
EPISODE SEBELUMNYA
"Mau kemana kau, bocah nakal" kata monster itu mengejar Fikram.
"AAAAA!! tolong!!!"
Fikram terus berlari tanpa henti, begitu juga monster cacing yang terus mengejar Fikram.
"Tolongg!!!" teriaknya terus berlari.
"Ahahaha, sini kau bocah nakal" kata monster itu masih mengejar.
Fikram terus berlari hingga ia tidak bisa berlari karena terhalang dinding alias jalan buntu.
"Hah?! kenapa harus ada jalan buntu sih" ucap Fikram memukul-mukul dinding berlapis perak.
"Ahahaha..sudah lelah berlari ya" seru monster itu menghampiri.
GLEKKK..
Fikram menelan salivanya sendiri dan gemetar, ia berbalik.
"Hehehe, sudah lelah ya?" tanya licik monster itu.
"A..a..a..apa yang akan kau lakukan padaku?" ucap Fikram terbata-bata.
"Tidak ada.."
"Fiuhhh" lega Fikram.
"Cuman mengambil PENGETAHUAN DI DALAM OTAKMU!!" kata monster itu dengan kuatnya.
"Apa!!!!!!" kaget Fikram.
"Hehehe..lumayanlah, nambah-nambah pengetahuan aku" ujar monster itu.
"Tidak..tidak" elak Fikram.
"Oh, ayolah" bujuk monster tersebut.
"Tidak!!" tegas Fikram merapat ke dinding di belakangnya.
"Ooo, ayolah" bujuk monster itu semakin mendekati Fikram.
"Tidakkk!!!"
"Hehehe" tersenyum jahat dan makin mendekati Fikram.
KUKURUYUKKK..
(mengepakkan sayapnya)
"Hah?!" kaget Fikram dan monster itu.
mereka pun menoleh ke belakang.
KUKURUYUKKK..
Terlihat lah sebuah robot raksasa berbentuk ayam jago yang terbuat dari logam.
"Hahaha, serius itu tidak lebih baik dari ayam jago Sang Pelindung" kata monster itu meremehkan.
"Ahahaha" memejamkan matanya.
KUKURUYUKKK..
(mengepakkan sayap)
Robot raksasa ayam itu langsung menyeret monster cacing mengerikan tadi dan langsung membantingnya keras ke lantai.
BUGHHH..
Teman-teman yang lain menghampiri Fikram.
"Fikram kau tidak apa apa?" kata Manda khawatir.
"Iya, tapi..khawatir ya?" goda Fikram.
"Apah?! t..t..tentu saja tidak, untuk apa aku mengkhawatirkanmu" elak Manda memalingkan wajahnya yang memerah.
"Benarkah?" goda Fikram lagi.
"Diamlah" kata Manda.
"Benarkah?" goda Fikram lagi menyenggol bahu Manda.
"Diam!!" bentak Manda merasa terusik.
"Haah, mereka berdua" kata Ibu Albert melihat perilaku dua anak muda di sampingnya.
"Hemmh..makanya, jangan pernah meremehkan lawanmu..kawan" kata Dina senang karena ciptaannya berhasil.
...FLASHBACK...
"Semangat Fiki" kata Rio dari balik pintu yang terkunci.
"Kau pasti bisa" kata Manda menambahkan.
AAAAA!! tolong!!!" teriak Fikram dari luar.
"Lalu sekarang apa?" tanya Manda pada Dina.
"Hmm, aku akan membuat robot raksasa berbentuk ayam seperti yang kalian bicarakan..tetapi ada sedikit masalah" ucap Dina.
"Bagaimana kau bisa langsung mengerti apa yang kami bicarakan?" heran Manda pada Dina.
"Masalah apa?" sahut Nadia.
"Aku butuh DNA" ujar Dina.
"DNA? Dina, apakah kau baik-baik saja? sejak kapan kau mulai membicarakan DNA?" cemas Manda mulai mengecek suhu badan Dina menggunakan telapak tangannya.
"Ah, aku baik-baik saja..aku hanya perlu DNA hewan yang kalian bicarakan tadi" kata Dina menyingkirkan kasar tangan Manda dari keningnya.
"Aww, ternyata masih Dina yang sama" ucap Manda memegangi pergelangan tangannya.
"Bagaimana bisa ada DNA ayam jantan disini?" ucap Rio berpikir.
"Gunakan saja alat yang kalian gunakan untuk melacakku disini" kata Dina.
__ADS_1
"B..b..b..bagaimana kau tau kami menggunakan alat pelacak untuk menemukanmu?" kata Manda tak percaya sahabatnya bisa sepintar itu.
"Aku hanya menebak" kata Dina melingkarkan tangannya di pinggangnya.
Dr.Wikan lalu mengeluarkan alat sejenis kompas tetapi lebih canggih.
"Ada, letaknya di sekitar sini" kata Dr.Wikan.
"Dimana itu?" tanya Dina datar.
"Di lorong sebelah kiri, tetapi ada penjaga" kata Dr.Wikan.
"Lalu siapa yang mau mengambilnya?" tanya Manda.
Nadia dan Rio saling menatap dan tersenyum miring.
\~Beberapa menit kemudian\~
"Ini" kata seseorang menyodorkan sebuah tulang ayam di belakang Dina yang sedang sibuk mengurus di depan komputer besar.
Dina berbalik.
"Hah?!" kaget Dina melihat kedua sahabatnya itu acak-acakan.
"Apakah harus seberantakan ini?" kata Dina.
Nadia dan Rio hanya saling melempar senyum satu sama lain.
"Baiklah saatnya memulai" kata Dina mulai memakai kacamata lab yang tersedia di situ.
"Baiklah, ini begini" Dina sedang mengoperasikan mesin pembuat robot.
"Dan tinggal masukkan DNA nya" lanjutnya memasukan tabung kaca kecil berisi tulang ayam tadi.
"Sejak kapan Dina jadi sangat pintar?" kata Manda keheranan.
"Entahlah" jawab Nadia.
"Sebentar lagi sebentar lagi" (Dina)
"Dannnn.." (Dina)
"Aduh, cahaya apa ini?" kata Manda melindungi wajah dengan kedua telapak tangannya.
CLING..CLING...
"Perkenalkan semua, robot ciptaan ku" kata Dina.
"Robot RH3000" lanjut Dina lagi.
"Waaaa" kagum semua.
...FLASBACK END...
"Ooo, jadi begitu ceritanya" kata Fikram.
"Itu kejadian yang tidak kau liat setiap hari, kan?" kata Manda melirik ke arah Dina.
"Iya, Dina yang dulu beda dengan sekarang..wkwkwk" kata Fikram.
"Hmmm..terserah" kata Dina mendengar perbincangan Fikram dan Manda.
"Hah?!" kaget Rio.
Jantungnya berdegup kencang, dia juga gugup dan berkeringat dingin saat melihat Nadia tersenyum padanya.
"Sebenarnya siapa kalian ini?" tanya Gamma secara tiba-tiba.
Sontak semua terkejut dengan apa yang Gamma ucapkan tadi, pasalnya Gamma sudah tau mereka ini siapa sejak awal.
"Hah?!" kaget semua.
"Bukankah kau sudah tau" kata Manda.
"Haah, itu pasti efek hisapan memori si monster" kata Dina sambil mengontrol robot ayamnya menggunakan jam tangan hologramnya.
"Sejak kapan kau.." kata Manda heran pasalnya dia tidak tau saat Dina membuat jam tangan hologram pengontrol robotnya itu.
ROARRRRR..
"Dan ini yang terakhir" kata Dina.
KLIK...
KUKURUYUKKKKKKK...
Robot raksasa itu mengepakkan sayapnya, sehingga monster cacing itu terpental dan menghantam dinding dengan keras.
ZRAHHHHH...
Di saat yang bersamaan ayam raksasa itu menyemburkan api dari paruhnya. Tentu saja, monster itu tak berdaya dan akhirnya meleleh.
KUKURUYUKKK..
"Apa yang dia lakukan?" kata Manda lirih pada Fikram.
"Ya, dia melakukan hal yang sia-sia.." balas Fikram.
"Oh, tidak...aku tidak melakukan hal yang sia-sia..bawa kesini, Raihan" sahut Dina mendengar bisikan mereka.
"Raihan?" bingung semua.
TOK..PETOK..PETOK..
"Apa yang kau lakukan?" kata Fikram.
Ayam raksasa ciptaan Dina mengeluarkan cairan perak yang ia hisap tadi ke sebuah kaca preparat yang sengaja Dina bawa dari laborat.
"Din.." kata Manda takut akan sesuatu.
"Hmmmn" deheman Dina datar yang sedang mengecek sesuatu di jam tangan hologramnya.
"Apa pun yang kau lakukan, please..cepat" kata Fikram juga ikut takut.
ROARRRRRRRR...
Cairan monster itu kembali membentuk tubuhnya menjadi lebih menakutkan dari sebelumnya, kali ini monster itu memiliki tangan yang kuat di sertai duri yang mencap berbaris di seluruh badan dan punggung Monster Silver itu.
Tik..tik..tik..
__ADS_1
"Din.." mereka semakin takut dan mundur perlahan.
Tik..tik..tik..
ROARRRR..
Kini monster itu memanggil anak buahnya, ya..kalian tau lah ya.Seluruh prajurit di bangunan itu berlari menuju letak bos mereka, Monster Cacing Perak. Mereka berlari, dan perlahan berubah menjadi para zombie yang berlari dengan mata kuning besar dan tubuh berwarna perak.
DRAP..DRAP..
Satu pasukan zombie perak berbaris di di sisi monster cacing itu.
Tik..tik..tik..
"Siap" kata Dina sudah selesai.
ROARRRR..ZAAAAA
"Wow, sejak kapan kalian?" bingung Dina melihat banyak makhluk mengerikan di depannya.
"Serang mereka Rai-" perkataan Dina terpotong.
KUKURUY..YUK..ROARRRR..
Monster cacing itu telah merusak robot raksasa milik Dina dan menyerapnya. Kini monster itu semakin besar dan kuat.
"Oh, tidak" kata Dina.
"Hehehe, sekarang giliranku untuk BERMAIN!!" kata monster itu.
"SERANG!!!" titah monster itu.
ZAAAAAA..
Para pasukan zombie itu menyerbu menuju ke arah mereka.
"Ahahaha, bawa otak mereka padaku" kata monster itu.
"LARIIII!!" komando Fikram.
Mereka pun langsung berlari namun, belum sempat melarikan diri, mereka sudah di hadang ekor besar berduri milik monster itu.
"Ahaha, tidak akan ku biarkan kalian pergi lagi.." tawa jahatnya.
"Apa?!" panik mereka.
"Apa-apaan ini?"ujar mereka.
ZAAAAA..
Di satu sisi mereka terhadang oleh ekor besar yang dipenuhi duri beracun milik monster cacing itu.Di sisi lain mereka di kepung oleh zombie perak yang bisa membuat mereka tertangkap dan diambil isi otaknya.
ZAAAAAAAA...
"Bagaimana ini?" panik Manda.
"Apa kita mati saat ini?" kata Fikram.
"Apa ini akhirnya.." kata Manda.
ZAAAA...
"Ahaha, kalian tidak bisa lolos dariku...ahahaha" ucap monster itu lagi.
"Cepat tangkap mereka, dan bawa isi otak mereka padaku..ahahaha" titah monster itu.
ZAAAAA..
Para zombie itu semakin mendekat dan mengepung mereka.
"AHAHAHA" tawa jahat monster itu.
ZAAAA...
Mereka berdiri dengan sikap waspada dan mundur perlahan.
"Ahahaha"
"Uuu..mari kita mulai pesta ini" kata monster itu.
"Emm..dimulai dari mana ya?" ucap monster itu.
"Aha! dimulai dari kau" kata monster itu mendekatkan tangannya untuk menangkap Dina.
Monster itu pun mencengkram Dina dengan kuat dan mengangkatnya ke dekat wajah monster itu.
ROARRRRRR..
"Sepertinya kau yang terpintar dari yang lain" kata monster itu.
"Tak kusangka..efek serapan memori ku malah membuatmu hebat seperti ini" kata monster itu.
"Sekarang, aku akan menyerap kembali pengetahuanmu, dan pengetahuanmu akan jadi miliku sepenuhnya...AHAHAHHA" lanjutnya lagi.
"Iiii..lepaskan aku..atau kau.." kata Dina.
"Atau aku apa.."
"Ahahahaah..lebih baik aku mulai sekarang" kata monster itu mulai membuka mulutnya.
"Dina!!" teriak Manda sedang di kepung.
Dina memalingkan wajah dan memejamkan matanya karena ketakutan.
ZRAHHHH..
Monster itu mendekatkan mulutnya yang terbuka lebar, bersiap menyedot memori Dina.
CLING..
[Analisis complite]
Sebuah suara terdengar dari arloji canggih milik Dina yang masih menyala.
"Hah?!" Dina membuka matanya begitu mendengar suara itu .
"Hehe, it's time" kata Dina menyeringai.
Bersambung...
__ADS_1