
EPISODE SEBELUMNYA
"Selamat datang di..Black Forest!!"kata Ibu Gamma.
"😑..maksud ibu, Hutan Hitam"kata Dina.
"Ih, Black Forest..bukan hutan hitam" ketus Ibu Gamma.
"Sama aja bu" kata Dina.
"Ya biar keren sedikit napa" gerutu Ibu Gamma.
"Pantesan namanya Hutan Hitam, hutannya aja bener-bener hitam" kata Manda.
"Kan sudahku bilang namanya...Black Forest" gerutu Ibu Gamma lagi.
"Ah, sama aja bu," kata Manda.
"Ya..sudah..sebaiknya kita segera masuk..dan selesaikan tugas kita." kata Nadia.
"Ya, sudah..ayo semua ikuti ibu" kata Ibu Gamma.
Ibu Gamma pun melangkah berjalan melewati jembatan rapuh itu dengan tenang dan santai, sedangkan yang lain agak kesulitan, dan masih berdiri di depan jembatan itu.
Manda melangkahkan satu kakinya untuk memastikan jembatan itu aman dilewati. Bukannya aman, malah salah satu bagian jembatan itu patah dan jatuh ke dalam jurang yang mengerikan.
"Emm..ibu Gamma apa kau yakin kita harus melewati ini?" kata Manda ketakutan.
"Ya, tentu aku yakin" jawab Ibu Gamma yang masih berjalan dengan santai di atas jembatan itu.
Manda masih ragu untuk melewati jembatan itu.
"Sudahlah ayo" kata Nadia menarik tangan Manda.
"Eh..tapi" (tertarik)
Nadia dan Manda pun berjalan melewati jembatan itu, ya walau sebenarnya Manda masih terlihat ketakutan.
"Apa kau juga mau aku tarik?" kata Rio pada Fikram.
"Emmm...Hah?!" kaget Fikram.
"Tidak..tidak..tidak usah..aku bisa sendiri kok" kata Fikram yang terlihat sedikit takut.
"Benarkah?" kata Rio menaikkan salah satu alisnya.
"Iya," kata Fikram.
"Ya baiklah terserah kau saja" kata Rio mulai berjalan dengan santai melewati jembatan.
"Emmm..bagaimana ini?" batin Fikram ketakutan.
"Rio!! Tunggu!!" kata Fikram berlari menghampiri Rio.
"Hey!..tunggu apa lagi..kenapa kau tidak maju" kata Dina dingin.
"Emm?!..aku?..aku..aku menunggu mu" kata Gamma terbata-bata.
"Oh, kalau begitu..kau duluan saja" kata Dina.
"Ya baiklah" kata Gamma.
Gamma pun mulai melangkah di atas jembatan itu. Dina pun menyusul.
Tap..tap..tap..
Mereka berjalan melewati jembatan rapuh itu dan sebentar lagi akan sampai di Hutan Hitam. Saat akan sampai di sana tiba-tiba...
KRIEK..
"Hah?!..Aaaaaa!!!!...tolong!!!!" teriak Dina.
"Hah?!..Dina!!" teriak semua.
Ternyata salah satu bagian jembatan yang di pijak oleh Dina patah, dan kini ia terperosok dan hampir jatuh ke jurang.
__ADS_1
"Hap"
"Aaaaa!!!"
"Hah?"
Dina pun melihat ke atas.
"Iii..ternyata kau berat juga ya" kata Gamma mencoba menahan Dina agar tidak jatuh.
"Eh kau?" kata Dina.
"Iiii.."
Gamma mencoba menarik Dina sekuat tenaganya.
"Iiiii...hia"
Akhirnya Gamma bisa menarik Dina kembali ke jembatan.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Gamma.
"Ya, aku baik-baik saja" kata Dina.
"Ya sudah ayo semua lanjutkan perjalanan!" suruh ibu Gamma.
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Aduh" rintih Dina lirih sambil memegangi kaki kanannya.
Gamma yang berada di depannya mendengar rintihan Dina, Gamma pun berbalik.
"Kau baik baik saja?" tanya Gamma sekali lagi.
"Iya..aku tidak ap-..aduh!" rintih Dina.
"Kakimu pasti sakit karena terperosok tadi..sini biar aku lihat" kata Gamma.
"Tidak..ini tidak ap-"
Gamma pun berjongkok dan melihat kaki Dina.
"Wah ini cukup parah..apa kau bisa berjalan?" kata Gamma.
"Emm..aku tidak tau" kata Dina.
"Emm..ya sudah..untuk sementara ini..aku akan membantumu berjalan..lalu nanti biar ibuku yang mengobati mu ya?" kata Gamma berdiri.
Dina mengangguk.
"Ayo" kata Gamma.
Gamma pun membantu Dina berjalan dengan cara membopong sebagian lengan Dina di bahunya.
Dina yang melihat hal ini melamun dan menatap Gamma, Gamma yang tersadar Dina sedang menatapnya pun menatap balik.
"Hey!!" kataGamma melambaikan tangannya di depan Dina yang sedang melamun menatapnya.
"Hah?!" kaget Dina.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, hah?" heran Gamma.
"Tidak..aku tidak menatap mu..kau nya saja yang merasa begitu" ketus Dina.
"Ya terserah kau saja" kata Gamma pasrah.
Gamma pun membantu Dina untuk berjalan, dan mereka sampai di Hutan Hitam atau Black Forest.
"Lalu dimana elemen itu?" kata Nadia.
"Emm..sepertinya elemen pertama yang akan muncul elemen cahaya atau elemen kegelapan..secara tempat seperti ini" kata Rio.
"Aku rasa elemen cahaya deh" kata Manda.
"Kalau elemen cahaya so pasti itu mudah..karena elemen cahaya pasti akan bersinar di tempat gelapkan" kata Fikram.
__ADS_1
"Mungkin saja, tapi kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti." kata ibu Gamma.
Mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka terus menelusuri Hutan Hitam. Mereka sudah sangat lama berjalan dan mereka merasa kelelahan, tetapi mereka belum juga dapat menemukan batu elemen yang mereka cari.
"Ya ampun mau sampai kapan ini?"kata Fikram letih.
"Ya, aku merasa 3L" kata Manda.
"Apa itu 3L?" tanya Dina yang masih dibantu berjalan oleh Gamma.
"Lemas, letih, lesu" kata Manda.
"😑"(Dina)
"Ibu Gamma, apakah tidak ada petunjuk lain dari buku Resyana?" kata Nadia.
"Tidak, tidak ada apapun lagi disini" kata Ibu Gamma melihat tulisan tadi di buku Resyana.
"Hey!! Ayolah kita istirahat dulu" kata Manda letih.
Semua menoleh.
"Ya, ibu..sebaiknya kita istirahat dulu..lagi pula ini juga sudah malam" kata Gamma.
"Bukankah disini memang selalu malam?" kata Dina.
"Iya sih" kata Gamma.
"Terus?" kata Dina.
"Terus gue harus jawab gitu?" kata Gamma.
"😑"(Dina)
"Ya baiklah kita istirahat disini.." kata Ibu Gamma.
Akhirnya mereka beristirahat ditempat mereka berada dan membuat api unggun.
...🔥🔥🔥🔥🔥...
"Sini aku obati kaki mu" kata Gamma membawa obat dan sehelai kain.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Dina.
"Tentu saja dari ibuku..memang dari siapa lagi" kata Gamma.
"Oh." jawabnya singkat.
Gamma pun membalut kaki Dina yang terluka menggunakan obat dan sehelai kain tadi. Dina yang melihat hal itu menatap Gamma dan melamun lagi.
"Hah?!..ini anak kerjaannya nglamun terus..emang ngga cape apa" batin Gamma tersadar melihat Dina melamun lagi.
"Din..Dina.." kata Gamma melambangkan tangannya di depan wajah Dina.
"Hah?!..apa?" kagetnya.
"Kau itu dimana saja selalu melamun..sebenarnya apa yang kau pikirkan, hah?" kata Gamma.
"Emm..aku..emm..aku berpikir untuk.." kata Dina terbata-bata.
"Untuk apa?" tanya Gamma.
"Untuk.."
"Untuk apa?" tanya Gamma.
"Untuk tidur, dah.." kata Dina langsung meninggalkan Gamma dan pergi tidur.
"Hii..anak ini" kesal Gamma.
Mereka semua pun pergi tidur karena kelelahan dan terlelap. Tanpa mereka ketahui dari tadi ternyata ada yang mengintai mereka. Di balik gelapnya hutan itu ada mata merah yang mengintai.
Mata merah itu bermunculan sangat banyak di balik semak-semak hutan gelap itu.
Wajah mereka tak terlihat karena kegelapan menyelimuti. Tetapi mereka terlihat sangat menyeramkan, seakan ingin menyerang mereka yang masuk ke Hutan Hitam tanpa seizin mereka.
__ADS_1
Bersambung...