE SEBELUMNYA
"AGH! IBU!" Fikram menahan rasa sakitnya, luka goresan mulai bermunculan di sekujur tubuhnya, baik di tangan, kaki, leher maupun wajahnya.
"Sedikit lagi."
Tinggal sedikit lagi Siera akan selesai melaksanakan tugasnya. Ia terus mendorong cairan itu.
"Huh... huh...." Setiap cairan yang masuk, membuat Fikram kesulitan bernapas.
"Sedikit lagi," Siera tampak senang.
SYUT!
Merasa ada benda yang melesat ke arahnya, reflek Siera mencabut dengan kasar dan dengan cepatnya ia menghindari satu panah kecil yang melesat ke arahnya.
"Hah!" ketika Siera berhenti menekan cairan itu, sepertinya membuat Fikram mulai bisa bernapas dengan normal kembali.
"Apa! Yang benar saja, kenapa keluarga ini selalu bisa menghindari lemparan seakurat itu!" kata Dina memijat pelipisnya.
"Apa sekarang kau lupa teknik melempar, Penyihir?" Gamma sedang membidik, ia kemudian melepaskan satu biji karet ke arah Siera.
SYUT!
"Hah!" Siera kaget
DUAKKK!
Satu biji karet berhasil mengenai kening Siera.
Gamma meniup ketapelnya, "Fuhh!Tepat sasaran," katanya penuh kemenangan.
Dina menatap datar manusia berbeda dunia itu. "Cih, apa itu!" gumamnya membuang muka.
"Kenapa? Hahaha, ternyata kemampuannya hanya sementara, tidak bisa diandalkan," Gamma tertawa remeh.
"Apa maksudmu!" kesal Dina.
"Ooh, Ayolah kau sudah tidak seahli kemarin," kata Gamma.
"Kau!" geramnya.
"Heh-heh, kalian ini sepasang penyerang jarak jauh, sama-sama di butuhkan, jadi tolong akurlah," kata Ibu Albert.
"Sepasang? Tidak-tidak, kenapa aku harus dipasangkan dengan dia!" protes Dina mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Gamma.
"Karena untuk mengisi bakatmu yang sudah mulai luntur itu, Haha!" sahut Gamma tertawa.
"Diam kau!"
"Kau yang Diam."
"Kau!" Dina semakin geram.
"Kau!" balas Gamma.
"Mulai lagi," kata Manda memutar bola matanya malas.
"Hah!"
Fikram mengerang kesakitan. Luka sayatan di tubuhnya semakin bertambah. Cairan merah mengalir dengan derasnya. Melihat hal itu Manda, Nadia, dan Gamma bergerak. Mereka berlari menghampiri Fikram.
__ADS_1
Siera tidak bisa mendiamkan hal ini, ia berniat mencegah ketiga makhluk itu namun, sempat dihadang oleh Rio.
"Jangan coba-coba," ujarnya.
"Kau cari mati wahai manusia!" Siera bersiap ia mengambil pedang dari tempat pedang di samping pinggangnya.
Ibu Albert dan Dina, membantu mereka dari jauh.
Tunggu-tunggu! Apa kalian tahu apa yang terjadi setelah Fikram pingsan di teras tadi? Bagaimana cara keenam manusia itu sehingga bisa lolos dan bisa sampai ke sini? Ok, kita flashback.
\~FLASHBACK\~
"Jangan... sak... sak... sakiti...." lirih Fikram sebelum akhirnya gelap gulita memenuhi pandangannya.
Kini Fikram tengah pingsan, Marine pun memerintahkan para prajurit untuk membawanya ke dalam kamar. Hingga tersisalah kelima manusia yang masih dalam kondisi yang sama, para prajurit hanya tinggal mengayunkan sekali kapaknya untuk memenggal kepala mereka.
Kelima manusia itupun panik, pikiran mereka seakan buntu tidak bisa berpikir. Hingga satu bantuan dari takdir pun tiba. Kalian masih ingat dengan Manda yang terbebas dari ikatan Fikram? Ya, dialah yang telah membantu kelima manusia itu lolos.
Menyadari keberadaan Manda, kelima manusia itupun memiliki harapan untuk bebas.
"Manda!" lirih Nadia.
"Manda? Dimana?" balas Dina.
"Lihatlah ke depan," Nadia mengarahkan.
Benar saja ada sosok manusia sedang ketakutan dengan sesekali memperhatikan dari jendela ruangan tepat di sebelah teras tempat Marine berdiri.
"Tidak ada yang akan menghalangi kita lagi! MULAI!"
Para prajurit bersiap.
"Kalian sedang bicarakan apa sih?" Gamma ingin ikut dalam pembicaraan.
"Ssst, lebih baik kau diam!" kata Dina.
"Ish," sebal Gamma.
"Lalu bagaimana caranya Manda membebaskan kita?" tanya Rio.
"Ya, menoleh saja tidak. Dia hanya bisa memikirkan rasa takutnya, lihat saja itu," timpal Dina.
"Hancur harapan," timpal Gamma.
"Dia akan sangat menolong," kata Ibu Albert. "Dengar, kalian harus mengalihkan perhatian para makhluk ini pada Manda."
"Kenapa?" bingung Dina.
"Ibu Albert, apakah itu tidak terlalu berbahaya bagi Manda? Kau tahu 'kan Manda itu ...," tanya Nadia.
"Tenanglah, Manda berada di ruangan berbeda dengan para prajurit ini dan aku yakin seluruh prajurit si Marine itu ada di lapangan ini, itu tidak akan membahayakan nyawanya," jelas Ibu Albert.
"Iya kalau itu benar kalau tidak?" kata Dina.
"Haah, sudahlah percaya saja. Setelah itu kita akan lari dari sini dan bersembunyi untuk sementara waktu."
"Tunggu-tunggu cara kita lepas dari tali ini?"
"Ada senjata pisau kecil di tasku, kita bisa menggunakannya."
"Kenapa tidak dari tadi, Ibu Alberta!" gemas Dina.
__ADS_1
"Aku baru menyadari posisi tanganku dekat dengan tas, hehe" ujarnya memberi alasan.
"Ya sudah, sebelum kita kehilangan kepala sebaiknya cepat lakukan itu," kata Gamma.
Mereka pun melakukan persis seperti rencana Ibu Albert. Mulai dari mengalihkan perhatian mereka ke arah Manda. Kemudian dengan cepat Ibu Albert mengambil pisau di tasnya dan mereka melarikan diri dari tempat itu. Tentu saja ada aksi kejar-kejaran dengan para prajurit. Tak lupa mereka membantu Manda lalu bersembunyi, mengamati serta membututi Marine secara diam-diam.
\~FLASBACK END\~
Ibu Albert, Dina, dan Gamma membantu mereka dari jauh. Nadia dan Manda berhasil membuka ikatan Fikram. Fikram mengatur siklus pernapasannya.
"Hah... hah...."
"Fikram," mata Manda berkaca-kaca melihat tubuh Fikram penuh luka sayatan, ia membuka penutup mata Fikram.
Fikram tampak sedikit terkejut penutup matanya dibuka, "Ibu... hah, Man-UHUK! UHUK!"
"Fikram," Manda khawatir.
"Ayo kita pergi dari sini," kata Nadia.
Gamma dan Manda pun membopong Fikram yang nampak lemas. Sementara Rio tampak kewalahan melawan Siera, ia terjatuh ke lantai. Siera mendekat dengan tatapan membunuh, Ia mengayunkan pedangnya. Rio memalingkan wajahnya menyangka ujung pedang akan mendarat di tubuhnya. Namun, sebelum bisa menyentuh Rio, Nadia menahan pedang itu dengan belatinya dan kemudian menendang perut Siera sehingga ia terpental jauh.
Nadia menghampiri Rio, dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Rio menatap Nadia, lalu membuang wajahnya.
"Tidak perlu," ujarnya bangkit dan membersihkan diri.
Nadia diam menahan kekecewaan.
"Kita harus pergi dari sini, cepat!" perintah Ibu Albert.
Mereka pun membawa Fikram lari menuju pintu keluar.
Siera bangkit, "Tidak bisa, sebelum aku melihat anak kesayangan ayah itu mati, hatiku tidak akan bisa tenang," gumamnya. "Kemana panglima satu ini!" batinnya mencari Rendi.
BRUAK!
"Tuan Putri ada apa? Aku mendengar suara kerib-" Rendi tiba-tiba muncul di depan satu-satunya pintu keluar di ruangan itu.
"Bagus, tuan putri mencarinya dia langsung muncul," batin Siera.
"Hah!" Nadia dan Rio bersikap siaga.
"Oh-oh, ternyata ... sudahlah, aku tidak mau membuang tenaga untuk melawan makhluk lemah seperti kalian, aku cukup menahan kalian diruangan ini. Ratu silahkan," Rendi pamit undur diri lalu menutup rapat pintu keluar itu.
"Ratu?" Mereka berbalik.
Mata mereka membulat sempurna saat melihat sosok di depan mereka.
"Akhirnya, akhirnya!" sosok itu terlihat sangat senang.
"Apa-apaan ini?" mereka terkejut bukan main.
"Ibu...." Fikram berkaca-kaca tidak percaya melihat sang ibu di depannya.
"KALIAN TIDAK BISA LARI LAGI DARIKU!" sosok berjenis kelamin wanita itu menatap mereka dengan tatapan mengerikan. Apalagi dengan seringaian kecil di bibirnya, semakin menambah aura mengerikannya.
SYUT!
"TIDAK!"
Bersambung ....
__ADS_1