Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Elemen Kegelapan (berhasil)


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Hey NAGA JELEK!!!!" teriak Gamma tiba-tiba.


"Hah?!" Rio dan naga itu kaget, mereka pun menoleh ke arah Gamma.


"NAGA JELEK KATAMU!!" marah naga itu.


Kini naga itu semakin murka dan marah.


"BERANI SEKALI KALIAN MEMANGGILKU NAGA JELEK" murka naga itu.


"ya memang kau jelek" lirih Dina dingin.


"KALIAN AKAN MENDAPAT PELAJARAN!!!!...HUAAA!!" naga itu semakin marah dan berubah menjadi naga yang berkepala lima dan lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Hah?!" Kaget Mereka.


"Sekarang dia lebih jelek dari sebelumnya" batin Dina santai.


"Rasakan ini..hiaaaa" (naga itu menyerang Gamma)


"Awas Gamma!!" teriak Manda.


"AAAAA!!!" Gamma berhasil mengelak.


"Fiuh...nyaris saja" kata Gamma lega.


"HAAAAA!!!...KALI INI AKU TAK AKAN MEMBIARKAN MU HIDUP BOCAH NAKAL" murka naga itu.


Naga itu menyerang Gamma lagi.Gamma berhasil mengelak tapi ia terlihat kewalahan.


"Aduh, gimana nih kalau dibiarkan nanti Gamma bisa-bisa..." panik Manda.


"Mati." sahut Dina santai bersandar pada salah satu dinding.


"Haah..Dina๐Ÿ˜’" (Manda)


"Bagaimana? bagaimana ini? aku harus menolongnya" pikir Rio.


"NAK!!!..CABUT PEDANG DI KEPALA NAGA ITU!!!!" teriak Ibu Albert pada Rio.


"Hah?..pedang?.." bingung Rio.


Ia lalu melihat ke arah kepala naga itu.


"Dimana pedangnya?.." katanya mencari.


"Ah?!..itu dia..tapi apa manfaatnya jika aku mencabut pedang itu?" pikir Rio.


"HEY!! TIDAK ADA WAKTU UNTUK BERPIKIR..CEPATLAH!!!..NYAWA ANAKU DALAM BAHAYA!!!!" teriak Ibu Albert.


"Oh iya?!" kaget Rio.


Rio pun langsung mendekati naga itu.


"Aku harus ke atas" katanya mencoba naik ke atas kepala naga itu.


"Hiaaa..AAAAAA!!!..aduh" rintihnya karena terhempas ekor naga itu dan menghantam dinding dengan keras.


"Rio?!" khawatir Nadia.


"Ehem..ehem..๐Ÿ˜" ejek Manda dan Fikram melirik.


"Eeeeee..." kata Nadia memalingkan wajahnya yang memerah.


"Aduh..gimana caranya aku mencabut pedang kalau mendekatinya saja aku tidak bisa.." rintih Rio.


"AAAAA!!! tolongggg!!!" teriak Gamma sambil berlari mengelak serangan naga itu.


"Hemm..aku harus menolongnya..ayo Rio berpikir..berpikir" gumam Rio.

__ADS_1


Tanpa sengaja ia melihat seruling milik Gamma, lalu terlintas dipikirannya sebuah ide.


"Hmmm...naga adalah salah satu jenis ular.. jadi...naga sama dengan ular" pikir Rio.


"Aha..aku tau" kata Rio.


"GAMMA!!!..MAINKAN SERULINGMU ITU!!!" teriak Rio.


"INI BUKAN SAATNYA BERMAIN SERULING!!!" teriak Gamma balik.


"SUDAHLAH..TURUTI SAJA APA KATAKU!!!" teriak Rio lagi.


"AKAN KUCOBA!!!" teriak Gamma.


Gamma pun menuruti Rio dan memainkan serulingnya.


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


"Ahahaha...kau sedang apa bocah nakal?!!" kata naga itu.


"Hah?!" tiba-tiba saja naga itu menggeliat menari mengikuti irama seruling, seakan terhipnotis oleh suaranya.


"Suara itu..suaranya aku sangat mengenalnya tapi dimana?" pikir Nadia.


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


"ini saatnya!" batin Rio.


Rio langsung berlari dan memanjat menuju kepala naga tadi.


"lah, dimana pedangnya?" heran Rio.


"Oh, aku salah to..ternyata ada di kepala sebelah" kata Rio.


Rio lalu berpindah ke kepala lain naga itu.


"Wow...wow.." kata Rio bergoyang-goyang hampir jatuh karena kepala ular itu terus bergerak.


"Aku harus bisa.." kata Rio yakin.


"Fuh..fuh..fuh..ups, sepertinya suara serulingku sudah habis" kata Gamma.


"ROARRRRRR!!!!!!" marah naga itu.


Kepalanya kembali bergoyang hebat.


"Wa...wa..wa" kata Rio ikut bergoyang.


Pada akhirnya Rio tergelincir dan nyaris jatuh, untungnya ia masih bisa berpegangan pada sisi sisik naga itu yang keras.


"Wa..tolong!!!" kata Rio tergelantung.


"Rio!!" cemas semua.


"Aku harus bisa..harus!!" yakin Rio.


"Hiaaaa!!!!" Rio lalu mengayunkan tubuhnya hingga ia bisa mendarat tepat di depan pedang yang menancap di kepala naga itu.


"Sekarang adalah ajalmu naga kejam" kata Rio.


"ROARRRRRR!!!"


"Hiaaa!!" Rio mencabut pedang.


"Aaaa!!!!" (teriak kesakitan naga itu)


Seketika itu cahaya menyilaukan memenuhi ruangan itu. Para makhluk yang menyeramkan berubah menjadi makhluk yang baik dengan mengenakan jubah putih.


Gerhana matahari telah sirna dan berganti menjadi rembulan yang indah dengan sinarnya menyinari seluruh bagian Hutan Hitam.


Bunga-bunga yang menyala di kegelapan mulai bermekaran. Dan naga itu kembali ke bentuk semulanya dengan hati yang baik dan bersih.

__ADS_1


"Nyo..nyo..nyo" (sang Kaisar Kegelapan telah kembali) sujud para makhluk itu kepada Rio.


"Oh, maafkan hamba kaisar..hamba telah dibutakan oleh kekuasaan dan amarah..sehingga hamba..tidak bisa mengenali mu, Kaisar...tolong maafkan hambamu ini" sujud naga itu juga.


"Emmm...baiklah.." kata Rio bingung dengan perilaku mereka yang tiba-tiba berubah drastis.


Rio lalu berjalan menghampiri Nadia.


"Hiaaa.." Rio memotong rantai besi sehingga Nadia bebas.


Nadia duduk di mulut sumur dan Rio mendekat.


"Kau tidak apa-apa?" Rio berlutut memegang tangan Nadia.


"Aku tid-..ssssh" rintih Nadia kesakitan.


"Dimana? dimana rasa sakitnya...apa disini?" tanya Rio memegang tangan Nadia dengan lembut.


"Ah, tidak aku tidak apa ap-_" elak Nadia.


"Ssstttt...sudah kau jangan berbohong lagi padaku" kata Rio membungkam elakan Nadia dengan jarinya.


Sinar rembulan memasuki ruangan itu dan menyinari Rio dan Nadia. Mereka pun saling bertatapan, suasana berubah menjadi romantis.


"Ehem..ehem.." ejek Manda dan Fikram.


"Uuu...kok gerah ya disini" ejek Manda.


"Ih..apaan sih?" kata Rio dan Nadia saling memalingkan wajah mereka yang memerah.


Gamma memandang mereka dengan tatapan cemburu.


"Hey, hey..haloo" kata Dina menyadarkan Gamma.


"Hah?!..apa?..apa?" kaget Gamma.


"Kau kenapa?" tanya Dina.


"Ah..tidak..tidak apa-apa" kata Gamma mengelak.


"Oh sang Kaisar, setelah berabad abad akhirnya kau kembali jua..." tunduk naga itu.


"Kaisar?" kata Rio kebingungan.


Tiba-tiba pedang yang ada di tangan Rio menghilang dan berubah menjadi batu kristal berwarna ungu.


"Sekarang kristal itu bukan lagi miliku..terimakasih kaisar telah mempercayaiku sebagai pengganti mu" lanjut naga itu.


"Nyo..nyo..nyo.." kata makhluk itu memasangkan karangan bunga di kepala Rio.


"Wow, tunggu...aku tidak paham apa yang kalian bicarakan sedari tadi..dan kenapa kalian terus memanggilku kaisar?" bingung Rio.


"Itu akanku jelaskan nanti saja...sekarang kita harus segera melanjutkan perjalanan" kata ibu Albert pada Rio.


"Perjalanan lagi?" kata naga itu.


"Ya, kami harus segera pergi..karena ada banyak tugas yang harus kami selesaikan" sahut Nadia.


"Tugas?..eh, tunggu kau..kau adalah..tidak mungkin...tidak mungkin...berarti ramalan itu benar adanya" kata naga itu melihat Nadia.


"Hah?" mereka kebingungan.


"Sudah..sudah ..kami akan melanjutkan perjalanan kami sekarang.." kata ibu Albert.


"Baiklah..aku akan menunggu mu kembali wahai kaisar.." kata naga itu terpaksa.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan" kata Manda semangat.


Tiba-tiba cahaya emas keluar dari dalam tas Ibu Albert.


"Eh, tunggu..buku itu...buku itu bersinar lagi" kata Fikram.

__ADS_1


Ibu Albert segera mengeluarkan buku itu dan membukanya. Seketika itu juga cahaya emas dimana-mana. Dan tantangan baru menanti untuk mereka selesaikan...


Bersambung...


__ADS_2