
EPISODE SEBELUMNYA
"Selamat datang di rumahku!" kata gadis itu bangga menyebutkan tempat itu adalah rumahnya.
"Wah, ini rumahmu!" kagum Fikram.
"Tepat sekali!" kata gadis itu.
"Omong-omong siapa namamu?" tanya Dina.
"Ya, tentu kami tidak enak terus-terusan memanggilmu tuan putri tanpa menyebutkan namamu, itu rasanya aneh!" kata Manda.
"Akan aku jelaskan nanti, pertama kalian harus mampir ke rumahku," kata gadis itu.
"Bukankah ini rumahmu?" kata Fikram tak mengerti.
"Ya maksudku ya rumah..rumahku yang sebenarnya" katanya.
"Ya ini kan rumahmu," kata Fikram.
"Ah, sudah.. Putri, tolong tunjukkan jalannya" pinta Nadia.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Jalan saja susuri perairan ini" katanya. "Jika kalian sudah melihat ada tepi berundak naiklah ke situ" jelasnya.
Mereka pun mengerti dan langsung berjalan menyusuri perairan itu. Di sepanjang perjalanan di tepi perairan yang cenderung mirip sungai itu tidak terlihat adanya mahkluk hidup, dari hewan, tumbuhan bahkan orang, yang terlihat hanya gedung, rumah batu bata, gedung lagi, dan bangunan yang terbuat dari batu bata lainnya. Tetapi itu tak terlalu diperhatikan oleh mereka.
Selang beberapa menit, mereka pun sampailah di sebuah tepi yang berundak. Sesuai kata gadis itu tadi, mereka naik dan berdiri di tepi itu.
"Sampai mana akhir perairan ini?" tanya Rio.
"Sampai ke istana suku duyung" ucap gadis itu.
"Dimana istananya? aku tak melihat ada bangunan semacam istana disini," kata Fikram celingukan.
"Iya aku juga," kata Manda menimpali.
"Nanti kalian juga tau..sudah, berjalanlah lewat jalan ini mengikuti arus sungai..nanti kalian akan tiba di rumahku yang sebenarnya" ucap gadis itu.
"Hemm..iya baiklah" Fikram.
\~Kemudian\~
"Ini rumahmu?" tanya Fikram tak percaya di depannya rumah gadis yang mereka sebut tuan putri itu.
Bagaimana ingin percaya, pasalnya tempat di depan mereka hanya rumah kayu yang jauh dari kata layak huni. Kayunya sudah tua, keropos, kotor, penuh sarang laba-laba, dan banyak lagi yang menjadikannya tidak layak huni.
"Iya" kata gadis itu.
"Aku kira kamu tuan putri, ternyata..." kata Fikram kecewa.
"Jadi kalian menolongku hanya karena menganggapku tuan putri?" tanya gadis itu.
"Tidak juga, kami ikhlas menolongmu..tetapi yang aku liat di film-film biasanya duyung itu seorang putri" sahut Manda.
__ADS_1
Dina dan Nadia saling bertukar pandang melihat tingkah laku Manda dan Fikram.
"Tidak semua duyung itu putri kerajaan" kata gadis menjawab. "Sudah-sudah ayo masuk!" tambahnya.
"Aku tidak mau, aku alergi kotor" kata Fikram jijik.
"Aku juga" kata Manda.
"Aku tau kalian tidak punya alergi seperti itu😑" kata gadis itu tak percaya.
"Sudahlah masuk saja!" kata Dina. "Itu pasti hanya alasan kalian saja" tambahnya.
"Tetap tidak!" kompak Manda dan Fikram menggeleng.
"Haah! sudah ayo masuk!!" paksa Rio mendorong tubuh Fikram masuk ke rumah sang putri.
"Ah! tidak mau!!!!!" katanya Fikram berdaya.
"Masuk saja!" paksa Rio.
"Tidakkk!!!" histerisnya memejamkan mata.
Dina berjalan mendekati Manda.
"Kau mau apa?!" kata Manda menyadari Dina mendekat ke arahnya.
"Tentu memaksamu masuk, apa lagi?" jawab Dina.
"Tidak! tidak! aku tidak mau!!!"
"Sudah masuk saja" kata Dina santai.
Akhirnya mereka pun masuk. Namun setelah masuk, cckkckcckkc. Mungkin ini yang dimaksud dengan jangan menilai sesuatu hanya dari covernya.
"Wahhh!!!" ucap Manda.
"Buka matamu, Fiki" kata Rio.
Perlahan Fikram membuka matanya, di pikirannya ia akan melihat sesuatu yang tidak mau ia lihat yaitu dalam gubuk kayu yang kotor penuh rayap dan menjijikkan.
"Hah!? ini rumahmu?" tanyanya tak percaya di depannya bukan bercampur jijik tetapi kagum luar biasa.
Tak disangka!
Di dalam sebuah rumah kayu tua yang usang ternyata terdapat bangunan besar yang sering disebut orang adalah istana, saat ini mereka berada di gerbang istana itu. Halaman depan sebelum pintu utama adalah halaman yang sangat luas mungkin sebesar lapangan sepak bola, atau lebih.
Sebelum pintu masuk ada tangga disana dan berpintu ukiran khas suku duyung dengan kenop pintu berbentuk gadis duyung berlapis emas.
Di atap istana terdapat kubah yang terdapat benda besar berbentuk lingkaran dengan sisi-sisinya seperti mentari di pucuknya. Semua atap di situ didominasi warna emas. Tak lupa beberapa prajurit laki-laki berpakaian khas yang berjejer berdiri tegap berjaga di setiap sisi pintu masuk, lorong dan pilar-pilar istana itu, benar-benar mengagumkan.
"Makanya jangan tukang menilai orang dari luarnya, kalian" kata Dina.
"Iya-iya" kompak Manda dan Fikram.
"Haha, ya sudah masuklah" kata gadis itu.
__ADS_1
Mereka pun masuk perlahan. Dua orang penjaga yang menjaga membukakan pintu untuk mereka.
"Hemm..kalau aku perhatikan mereka orang, kenapa tubuh mereka tidak setengah ikan seperti mu" kata Fikram memandang gadis ikan itu.
"Hemm..itu.."
"Mungkin setelah mengering ekor atau di darat, ekor mereka akan kembali menjadi kaki, mungkin? seperti yang ada di film-film" simpul Manda.
"Kayanya lu tukang nonton film begituan ya? makanya lu tau banyak soal duyung" kata Dina.
"Ya memang, aku itu suka nonton film duyung, drakor, rubah berekor sembilan dan banyak lagi" kata Manda.
"Siapa?" tanya Dina.
"Aku lah, siapa lagi!"
"Yang nanya. Ahahaha🤣" lanjutnya.
"Haah!" katanya berhenti mengoceh.
\~krik..krik..krik\~
"Kau jahat, Din" kata Manda membuang muka.
"Wee😜" Dina menjulurkan lidah dan menutup satu matanya tanda ia sedang meledek Manda.
Setelah berdebatan yang cukup pendek, tibalah mereka di dalam istana. Rupanya saja sudah megah, apa lagi dalamnya.
"Wah, rumahmu sangat megah dan luas" ujar Manda melihat ke langit-langit.
"Ckckckck..rumahmu bisa buat main sepak bola ini" kagum Dina, "Wah, ini juga sangat bersih" kata mencoel lantai putih dengan semburat ke kuningan yang sangat licin dan bersih.
Di ruang yang megah itu terdapat meja yang diletakkan menempel tembok, tak lupa ada beberapa benda hiasan di atasnya seperti vas kecil, patung kecil berbentuk gadis duyung yang terbuat dari kaca bening kebiruan, dan sebuah gelas. Eits! jangan salah, ini bukan gelas biasa, gelas ini gelas berkaki berlapis emas dan berhias permata di pinggirnya.
Di langit-langitnya tergambar sebuah lukisan yang terkait dengan suku duyung dan beberapa gadis duyung berambut panjang. Tak lupa ditengahnya di gantung lampu hias kristal yang sangat berkilau dan menambah kemegahan bangunan ini. Di situ juga terdapat dua tangga melingkar yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah.
"Terus gua nurunin lu dimana?" tanya Fikram. "Cepet berat nih gua" desaknya.
"Emmm.." gadis itu berpikir. "Ya udah di sana aja" katanya menunjuk sebuah kursi panjang berwarna putih yang berukir ekor ikan di tengahnya.
"Oh, ok" jawab Fikram.
Fikram pun menurunkan Sang Tuan Putri ke kursi panjang itu. Ia pun langsung menarik tangannya.
"Ah! akhirnya" lega Fikram.
"Ish pelan-pelan bisa ngga?!" kata gadis itu mengaduh.
"Apa yang kau lakukan pada Tuan Putri, hah!!!!" keras seseorang dari arah belakang Fikram dengan menempelkan sesuatu ujung benda tepat di kepala Fikram bagian belakang.
Fikram yang merasakan belakang kepalanya di tempelkan sesuatu yang runcing dan lancip, hanya diam tak berkutik dan ketakutan.
Teman-teman Fikram yang melihat hal itu segera berhenti dari aktivitas mengagumi ruangan dan terkejut main.
"Jawab!!!" desaknya. "Jangan sampai pisauku ini menembus otakmu!!" seringainya.
__ADS_1
Bersambung...