
EPISODE SEBELUMNYA
"Ihihihi, sebentar lagi aku akan dapatkan kekuatan itu! AHAHAHAHA!"
----------------
Drap! Drap! Drap!
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, melewati rumah-rumah yang tertata dengan rapinya, mereka pun tiba di sumber cahaya.
"Apa yang ...." Nadia takjub sekaligus heran.
Sinar itu mucul dari sela-sela sebuah ubin dari batu. Ada kemungkinan terdapat ruang atau benda yang mengeluarkan sinar.
SREKK!
Digeserlah ubin tersebut, dan benar adanya. Di balik ubin tersebut terdapat sebuah lorong agak besar.
"Eeeee, Di? Apa kita akan masuk- eh-eh!" ucapan Manda terpotong karena Nadia langsung saja turun ke bawah.
Manda menatap datar Nadia yang langsung masuk tanpa mengindahkan perkataannya.Yah, bagaimana lagi. Satu persatu dari mereka mengikuti Nadia turun ke bawah.
----------------
"Apa kita sudah sampai? Di mana kristal itu?" tanya Fikram.
"Kurasa di sana," Nadia menunjuk ke arah depan, di ujung lorong.
"Ya sudah tunggu apalagi, ayo kita kesan-"
JLEB! Srekk! Teng-teng-teng!
"APA YANG!"
Mereka kaget bukan kepalang. Hanya karena Manda menginjak salah satu ubin, seketika seluruh lorong itu dipenuhi jebakan. Tepat di depan mereka, terdapat jebakan ubin, jika salah menginjak ubin itu maka kau akan langsung dipanah oleh puluhan panah yang akan menyerangmu. Tak hanya itu, terdapat juga pisau-pisau bergerigi yang ukurannya jumbo siap memotong apapun yang lewat.
"Apa kita harus melewati itu!" panik Manda.
"Mau tidak mau kita harus melewatinya, Mimo," sesal Fikram.
"Asikk, gw suka nih yang kek gini, menantang Bro," kata Dina.
"Cewe model apaan sih lu," gumam Gamma melihat Dina.
GRRRRRRRT!
Tiba-tiba seluruh bergetar hebat. Terlihat sebuah dinding menurun perlahan menyekat antara lorong mereka dan lorong seberang.
"Sudah ada jebakan, pintu itu gugup-gugupin lagi, aihhhh!" Manda frustasi.
"Bagaimana ini? Apa kita bisa melewatinya?!" Fikram ikut panik.
"MINGGIR!"
Hap! Hap!
Dengan lihainya Nadia melewati jebakan-jebakan maut tanpa tanpa ragu. Melewati ubin dengan cepat dan tanpa ada kesalahan.
Manda dan Fikram melongo melihat sahabat mereka bisa sehebat itu.
__ADS_1
SRINGG!
Bahkan melewati pisau-pisau jumbo yang nyaris memotongnya saja ia masih selamat.
SREEKKK!
Tembok yang akan menutup itu akan rapat tinggal celah sempit. Nadia pun meluncur melewati celah yang tak seberapa itu dengan mulusnya.
Nadia berbalik, tembok itu pun menutup sempurna menyisakan teman-teman seperjuangan Nadia di sana.
"Eh, teman-teman!" bingung Nadia. "Aku kira mereka mengikutiku," batin Nadia mengelus tenguknya.
CLINGGGG!
Nadia memutar tubuhnya karena merasa ada cahaya silau yang seakan memanggilnya di belakang. Matanya pun membulat, berkaca-kaca melihat benda yang selama ini ia cari-cari. Kunci ia dan teman-temannya pulang, kristal terakhir.
Ia pun melangkah perlahan mendekati kristal berkilau itu. Bunga teratai biru itu pun mekar dan menampakkan batu kristal berwarna kuning keemasan. Kristal itupun terbang dan sebentar lagi jatuh di tangan pewaris yang agung ini
SETT!
Nadia kecolongan, kristal yang hampir ia dapatkan kini jatuh ke tangan orang yang salah.
"Haha, terima kasih telah mengantarkanku ke kristal ini, wahai Yang Terpilih," sosok ini melempar-lemparkan kristal di tangannya.
Gadis ini berbalik, menunjukan wajahnya yang sebenarnya.
"Rainny!"
Rainny tersenyum tipis. "Raja Basilia pasti akan bangga padaku. Aku berhasil mengambil lima elemen sakti ini. Ini juga berkatmu, terima kasih ya," ujarnya.
"Lima elemen? Hah, jangan mimpi. Empat elemen lainnya aman bersama buku Resyana," kata Nadia yakin.
"Haha, kau sangat yakin rupanya" ia mengeluarkan sebuah buku kuno yang usang, apalagi kalau bukan Buku Resyana.
SET!
Dengan mudahnya Rainny menghindar, serangan Nadia gagal dan ia terjatuh karena pergerakannya yang tiba-tiba. Ia bangkit, menatap tajam Rainny.
"Kau tahu. Sia-sia saja kalau kau menyerangku. Skill bertarungmu denganku sangat jauh berbeda," angkuh Rainny.
Ia pun melesatkan sebuah gunting tajam ke arah Nadia.
JLEBB!
Hampir saja gunting itu menembus tulang pipinya. Gunting itu kini menancap di dinding. Nadia mematung, tak lama gunting itupun terbang kembali ke arah Rainny.
"Hihihi, apa kau takut? Sampai mematung begitu haha," ejeknya.
Meihat Rainny lengah, Nadia pun melihat kesempatan untuk menyerang. Ia bersiap, menggenggam erat belati satu-satunya.
"Eh?" Nadia kebingungan, ia merasakan di tangannya tidak ada lagi benda tajam. Ia melihat dan benar saja belati yang semula di tangannya telah hilang begitu saja.
"Bingung ya, humm?" Rainny menampakkan belati Nadia yang melayang di tangannya.
"Bagaimana kau ...!"
"Haha, kau tidak perlu tau."
Gadis penghianat itu melesatkan belati kepada pemiliknya sendiri tanpa memindahkan tubuhnya sedikitpun.
__ADS_1
"Astaga, the real senjata makan tuan," gumam Nadia.
SYUTTT!
SETT!
Nadia berhasil menghindari satu benda tajam miliknya itu. Belati itu pun kembali pada Rainny.
"Wah-wah hebat sekali kau. Tapi itu hanya permulaan, bagaimana kau menghadapi ini, wahai Yang Terpilih!"
Berjejerlah gunting-gunting yang kecil namun sangat tajam.
"Ku harap kau masih selamat! HIAAA!"
Melesatlah gunting-gunting itu ke arah Nadia. Nadia mencoba tenang dan fokus.
"Haagh, yang benar saja. Baiklah Nadia fokus dan tenang, kau bisa! Kau bisa ayo! Anggap saja kau sedang di serang bola kasti, bola kasti yang sangat tajammm!"
SET! SET!
Dengan lihainya Nadia menendang gunting-gunting yang menghujam dirinya. Dengan cepat ia mengambil dua gunting yang jatuh di bawah lantai, lalu berlari mencoba melawan arus gunting yang terus menghujaninya. Kini tibalah ia di hadapan Rainny. Ia melompat dan menyerang Rainny.
"Kembalikan kristal-kristal itu, Rainny!"
Mata Rainny membulat sempurna.
BRUKK!
Nadia menahan Rainny, kepala dan badannya ia biarkan mencium lantai, gunting yang ia genggam ia arahkan ke leher gadis ini guna mengacamnya.
"Kenapa kau melakukan ini hah! Siapa kau sebenarnya! Dasar tidak tahu terima kasih! Kau sudah kami tolong dari maut, kau tahu kan!" cerca Nadia menindih badan Rainny.
"Ahahaha, terima kasih katamu. Kau memang lucu Tuan Putri Nadi."
"Namaku Nadia."
"Apa kau tidak menyadari semua itu adalah rencanaku dan Raja?" mata Nadia membulat. "Kau pikir siapa yang mengirim kalian ke kerajaan Siren dan mempertemukan kalian dengan kristal air itu, hah!"
"A-apa yang kau katakan!"
"Dasar bodoh!" ia menyeringai.
----------------
"Ini kita gimana dong?" tanya Fikram.
Ya, jangan lupakan teman-teman Nadia yang masih terkurung di balik jebakan dan pintu dinding yang tertutup itu.
"Kakek San, kau kan penyihir pakai sihirmu untuk mengeluarkan kita," kata Manda.
"Sihir ku tidak bekerja di sini," balas Kakek San.
"Aih, tidak berguna," komentar Ibu Albert.
"Terus gimana dong?" tanya Fikram lagi.
"Dahlah nunggu aja," jawab Gamma.
Mereka mengela napas panjang
__ADS_1
"Semoga Nadia ngga berabad-abad di sana."
Bersambung ....