
EPISODE SEBELUMNYA
"Sudah kubilang namaku Hrithik Roshan."
GUBRAK!
"Sudah cukup basa-basinya! MULAI DUELNYA!" kaktus itu terlihat sangat energik.
Mulaiiiiii!
"Mari kita mulai tantangan ini," wanita ini berseringai. "Musikkk!"
Wanita dengan regu tanamannya ini menari dengan gerakan yang aneh. Meliuk-liuk seperti ular dan pohon yang tertiup angin.
"Serius mereka sedang menari?" Fikram menatap mereka datar.
"Aku yang ngga tau jenis tarian atau itu memang tidak ada dalam jenis tarian manapun?" kata Nadia.
"Aneh," ujar Dina.
BOOMM!
Seperti sebuah pertunjukan, setelah grup pertama selesai menari, ada sebuah konfeti yang memeriahkan closing mereka. Si kaktus menulis di atas papannya layaknya sedang menilai sungguhan.
"Ha, kalahkan itu Manusia Payah!" ujar wanita itu sombong.
"Bisakah kau lepaskan kami dulu, kami tidak bisa menari dalam keadaan seperti ini!" kata Dina.
"Tidak," jawab si wanita singkat padat dan jelas.
"Cis, curang" sebal Dina.
"Nadia, kita mau menari apa dalam keadaan seperti ini?" bisik Dina.
Nadia tampak berpikir, tak lama kemudian ia berseru, "MUSIKKK!" serunya.
Mata Dina dan yang lain membulat seketika.
"Di, Nadia, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tau kita mau menari apa?" kata Dina panik.
"Belum, tapi aku punya ide," kata Nadia.
"Apa itu?" tanya mereka serempak.
~Few minuets later~
"Oh, serius!" keluh Dina.
"Hehe, hanya ini yang terlintas di pikiranku," kata Nadia.
"Ayolah, Din. Ini cukup menyenangkan," kata Fikram. "cicak-cicak di dinding~ ini hebat," Fikram kegirangan.
Cicak-cicak di dinding
Kalian tahu lirik ini bukan? Ya, lirik dari salah satu lagu anak-anak Indonesia. lagu yang menceritakan tentang pengenalan hewan cicak dan bagaimana cara cicak itu mencari mangsa ini diciptakan oleh Abdullah Totong Mahmud atau biasa dikenal AT. Mahmud.
Kini keempat orang bersahabat itu melakukan gerakan mengikuti irama lagu tersebut. Kaki mereka saling di kaitkan, dengan satu orang terakhir sebagai pengunci agar kaitan kaki mereka tidak terlepas saat melakukan gerakan, setelah itu, bergeraklah memutar secara bersamaan layaknya sedang menari. Emm, sebenarnya setahu Author ini sejenis permainan tradisional di sekitar tempat tinggal Author.
"Itu tarian?" si kaktus melihat mereka heran begitu juga dengan si wanita.
"Aku bertaruh mereka tidak akan bertahan lama," kata si wanita.
Diam-diam merayap
"Ayolah, mau sampai kapan," kata Dina tidak tahan akan kekonyolan ini.
"Hei, Dina tetaplah bergerak atau kita akan jatuh bersama nih," kata Nadia.
"Aah, aku malas. Sudah cukup aku berhenti," Dina berhenti bergerak.
"Din-Din jangan berhenti!" teriak Nadia.
"Dina bergerak!" seru Rio.
"Tidak akan, sudah cukup," tolak Dina.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berhenti, ini sangat menyenangkan!" jawab Fikram malah mempercepat gerakannya.
Yang satu terlalu bersemangat, yang satu tidak mau bergerak. Alhasil, gerakan mereka pun tidak jelas, sangat terlihat keseimbangan mereka sudah mulai luntur.
GEDEBUSH!
"Aduh!"
Hap! Lalu mereka jatuh~ wkwk. Kekompakan mereka memang tidak bisa diremehkan, dalam jatuh pun mereka bisa se-kompak ini, haha.
"Lihat apa ku bilang," ujar wanita ini.
"Astaga, mereka akan kalah," ucap Gamma dari jauh.
"Aku jadi meragukan, apa rencana ini akan berhasil?" timpal Rainny.
Ibu Albert hanya memutar bola matanya melihat tingkah keempat anak manusia yang konyol.
"Lihat apa yang terjadi karena ulahmu, Din" kata Nadia.
"Hei, jangan salahkan aku kalau aku tidak mau melakukan ide konyol ini," balas Dina.
"Mohon perhatiannya!" seru kaktus yang langsung mendapat atensi mereka. "Sesuai penilaianku sebagai juri tertampan kalian."
"Juri tertampan katanya," gumam Fikram menatap datar si kaktus.
"Aku akan mengumumkan pemenang dari duel ini," sambungnya.
JENGG!
Suasana tiba-tiba menegang. Hati keempat bersahabat ini sudah ber-negative thinking duluan. Perasaan mereka mengatakan mereka tidak menang apalagi tarian mereka lebih parah dari tarian wanita dan grupnya itu. Namun, yah bagaimana lagi. Keputusan sudah akan diambil. Apakah mereka akan menerima kekalahan dan mereka menerima konsekuensi dari tantangan Nadia?.
"Bersiaplah jadi budakku, para Manusia Payah," gumam wanita ini kegirangan.
"Pemenangnya adalah...."
"Oh sudah, selamat tinggal kebebasan," kata Dina pasrah.
"Pemenangnya adalah...."
"Oh tidak, aku tidak mau menari selamanya untuk wanita ini," jerit hati Fikram.
"Tunggu dulu!" Fikram memotong.
"Hei, ada apa bocah tengil," kata wanita ini menatap datar.
"Ide gila apa lagi ini," kata Dina menduga.
"Ada apa perserta duel?" tanya si kaktus.
"Emm, begini Pak-"
"Panggil 'Kaka' aja saya masih muda kok, haha" ucap si kaktus.
"Hiii," Dina bergidik geli mendengar ucapan si kaktus.
"Kemarilah," pinta Fikram pada kaktus itu.
Si kaktus pun mendekat. Tak lama setelahnya Fikram membisikan sesuatu kepada si kaktus.
"Memang telinganya di situ?" kata Dina dengan tatapan datar.
"Anggap saja di situ, Din," kata Nadia.
"Bagaimana?" tanya Fikram.
Si kaktus nampak berpikir.
"Ayolah, kalau lagu itu bisa tiba-tiba muncul dari langit apa aku tidak bisa request lagu?" Fikram nampak kesal.
"Ya-ya, baiklah," jawabnya menyetujui.
Tak lama setelahnya, si kaktus mengeluarkan sesuatu. Bentuknya seperti kertas yang dilipat-lipat menjadi persegi kecil. Ia membokar lipatan itu dan... ckck, lipatan itu ternyata bukan lipatan biasa. Sebuah alat komunikasi berbadan pipih yang di lengkapi layar terbentuk ketika si kaktus selesai membongkar lipatan itu.
"Halo," ucapnya menempelkan benda elektronik itu ke sisi samping wajahnya.
__ADS_1
Mereka semua kecuali Ibu Albert melongo bukan kepalang.
"Apa itu handphone?" mata Dina berkedut-kedut.
"Lebih bagus dari punya kita coba," kata Rio.
"Ok, saya tunggu ya. Sip," kaktus ini memutus sambungan teleponnya lalu melipat dan menyimpan handphonenya kembali. "ok tunggulah sebentar lagi, lagu kalian akan segera di putar."
"Handphonenya bisa dilipet-lipet, guys" ujar Fikram melongo.
"Haah, misteri dunia," kata Nadia menghela napas melihat keanehan yang membagongkan dari kaktus.
Los Dol ...!
Aha, siapa yang familiar dengan lirik ini. Dari dua kata lirik ini, lagu dan iramanya sudah terngiang, iya bukan? Hayo ngaku, haha.
"Apa yang?" wanita ini tampak kebingungan.
"Yo, keseruan dimulai!" Fikram kegirangan.
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Fikram melakukan gerakan menari eh bukan, ia melakukan gerakan berjoget mengikuti melodi lagu yang ia request tadi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" kata Nadia.
"Hei, Fikram berhenti bergerak, kau ini sedang apa?" kata Dina.
"Ayolah kalian tidak mau ikutan, ini menyenangkan loh," bujuk Fikram.
Fikram tidak menyaut ia tetap saja bergerak-gerak. Nadia ingin menghentikan ulah konyolnya lagi, tapi sedetik kemudian ia melihat wanita berserta grupnya itu. Meski si wanita hanya memerhatikan dengan tangan dilipat di depan dada dan tatapan yang datar-datar saja, namun Nadia bisa melihat si wanita memiliki ketertarikan untuk berjoget. Ini kesempatan bagus untuk mengalihkan perhatiannya.
"Fikram, berhentilah-" belum selesai Dina selesai berdialog Nadia memotong.
"Baiklah, aku akan ikuti rencanamu, Fiki" kata Nadia tersenyum.
"Hah? Rencana apa?" Ya memang Fikram tidak merencanakan ini semua, ini murni permintaan dari hatinya yang terdalam haha.
Nadia pun ikut berjoget seperti Fikram.
"Di, kau ...?" Rio kebingungan.
"Kalian ini kumat yah," kata Dina.
"Ayolah, Din Rio ikut saja. agar dia teralihkan tuh," bisik Nadia sambil menunjuk ke arah si Wanita menggunakan kode mata.
Cek paket datane yen entek tak tukokne
"Hei Juri Hijau! Cepat umumkan pemenangnya," tegur wanita ini.
Si juri kaktus malah fokus dengan tariannya tanpa menghiraukan si wanita.
"Ish, kau ini!" wanita ini tampak kesal.
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu~
Seperti sebuah keajaiban, si wanita dengan perlahan menari mengikuti irama lagu. Lagu yang diciptakan dan oleh musisi tanah air Denny Caknan ini rupanya telah berhasil membuat seorang wanita kejam menari-nari.
"Apa? ada apa dengan badanku. aku tidak bisa ... melawan ... hey tapi ini menyenangkan, wuhu!" batinnya ingin melawan tapi malah ketagihan.
Si wanita dengan grupnya pun ikut berjoget ria. Melihat adanya kesempatan emas, Ibu Albert menyuruh Gamma mengambil pisau yang ia selipkan di tasnya karena tentu ia tidak bisa mengambil benda itu sendiri dalam keadaan terikat seperti ini. Gamma menurut, iapun mendapatkan benda yang Ibu Albert minta.
"Dari mana Ibu dapatkan pisau ini?" tanya Gamma.
Ibu Albert langsung merampas pisau itu dari genggaman Gamma.
SREK!
Dalam satu kali tebasan, Ibu Albert sudah berhasil memotong seluruh tanaman rambat yang mengikatnya. "Ibumu ini lebih siaga dari yang kau tahu, sudahlah ayo cepat," Ibu Albert menuju ke arah Manda.
Gamma memutar bola matanya, "Aku bertanya apa, dijawabnya apa."
__ADS_1
Los Dol!
Bersambung ....