Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Masih Rahasia Fikram


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA...


...Tali? tentu tali tadi langsung kembali ke dalam danau.


\~Di gubuk\~


"Aaaa!!!" jerit Manda histeris.


Fikram dan Rainy menghampiri sumber suara. Tampaklah Manda sedang berdiri dan menjerit.


"Apa? apa? kenapa?" tanya Fikram celingukan setibanya di gubuk.


Manda yang mendengar suara Fikram langsung menghentikan suara jeritannya itu yang memekakan telinga , "Hah?"


"Apa? kenapa?" tanya Fikram sekali lagi pada Manda.


"Kalian?" kini giliran Manda yang bertanya.


"Ada apa seben-"


Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Manda malah menarik tangan Fikram dan Rainy secara tiba-tiba.


"Eeh!?" (tertarik)


"Yey! kalian selamat!! horee!! horee!!" kata Manda melompat-lompat sambil menggandeng dua manusia tadi.


Fikram dan Rainy saling melempar pandangan. "😑"


"Yey! horee!!"


"CUKUP!!" bentak Fikram.


Sontak Manda yang kegirangan pun berhenti melompat-lompat.


"Hah? kenapa?" tanya Manda.


"Kau yang kenapa?" balas Fikram. "Sebenarnya kau teriak itu ada apa!!" kata Fikram sedikit membentak.


"Kau membentakku.." kata Manda tertunduk seakan ingin menangis.


"Eh!?", "Apakah dia mau menangis? kalau dia menangis, habislah aku, penantianku bisa-bisa akan berakhir dengan menyedihkan," batin Fikram


"Hehe, iya-iya deh" Fikram terkekeh. "Ada apa cantik? kok teriak-teriak sih?" bujuk Fikram yang berubah menjadi sangat lembut.


"Ngga mau, tadi kamu bentak aku!" ujar Manda melipat tangannya dan memalingkan wajahnya tanda ia sedang kesal.


"Eh!? emm..anu itu, aku ngga sengaja kok, maaf ya" bujuk Fikram mengedipkan matanya, memohon.


Melihat tingkah imut Fikram, hati Manda pun tergerak.


"Mmm...iya deh" jawab Manda.


"Jadi kenapa kau teriak tadi?" tanya Fikram kembali normal.


"Emm..tidak ada. Tadi aku hanya panik kalian tidak ada di gubuk. Kalau kalian tidak ada di gubuk bisa-bisa aku kena marah sama Ibu Albert akibat lalai mengerjakan tugasku." jelas Manda


GABRUKK.!!


"Haduh, buat orang panik saja" kompak Rainy dan Fikram jatuh syok.


"Oh ya, memangnya Ibu Albert dan lainnya pada kemana?" tanya Rainy.


"Iya dari tadi aku tidak melihat batang otak mereka" sahut Fikram.


"Batang otak? batang hidung kali, Fikram," balas Rainy.


"Hehe, iya itu kamsudnya" balas Fikram.


"Oh, Ibu Albert dan yang lain pergi ke dalam hutan." jawab Manda.


"Ngapain mereka kesana?" tanya Fikram lagi.


"Katanya sih nangkep ikan" kata Manda.


"Buat apa?" tanya Rainy.


"Emm untuk..." perkataan Manda terpotong.


"Untuk sesuatu yang sangat penting." sela Ibu Albert secara tiba-tiba bersama dengan lainnya.


"Kalian! dari mana saja kalian?" tanya Fikram melihat Ibu Albert dan yang lain sudah kembali.


"Kau akan tau nanti, disini kita harus waspada kepada siapapun terutama orang asing." tegas Ibu Albert menatap tajam ke arah Rainy.


"Emm, tapi.." ucapan Fikram terpotong.


"Sudah, aku ingin beristirahat, kalian juga ya" perintah Ibu Albert yang berlalu masuk ke dalam gubuk kayunya.


"Emm..iya aku juga lelah" sahut Dina mulai memasuki gubuknya juga.


"Emm iya aku juga" kata Nadia.


Satu persatu, mereka pun memasuki gubuk mereka masing-masing.


"Eeh! kalian harus jelaskan dulu! hey!!" seru Fikram.


Akhirnya dia pun menyusul Rio dan Gamma ke gubuk mereka, begitu juga dengan Rainy.


\~Malam hari\~


"Hoaammm...haduh kenapa sih Ibu Albert harus memanggil kita di saat kita sedang bersantai" keluh Fikram berjalan malas.


"Ah kau ini! kau itu mungkin adalah bagian dari lima pejuang yang menjadi ramalan dan pilihan dari Buku Resyana." jelas Gamma.


"Hah!? bukannya anak ramalan itu adalah Nadia, dan dia adalah reinkarnasi Sang Pelindung, kan?" ucap Fikram berjalan mundur melihat ke arah Gamma dan Rio.

__ADS_1


"Hey! perhatikan jalanmu, nanti ka-" ujar Rio terpotong.


BRUKK..


"Aduh!"


Merasa ada yang menabraknya dari arah belakang, Fikram pun berbalik untuk melihat siapa yang menabraknya.


"Hah!?"


Tanpa sepengetahuan Fikram, tiba-tiba ada seseorang yang jatuh tersungkur ke arahnya. Secara reflek Fikram pun menangkapnya sebelum ia jatuh di depannya. Sehingga tampak ia dan wanita yang ia tangkap seperti sedang berpelukan. Fikram pun tak bisa berkata-kata selain memandang wanita yang ia tangkap, begitupun sebaliknya.


"Hey! kalian sudah ditunggu.." ucap Manda menghampiri para pemuda itu. Tadinya ia diperintah oleh Ibu Albert untuk memanggil mereka tetapi setelah melihat hal yang tidak terduga itu perkataannya melirih, "Ibu..Albert" lanjutnya lirih.


"Oh, tidak! jangan-jangan ada penantian yang akan menunggu lagi nih, hahaha" ucap Rio menyenggol bahu Gamma seakan ia mengajak berbicara manusia itu.


\~Krik...krik...krik\~


"-_-)....dia kenapa?" batin Gamma tak mengerti apa maksud makhluk disampingnya itu.


"Iya kan? 😂" gurau Rio pada Gamma.


\~Krik...krik...krik\~


"-_-)..."


"Mmm.." Rio pun menghentikan tawanya. "Oh iya, aku lupa kau tidak tahu apa-apa" ucap Rio.


"Terserah" ucap Gamma melipat tangan dan memalingkan wajahnya.


"Huuh" sekarang giliran Rio yang memalingkan wajah dan melipat tangannya.


Sementara Fikram dan Rainy masih dalam keadaan yang sama.


"Cepatlah kalian para manusia!!!" jerit Dina dari pintu gubuk yang ia tempati.


"Iya sabar nenek sihir! ini teman kau yang lamban!" balas Gamma berteriak tak tahan dengan perkataan Dina tadi.


"Apa? nenek sihir lu kata!!" teriak Dina membalas dari batas pintu masuk gubuk.


"Haduh, mereka malah ribut sendiri" batin Rio.


Rio pun mendekatkan dirinya menuju posisi Fikram dan berbisik, "Fikram, penantianmu sudah melihat hal ini, sebaiknya kau akhiri sekarang atau...ya kau tahulah" bisik Rio di telinga Fikram.


Rio pun kembali posisi awalnya.


Fikram pun tersadar "Hah!?" dan langsung melihat ke depan. Ternyata benar di depannya sudah ada Manda yang terlihat agak syok. "Waduh gawat!" batinnya.


"Emm…ini ngga seperti yang kau duga, kok!" ujar Fikram langsung melepaskan Rainy


GABRUKKK…


Tentu saja Rainy langsung jatuh menghantam tanah.


"Aduh!!" ucap Rainy terjatuh.


"A…a…tapi dia…" ucap Manda dengan tubuh terdorong.


"Sudah ayo cepat" kata Fikram mendorongnya masuk ke gubuk.


Rio dan Gamma pun berlalu meninggalkan Rainy yang terjatuh.


Setelah terjatuh, Rainy pun berusaha bangkit, "Aduh!!", "Huh, dasar manusia kejam!!" ujarnya membersihkan seluruh tubuhnya yang dipenuhi debu tanah.


\~Di dalam gubuk\~


"Jadi… kenapa Ibu Alberta memanggil kami semua kemari?" tanya Fikram memecah keheningan.


Ibu Albert yang sedang menghadap membelakangi kelima sahabat itu menjawab, "Aku memanggil kalian kemari, untuk membagi sentaja kalian," ujar Ibu Albert.


"Senjata?" tanya Manda.


"Ya, sudah saatnya kalian mengetahui dan belajar menggunakan senjata kalian" tambah Ibu Albert.


"Wah keren! apa saja senjata kami? punyaku apa?" ujar Fikram bersemangat


Ibu Albert pun berbalik dan menyeringai, "Hehe"


\~Skip\~


"Haah, kok senjataku tali?" ujar Fikram kecewa.


"Iya, punyaku malah peluit" ujar Manda.


"Ya, tidak apa-apalah. Dari pada tidak punya sama sekali, haha" ejek Fikram pada keempat sahabat di sampingnya.


"Enak aja, memangnya cuman kamu yang punya, kami juga punya kali" ucap Dina mengeluarkan senjatanya bersamaaan dengan Nadia, Rio, dan Gamma. Dengan Dina mengeluarkan panah kecil dengan ujung seperti jarum suntik, Nadia dengan belatinya, Rio dengan tongkat yang bisa memendek dan memanjang, dan Gamma dengan ketapelnya.


"Kok kalian punya?" ucap Fikram salah perkiraan.


"Iya, lebih bagus lagi" ujar Manda menimpali.


"Aduh, tentu saja kalian semua memilikinya. Kalian semua itu adalah lima anak ramalan rembulan. Senjata itu adalah senjata dasar sebelum kalian mendapat senjata kalian yang sebenarnya." jelas Ibu Albert


"Tapi kami berenam, Bu" kata Gamma.


"Ya kecuali kau." ucap Ibu Albert membalas.


"Huuh" Gamma mendengus kesal.


"Tunggu! kami? bukannya hanya Nadia?" tanya Dina.


"Tentu saja tidak! ramalan rembulan malam meramalkan akan ada lima orang anak yang akan mengembalikan keseimbangan Negeri Resyam setelah tiadanya Sang Pelindung, tetapi karena Nadia berwajah mirip bahkan persis seperti wajah Putri Nadi, makanya dia yang pertama dikenali sebagai anak dari ramalan itu" jelas Ibu Albert.


"Oooo, tapi kan-"

__ADS_1


"Sudah-sudah tak ada waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu itu" tolak Ibu Albert yang sudah tau Fikram akan bertanya.


"Ingat setiap senjata kalian punya memiliki satu amunisi atau satu senjata khusus yang mengandung unsur debu taring ikan Paraya dan debu lendir katak emas yang sangat mematikan" ujar Ibu Albert.


"Ooo, jadi untuk itu Ibu Albert menyuruh kita menangkap ikan Paraya tadi" ujar Dina.


"Iyap" balas Ibu Albert.


"Tapi untuk apa kita memiliki ini?" tanya Rio.


"Kan sudahku bilang untuk mempersiapkan kalian sebelum kalian menerima senjata asli kalian. Kalian juga harus mempersiapkan diri dari bahaya besar yang akan datang" jawab Ibu Albert.


"Bahaya besar?" cemas Manda.


"Emm...sebenarnya dari mana Ibu Albert tau semua ini?" tanya Nadia


"Ada yang memberi tahu ibu hari itu" ucap Ibu Albert.


"Siapa?" tanya Fikram.


"Emm..rahasia dong" jawab Ibu Albert.


"Bentar-bentar, kenapa aku waktu itu tidak diajak? kan aku juga ingin tau ikan Paraya seperti apa?" ucap Manda.


"Iya aku juga, kenapa?" kata Fikram menimpali.


"Karna kau masih tidur waktu itu" tambah Dina.


"Juga karena kau tidak bisa dibangunkan" kata Rio menimpali.


"Dan aku juga tidak bisa percaya hanya pada orang asing jadi aku menyuruhmu untuk menjaga camp ini" kata Ibu Albert.


"Ooo, jadi itu alasannya kau meyuruhku kemarin. Tapikan ada Rainy, walaupun dia orang asing tapi dia terlihat baik" ujar Manda membalas.


"Iya, waktu itu aku dalam bahaya, dia juga yang membantuku" ucap Fikram.


"Kau dalam bahaya! pasti saat kau menghilang itu, apa kau tidak apa-apa? apa ada yang terluka?" cemas Manda memeriksa tubuh Fikram memastikan ia tidak kenapa-kenapa.


"Tidak aku-" omongan Fikram terpotong.


"Untung saja ada Rainy, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Fikramku" ujar Manda.


"Tunggu Fikramku?" terkejut Fikram setelah mendengar kata 'Fikramku' yang keluar dari bibir Manda.


"Hah!? emm" paniknya tak sengaja mengucapkan kata 'Fikramku', "Aduh kenapa aku bilang begitu sih" pikirnya gugup.


"Uhuhu makin jelas" ejek Dina.


"Heh! sudah-sudah hentikan, walaupun dia telah menyelamatkanmu atau apalah itu, tetap saja dia orang asing yang tidak bisa kita percayai begitu saja, apalagi kemunculannya setelah kita mendapat petunjuk dari Buku Resyana, kalian ingat kan perintah dari Buku Resyana" jelas Ibu Albert lagi.


"Oh iya, kita kan disuruh untuk tidak mempercayai bahkan diperintah untuk membunuh apapun yang kita temui di suatu dunia, iya kan?" kata Nadia.


"Ah iya, berarti kita harus..." kata Rio berpikir.


"Tidak-tidak! itu tidak mungkin! aku yakin Rainy itu orang baik" ucap Fikram tak percaya.


"Ya..ya...ya aku juga" kata Manda menyetujui ucapan Fikram.


"Tapi kit-" ucapan Ibu Albert terpotong.


"AAAA!! tolong aku!!!" jerit seseorang dari luar gubuk.


"Serius! teriakan lagi?" ucap Fikram yang sudah bosan mendengar suara teriakan. "Kenapa aku terus


mendengar suara teriakan😭" keluhnya.


"Tidak! itu nyata! aku juga mendengarnya" kata Manda.


"Ya, sepertinya itu suara seorang perempuan deh" kata Nadia.


"Memangnya siapa lagi perempuan selain kalian disini?" tanya Gamma.


"Iya siapa lagi?" tambah Rio.


"Hemm..sepertinya itu suara..." kata Fikram. "Oh, Rainy!" serunya.


"Hapal sekali kau dengan suaranya" kata Manda dengan nada menginterogasi.


"Itu tidak penting, dia sudah menyelamatkanku dan aku juga harus membantunya" tegas Fikram yang langsung pergi meninggalkan mereka.


Begitupun dengan mereka yang menyusul Fikram ke luar gubuk.


"AAAA!! tolong!!!" teriak seseorang.


Melalui suara teriakannya Fikram dan lainnya mencari sumber suara dengan niat untuk membantunya. Mereka terus mencari sumber teriakan itu, hingga tiba di depan sebuah danau yang sama.


"Dia?!" kaget Dina melihat sesuatu.


"Lihatkan sudah kuduga itu suara Rainy!" kata Fikram.


"AAAAAA!!! tolong!!!" jerit Rainy yang diseret seseorang menuju kedalam danau.


BYURR...blubb


"T..blub..blub"


Belum sempat berkata-kata Rainy sudah diseret masuk kedalaman danau. Sontak semua terkejut bukan main.


"Hah!?" terkejut semua.


"Dia butuh bantuan kita!" ucap Fikram sedikit cemas.


"Sebenarnya kenapa dia selalu dalam masalah? apakah dia punya musuh? siapa dia sebenarnya?" kata Manda berpikir karena dari awal mereka bertemu, Rainy sedang dalam bahaya sama seperti saat ini.


"Kita pikirkan itu nanti, kita harus membantunya sekarang!" ujar Fikram langsung berlari menuju danau.

__ADS_1


"Emm..Fikram!" ujar Manda ingin menghentikan tetapi terlanjur Fikram sudah berlari menuju danau.k


Bersambung...


__ADS_2