
_Ketika Maple dan Trigou bersatu_
EPISODE SEBELUMNYA
"Apa ada yang bisa menjelaskan semua kebagongan ini?"
Yah, Ibu Albert bersiaplah ditagih-tagih lagi, wkwk.
----------------
"Jadi sebenarnya siapa kalian?" tanya Nadia melipat tangannya di depan dada.
Kedua sosok itu saling berpandangan,
"Hahaha," salah satu dari mereka tertawa kecil. Ia bangkit lalu menhampiri Nadia, "Wah-wah, adik kecilku tidak berubah meski telah hidup di kehidupan yang berbeda ya," ia mengacak-ngacak rambut Nadia.
Nadia bingung dan merasa terganggu.
Si sosok itu pun membuka jubah dan penutup wajahnya. "Haha, maafkan aku ya, wahai Yang Terpilih."
CLINGGGG!
Seketika di sekitar wajah sosok ini seperti di kelilingi efek-efek filter. Nadia dan yang lain pun terpesona melihatnya.
Wajah cantik, hidung mancung bak prosotan, dan bulu matanya yang lebat nan lentik secara alami, tidak terlalu putih sih memang tetapi justru itulah yang menjadikannya terlihat semakin manis. Rambut panjang berwarna merah kecoklatan itu bergoyang sedikit tatkala angin semilir menerpanya. Tanpa ekspresi saja sudah manis, apalagi ditambah dengan senyuman... bisa-bisa langsung diabetes yang melihatnya haha.
"Adik kecil? Apa mak-" ucapan Nadia dipotong begitu saja.
"Woaahhhh, kau cantik sekali. Bolehkah dikau memperkenalkan dirimu, Nona?" potong Fikram dengan mata berbinar.
Ia menyenggol Nadia dengan keras, hingga Nadia jatuh menghantam langsung ke tanah.
GEDEBUG!
"Fikram!" teriak Nadia, yang langsung tak diindahkan oleh Fikram.
Wanita manis itu mengukir senyum di bibirnya, "Perkenalkan namaku, Maple."
"Atau... kalian bisa memanggilnya 'Putri Maple'. Dia adalah putri makhkota, keturunan asli raja terdahulu kami yang baik hati, rajin menabung, serta tidak sombong," sahut Ibu Albert memperkenalkan secara singkat padat jelas.
"Haha panggil 'Maple' saja tidak apa-apa kok," kata putri Maple.
"Tidak, Putri, ini adalah tata krama kerajaan. Harus diikuti oleh semua orang tanpa terkecuali," tegas Ibu Albert.
"Dia kenapa sih, sang Putri saja tidak apa-apa, kok malah dia yang heboh," bisik Dina pada Fikram.
"Iya, sangat aneh," balas Fikram berbisik pula.
Rupanya bisik-bisik tetangga itu masih bisa terdengar jelas di telinga Ibu Albert. "KALIAN!"
"Emm, lalu dia ini siapa?" tanya Manda menunjuk sosok berjubah yang satunya.
"Ah aku? Aku ini tidak penting, abaikan saja aku dan lanjutkan pembicaraan kalian," katanya seperti ingin menghindari sebuah perkenalan diri.
__ADS_1
"Apa maksudmu tidak penting!? Kau itu sangat penting, ayolah perkenalkan dirimu," bujuk Putri Maple.
"Ah tidak usah."
Putri Maple menggembungkan pipinya, "Ya sudah kalau begitu, terserah kau saja! Kalau kau tidak mau memperkenalkan dirimu sekarang juga... terimalah resikonya, aku tidak akan bicara lagi padamu, huh!"
Mendengar hal itu, sosok ini menjadi takut, "Ah iya-iya baiklah."
"Mereka sepertinya sangat dekat ya," komentar Manda.
"Iya," balas Rio.
Si sosok ini pun membuka penutupnya. "Perkenalkan, namaku Trigou, aku rekan dari tuan putri," ucapnya dengan mengelus tenguk dan tersenyum malu.
Sekarang tampaklah wajah menawan dari sosok yang satu ini. Hidung yang mancung, rambutnya yang pirang dan sedikit poni yang menutupi dahinya, terlihat pula lesung pipi saat ia tersenyum menjadikan siapapun yang melihatnya juga akan langsung terkena diabetes, haha.
"Oooh, manisnya," serasa ingin pingsan Manda melihat wajah Trigou yang begitu manis ini, darah pun bagai mengalir deras dari hidungnya.
"Ekhem, kami ini rekan. Lebih tepatnya calon rekan hidup sih," kata Putri Maple.
"Ha? Rekan hidup?"
Manda langsung kecewa, "Yah, gagal jadi target baru," gumam Manda.
"Apa Tuan Putri tidak bercanda?" tanya Ibu Albert.
"Apa maksud pertanyaanmu, Kepala Suku! Tentu saja aku serius!"
"Maafkan saya, Tuan Putri. Saya hanya terkejut," Ibu Albert membungkuk.
"Uuu, Ibu Albert dimarahin guys," ejek Fikram.
"Ya, dia adalah tunanganku. Meski belum secara resmi sih," Putri Maple menggandeng tangan tunangannya itu. "Dia dari wilayah Pertanian, anak seorang petani biasa. Walau begitu hatinya sangat baik dan berani," ia tersenyum ke arah Trigou. "aku bertemu dengannya pertama kali pada saat menyelamatkanku dari menteri licik itu," raut wajah Putri Maple berubah menjadi sendu.
"Wilayah Pertanian? memang ada berapa wilayah di negeri ini?" tanya Rio.
"Akan ku jelaskan nanti," jawab Ibu Albert.
Putri Maple melepas gandengannya dan mendekati Nadia. Matanya berkaca-kaca saat menatap gadis cantik itu.
GREP!
Putri Maple merengkuh manusia ini ke dalam pelukannya. "Hiks! Hiks! Sudah lama kita tidak bertemu adikku! Kau tahu kakak sangaaat merindukanmu," tangisnya pecah.
Nadia hanya bergeming, ia tidak tahu harus merespon apa.
"Hiks! Hiks! Kenapa! Kenapa kau merahasiakan hal sebesar itu pada kakak, hah! Dasar nakal! Hiks-hiks!" katanya semakin merengkuh erat Nadia.
Tak lama setelah itu Putri Maple melepas pelukan serta mengusap air mata. "Maafkan aku wahai Yang Terpilih, aku sangat merindukan adikku," katanya.
"Ya tidak apa, Putri saya mengert-"
"Eh wajahmu kenapa ini? Bekas lukannya sangat panjang," Putri Maple melihat bekas luka memanjang yang ada di wajah Nadia. "Ketua Suku, bukankah kau tabib kerajaan sekarang. Mengapa kau tidak merawat luka adikku dengan benar. Kenapa wajahnya jadi seperti ini?" marah Putri Maple pada Ibu Albert.
"Ma-ma-maaf, Tuan Putri," Ibu Albert menunduk.
__ADS_1
"Wah tontonan yang seru nih," kata Dina seolah-olah menonton drama bagus.
"Asik, judulnya 'Ketua Pemarah Sedang Dimarahi Atasan' wkwk," ujar Fikram.
"Kalian...!" geram Ibu Albert di dalam hati. "Maafkan saya, Tuan Putri. Saya akan merawat bekas lukanya lagi hingga hilang tidak berbekas," katanya berharap putri Maple tidak akan memarahinya lagi.
"Hemm, ya baiklah," kata Putri Maple.
"Emmm, maaf apa ini senjata kalian?" kata Manda melihat sepasang busur tergeletak di bangkai pohon.
Sontak semua atensi menuju ke arah Manda berada.
"Oh iya, itu milik kami," jawab Trigou
"Tapi... kenapa berbeda sekali? Aku lihat tadi busur kalian sangat keren," mata Fikram berbinar memikirkan panah yang ia lihat di pertarungan sebelumnya.
"Oh, maksudmu yang ini," serentak mereka berdua menjulurkan tangan ke depan.
Seketika busur itu terbang ke arah mereka. Di genggaman mereka, panah kayu biasa itu berubah menjadi busur dengan kekuatan dan tampilan yang tidak biasa.
Busur milik Putri Maple adalah busur kayu gagah dengan ornamen daun-daun maple merah kekuningan. Busur ini bisa mengeluarkan panah sendiri dengan kekuatan yang sama.
Sementara busur milik pemuda bernama Trigou, adalah busur kayu gagah dengan ornamen gandum yang menghiasinya. Sama seperti busur milik Putri Maple, busurnya pun bisa mengeluarkan panah dengan kekuatan yang sama.
"Sebentar, Trigou? Gandum? Maple? What!" mendadak Nadia, Rio, dan Dina jadi bertanya-tanya. "Tapi ...," mereka sedang membayangkan.
Maple + Trigou\= pancake.
"Haha, ya pancake," air liur mereka menetes membayangkan adonan pancake yang disiram sirup maple manis.
"Woahh, bisa kau tunjukan kekuatannya, kumohon," pinta Manda.
"Kami mohon," Fikram ikut merengek.
Maple dan Trigou saling berpandangan, "Ya, baiklah," mereka setuju.
Secara kompak, keduanya pun mengangkat busur mereka tinggi-tinggi, membidik, lalu melayangkan panah mereka ke tanah tandus itu.
SYUUUTTT!
Sebelum panah itu mendarat sempurna, Flour mengeluarkan biji gandum lalu membantingnya.
POOF!
Mereka menghilang seketika.
"Uhuk-uhuk!"
Tadaaaa!
Satu suara membuat Manda dan Fikram menoleh ke sumbernya. Ya, itu Putri Maple dan Trigou. Mereka berada di sebuah tempat yang di penuhi tumbuhan gandum dan satu pohon maple besar. Putri Maple duduk di salah satu dahan pohon, sementara Trigou di bawah, berdiri di tengah-tengah tumbuhan gandum yang memang sengaja ia buat pendek.
Suit! Suit!
"Wowww! Kerennnnn!" bak sedang menonton aksi sulap mereka terlihat sangat gembira.
__ADS_1
Maple dan Trigou tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putih mereka. Teman-teman Fikram dan Manda hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah dua manusia yang konyol ini.
Bersambung ....