
EPISODE SEBELUMNYA
Siera dan Rendi mengekori di belakang.
FLASHBACK END
\~Dalam Istana\~
Berdiri menghadap sebuah jendela besar, menatap dalam sebuah kota bawah danau di siang hari. Fikram tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.
*"KETERLALUAN!"
"Dengar, ini akibatnya jika kau berani melukai Ibuku!"
"Beri dia hukuman yang pantas, penjarakan di penjara terburuk bila perlu."*
Rentetan kata yang ia ucapkan terngiang-ngiang dalam pikirannya saat ini. Ia merasa sikapnya pada Manda sangat berbeda dengan kepribadiannya yang sebelumnya.
"Kenapa aku menjadi begitu ... ah, apakah itu karena kristal yang Ibu ceritakan?" pikir Fikram.
"Finn," panggil seseorang dari arah belakang.
Sontak suara itu membuyarkan lamunan Fikram. Dengan terkejut ia menoleh ke sumber suara.
"Hah! Ya!"
"Sedang memikirkan apa kamu, Nak?" tanya Marine membawa buku tua tebal yang terlihat sudah sangat usang.
BRUK!
Marine meletakan buku itu ke sebuah meja kayu panjang.
"Ah, tidak. Aku tidak memikirkan apapun," kilah Fikram.
Marine hanya membalas dengan senyum tipis, lalu ia mengalihkan pandangannya pada buku yang barusan ia letakan. Marine membuka dan membolak-balik satu-persatu halaman buku yang sudah berwarna kecoklatan, mencari informasi yang ia butuhkan. Fikram menghampiri sang ibu.
"Nah, ketemu" senang Marine menemukan informasi yang ia perlukan dalam buku tersebut..
"Apa ini, Bu?" tanya Fikram kebingungan dengan halaman bertuliskan huruf-huruf aneh baginya.
Diantara tulisan itu, terdapat gambar seorang putri duyung tanpa tergambar bentuk wajahnya.
"Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat dirimu tidak terpengaruh jiwa jahat ayamu."
"Apa caranya, Bu?" Fikram antusias.
Marine menghela napas panjang. "Dikatakan di sini, kita harus mengeluarkan kristal itu dari tubuhmu dengan ... bubuk debu Jval Dust," kata Marine serius mengabsen setiap kata di halaman itu.
"Debu Jval Dust? Apa itu?"
"Debu Jval Dust adalah debu berwarna keemasan yang terbuat dari bubuk taring ikan payara dan campuran getah dari pohon woski wood."
"Namun sayang ...." Marine berubah sendu.
"Kenapa?"
Marine menghela nafasnya panjang kembali. "Huffft ... sayangnya debu itu tidak bisa dibuat oleh sembarang orang. Terlebih lagi bahannya yang langka dan sangat sulit didapatkan," jelasnya.
"Hemm, debu yang terbuat dari bubuk taring ikan payara ...." Fikram memutar otaknya.
Ia merasa pernah melihat bubuk seperti yang dikatakan Ibunya. "Itu! Sepertinya itu debu yang dimiliki Ibu Albert! Ya itu!" serunya.
"Kau tahu sesuatu?" tanya Marine.
"Ya, debu itu ada pada setiap satu unsur senjata kami pemberian dari Ibu Albert, mungkin dia masih memilikinya," jelas Fikram.
"Ambil debu itu," perintah Marine serius.
__ADS_1
Fikram kaget, "A... a... apa! Mengambil? B... b... bagaimana aku-"
"Kenapa? Apa kau tidak mau melakukannya, Nak?" sela Marine.
"Tidak, Bu. Bukan seperti itu, tapi...." ragu Fikram.
"Ah, baiklah Ibu mengerti" Marine merubah posisinya menjadi memunggungi Fikram. "Tidak apa, kau tidak harus mengambilnya. Haah, setidaknya kematian Ibu nantinya ad di orang yang paling berharga untuk Ibu, Putraku" katanya melirik sekilas Fikram.
Fikram dapat melihat mata ibunya berkaca-kaca. "I... I... Ibu! Apa yang Ibu-"
Belum selesai menyelesaikan seluruh kalimatnya, Marine sudah pergi tanpa menghiraukan Fikram. Fikram merasa bersalah, ia menunduk, netranya menangkap halaman buku yang dibacakan Ibunya tadi. Ia menatap dalam buku itu.
"Apapun untukmu, Ibu" batinnya.
\~Di sisi lain\~
Seorang pemuda tampan sedang bersembunyi di balik pilar-pilar putih di salah satu sudut istana. Sesekali ia mengintip ke sisi lain. Sepertinya ia sedang memerhatikan seseorang di sana.
"Cepat, tunjukkan wujud aslimu, Penipu!" gumam Rio.
Ya, pemuda itu adalah Rio. Sedari tadi ia sedang membuntuti seseorang yang menurutnga memiliki gelagat mencurigakan, Nadia. Ia mencurigai Nadia bukanlah Nadia yang sebenarnya melainkan Nadia palsu atau jadi-jadian.
Tap ... tap ... tap ....
Entah sedang apa gadis di depannya itu. Sedari tadi ia berjalan menyusuri lorong itu tanpa berhenti. Hingga beberapa saat kemudian, langkah gadis tersebut terhenti di sebuah benda yang tertutup kain hitam.
Rio yang sedang membuntuti pun kebingungan, "Benda apa itu?"
Nadia menatap benda itu sejenak. Ia lalu beranjak, menarik kain hitam yang menutupi benda tersebut.
SRET!
Dibuanglah kain itu ke sembarang arah. Kini tampak sebuah cermin kaca panjang tergeletak begitu saja di. Kaca itu cukup panjang sampai bisa memantulkan bayangan Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa harus digantung di dinding.
Nadia bercermin di sana, ia menatap lama bayangan dirinya tanpa rasa takut sebesar yang ia tunjukkan saat di labirin. Melenggok ke sana kesini dan memainkan rambutnya.
Nadia masih bercermin menatap dirinya. Setelah berfokus bercermin, akhirnya ia menghentikan aktivitasnya. Dari bayangan cermin Rio bisa melihat Nadia sedang tersenyum miring.
"Kenapa dia?"
"Hehehe...." Nadia terkekeh dengan sendirinya. "Hehehe...."
"HEHEHE!"
"Hah!" Rio terkejut saat melihat cermin itu mengalir cairan merah kental melumuri seluruh permukaan cermin.
"Apa-apaan ini?"
Cairan itu telah mengalir ke lantai, menampakkan kembali permukaan cermin. Rio semakin dibuat terkejut. Bayangan yang muncul di cermin berbanding jauh dengan makhluk yang sedang bercermin di depannya.
Sesosok pria dengan makhluk yang tidak diketahui jenisnya, memiliki dua gigi seperti taring kecil, bermata merah, serta memakai jubah merah hitam dengan kemeja putih, persis seperti dandanan sesosok drakula di film-film.
"Hehehe, aku ternyata masih tampan setelah beratus-ratus tahun lamanya, hehehe" ucap bayangan itu.
"Akhirnya kau menampilkan wujudmu yang sebenarnya," geram Rio mengambil tongkat dari sakunya mempersiapkan menyerang Nadia jadi-jadian itu.
Rio berencana keluar dari persembunyiannya dan langsung menangkap basah si penipu itu. Namun, saat ia ingin keluar dari persembunyiannya ....
"Heh! Lagi apa?"
Rio merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya dari. Sontak ia dibuat terkejut dan menoleh ke belakang.
"Hah! Siapa!"
"Ini gue. Lagi apa? Serius amat," kata pemuda itu yang tak lain tak bukan adalah Gamma.
"Sssst! Ganggu aja sih lu. Dah ngga usah kepo." Rio ingin berbalik dan melanjutkan aktivitasnya, namun lagi-lagi ia ditahan oleh Gamma.
__ADS_1
"Eh, orang belum selesai ngomong main pergi aja." Gamma memutar tubuh Rio. "Hayoloh, sekarang ngaku lagi apa? Hah! Jangan-jangan ...." Gamma menjeda perkataannya. "Lu lagi ngintip ya? Ayo ngaku," tuduh Gamma memajukan wajahnya.
"Heh, sembarangan! Gue anak baik, sholeh, ganteng, tidak sombong, serta rajin menabung ya. Enak aja dituduh ngintip! Sekate-kate lu!" Rio tak terima dirinya dituduh begitu.
"Halah! Anak baik, sholeh, ganteng, tidak sombong, serta rajin menabung palelu!" Gamma mengulang sifat baik yang diucapkan Rio.
"Dah pergi lu sono, ganggu orang aja," Rio berbalik, ia harus melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Tetapi ....
"Hah!"
Mata Rio membulat sempurna ketika tidak ada siapa-siapa di tempat Nadia berdiri sebelumnya.
"Kemana perginya makhluk itu?!" kaget Rio.
"Makhluk? Makhluk apaan? Ngga ada apa-apa," kata Gamma mengintip dari belakang.
Mendengar suara Gamma, Rio menunduk. "Ini ... ini ...." Ia mencengkram kuat tongkatnya. mendadak dia berbalik, mengangkat tongkat panjangnya tinggi-tinggi.
"HAAH! DASAR, BEO! INI GARA-GARA ELU, TAU!"
Bugh! Bugh!
Rio memukul Gamma bertubi-tubi dengan sekuat tenaga.
"Duh, duh! Apa salah saya? Berhenti! Gue laporin lu atas pasal penganiayaan, nih" ancam Gamma.
"Bodo!" Rio tetap memukul keras Gamma berulang kali.
\~\~\~\~\~\~\~
\~Malam hari\~
Nadia sedang berjalan seorang diri di salah satu lorong istana.
Tap ... tap ... tap ....
"Cepat tunjukkan wujud aslimu!"
Tiba-tiba ada yang menyerang dan memojokkannya ke dinding. Terdapat sebuah tongkat panjang yang berhasil mengunci pergerakannya.
"Rio, apa-apaan ini! Lepaskan!" pekik Nadia mencoba melepaskan kukungan Rio.
Ya, itu adalah Rio. Orang yang mencurigai Nadia bukanlah Nadia yang sebenarnya.
"Dasar penipu! Cepat tunjukkan wujud aslimu! Di mana Nadia yang sebenarnya!" desak Rio.
"Apa maksudmu? Aku Nadia, aku!" bingung Nadia.
"Kau tidak mau mengaku juga!" Rio semakin menekan tongkatnya.
"Rio! Lep ... lepas!" Nadia memegang tongkat yang melekat pada lehernya.
"Cepat tunjukkan wujudmu yang sebenarnya! Jangan memaksaku melakukan lebih dari ini!" Rio tidak bisa bersabar lagi, ia semakin menekan kencang tongkat itu.
"A... a... apa-apaan kau ini! Lepaskan! Kau menyakitiku!" dengan suara tercekik Nadia melontarkan kalimat tersebut.
"HEY!"
Tiba-tiba seseorang memanggil. Sontak, Rio menoleh untuk mengetahui siapa yang mengganggunya.
BUGH!
"Apa yang kau lakukan pada Nadiku!"
Bersambung ....
__ADS_1