Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Buah Alpukat


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Apa yang terjadi pada Fikram sebenarnya? Bisa kau jelaskan?"


Nadia menatap Ibu Albert dengan wajah serius. Mereka menunggu, menunggu jawaban dan rentetan cerita yang keluar dari mulut Albert. Cukup beberapa puluh detik mereka menunggu dan terus menunggu.


Akhirnya setelah penantian yang cukup memakan waktu itu, Ibu Albert membuka mulutnya. Rasa penasaran mereka sudah tidak dapat terbendung lagi. Mereka sangat antusias menunggu jawaban tersebut keluar.


Dan ....


"Tidak. Tidak sekarang, akan aku jelaskan besok."


GUBRAK!


Ibu Albert pun pergi masuk ke dalam gubuknya.


"Haah, selalu saja," Dina berkacak pinggang.


Tanpa mereka sadari, dari tadi Fikram memerhatikan melalui celah-celah dinding gubuk.


---------------


Cuit, cuit!


Kicau burung mendominasi area peristirahatan mereka. Matahari mulai naik memancarkan sinarnya yang menyehatkan. Ya, ini pagi hari. Pagi dimana mereka akan meminta penjelasan dari Ibu Albert, lagi.


Nadia, Rio, Dina, Gamma, dan Manda kini sedang memandangi Ibu Albert yang tengah terlelap di ranjangnya.


Menunggu dan menunggu. Mereka terus menunggu dari matahari belum memunculkan dirinya. Rupanya rasa penasaran mereka akan kejadian yang dialami sang sahabat membuat mereka rela melakukan apapun demi sebuah jawaban.


"Emmh...."


Sebuah pergerakan terlihat dari Ibu Albert yang sedang membuka hati dan pikirannya untuk bangun. Ia mulai membuka matanya, samar-samar berlanjut jelas ia melihat lima pasang mata manusia sedang menatapnya. Iapun terlonjak kaget.


"Hah!"


Mereka mundur, membiarkan Ibu Albert mendapat ruang untuk mencerna apa yang terjadi.


"Huff, ternyata kalian. Mengagetkan saja," Ibu Albert mengelus dadanya.


"Ibu Albert kau berhutang penjelasan pada kami," kata Nadia menagih.


Ibu Albert yang masih mengucek matanya, pun menatap mereka dengan malas. "Ah, kenapa ingatan mereka sangat jelas ketika meminta penjelasan sih, ck" pikirnya melamun.


"Ibu Albert!" Mereka serentak ingin jawaban saat itu juga.


Teriakan mereka membuyarkan lamunan Ibu Albert, ia pun kaget.


"Duh, kalian!" Ia bangkit.

__ADS_1


"Jelaskan sekarang," rengek mereka mengeluarkan puppy eyes.


Ibu Albert yang melihatnya jadi gugup. "Ekhem-ekhem. Sudah, nanti aku jelaskan setelah sarapan." Ibu Albert berlalu pergi tanpa memberikan penjelasan apapun.


Alhasil, mereka diterpa kekecewaan lagi.


----------------


Nadia, Rio, Gamma, Manda, dan Ibu Albert sedang menyantap hidangan sarapan yang diberikan Ibu Albert.


"Wah, enak nih." Gamma memegang satu buah alpukat yang sudah matang.


"Ternyata di sini ada buah alpukat juga," kata Rio.


"Ya ini tidak jauh beda dengan dunia asal kalian, ini masih di bumi juga," kata Ibu Albert.


Rio ber-oh ria.


"Emm, aku panggil Dina dulu ya," pamit Nadia.


Ia pun bangkit dan melangkah menuju gubuk Dina, namun, belum beberapa cm melangkah Dina sudah datang dengan tangan memegangi salah satu kakinya yang diperban.


"Dina."


"Wah, sarapan. Sarapan dengan apa kita?" tanya Dina sedikit mengintip.


"Ah, aku berharap ikan bakar malah buah pahit ini," gerutu Manda.


"Tentu saja ... belum," Manda mengerucutkan bibirnya.


"Alpukat, kita sarapan dengan bu-" Nadia berbalik menatap Dina lagi, namun Dina sudah pergi begitu saja dengan pincang.


Gamma yang melihatnya kebingungan.


"Eh? Hemm, akan kususul dia" pikirnya. Ia pun beranjak dan menyusul Dina sambil membawa satu buah alpukat.


"Dina kenapa, Di?" tanya Manda pada Nadia yang mendekat.


"Entah, sepertinya ada sesuatu yang kita lupakan, tapi apa ya?" Nadia berpikir sejenak.


----------------


Gamma menyusul Dina, ia pun celingukan kemana perginya gadis tomboy itu. Hingga ia melihat seorang perempuan tengah duduk di atas sebuah batang kayu. Memandang pemandangan danau di sinari matahari yang perlahan mulai naik. Angin semilir membuat rambut terurainya sedikit bergoyang.


Hal itu membuat Gamma terkesima. Rupanya dengan rambut yang sedikit terbang mampu menambah pesona sang gadis. Mata Gamma pun berkaca-kaca, pipinya juga tak kalah merona dengan sendirinya tak kala melihat pemandangan tersebut.


"C... cantik," sadar telah mengucapkan hal sakral tersebut, Gamma segera menutup mulut dengan tangannya sendiri.


Selang beberapa saat Gamma ikut duduk di samping Dina. Dina menoleh setelah merasa ada makhluk hidup yang mendekatinya. Ia kebingungan saat Gamma membawakannya setengah buah alpukat.

__ADS_1


"Hemm?"


Gamma mengambil bagian buah yang bisa di makan dengan pisau kecil.


"Hey, mau apa kau? Kalau mau makan tidak usah di dekatku, dan memang tidak susah pakai pisau? Tidak ada sendok ap- mmmmph!"


Tiba-tiba Gamma menyuapkan satu potong buah Alpukat dengan tangannya.


"Kau harus sarapan! Kau tidak boleh pilih-pilih makanan. Kita ini bukan di duniamu yang penuh makanan cepat saji. Kita di hutan!" cerocos Gamma. "Dan kalau kau tidak mau makan karena peralatannya, kau harus beradaptasi, ibuku tidak mungkin membawa sendok dari rumah untuk kalian semua, tahu!" Ia kembali mengerok dalam buah alpukat itu dengan pisaunya.


Dengan susah payah Dina menelan makanan tersebut.


GLEK!


"Bukannya aku tidak mau tapi-" belum selesai menyelesaikan kalimatnya Gamma kembali memotong.


"Tapi apa? Tidak suka? Heeh, sama aja!" Ia kembali memaksa Dina menyuap buah alpukat itu.


"Hmmmph!" Dengan cepat Dina langsung memuntahkan buah itu. Ia mengusap kasar bibirnya yang kotor. "Huek! Berhenti memaksaku!"


"Ini demi kebaikanmu! Ayo makan! Tidak usah pilih-pilih makanan!" ia menyodorkan buah itu lagi.


"Sudah aku bilang aku bukannya pilih-pilih makanan tapi ...."


"Tapi apa?"


Dina mulai menggaruk-garuk tangannya. "Tapi...."


"Tapi apa?"


Kini ia menggaruk wajah, leher, dan tangannya. Tampak ruam merah mulai bermunculan dari kulitnya.


Gamma telonjak kaget. "Eh, k-kenapa tubuhmu ...." ia berdiri menatap Dina.


Dina masih sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Sekarang tenggorokannya terasa kering. Ia mulai menelan salivanya berkali-kali. Hingga, akhirnya Dina ambruk, kesadarannya mulai berkurang.


Melihat Dina ambruk, Gamma cepat-cepat bergerak menangkap dan meletakkannya ke dalam pangkuan. Ia berkali-kali menggoyang tubuh sang gadis untuk menyadarkannya.


"Hey, Penyihir ... atau siapapun namamu, terserah! Bangunlah! Kau kenapa? Hey, bangun!"


Tiba-tiba Manda datang, ia pun membulatkan mata ketika melihat sahabatnya tidak sadarkan diri di pangkuan seorang laki-laki.


"Dina!" pekiknya.


Mendengar ada yang datang, Gamma menoleh.


"Kau... kau... kau apakan sahabatku!" teriaknya menatap Gamma intens.


Gamma pun bangkit, mengangkat tangannya. Otomatis Dina langsung jatuh membentur tanah. Manda yang melihatnya, melongo kaget dan marah.

__ADS_1


Gamma melihat ke bawah. "Ups," ia perlahan menurunkan badannya seraya memasang cengiran kuda.


Bersambung ....


__ADS_2