
EPISODE SEBELUMNYA
"Huff, aku harap ini segera berakhir," batinnya.
"HIAAA!"
Sulur tanaman berwarna hijau terang menutupi mata dan telinga mereka sehingga Nadia dan lainnya tidak bisa mendengar atau melihat apapun. Tak hanya itu, tanaman itu juga melingkar di pinggang mereka.
"Itu untuk jaga-jaga," kata Ibu Albert.
"HIAA!"
Keluarlah akar-akar kayu yang mengikat para duyung itu. Ibu Albert melewati para duyung itu di ekori tanaman yang mengikat Nadia dan yang lain secara bersamaan.
Tap ... tap ....
"Hey aku merasa ada yang aneh," kata Nadia.
"Ibu Albert, haloo ada apa ini?" bingung Dina.
"Apa kita boleh buka mata sekarang?" tanya Rio.
Ibu Albert tidak menggubris, ia tetap fokus berjalan ke depan menuju singgasana.
"Wah, wah. Hai teman lama," kata Siera.
"Cukup basa-basi mu! Aku muak dengan semua ini!"
Ibu Albert langsung memunculkan akar pohon dari belakang Siera. Akar itu mengikat erat tangan serta ekor Siera. Iapun tidak bisa bergerak dengan leluasa dibuatnya. Tanpa perlu di perintah, Rendi sudah melangkah menghampiri Siera untuk membantunya. Ibu Albert yang menyadari hal itu, langsung meliriknya dari ekor mata. Dalam sekejap muncul akar yang mengikatnya juga.
"Tunjukkan wujud aslimu!" kata Ibu Albert pada Rendi.
"Apa yang kau bicarakan? Aku- AGH!" Rendi kesakitan ketika akar itu mengikatnya dengan erat.
Saat itu juga, Rendi berubah menjadi seorang gadis mengenakan baju berwarna berwarna perak. Ya sudah pasti memiliki ekor ikan.
Kembali pada Siera.
"Aku pastikan ini akan berakhir sekarang juga!" Ibu Albert ingin menjangkau batu kristal yang menyala di ulu hati Siera.
Namun, Siera berhasil menghentikan pergerakannya itu.
"Apa kau sadar kau sedang berhadapan dengan siapa?" tantangnya. "BUAHAHAHAHA!"
SREK!
Sebuah trisula muncul dan berhasil memotong akar yang mengikat Siera. iapun bebas dengan mudahnya. Ia memegang trisula, lalu menghentakkannya ke tanah. Mendadak, tubuh para rakyat setengah ikan tersebut di selimuti gumpalan air lalu menghilang dari akar Ibu Albert. Ibu Albert yang melihat hal itu kaget. Ia pun semakin geram dengan Siera.
"Kau-"
"HAHAHA!"
Sekarang para duyung itu berkumpul di dekat Siera. Ibu Albert mundur beberapa langkah.
"Hmmh, kekuatan kita tidak sebanding teman," remeh Siera. "Makan mereka." titahnya pada sekumpulan duyung.
Tanpa basa-basi para duyung itu langsung melaksanakan perintah sang Ratu. Mereka melesat menuju Ibu Albert. Tentu saja Ibu Albert gelagapan. Dengan panik ia segera memunculkan akar di samping ranjang Fikram lalu menggunakannya untuk memutus rumput itu.
Tak hanya itu, Ia juga menarik kembali semua akar yang ia gunakan untuk mengikat mereka semua. Termasuk akar besar di lantai bawah. Nadia dan lainnya mulai membuka mata mereka. Mereka pun kebingungan plus terheran-heran saat melihat sekitar.
"Eh, kemana semua duyung itu?" bingung Nadia.
"Hey, pergi dari situ! Jangan lupa bawa anak itu juga! Berenang sekarang! CEPAT!" Ibu Albert sekarang sedang membantu Manda berdiri dan segera berenang bersamanya.
"Apa yang-"
__ADS_1
"MAKANAN!"
"Aaa!" Mereka kaget bukan main saat melihat segerombolan duyung menyerbu mereka.
Rio dengan cepat memapah Fikram dan mereka langsung berenang menyusul Ibu Albert.
"Jadi kau menyuruh kami memejamkan mata hanya untuk kejadian yang sama, bahkan lebih gila, Ibu Albert?!" kata Nadia setengah berteriak.
"Ya, jadi apa gunanya kau menyuruh kami seperti itu?" kata Dina datar.
"Haah, kalian ini. Kejadiannya bukan seperti yang kalian pikir tahu," jawab Ibu Albert.
"Jelaskan!" kompak mereka meneriaki Ibu Albert.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!" seru Ibu Albert.
Pengejaran terus terjadi dengan penuh kepanikan. Hingga kepanikan itu bertambah saat sesuatu menghambat mereka.
"Eh, kenapa kit-"
Mereka menoleh ke arah belakang. Rumput hijau! Ya, rumput itu mengikat salah satu kaki mereka. Nadia, Rio, Ibu Albert, Gamma, dan Dina. Mereka berusaha kembali berenang dan memutus penghambat itu. Namun, usaha mereka tidak membuahkan hasil. Sementara para duyung ganas itu semakin mendekati mereka.
"Huwaa, mereka semakin mendekat!" ucap Dina dengan panik.
Mereka pun mencoba menarik-narik rumput itu lagi untuk memutusnya, namun rumput itu lebih kuat dari yang mereka duga.
"Ckck, mengenaskan" kata Siera dari bawah.
Tiba-tiba netra Nadia melihat pedang yang tertancap di badan Fikram, terlintas satu ide brilian di otaknya.
"Rio pedangnya!" ujarnya.
"Apa? Oh," Rio mengerti yang dimaksud Nadia. Ia pun mencabut pedang itu dari tubuh Fikram.
"In-" Rio berhenti saat mengingat Nadia bukanlah seperti apa yang ia lihat.
"Tidak ada waktu untuk berpikir Rio, cepatlah!" desak Nadia.
Rio pun mengesampingkan pemikirannya saat ini. Ia melemparkan pedang itu ke arah Nadia.
"Gamma, pegangi dia!" Nadia melemparkan Dina ke arah Gamma.
"Eh!" Gamma terkejut, Ia pun menangkap tubuh Dina yang terkhuyung ke arahnya.
"Aduh, Nadia! Main lempar aja sih!" kesal Dina.
Dina mendongak, tanpa sengaja pandangannya dan pandangan pemuda itu bertemu. Mereka membeku seketika.
SREK!
Dengan cepat, Nadia berhasil memotong rumput tersebut.
"Ayo!" seru Nadia membuat Gamma dan Dina menghentikan aktivitasnya.
Tanpa menunggu lana, mereka cepat-cepat hendak berenang menjauhi para duyung itu lagi namun ....
"Ckckck, usaha yang bagus," Siera berdiri dihadapan mereka. Ia tampak sangar dengan trisula yang ia genggam itu.
"Kau!"
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi semudah itu!"
Siera menyabetkan trisulanya untuk membuat gelombang yang membuat tujuh manusia itu terhempas hingga kembali ke dasar. Siera menghampiri mereka yang sedang tak berdaya bahkan hanya untuk bangkit.
"Sakit ya? Ckckck." sinis Siera. "Kalian sangat sulit ditangkap, ya" Siera menyeringai.
__ADS_1
Ia mempersiapkan trisulanya dalam posisi miring. "Mari kita mempermudahnya!" Ia mengangkat senjata itu, bersiap menyabet mereka.
Tanpa harus tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Nadia mengambil pedang Siera yang sempat terlempar dari tangganya.
TRINK!
Nadia menahan sabetan trisula Siera dengan pedang. Siera dan Nadia saling menatap tajam.
Mengerti dengan sikap Nadia, Ibu Albert langsung memberi komando untuk pergi dari tempat mereka. Memang sempat ada penolakkan dari Gamma, karena tidak ingin meninggalkan Nadia dalam posisi ini. Namun, Ibu Albert tetap bersikukuh, pada akhirnya Gamma hanya bisa menurut.
"Eits, mau kemana?" Rendi datang menghadang di dampingi para duyung di belakangnya.
"Dia? Siapa dia?" bingung Dina melihat perempuan memakai baju armor.
"Wajahnya seperti..." simpul Rio.
"Dia Rendi," kata Ibu Albert.
"Apa!" kaget mereka.
"Tidak usah basa-basi. Serang!" titah Rendi.
Mereka memundurkan beberapa langkah mereka
"Oh, tidak."
"Aku tidak mungkin menggunakan Kekuatanku sekarang, terlalu beresiko" batin Ibu Albert. "Berbalik!" serunya secara spontan.
Mereka berniat berlari ke arah lain namun, lagi-lagi Rendi sudah menghadang mereka.
"Oh tidak bisa," seringai Rendi.
Mereka pun terpojok, para duyung itu mendekat. Melihat teman-temannya dalam kesulitan, fokus Nadia terbagi.
"Mereka terpojok," gumam Nadia sedang menahan serangan Siera.
"Hem!" Siera mendorong Nadia, ia pun jatuh tersungkur ke tanah.
Siera mendekatinya, "Kalian akan habis ditanganku," dia semakin mendekati Nadia. Ia mulai mengangkat tinggi trisulanya.
"Eh dimana Fikram?" tanya Rio menyadari Fikram tidak bersama mereka.
"Kan dia bersamamu tadi," kata Dina.
"Tidak ada," kata Rio.
"Kau ini bagaimana, orang segede itu bisa hilang," ucap Dina lagi.
"Dia kan sudah mati, apa mungkin dia hidup lagi? Atau ... hah, dia jadi zombie!Hii, ngeri" Gamma bergidik.
"Ngarang!" tegur Ibu Albert.
"Lalu di mana dia?"
HIAA!
Siera ingin menusuk Nadia, namun tiba-tiba sebuah tangan menahan trisulanya. Siera pun menoleh ke arah pemilik tangan tersebut.
"Fi.... Fi... Fikram?" Nadia kebingungan.
Sang pemilik tangan menampakkan wujudnya, terlihat tatapan tajam ia tujukan pada Siera.
"Mau apa kau, lemah" remeh Siera berseringai.
Bersambung ....
__ADS_1