
EPISODE SEBELUNYA
"Haah! Kebiasaan deh! Ingat, dia tidak boleh mati, atau habislah kita, hihihi!"
\~\~\~\~\~\~\~
Nging! Nging!
Rio tampak sedang berusaha keras memburu sang nyamuk kesana-kemari. Di dinding, lantai dan langit-langit setinggi yang ia bisa capai.
PLAK!
Berkali-kali ia menyabetkan tongkatnya untuk mengehentikan laju nyamuk. Si nyamuk tampak masih tenang dan lihai menghindari serangan cepat dari Rio. Namun Rio tidak kehabisan akal, ia memukul nyamuk itu sembarang arah dengan cepat untuk membuat si nyamuk kewalahan.
PLAK!
Tepat di tengah atau tepatnya di bagian atas sisi salah satu dinding labirin, satu sabetan berhasil mengenai si nyamuk. Tapi tentu saja hal itu tidak membuatnya mati, tetapi sedikit memperlambatnya.
"Nunduk, Cil!" kata Gamma sedang membidik di belakang Rio.
Riopun menurut dan menunduk. "Cal-cil-cal-cil, lu kira gue apa dipanggil cal-cil!" gusar Rio dalam hati.
SYUT! PLETAK!
Dengan sekali tembakan Gamma berhasil mengenai nyamuk yang oleng. Nyamuk itupun tertindih biji karet yang dilemparkannya.
Lagi-lagi jiwa si nyamuk belum juga meninggalkan raganya. ia masih bisa terbang dengan sisa dayanya.
"Din sekarang!" seru Rio.
Tidak mau menghilangkan kesempatan emas ini, Dina bergerak.
SYUT! JLEB! CRUTT!
Dengan sedikit melompat ke atas, satu panah kecil Dina lontarkan tepat di tengah tubuh nyamuk. Darah dari perut sang nyamuk bertebaran di dinding meninggalkan bercak noda berwarna merah pekat.
\~FLASHBACK\~
"Hemm ...." Gamma tampak beripikir.
"Gimana? Ada?" tanya Dina.
"Ngga. Buahaha," Gamma terkekeh sendiri.
Krik ... krik ....
"Ngga lucu," kata Dina datar.
"Haish! Lu ada, kaga? Gue doang yang ditanyain," ketus Gamma.
"Gue jangan ditanya, jelas ...." Dina menjeda. "Ngga ada, awokawok," sambungnya terkekeh.
"Ih kalian, gimana sih! Beneran nih!" tegur Rio.
"Tegang amat sih, Ri" goda Dina.
Lalu tanpa sengaja netra Rio menangkap gambar tongkatnya. Ia nampak berpikir.
"Hem ...." pikirnya. "Baiklah aku ada ide, sini" suruh Rio pada Gamma dan Dina.
"Wah, Nadia dua nih," kata Dina.
Merekapun merapat dan Rio menjelaskan rencananya.
\~FLASHBACK END\~
__ADS_1
"Ternyata gampang uga nangkep dia," kata Dina mendarat penuh kemenangan.
"Gampang apaan, kalian sih dapet peran yang gampang lah saya," kata Rio kesal.
"Ya udah, ambil itu peta," kata Gamma.
Merekapun ke tempat nyamuk itu tertancap.
"Kejem bener lu, Din" Gamma memerhatikan tubuh nyamuk yang tertusuk panah kecil.
"Diem lu!" balas Dina.
Dengan hati-hati Rio mengambil peta itu dari salah satu kaki nyamuk. Dalam sekejap, gulungan yang tadinya kecil hanya beberapa sentimeter itu membesar hingga ukuran normal sebuah gulungan peta. Tanpa membuang waktu, Rio membuka gulungan itu.
"Mana?" bingung Rio.
"Tidak ada apapun," kata Gamma.
"Tante Kun! Kau membohongi kami ya!" kata Dina pada HIHIHI.
"Hihihi, sembarangan nuduh. Aku ngga bohong kok, coba tetesi satu darahmu ke kertas itu," kata HIHIHI.
Rio mengangkat tangannya ke atas dan meneteslah satu cairan merah di kertas itu.
TES!
Cairan itu mengalir bercabang-cabang sehingga menampilkan denah sebuah labirin. Akhirnya setelah beberapa perjuangan, mereka berhasil mendapatkan peta yang dapat menunjukan jalan keluar mereka dari situ.
GRRR! KREK!
Tak lupa dinding di depan mereka tempat mayat sang nyamuk tertancap, terbuka menyisahkan jalan.
"Wah bagus! Ayo, kita harus segera keluar dari sini," kata Rio.
"Selama ini kita di dalam labirin yang rumit," kata Dina setelah melihat peta itu.
Sama seperti sebelumnya, Nadia menghampiri dan kembali mengeratkan tangannya di lengan kekar Gamma.
Merekapun mengikuti arah dari peta untuk keluar dari situ. Cahaya di lantai keluar mengiringi irama langkah mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~
"Bibi Kun, kau!"
DUNK!
"Aduh!" Saat Manda terbangun, ia malah terpentok sesuatu benda keras nyaring di atasnya.
Ia memegangi kepalanya yang terpentok.
"Duh, bangun-bangun langsung kepentok, semoga aja kepala gue baik-baik aja," aduhnya meringis kesakitan.
"Tunggu! Itu ilusi lagi? Haah, selalu saja! Tapi tadi itu sangat mengerikan, hiii!" Manda bergidik takut saat mengingat kejadian tadi. "Padahal tadi aku pikir aku benar-benar sudah bertemu kembali dengan teman-teman dan ... Fikram ...." Ujarnya berubah sendu.
"Ini semua gara-gara BIBI KUN! aduh!" geramnya ingin berteriak ke atas, tapi malah ia terpentok kembali.
"Duh, kan' kepentok lagi," ujarnya memegangi kepala. "Mong-omong dimana aku?"
Sebuah ruangan tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, lebih tepatnya pas dengan badan Manda. Mandapun kebingungan, mencerna dimana dia saat ini.
"Hemm, tempat yang sempit, beralumunium dan susah bergerak ...." Manda berpikir. "Ah, aku tidak peduli! Aku harus segera keluar dari sini!" tekadnya.
Tiba-tiba Indra pendengarannya menangkap sebuah gelombang suara di depan.
"HAHAHA! Aku menang!"
__ADS_1
Karena penasaran, Manda merangkak menuju sumber suara yang ia dengar.
DUNG! DUNG!
Dengan susah payah, Manda berhasil menemukan pemilik suara. Lewat celah-celah kecil ia bisa melihat seorang pemuda dan wanita bersanggul sedang memainkan permainan yang tidak terlalu jelas olehnya.
"Siapa mereka? Ini, ini di sebuah kerajaan sepertinya. Tapi kenapa aku merasa tidak asing ya," pikir Manda.
Ia terus memerhatikan.
"Hemm, coba aku pikir dulu, kerajaan ...." Manda berpikir. "Apakah ... oh, kerajaan Putri Siera," Manda sudah mengingatnya.
"Tapi tunggu ... hemm, ini pasti ilusi lagi! Aku tidak akan tertipu lagi kali ini, Bibi Kun!" ujar Manda. "Lebih baik aku segera cari jalan keluarnya, tapi tidak di sini aku tahu mereka pasti bukan makhluk baik-baik," kata Manda beranjak pergi.
"Siera, kau curang! Kau tidak menang, tapi Kakak yang menang!"
Citt!
Pergerakan Manda terhenti oleh satu suara yang muncul.
"Suara itu ...."
"Tidak! Tidak mungkin! Terakhir kali aku bertemu dengannya aku tertipu dan malah digigit," Manda memegang lehernya.
Dia kembali mulai merangkak.
"Siera, kau! Awas kau ya!"
Suara seseorang itu kembali membuat Manda mematung.
"Begitu nyata, suaranya begitu nyata ...." pikir Manda. "Haah! Baiklah hanya kali ini saja Bibi Kun! Kalau aku tahu ini ilusi lagi maka ... awas kau!" Mandapun memilih untuk memerhatikan mereka karena salah satu suara itu terdengar tidak asing di telinganya.
Cukup lama ia memerhatikan, hingga salah satu wajah yang sedang dicari-cari olehnya muncul. Sontak matanya melebar tidak percaya.
"Hah! Ternyata ... b ... benarkah itu dia?"
\~\~\~\~\~\~\~\~
"Hemm, seharusnya di depan jalan keluar," bingung Rio melihat peta.
Ternyata, apa yang ada di peta tidak sesuai dengan apa yang ada di depan mereka. Seharusnya di depan mereka sebuah jalan yang mengarahkan keluar labirin. Tetapi, mereka malah dihadapkan sebuah dinding bata berwarna kuning lagi.
"Mana? Wah kita diboongin lagi ama Tante Kun!" Dina berkacak pinggang.
"Hihihi, apa lu bawa-bawa nama gua," suara HIHIHI kembali terdengar.
"Jia, dah ngaku namanya, niye ...." ejek Dina.
"Hihihi, diem lu!" bentak HIHIHI. "Nih gue kasih hadiah karena kalian sudah sampai di garis akhir dalam keadaan selamat dan utuh," sambungnya.
TRING! KREK! KREK!
Seketika sebuah pergerakan terlihat dari dinding di depan mereka. Dinding itu bergerak sehingga memunculkan sebuah lubang persegi panjang yang rapi. Di luar lubang yang bisa dikatakan pintu keluar itu ditutupi cahaya putih sehingga mereka tidak tahu dengan jelas tempat apa yang ada di luar.
"Hemm, nah gini dong! langsung aja, ngga usah kebanyakan nunjukin makhluk yang ngga jelas," cerca Dina melangkah menuju pintu keluar.
Namun saat ia hendak mendekati pintu, mendadak ada sesuatu muncul.
SREKK!
Sebuah pergerakan secepat kilat muncul di depan Dina. Netranya sempat menangkap sekilas, namun ia tidak melihat jelas apa yang muncul di hadapannya. Sontak tubuhnya terhuyung ke belakang karena terkejut.
"Aww!"
Rio dan yang lainpun kaget melihat Dina akan jatuh. Tanpa pikir panjang Gamma melepas paksa cekalan erat tangan Nadia dan berlari ke arah Dina.
__ADS_1
HAP!
Bersambung ....