Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Aneh!


__ADS_3

Teman-teman Fikram yang melihat hal itu segera berhenti dari aktivitas mengagumi ruangan dan terkejut main.


"Jawab!!!" desaknya. "Jangan sampai pisauku ini menembus otakmu!!" seringainya.


...🌿🌿🌿🌿🌿...


"Silahkan tuan dan nona" kata Rendi mempersilakan.


"Wah! keren! kamar yang megah sekali!" kagum Fikram.


"Hemm, keren." Dina bersuara.


"Ternyata kau sangat ramah" kata Manda pada Rendi.


Rendi terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Haha, tidak juga Nona Manda" katanya. "Maafkan saya waktu itu karena salah paham, saya kira Tuan Fikram melukai Putri Siera" tambahnya.


...FLASHBACK ...


"Jawab!!!" desaknya. "Jangan sampai pisauku ini menembus otakmu!!" seringainya.


"Hentikan, Ren!" keras Siera.


"*..*..*..tapi Putri.." ragu pria bersetelan jas hitam itu.


"Turunkan pisaumu!" titahnya.


"B..b..baik Putri.."


Rendi menurunkan pisaunya dari kepala Fikram, sesuai perintah sang tuan putri.


"Huff" Fikram bernafas lega.


Nadia dan yang lain mendatangi tempat kejadian perkara.


"Maafkan dia semua," kata Siera.


"Tidak apa-apa, Tuan Putri" kata Fikram.


"Emm..perkenalkan dia Rendi. Dia panglima istana sekaligus pengawal pribadiku" ujar Siera.


"Pantesan sangar banget" gumam Fikram.


"Dan Rendi mereka ini orang yang telah menyelamatkanku, jadi perlakukan mereka dengan hormat" kata Siera.


"B..b..baik, Putri" jawabnya.


"Ya, sudah. Rendi, antar mereka ke kamar tamu" titah Viera pada Rendi.


"Baiklah" jawab Rendi. "Mari" sambungnya.


...FLASHBACK END...


"Haha, tidak apa-apa kok" jawab Fikram. "Omong-omong tuan putri itu namanya Siera?" tanyanya.


"Kalian belum mengetahuinya?" tanya balik Rendi.


"Iya belum, sedari tadi dia hanya bilang 'akan ku jelaskan nanti, nanti kau juga tau' dan sebagainya, bla..bla..bla " kata Fikram.


"Ssst!!" tegur Dina. "Bisa ngga sopan dikit" bisiknya.


"Apaan sih! gue dah sopan kok ini!" kata Fikram.


"Eeee..maaf ya mas, dia emang agak gimana gitu.." kata Rio.


"Oh iya ngga apa-apa" kata Rendi.


"Apaan sih Ri!!" Fikram merasa terzalimi.


"Oh ya, panggil saya Rendi saja supaya lebih akrab" kata Rendi. "Di sini ada 7 kamar, masing-masing dari kalian bisa memilih kamarnya sendiri" tambahnya.


Mereka hanya mengangguk mengerti. Tiba-tiba datanglah sesosok perempuan memakai rok panjang, berpakaian sederhana, dan rambut di ikat rendah ke belakang. Sepertinya dia seorang pelayan istana.


"Ini Panglima Rendi," kata perempuan itu menyodorkan tumpukan baju dan berlalu pergi.


"Ini pakaian untuk kalian, Tuan Putri yang mengirim ini. Ia ingin agar kalian memakai ini dan datang ke pesta menyambutan Sang Ratu" jelas Rendi membagikan pakaian mereka.


"Penyambutan Sang Ratu?" bingung Fikram.


"Iya, penyambutan itu akan diadakan malam ini. Jadi, bersiap-siaplah. Ratu tidak suka melihat sesuatu yang tidak serasi dan rapi" jelas Rendi. "Baiklah, saya ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Saya pamit undur diri" pamitnya berlalu pergi.


"Wuhu, ada pesta penyambutan! pasti mewah dan seru" kata Fikram riang.


"Betul tuh!" kata Manda mengiyakan.


"Hemm..ya sudah, aku mau nyoba baju baru kayanya bagus nih modelnya" senang Manda berjalan menuju salah satu kamar.


"Ya aku juga" kata Fikram juga mulai memasuki salah satu kamar.


Yang lain juga mulai memilih kamar mereka. Termasuk Ibu Albert, tetapi saat melihat kamarnya...


"SEMUA BERHENTI!!!" kata Ibu Albert tiba-tiba.


"Hah?!" mereka pun berhenti tepat di ambang pintu.


"Semua kemari!" titah Ibu Albert.


Mereka pun menghampiri dan merapat ke Ibu Albert.


"Ada apa lagi Ibu Albert," kata Fikram malas.


"Kita akan membagi kamar." kata Ibu Albert.


WHAT!!!

__ADS_1


"Kan kita bisa memilih sendiri bu" kata Manda.


"Iya saya tau, tapi terlalu berbahaya untuk tidur sendirian di tempat asing" kata Ibu Albert.


"Apa!! jadi kita harus berbagi kamar juga?!" kaget Manda.


"Ya memang" kata Ibu Albert.


"Tapi, Bu.." kecewa Manda.


"Tidak ada tapi-tapian. Kita bagi dua saja. Rio, Fikram, Gamma, kalian bebas memilih dimana kamar kalian bertiga. Sisanya bersamaku di sebelah kamar para lelaki." kata Ibu Albert.


"Kita berempat?! ngga salah bu, emangnya ngga sempit!! dan kenapa harus sebelah kamar mereka sih!!" protes Manda.


"Ya memangnya kenapa? kamarnya cukup luas pasti cukup untuk kita berempat dan lagi kita harus selalu bersama karena dunia ini penuh bahaya tau!!" kata Ibu Albert.


"Tidak mau! pokoknya jangan berempat, titik!!" kekeh Manda.


"Dasar keras kepala!" kesal Ibu Albert.


"Hemm..mungkin Manda benar, sebaiknya kita bagi dua saja, kurasa itu cukup adil." kata Nadia melihat keadaan kamarnya.


"Tuh Nadia saja bilang seperti itu," kata Manda.


"Haah! ya sudah! kamar perempuan kita bagi dua. Tetapi tetap kamar kita bersebelahan, dan kamarmu di sebelah kamar laki-laki" kata Ibu Albert pada Manda.


"Apah!! tidak-tidak!! aku tidak mau di samping kamar mereka!" kata Manda menunjuk tiga pemuda gagah itu. "Kamar mereka berisik!!" lanjutnya.


"Hah?!" para lelaki bertukar pandang.


"Sejak kapan kami berisik? memangnya kamu pernah tidur di samping kamar kami?" tanya Fikram.


"Tentu pernah, kau tidak ingat!! waktu itu di hutan dekat lokasi Dunia Kebalikan, gubukku di sebelah gubuk kalian, dan kalian sangat berisik!!!!! aku jadi kesulitan untuk tidur, tau!" kesal Gamma panjang lebar.


"Waktu itu aku juga tidur di gubuk yang sama tapi aku tid..Aww!!" belum selesai Dina bersaksi, kakinya sudah diinjak lebih dulu oleh Manda.


"Awww!!! sakit!!" katanya memegangi kakinya yang diinjak keras.


"Sudah diam saja" bisik Manda.


"Sudah, tidak ada tapi-tapian lagi, kamar sudah di tetapkan. Ayo cepat para lelaki memilih dan kalian semua masuk kamar sesuai kesepakatan!" kata Ibu Albert.


"Nadia kau bersamaku ya?" ajak Manda pada Nadia.


"Ak-"


"Nadia bersamaku, kau bersama Dina." kata Ibu Albert memotong perkataan Nadia.


"Dengan Dina! tapi aku maunya dengan Nadia" rengek Manda.


"Tidak ada tapi-tapi, cepat sana masuk ke kamarmu" tegas Ibu Albert menarik Nadia masuk ke kamar mereka.


"Eeeeh!" (tertarik)


"Sudahlah, terima nasibmu, nak" kata Dina yang sudah masuk duluan ke kamarnya.


\~Di kamar para lelaki\~


"Hemm..pakaian macam apa ini?!" kata Gamma melihat setiap detail dari pakaian yang diberikan Rendi tadi, pakaian itu bermodel ala pakaian pangeran Eropa yang didominasi warna cokelat.


"Modelnya aneh," kata Gamma tidak suka.


TOK..TOK..TOK..


"Eh!? ada yang ketuk pintu" gumamnya. "Ya, sebentar!" katanya.


Gamma pun beranjak dari tempat tidur dan membukkan pintu.


"Hah!?"


Betapa terkejutnya ia siapa yang berada di balik pintu.


"Eh!? sudah kebuka ya, haha" kata wanita cantik berkuncir kuda dan membawa sebuah kotak putih berlambang tanda tambah berwarna merah di tengahnya.


"Na..Na..Nadi?!" kata Gamma. "


"Iya, ini aku" jawabnya.


"Duh kenapa dia tiba-tiba kemari? dan kenapa aku jadi gugup seperti ini, aduh?!" batin Gamma. "Emm..ad..ad..ada apa kau kemari?" gugupnya.


"Apa tanganmu sudah sembuh?" tanya Nadia.


"Ap..apa!" ulang Gamma.


"Ya ampun, ayo sini!" kata Nadia menarik tangan Gamma untuk masuk.


"Duduk sini!" paksa Nadia menyuruh Gamma duduk di kasur.


"Tunjukkan tanganmu!" perintah Nadia.


Tak ada pergerakan dari Gamma.


"Iih, sini!" kata Nadia menarik tangan Gamma dan melihatnya.


"Ah! tukan, pasti belum di obatin deh, lukamu ini!" cemas Nadia.


"Sini aku obatin dulu" kata Nadia membuka kotak P3K yang ia bawa.


"Omong-omong gimana caranya kamu ngelukain dirimu sendiri, maksudku pakai apa? bukankah tidak ada sesuatu yang tajam disana? apa kau bawa belati juga?" kata Nadia mencari obat di kotak P3K.


"Emm..aku waktu itu tak sengaja melihat pecahan kaca, jadi.."


"Jadi kau menggunakan pecahan kaca itu?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Emm..iy-"


"Ya ampun!! bisa-bisa kau terinfeksi, sini aku obatin" kata Nadia begitu khawatir akan keadaan Gamma.


Nadia lalu membersihkan luka Gamma dengan alkohol dulu baru ia memberikan obat merah.


"Sss" Gamma mendesis kesakitan.


"Tahan sebentar" kata Nadia meniupi luka itu agar cepat kering.


"Haduh! kenapa sih ketimbang jalan-jalan sekitar sini doang juga minta di temenin, kaya anak kecil aja lu!" gerutu Rio pada Fikram.


"Ya sorry, gue kan inget kata Ibu Albert 'jangan pernah berpencar sendiri' iya kan?" alasannya sambil menirukan gaya bicara Ibu Albert.


"Ngeles mulu lu, bilang aja lu takut sendirian." kata Rio.


"Iya-iya," Fikram terkekeh. "Hemm, kira-kira gimana keadaan Manda ya? hemm..tengokin ah!" batin Fikram.


Ia lalu pergi meninggalkan Rio. Sepertinya meninggalkan teman sudah menjadi kebiasaan barunya ya, haha (canda).


"Eh, mau kemana lu?" kata Rio.


"Jenguk Manda" jelas Fikram yang berdiri di depan kamar Manda. Mau langsung masuk tapi takut ngga sopan, xixi. Ia pun mengetuk pintu.


"Makin lengket aja kalian..udah pasti diterima dah lu, Fi" kata Rio.


"Hemm..mending gue istirahat cape nih..eh?!"


Rio terkejut dengan apa yang lihat di kamar.


"Ssss..aww" desis Gamma.


"Tahanlah" kata Nadia sambil meniupi luka Gamma untuk mengurangi rasa perihnya.


Terlihat Nadia sangat perhatian pada Gamma, padahal ini hanya luka kecil.


"Nah udah, jangan di apa-apain sampain lukamu benar-benar pulih" kata Nadia membalut luka Gamma dengan perban dan mengemas kembali obat ke kotak P3K seperti semula.


"Hemm..inilah yang aku rindukan darimu, Di..tapi sejak kapan dia perhatian denganku? bukankah sejak awal di selalu cuek? apalagi dia sangat dekat dengan Krucil itu, huuh! ah sudah biarlah mungkin Nadi dalam dirinya sudah kembali" batin Gamma tersenyum.


"Ya udah, gue balik dulu..takut Ibu Albert nyariin, haha" kata Nadia berdiri.


Gamma hanya mengangguk dan memandangi tangannya yang diobati Nadia.


Cup..


Tak terduga satu kecupan berhasil mendarat di pipi Gamma. Sontak matanya membulat karena terkejut bukan main.


"Love you..." bisik Nadia di telinga Gamma.


Deg! deg!


Kata yang barusan di ucapkan Nadia benar-benar membuat jantungnya berdebar-debar sangat cepat. Ia sudah lama tidak mendapat kecupan manis di pipinya sejak kekasihnya itu tiada karena terbunuh. Jadi ia seakan syok, apa lagi ia tak menduga kecupan itu dari Nadia, walaupun ia tau Nadia reinkarnasi kekasihnya tetap saja dia orang luar. Ia pun terpaku mematung.


"Bye," kata Nadia tersenyum dan keluar dari kamar Gamma.


Karena melihat Nadia beranjak keluar, Rio buru-buru merapat ke dinding agar Nadia tak melihatnya. Dan benar saja, Nadia berlalu dengan riangnya tanpa melihat Rio, namun Nadia tidak pergi kamarnya melainkan ke arah sebaliknya. Rio hanya memandangi punggung Nadia yang bergerak menjauh darinya. Ia kemudian pergi begitu saja.


"Ha?! ha?! dia menciumku! dan mengatakan 'love' A..a..a" kata Gamma tak percaya memegang pipi yang barusan dikecup Nadia.


"Aaaa!!! yes! yes!" seakan baru memenangkan sebuah hadiah besar ia melompat-lompat kegirangan. "Wuhu!!!" senangnya.


Tak hanya Rio yang melihat hal itu, Dina ternyata juga melihat rentetan kejadian yang sama dari balik jendela kamar. Tadinya ia membawa kotak P3K juga untuk mengobati luka Gamma, eh! Nadia sudah datang duluan. Sudahlah, ia melihat kejadian tadi. Entah apa yang ia rasakan, tetapi hatinya begitu sakit melihatnya. Ia pun berbalik dan berjalan menuju kamarnya.


"Hiks..hiks" isak tangisnya. "Haduh..Hah!? apa aku menangis? kenapa? kenapa aku menangis? apa karena melihat kejadian itu?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Ap...apa..apakah aku menyukainya? ah! tidak mungkin, lagi pula untuk apa aku menyukainya, bahkan melihatnya saja sudah membuatku ingin muntah!!" bantahnya.


"Ya sudahlah, aku lelah..aku akan istirahat saja" kata Dina beranjak masuk ke kamarnya tetapi langkahnya terhenti karena mendengar suara dari kamar Nadia dan Ibu Albert.


"Emm..Ibu Alberta aku masih ingin tau tentang kisah Putri Nadi" kata Nadia penasaran.


"Bukankah kau sudah tau, putri Nadi itu terbunuh oleh perdana menterinya yang kejam lalu.."


"Iya aku tau hal itu, tapi pasti ada rahasia besar lainnya kan? seperti waktu itu, kau pernah mengatakan kalau kau tidak ingin kembali ke dunia ini lagi! maksudnya apa itu?" tanya Nadia.


"Duh, kenapa sih reinkarnasi pelindung satu ini ingatannya sangat tajam, pake inget apa yang gue kata lagi" batin Ibu Albert.


"Biarlah waktu yang menjawab" kata santai Ibu Albert.


"Ah! tidak-tidak! kau harus menjawabnya atau aku tidak mau mengerjakan tugasku!" kata Nadia kekeh.


"Ya silahkan saja, toh kamu juga yang rugi" kata Ibu Albert. "Mungkin kamu akan terjebak disini, tidak pernah pulang ke dunia asalmu dan hidup dengan begitu banyak penderitaan dan bahaya" tambahnya.


"Hah?! hemmh! ada benarnya juga" batin Nadia. "Tapi Ibu Albert kumohon aku sangat ingin tau," Nadia memohon.


"Sudah kubilang, waktu yang akan menjawab"


"Tapi, Bu.."


"Hadeh! anak muda ini sama saja, sama-sama keras kepala! baik hidup sebagai Putri Nadi ataupun manusia asing tetap sifatnya tidak berubah!" batin Ibu Albert.


"Sudahlah!" jawabnya tegas.


"Haah! ya sudah aku menyerah! aku mau keluar saja kalau begitu." kata Nadia beranjak keluar.


"Eh! tidak tetapi disini dan jangan pergi kemana-mana sendirian!" cegat Ibu Albert.


"Ya sudah aku ajak Man-"


"Tidak!" tegasnya. "Tetap disini atau aku tidak membantumu menyelesaikan tugas dan kau tidak bisa pulang!" ancam Ibu Albert.


"Hah! Ibu Albert mainnya ngancem mulu..iya-iya" pasrah Nadia. Ia kemudian berbalik dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Tanpa di sadari mereka, ada sepasang mata yang tak percaya melihat mereka berdua sedang bercengkramah satu sama lain.

__ADS_1


"Hah!? Na..Na..Nadia!!!"


Bersambung...


__ADS_2