
EPISODE SEBELUMNYA
"Siapa itu!"
Huh! Huh!
Untung Manda cepat-cepat berbalik dan bersembunyi di salah satu bangkai pohon. Sehingga nampaknya ia selamat, tidak ketahuan.
"Hufff... hampir... hampir saja," Manda mengelus dadanya, menenangkan jantung yang berdegup melebihi kecepatan normal.
----------------
"Benarkah aku bisa jadi lebih baik setelah menyerahkan kristal itu? Ah tapi sepertinya yang berbicara waktu itu menyeramkan, aku juga tidak tahu dia siapa?" Manda bergelut dengan pikirannya. "Tapi kalau aku setuju dengan tawarannya...." ia menimang-nimang keputusannya. "Psst, kristal itu 'kan ada pada Ibu Albert, sepertinya. Pasti akan sulit mengambilnya," ia menatap Ibu Albert. "Haah, rumit." mengacak rambutnya frustasi.
"Manda kau sedang memikirkan apa?" menepuk bahu Manda, Manda pun kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Hah!" ia kaget. "Haih, kau Nadia. Ah tidak, aku tidak sedang memikirkan apa-apa," kilahnya.
"Benarkah?" goda Nadia. "Ya, baiklah kalau kau tidak memikirkan apapun. Tapi saranku, jangan terlalu banyak berpikir, Fikram itu orang yang baik dan pasti cocok denganmu kok. Jadi segera jawab dia ya, haha" menyenggol lengan Manda.
"Apaan sih, Di" pipi Manda merona.
Nadia terkekeh kecil, "Halah, masa ngga ngerti sih." godanya lagi.
"Iih, Nadia," kini pipi Manda benar-benar seperti kepiting rebus. Netranya pun beralih menatap punggung Fikram yang sedang fokus berjalan, ia tersenyum tipis. "Menjawabnya ya, hemm" ia menunduk.
Mendadak Manda terperosot kebawah.
"AA!"
Nadia yang mendengar suara jeritan Manda, menoleh. Benar saja, ia melihat Manda terjatuh dalam sebuah lubang berlumpur.
"Di, tolonggggg!"
Lumpur itu bukan lumpur biasa. Itu adalah lumpur hidup yang akan menelan siapa saja jika ia terjebak dalam lubang ini.
"Eh, Manda jangan banyak bergerak. Semakin kau bergerak semakin cepat kau tenggelam," Nadia menghampiri.
Akhirnya Manda hanya bisa diam sembari menunggu teman-teman menolongnya.
"Haaah, aku tidak sanggup lagi! Mau sampai kapan kita disini!" pekik Fikram frustasi. "Aku rindu kehidupan biasaku," ia membungkuk lemas. "Aku pengen makan omelet coklatku lagi!" rengeknya
"Bersabar saja, Fikram" balas Dina.
"Omelet coklat apa, itu omeletmu yang gosong bukan coklat," balas Rio.
"Itu coklat bukan gosong," kekeuh Fikram.
"Memangnya kau tidak bisa bedakan rasa gosong dengan coklat? Omeletmu itu jelas-jelas gosong!"
"Itu coklat, Rio! COKLAT!" Fikram berteriak di depan wajah Rio.
Tidak mau memperpanjang perdebatan ini, iapun mengalah. "Ok-ok itu coklat, itu coklat."
"Teman-teman! Kemari, tolongg!"
Keenam manusia itu langsung menoleh ke belakang tatkala mendengar suara teriakan. Mereka langsung mendekat ke arah pemilik suara. Mata merekapun membulat sempurna ketika melihat Manda yang perlahan bergerak turun di dalam kubangan berwarna coklat pekat.
"Manda!" pekik mereka.
"Manda apalagi ini? Kau kenapa?" tanya Dina.
"A-a-aku tidak melihat lumpur ini saat berjalan jadi aku jatuh dan sekarang terjebak," Manda menjelaskan.
"Sudah-sudah nanti saja tanya-tanyanya. Keburu kau tenggelam nanti. Coba kau raih tanganku," Fikram berjongkok, ia berusaha meraih tangan Manda untuk menolongnya.
Mata Manda berkaca-kaca, "T-t-terimakas-"
"Nanti saja kalau kau sudah selamat," sahut Fikram sebelum Manda menyelesaikan kalimatnya. "ayo raihlah," Fikram mencondongkan badannya lebih lagi.
Begitu pun sebaliknya, Manda berusaha meraih tangan Fikram. Namun sepertinya tangan mereka akan sulit bertautan.
__ADS_1
"Iih, eh-eh!" Karena terlalu memaksakan kehendak ia meraih tangan Manda, Fikram jadi tersungkur dan hampir jatuh ke lumpur bersama Manda.
Untung saja Nadia yang dibelakangnya berhasil memegangi, mencegah Fikram jatuh ke lubang yang sama.
"Hah-hah, nyaris," syoknya memegangi dadanya.
"Kita harus mengeluarkan Manda segera," kata Nadia.
"Di sini tidak ada tali ataupun akar atau sesuatu yang panjang, Di" kata Dina.
"Bukankah teman kalian bersenjata tali?" usul Gamma mengingatkan. "Hei siapa namamu aku lupa," dia menunjuk Fikram.
"Fikram si cowok ganteng sedunia, kenapa?" dengan penuh kepercayaan diri.
"Gue pengen muntah dengernya," ujar Dina menutup mulutnya seakan menahan muntahan keluar dari dalam.
"Ah, benar juga. Fikram keluarkan senjatamu yang diberikan Ibu Albert," kata Nadia.
"Emm aku tidak yakin aku masih ...." Dia merogoh sakunya, dan ia menemukan besi runcing terlilit tali cukup panjang keluar dari sana.
"Itu ada. Ayo cepat urai tali itu dan lemparkan pada Manda," kata Nadia.
"Ok," Fikram pun berusaha membuka tali yang mengikat besi itu.
"Kawan-kawan t-"
Blup-blup!
Set!
Bruk!
Manda tenggelam ditelan lumpur, para temannya tidak ada yang menyadari kecuali Ibu Albert. Dengan cepat Ibu Albert menghampiri dan memegang tangan Manda yang untung saja masih menyembul di permukaan. Ia sampai harus menjatuhkan dirinya agar bisa menggapai tangan lembut itu.
"Kalian terlalu lama berdiskusi, teman kalian tenggelam ini, cepatlah sedikit!" hardik Ibu Albert, dengan sekuat tenaga ia berusaha menarik tubuh Manda kembali ke permukaan.
Teman-temannya yang sadar karena hardikan Ibu Albert menoleh sejenak, kemudian kembali fokus untuk membuka ikatan tali itu.
"Ayo cepat, Fikram," desak Nadia.
"Bagaimana bisa sangat sulit?" kata Nadia.
"Bukankah kau yang mengikat," Rio datang membantu.
"Bukan, bukan aku yang mengikatnya" jawab Fikram.
"Elah gini aja susah amat sih," Dina ikut membantu.
"Cepat! kenapa kalian semua malah bergerombol disitu!" Ibu Albert masih berusaha mengangkat Manda.
"Masih tidak bisa?" tanya Gamma.
"Apa mau potong saja," Rainny mengeluarkan guntingnya.
"Jangan, jangan dipotong nanti jadi pendek, kan sayang..." tolak Fikram.
"Udahlah potong aja, entar juga numbuh lagi," kata Dina.
"Lu kira bulu ketek, bisa tumbuh lagi," jawab Fikram.
"Pakai saja cara tercepat!" pekik Ibu Albert terus menarik Manda yang semakin ditarik malah semakin tenggelam.
"Aku akan membantu Ibu saja," Gamma berlari menghampiri Ibu Albert.
Tap ... tap ....
"Nah ini bisa," akhirnya mereka berhasil mengurai tali itu.
Ibu Albert sudah tidak kuat lagi, "Hah!?" akhirnya ia tidak kuat dan Manda pun habis, ditelan lumpur.
"Ibu Aku membantu," Gamma menghampiri.
__ADS_1
Ibu Albert bangkit seraya membersihkan bajunya yang kotor.
"Loh dimana dia?" tanya Gamma.
"Ini talinya," mereka membawa tali Fikram itu. "Ayo kita selamatkan–loh Manda mana?"
Ibu Albert hanya menatap datar.
"Apa dia sudah selamat ditarik olehmu, Ibu Albert? Wah kau kuat jug–" sebelum menyelesaikan kalimat dan pertanyaan konyolnya Ibu Albert berteriak.
"TELAT!" teriaknya. "Kalian semua telat! Lama!" ketusnya.
"Yah Maaf, ini karena tal-"
"Ah, sudahlah dia sudah tenggelam. Aku tidak perlu mendengar apapun lagi dari kalian," kata Ibu Albert menepis.
"Lalu bagaimana?" tanya Rainny.
"Aku akan merindukanmu, Manda" raut Wajah Dina dibuat sendu.
"Malaikat gantian repot ya," timpal Gamma langsung mendapat tatapan dari Dina, tersadar ditatap, ia menatap balik.
"Haha, bagus" Dina justru bertos ria dengan Gamma.
"Thanks," jawab Gamma ikut bergurau.
Sepertinya mereka senang akan tiadanya Manda bersama mereka.
"Kalian berdua senang?" Fikram menatap datar mereka.
"Kita harus masuk kesana dan menyelamatkan Manda," ucap Ibu Albert.
Seketika, semangat Dina dan Gamma luntur. "Kita? Kesana?" mereka membatu.
"Setidaknya ada satu orang yang masuk kesana, mencari badan Manda, lalu dengan tali itu kita akan menariknya," kata Ibu Albert melipat tangannya di depan dada.
"Hemm, masuk kesana ya? Kurasa orang yang bisa kesana adalah ...," kata Nadia memancing.
"Fikram seorang," seru Rio dan Dina menunjuk Fikram.
"Eh-eh, aku?"
~Sementara itu~
"Aih, dimana aku?" Manda memegang kepalanya. Tiba-tiba iapun tersadar, dia baru saja tenggelam dari lubang lumpur. "Tadi aku tenggelam! Huwaa aku ngga bisa napas, tolongg! Tolong!"
"Eh tunggu ... aku bisa bernapas, haah syukurlah. Eh tapi," ia melihat ke sekeliling. "tempat apa ini?" ia bingung tatkala melihat sekitarnya hanya kegelapan.
Clingg!
Mendadak netranya melihat benda berkilau persis di samping badannya. Ia pun menoleh tatkala melihat sinar itu. Matanya seketika membulat sempurna.
"Ini ...," dia mengambilnya. "ini kristal yang ada pada Ibu Albert. Bagaimana ini...?" ia kebingungan bagaimana kristal yang ia incar, sekarang ada di sebelahnya, ia berpikir sejenak. "Ah, aku harus kembali ke atas dan memulangkannya ke Ibu Albert," sepertinya Manda lupa akan tawaran sosok yang ada dimimpinya.
"Hei, Kemarilah," suara serak muncul.
"Siapa itu!" Manda menoleh ke belakang menilik ada orang atau tidak. Namun, tidak ada siapa-siapa. "Sebaiknya aku cepat-cepat naik, tapi... huwaa bagaimana caranya?" ia baru sadar ia tidak bisa naik kembali ke atas.
"Kau ini orangnya pelupa ya, Beban Tim," dia menekankan kata 'beban tim'.
Manda langsung berbalik. "Beban tim katamu!" ia tidak terima dirinya dipanggil demikian
"Apa kau lupa? Perlu aku ingatkan lagi?"
Mata Manda membulat, kemudian raut wajahnya berubah sendu. Ia menatap kristal hijau di tangannya. "Oh, benar."
"Apakah kau yang ada di mimpiku?" tanyanya.
"Ya, aku."
"Aku membawa syaratnya, tepatilah janjimu padaku sekarang."
__ADS_1
"Hmmh, dengan senang hati," ia menyeringai, menampakan deretan gigi runcingnya.
Bersambung....