
EPISODE SEBELUMNYA
"Oh, tidak."
HIAAA!
"Kembalikan buah kami, Pencuri!"
----------------
Tuil!
"ADOH SAKIT, BAMBANK!" Fikram memaki di depan wajah Dina.
"Biasa aja kali, ngga usah kek gitu," balas Dina dengan santainya.
"Ya elu nyabutnya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang dong, jangan bar-bar kek gitu," serunya.
"Ya elah biar seru juga, kalau nyabutnya hati-hati dan lemah lembut ngga asik, Bro."
"Ngga asik palelu! Aduh sakit," Fikram mengelus pipinya yang tadi tertusuk duri kaktus.
Betul, setelah mereka dikeroyok oleh warga kaktus, tubuh mereka jadi dipenuhi duri. Kini mereka sedang membersihkan badan dengan mencabuti duri-duri itu. Fikram tidak berani mencabut duri yang ada dipipinya karena merasa kesakitan, diapun meminta tolong kepada Dina. Tapi eh tapi ... yah kamu meminta tolong pada orang yang salah Fikram, haha.
"Ada apa ini? Ngga malem ngga siang kerjaannya ribut mulu," datanglah sesosok Ibu Albert.
Jrengg!
Tatapan kesal mereka layangkan untuk makhluk bernapas satu ini.
"Hey-hey, jaga tatapan kalian itu," kata Ibu Albert sekarang duduk di sekitar api unggun bersama mereka.
"Ini semua gara-gara kau Ibu Alberta. Kenapa juga kau tidak menyerahkan buah itu di awal, paling tidak itu bisa mengulur waktu sehingga kita bisa kabur," kata Dina bangkit dan menunjuk-nunjuk ke arah Ibu Albert.
"Kalau aku menolong kalian di awal, kepanjangan episod sebelah tuh," ucapnya.
"Episod? memangnya ini novel?" balas Fikram.
"Anggap saja begitu," balas Ibu Albert.
"Ah, tapi tetap saja Ibu Albert, kau-" ucapan Dina disela Gamma.
"Jangan salahkan Ibuku kalau teman kalian yang bersalah ya," Gamma membela Ibunya, ia langsung mendapat atensi mereka. "Maafkan aku sebelumnya, tapi gara-gara teman kalian emmm, siapa namanya aku lupa. Gara-gara dia terjatuh, kita jadi seperti ini. Dan lagi, sejak awal dia yang menyebabkan masalah, dari kita kehilangan si pencuri, hampir menangkapnya tapi gagal sampai ini, itu semua dia yang membuat masalah!" cerocosnya panjang lebar debgan nada setengah berteriak.
Manda yang sebelumnya terlelap duluan sekarang dia tersadar namun tetap pada posisi tidurnya.
"Apa maksudmu, hah!" Fikram bangkit. "Itu semua bukan kesalahan Manda!" ia membela Manda.
"Tapi benar juga, Fiki. Ini semua gara-gara Manda," Dina ikut bangkit dia membenarkan ucapan Gamma.
"Din..." Fikram menatap Dina.
"Kalau bukan salah Manda siapa lagi, hah? haah dia. Bukankah memang sudah biasa dia membuat masalah. Ah aku jadi ingat, waktu kau bertanding dengan musuh bebuyutanmu di bangku SMP dan Manda di timmu. Gara-gara dia kau kalah dan akhirnya..."
Mengerti arah pembicaraan Dina, Fikram membalas, "Itu hanya permainan konyol, Dina."
"Akhirnya kau kalah, harus menepati perjanjian dan kau dipermalukan satu kelas oh bukan satu sekolah, iya kan? Semua itu gara-gara Manda, Fikram ingat itu," kata Dina.
"Aku tidak mau membahasnya," dia memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras seketika.
"Hmmh, disaat itupun kau masih membelanya. Kau sangat baik ya. Tapi tetap saja Manda tidak melihat kebaikanmu, bahkan mungkin dia sudah lupa akan tawaranmu saat itu. Sadarlah Fikram, dia cuma bikin masalah. Apa jadinya jika nanti kau dengan dia, haah bisa-bisa nambah masalahmu aja, nambah beban idup-"
"DINA!!" Fikram naik pitam.
__ADS_1
"Hey, tenang-tenang," Nadia melerai sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Ini bukan saatnya untuk menyalahkan siapapun. kita semua, aku, semua pernah berbuat kesalahan," jelas Nadia. "dia bukan beban siapapun, dia sahabat kita. Lagipula kalau bukan karenanya tadi, kita akan terus berlari dikejar-kejar kaktus itu dan entah sampai kapan, dia juga membantu."
"Lebih banyak nyusahin daripada membantu kurasa," kata Dina melipat tangannya di depan dada.
"Dina!" tegur Nadia.
Dina hanya memutar matanya malas.
"Sudah-sudah, semua istirahat tidak ada ribut-ribut lagi!" titah Ibu Albert.
"Nah bener tuh, ayo Fikram tidur ya. tidur-tidur" Rio menarik Fikram untuk beristirahat agar ia bisa tenang, apalagi melihat tatapannya pada Dina, ia takut Fikram akan berbuat yang tidak-tidak karena tersulut emosi.
Satu persatu dari mereka pun terlelap dan memulihkan tenaga mereka.
Tes!
"Terimakasih, Di, Fikram. Tapi benar kata Dina aku hanya beban, banyak membuat masalah dan hanya menyusahkan, hiks-hiks." Manda mendengar semua keributan itu, air mata mengalir membasahi pipinya.
----------------
"Hey, hey!"
"Siapa? Siapa?" Manda celingukan mencari sumber suara itu.
"Kau Manda, kan?"
Mata Manda pun membulat saat suara itu tahu namanya. "B-b bagaimana kau-"
"Kau tidak perlu tahu aku tahu namamu dari mana, Beban Tim" suara misterius itu memanggil Manda dengan panggilan 'Beban Tim'.
"Jangan panggil aku seperti itu!"
"Baiklah. Tapi memang benar 'kan, kau adalah beban tim, beban bagi teman-temanmu."
"Selalu membuat dan memicu masalah baru, sedikit membantu memang, tapi banyak merepotkannya. Kau seorang beban tim, hahaha."
Tangan Manda mengepal kuat.
"Mereka sering oh tidak bahkan selalu membantumu dan kau ... wah-wah kau membalas dengan memberi mereka banyak masalah. Air susu dibalas air tuba ya."
"Hentikan..." geram Manda.
"Aku heran kenapa mereka masih mempertahankanmu yang tidak berguna ini dan si laki-laki itu ... dia masih menungggu jawaban darim-"
"Cukup! CUKUP!" Manda tidak bisa membendung air matanya lagi, ia menutupi telinga dengan kedua tangannya. "Cukup! Aku tidak mau dengar lagi!" Kakinya lemas, dia pun jatuh berlutut.
"Hiks-hiks, aku memang tidak berguna! Tidak berguna! Kenapa mereka tidak menjauhiku saja! Aku hanya pembuat masalah! Hiks-hiks!" Manda menutupi wajahnya sambil menangis histeris.
"Hemm, sadar diri juga kau. Tapi, kalau kau mau aku bisa membantumu."
Manda berhenti menangis setelah mendengar itu, iapun mendongak. "Benarkah?"
"Ya, aku bisa membuatmu lebih tangkas, lebih hebat, jauh lebih baik dari keadaanmu sekarang, dan kau bisa membantu timmu."
"B-b-bagaimana caranya?" Ia bangkit.
"Caranya? Hmmm, mudah. Tutuplah matamu," titahnya.
"Tutup mataku? Untuk apa?" Manda bertanya tetapi ia menutup matanya, menurut. "Nih dah, lalu?"
Suara misterius itu tidak menjawab.
__ADS_1
"Aku sudah menurutimu lalu mana cara- AGH!" mendadak Manda merasa kesakitan.
"Kemarikan kristal itu, Dri!"
"Kristal ini bukan milikmu."
"Penghianat!"
Manda melihat penggalan sebuah kejadian. Kejadian itu sangat singkat dan cepat, ia tidak bisa melihat jelas wajah orang yang berada dalam penglihatannya itu. Tetapi muncullah sebuah kristal berwarna hijau terang terekam jelas oleh otaknya.
"Ambil kristal itu dan semua keinginanmu akan terwujud," sosok yang tidak terlihat wajahnya itu menampakan deretan giginya yang runcing. "HAHAHAHA!"
"Apa yang?!" Manda terlonjak kaget, ia pun tersadar dari mimpinya yang mengerikan itu.
Ia mengusap wajahnya kasar, "Mimpi apa itu? Memyeramkan. Tapi..." ia mengingat isi mimpinya. "Benarkah aku tidak akan jadi beban lagi setelah mendapat kristal itu?"
"Hoammm. Apa! Ada apa lagi kau memanggilku malam-malam begini, hah! Ngga tau orang ngantuk apa!"
Tiba-tiba Manda mendengar suara seseorang.
"Siapa itu?" Karena penasarana iapun bangkit. Melewati tempat para temannya yang terlelap ia tidak melihat Ibu Albert. "Ibu Albert tidak ada. Jangan-jangan dia yang ...," Manda menyangka yang berteriak itu adalah Ibu Albert.
"Mau apa lagi kau memanggilku, hah! Malem-malem gini lagi, tadi 'kan sudah, Panglima!"
"Dia... seperti Ibu Albert," Manda mengamati dari balik pohon yang kering. Ia melihat dua orang yang sedang berbincang, namun ia tidak melihat wajahnya karena kondisi tempat itu sangat gelap.
"Kau tidak ada hormat-hormatnya pada atasan ya," ucap salah satunya.
"Tidak terlihat perempuan atau laki-laki. Tapi dari suaranya sepertinya laki-laki yang sudah berumur," pikir Manda.
"Atasan merepotkan!" salah satunya membuang muka.
"Ish, tunjukan rasa hormatmu! Pangkatku lebih tinggi darimu, tahu!"
"Baiklah, Panglima yang terhormat! Aku minta maaf sudah lancang," sosok itu membungkuk didapan sosok satunya. "begitu? Begitu yang kau mau? Cis, jangan harap," dia melipat tangannya.
"IIIH!" kesal salah satunya. "Aah sudahlah, aku tidak punya banyak waktu."
"Halah sok sibuk kau," sahutnya.
"Aku memang sibuk!" Makinya. "Huh, aku memanggilmu kesini karena mau menanyakan kristal itu, masih ada padamu 'kan?"
"Hemm, ya ini," dia menunjukan sesuatu.
"Palsu atau asli?"
"Ya ampun jadi atasan ngga percayaan amat sih. Nih!"
Dia menggerakan tangannya menarik sesuatu dari bawah. Mendadak, munculah akar yang menyangga kristal, seketika benda itu bersinar kehijauan. Manda terkesima saat itu juga.
"Alsi kan?"
"Asli maksudnya."
"Ya itu."
"Baiklah, jaga baik-baik ini, nanti akan terjadi ...."
"Terjadi apa? Kok tiba-tiba volume suaranya turun begini sih," Manda mendekat untuk mendapatkan volume yang lebih baik.
Krak!
Manda tidak sengaja menginjak ranting. Sontak, hal itu membuat kedua sosok misterius tersebut menoleh ke sumber suara dan menyembunyikan kristal itu cepat-cepat.
__ADS_1
"Siapa itu!"
Bersambung ....