Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Virus Kuda Gila


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Ayo, Kak" Siera pun menarik tangan Fikram untuk ikut bersamanya.


"* ... * ... * ... tapi ...."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"TIDAK!"


"Ayo cepat, lakukan" bujuk Dina.


"I ... i ... i ... iya, iya aku lakukan," akhirnya HAHAHA menyerah.


"Nah, gitu dong dari tadi," melepaskan HAHAHA dan memasangkan sepatunya kembali ke tempat yang sudah seharusnya.


"Selesai," kata HAHAHA tertunduk.


Sektika setelahnya, air itupun surut dan tersedot ke dalam lubang-lubang yang ada diruangan itu, begitu juga dengan sekawanan belut tadi.


"Mmmmm, hah ... hah ... hah," HIHIHI terjatuh di lantai labirin dalam keadaan basah kuyup.


"Sahabatku! Kau tidak apa-apa?" tanya HAHAHA menghampiri HIHIHI.


"Hihihihi, ya aku tidak apa," jawab HIHIHI sudah bisa bernapas normal kembali.


"Setelah diancam baru mau melakukannya, haah! dasar!" gerutu Dina.


"Memang," Gamma mengiyakan.


"Hebat, hebat. Ternyata, kalian harus di tekan dulu baru mengeluarkan kecerdasan kalian ya, benar-benar ...." HAHAHA agak terkekeh meremehkan.


"Kami memang sudah cerdas! Pertanyaanmu saja yang tidak etis!" protes Dina.


"Terserah, aku tetap menganggap kalian perlu ditekan untuk mencapai sebuah kecerdasan," kata HAHAHA panjang lebar.


"Hiii!" Dina mengepalkan tangannya kuat.


"Baiklah, tantangan pertama selesai, ini hadiah kalian," kata HAHAHA.


"Wah! Ada hadiah!" Manda kegirangan.


Salah satu dinding ruangan itu bergerak membelah, sehingga menampakan sebuah lorong seperti sebelumnya. Tempat HAHAHA berdiri tadinya hanya bulatan yang tidak terlalu besar, kini memanjang seperti jembatan di atas sebuah lubang persegi besar.


"Silahkan," sambut HAHAHA.


"Jadi ... itu hadiahnya?" tanya Manda agak kecewa.


HAHAHA hanya mengangguk mantap.


"Hadiahnya kita lanjut ke tantangan selanjutnya, iya 'kan?" tanya Rio.


"Betul, hihihi" sahut HIHIHI.


"Tunggu! Aku masih penasaran, memang jawabannya apa?" tanya Manda pada HAHAHA.


"Iya, jawabannya apa? sampai kita jawabnya salah mulu," timpal Dina.


"Hahaha," HAHAHA malah tertawa.


"Apa dia gila?" bisik Gamma pada Manda.


"Mungkin sedikit," balas Manda.


"Biarlah itu menjadi ...." Dalam sekejap HAHAHA melebur menjadi debu dan menghilang begitu saja. "RAHASIA, hahaha" suara HAHAHA tanpa terlihat wujudnya.


"Waduh ternyata makhluk di tempat ini semuanya hantu," takut Manda gemetaran.


"Ya, sudah. Tante Kun, mana tantangan kedua? Aku sudah ingin keluar dari tempat ini," kata Dina.


"Baiklah, ayo ikut aku," ajak HIHIHI menuju lorong.


"Kita jalan?" tanya Dina menaikkan salah satu alisnya.


"Ngga kaya tadi, langsung wush?Meskipun agak menyeramkan tapi cepat sampai dan tidak perlu buang tenaga untuk berjalan," kata Manda ingin cara masuk seperti tadi.


"Hihihi, sudah jangan banyak protes!Lagipula untuk apa kalian punya kaki tidak digunakan?" balas HIHIHI.

__ADS_1


"Oh, ayolah. Kaki kami terasa mati rasa karena terlalu banyak berenang tadi," kata mereka berdua melenggang seperti sedang sangat kesakitan yang dilebih-lebihkan.


"Ayolah, aku tahu kalian tidak begitu," balas HIHIHI datar, ia tahu mereka hanya melebih-lebihkan.


"Kami mohon," ujar mereka memohon.


"Tidak," tolak HIHIHI.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Ibu Albert.


"Sudahlah cepat," desak Gamma.


"Apa kalian dengar? Sudah cepat tidak ada wush-wushan," tegas HIHIHI memimpin mereka masuk ke dalam lorong labirin diseberang jembatan.


Mereka pun mengekori HIHIHI dari belakang.


"Ah! Tante Kun, pelit!" cibir Dina.


"Iya," Manda menyetujuinya.


"Sudahlah diam," kata HIHIHI mendengar perkataan mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Suara ringkikan kuda terdengar sangat jelas di salah satu tanah lapang yang cukup luas. derap langkah kuda yang mendominasi dan memburu juga sangat jelas terdengar.


Tampaklah seorang gadis berkulit putih dan bernetra biru sedang menunggangi kuda hitam andalannya.


TUPLAK! TUPLAK!


Gerak kuda yang sedang berlari lalu berputar-putar tidak menghentikan semangatnya.


CITTTT!


Ia memberhentikan pacu kudanya secara mendadak, sontak kuda itu langsung meringkik keras dan menjulang tinggi.


BUHG!


Setelah mendarat secara sempurna barulah gadis itu turun dari kudanya.


"Hebat, Horsen" pujinya mengelus dahi kuda itu.


Gadis itu menoleh ketika ia menangkap sebuah gelombang suara yang membuat orang terkejut.


"Tolong! Tolong!"


Seorang pemuda yang biasa mereka panggil dengan embel-embel 'Pangeran' itu tampak gagah saat menaiki kuda coklat, namun kegagahannya hilang, luntur bak baju yang direndam terlalu lama dalam air cucian.


"Tolongg!"


Ia terus menjerit seraya mempertahankan diri dari kuda melompat-lompat tak terkendali.


"BERHENTI!" pekik Fikram. "Berhenti, ngga! Berhenti! Gue jitak nih kalau lu ngga berhenti juga!" ancam Fikram pada kudanya.


"Jitak? Palelu gue jitak!" batin sang Kuda.


Kuda itu pun tidak menghiraukan perintah pemuda itu. Ia malah semakin gencar ingin menyingkirkan makhluk hidup yang bertengger di punggungnya. Fikram juga sulit mempertahankan dirinya dalam posisi itu. Dalam sekejap pertahanannya pun goyah.


BRUK!


Fikram jatuh dari kudanya. Lantas, kuda itu langsung tenang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aduh!" rintihnya kesakitan. "Haah! Dasar kuda tidak tahu sopan santun!" kesalnya pada kuda itu.


Kuda itu menjulurkan lidahnya seakan mengejek Fikram.


Merasa diejek Sang Kuda, Fikram pun geram. "Hii! Kau benar-benar!" geramnya.


"Kak," panggil seorang gadis menghampiri Fikram seraya mengulurkan tangannya.


Fikram pun menoleh dan mendapati bahwa itu adiknya, Siera berdampingan bersama seekor kuda hitam. Ya, gadis itu adalah Siera. Iapun menggenggam tangan adiknya dan ia membantu Fikram berdiri.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Siera memastikan.


"Ya, aku baik-baik saja" jawabnya membersihkan debu tanah dari dirinya.


"Jadi ini yang Ibu maksud 'latihan'?" tanya Fikram.

__ADS_1


Siera mengangguk.


"Memangnya untuk apa latihan seperti ini?"


"Latihan ini untuk melatih para bangsawan bersiap berperang kelak." jelas Siera.


"Berperang? Berperang dengan siapa? Dan lagipula kau'kan perempuan, kenapa ikut berlatih seperti ini? Apa kau ikut berperang juga?"


"Berperang dengan musuhlah pastinya, haha." Siera agak terkekeh. "Di bangsa kami, setiap keturunan bangsawan, entah pria atau wanita tetap ikut pelatihan seperti ini agar mereka siap memimpin nantinya."


"Memimpin apa?"


Siera menepuk dahinya. "Kakak, Kakak. Mempimpin istananya, lah. Maksudnya menggantikan para leluhurnya atau orang tuanya menjadi pemimpin di istana mereka."


Fikram ber-oh ria.


"Biasanya anak sulung yang mengantikan posisi orang tuanya sebagai pempimpin di bangsa bangsawan."


"Anak sulung?!" Fikram tertohok. "Apakah aku anak sulung?" tanyanya ragu.


"Ya, tentu. Kau akan diangkat sebagai putra mahkota dan akhirnya menggantikan Ibu sebagai seorang raja."


"Apa!" kaget Fikram.


"Ya, dan kau harus mahir dalam latihan kepemimpinan, salah satunya ini, kau akan ditempa setiap harinya hingga mendapat hasil yang maksimal" jelas Siera.


"Harus mahir! Setiap hari! Haah," mendadak tubuh Fikram lemas.


"Kenapa? Apa Kakak tidak mau? Ah, Kakak pasti keberatan ya? Ya, aku bisa mengerti kalau Kakak keberatan karena latihan ini mungkin tidak pernah Kakak lakukan dan sangat berbeda di dunia Kakak sebelumnya. Tapi aku tidak tahu apakah Ibu akan mengerti atau tidak, atau malah dia kecewa," ujar Siera berbalik dan membelakangi Fikram.


Fikram tersentak saat mendengarnya. "Hah! Emm ... bisa-bisa Ibu kecewa," batinnya membayangkan wajah ibunya dipenuhi kesedihan dan kekecewaan yang besar.


"T ... t ... tidak, tidak kok, siapa yang keberatan? Justru aku senang bisa berlatih seperti ini, apalagi dengan adik tersayang," ujar Fikram mengacak-acak rambut adiknya.


"Ih, Kakak! Berantakan rambutku!" kesal Siera.


"Hehe, maaf-maaf" Fikram berhenti mengacak-acak rambut adiknya. "Tapi boleh Kakak minta sesuatu?"


"Apa itu?"


"Tolong ganti kuda Kakak."


"Memangnya kenapa dengan kuda itu, Kak?"


Fikram mendekatkan wajahnya ke wajah Siera, "Sepertinya dia terkena penyakit kuda gila, jadi susah di jinakkan. Tolong ya, plis," mohonnya. "dan ... oh! Jangan lupa beri dia vaksinasi atau obat atau pengobatan untuk penyakitnya itu, kasian dia" bisiknya kembali seraya melirik kuda tersebut dari kejauhan.


Mungkin pendengaran kuda lebih tajam dari pendengaran manusia. Kuda itu mendengar apa yang dibisikkan Fikram walau jarak mereka cukup jauh.


"('-_-) eeee ...."


"Pliss," Fikram memohon.


KRAUK!


"Aww! Apa ini!"


Tiba-tiba Fikram merasa ada yang menggigit tangan kanannya. Iapun menoleh ke arah tangannya. Saat melihat tangannya, matanya terbelakak dengan apa yang menggigitnya.


"Ihihihik!" ringkiknya seraya menggigit tangan Fikram.


"Kau!" kaget Fikram. "Huwaaa! Lepas! Lepaskan aku! Lepaskan tanganku! Bisa-bisa aku tertular rabies!" paniknya memberontak menarik-narik tangan yang kuda itu gigit.


"Iiiii! Lepas!" Fikram menarik kuat tangannya.


Secara mendadak dan sengaja. Kuda itu melepas gigitannya, alhasil Fikram jatuh ke belakang.


"Aaa!"


BRUK!


"Kakak!"


"Aduh!" Fikram memegangi kepalanya dan menduduki dirinya di atas tanah.


Tanpa sengaja ia melihat sesuatu di tangan kanannya, BEKAS GIGITAN BESAR.


"Hah!" ia agak syok. "Huwaaa! Tenaga medis, tolong! Tabib! Dokter! Nyai!Siapapun tolong! Selamatkan aku dari virus ini!" teriaknya tak karuan, bahkan sampai terguling-guling di tanah.

__ADS_1


Melihat sikap Fikram itu, kuda yang menggigit tangan Fikram meringkik penuh kemenangan. Sementara, Siera hanya bisa bertukar pandang dengan kuda hitamnya.


Bersambung ....


__ADS_2