
EPISODE SEBELUMNYA
"Di..Di..Nadia?" ucap Rio mencoba membangunkan Nadia.
"Nadia..bangun Nadia" ucap mereka mencoba membangunkan Nadia.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
"Rio..Rio!!!" teriak Nadia.
"Jangan Di..terlalu berbahaya" ucap teman-temannya menahan Nadia untuk masuk.
"Tidak!! lepaskan aku..aku harus menyelamatkannya" kata Nadia.
"Jangan, Di" kata teman-temannya.
BUMMM...
"RIOOO!!!" teriak Nadia histeris.
\~Cahaya putih menyelimuti\~
"TIDAKKK!!!" teriak Nadia terbangun dari mimpinya.
Teriakan Nadia membangunkan Rio yang secara tidak sengaja terlelap di tepi ranjang berbahan bambu dengan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang tersebut.
"Hah?! ada apa?!" terkejutnya mendengar teriakan.
"Rio!?" ucap Nadia.
PLUKKK...
Nadia langsung memeluk Rio dan menangis.
"Hiks..hiks..syukurlah kau masih disini, Rio" isak tangisnya.
"Kenapa? ada apa? kenapa kau mendadak menangis seperti ini?" kata Rio.
"Hiks..hiks..aku sangat mencemaskan dirimu" tangisnya lagi.
"Tenanglah, kumohon.." kata Rio mencoba menenangkan.
"Sekarang, coba katakan..ada apa sebenarnya?" kata Rio melepas pelukan Nadia.
"Hiks..hiks" tangis Nadia.
"Katakanlah.." bujuk Rio.
"Hiks..hiks" Nadia hanya menangis menunduk.
Rio kemudian bangun dan duduk di sisi Nadia.
"Ya, sudah..kalau kau tidak mau mengatakannya tidak apa..sekarang tenanglah..dan kembali tidur ya" kata Rio memegang kedua tangan Nadia dengan lembut dan menatap Nadia yang sedang menunduk.
"Hiks..hiks..berjanjilah kau akan selalu ada di sisiku" pinta Nadia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Rio.
"Hah!? emm..ya, aku akan selalu disisimu, aku berjanji" kata Rio agak terkejut dan mengelus lembut rambut Nadia yang terkuncir sempurna.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Gamma berada di pintu gubuk kayu itu dan melihat segalanya. Awalnya ia kesana karena mendengar teriakan Nadia, tapi ia tak menyangka ia akan melihat hal itu. Ia pun memutuskan untuk pergi dari situ.
\~PAGI HARI\~
Di sebuah camp peristirahatan yang terletak di hutan tidak jauh dari tempat pintu masuk Dunia Kebalikan. Sinar matahari menyinari dan masuk melalui celah-celah gubuk kayu tua itu. Rio yang sedang terlelap dengan bersandar di dinding gubuk itu dibangunkan sinar matahari pagi yang menyilaukan.
"Emmmh.." Rio mulai terbangun.
Mata Rio pun terbuka, ia lalu meregangkan tubuhnya.
"Emmh.."
KREK..KREK..
"Aduh, entah kenapa..bahuku agak pegal" kata Rio meregangkan bahu kirinya yang terasa pegal.
KREK..KREK
"Badanmu pegal tidak, Di?" tanya Rio pada Nadia.
\~Tak ada jawaban\~
"Di?" panggilnya lagi dengan menoleh ke samping kirinya.
Betapa terkejutnya ia, karena Nadia sudah bangun terlebih dahulu dan tidak ada di sampingnya.
"Lah?! kemana dia?..hmm..mungkin sudah bangun duluan" ucap Rio pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Rio pun beranjak bangun dari ranjang bambunya itu. Tiba-tiba ada yang masuk.
"Eh? kau sudah bangun, Ri" ujar Nadia masuk membawa kelapa muda yang sudah terbelah dan buah- buahan beralaskan daun sebagai piring.
"Nadia, kau? kau bangun sangat pagi sekali" kata Rio.
"Pagi apanya, matahari sudah mulai naik di sana" ujar Nadia meletakkan buah dan kelapa yang ia bawa di ranjang bambu itu.
"Mmmm.." Rio mengangguk-angukkan kepalanya.
"Ya sudah sebaiknya kau makan dulu" kata Nadia.
"Baiklah, terimakasih ya" ucap Rio tersenyum manis pada Nadia, ia lalu mengambil sebuah apel dan duduk memakannya di ranjang bambu itu.
"Mmm..Rio" panggil Nadia.
"Iya" jawab Rio.
"Emmm..maaf ya..atas kejadian tadi malam..aku benar-benar tidak tau kenapa aku jadi se-emosional itu" bohong Nadia pada Rio.
"Oh, iya tidak apa kok..lagi pula aku juga minta maaf.." kata Rio.
"Minta maaf? kenapa?" ujar Nadia.
"Ya, aku sudah lancang tertidur di sini bersamamu..aku tidak sengaja terlelap saat menunggumu..seharusnya aku tidak melakukan hal itu..jadi aku minta maaf" kata Rio sambil memakan apel merahnya.
"Itu sebuah ke tidak sengajaan, Rio..tak apa" kata Nadia tersenyum.
Rio membalas senyuman Nadia itu.
"BANGUN SEMUA!!!" teriak lantang Ibu Albert secara tiba-tiba.
"Siapa itu? suaranya sangat keras" kata Rio menutup telinganya.
"Itu pasti Ibu Alberta..sebaiknya kita pergi keluar sekarang" kata Nadia menyarankan.
"Ya, kurasa begitu" balas Rio.
Nadia pun bergegas keluar menemui Ibu Albert, begitu juga Rio yang sudah menghabiskan apelnya, ia pun menyusul keluar.
DI LUAR..
"Bangun Semua!!!" teriak Ibu Albert lagi.
"Aduh!! berisik sekali..ini kan masih pagi" kata Fikram yang masih mengantuk.
Gamma keluar dari kamar gubuknya, begitu juga dengan Dina dan Manda yang keluar dari gubuk mereka.
{Pembagian kamar: kamar para lelaki: Fikram, Gamma, dan Rio, namun karena Rio tak sengaja terlelap saat menunggu Nadia sadar di kamar Nadia, jadi kamar lelaki hanya diisi Fikram dan Gamma saja.
Kamar Perempuan: Manda, Dina juga Ibu Albert.Nadia tidak ikut karena sedang tahap pengobatan dan pemulihan karena pingsannya yang mendadak kemarin, jadi ia tidur di kamar terpisah agar Nadia mendapat ruang supaya cepat pulih}
"Iya nih, Ibu Alberta..ini kan masih pagi" kata Manda juga masih mengantuk.
"Pagi kalian bilang!!! ini sudah siang...emmm..sekitar jam tujuh pagi..itu yang kalian bilang pagi!!! sudah cepat bangun..kita harus menyelesaikan tugas kalian secepatnya.." tegas Ibu Albert.
"Jam tujuh pagi!!!" kaget Manda dan Fikram.
"Itu masih pagi Ibu Alberta..ya, ampun" kata Fikram berbalik dan menuju kamar kayunya itu.
"Betul..betul" kata Manda mengiyakan dan melakukan hal yang sama seperti Fikram, kembali ke kamar atau gubuk kayunya itu.
"Mmm..Tidak!!! pokoknya bangun!!..tidak ada alasan masih pagi!!" kata Ibu Albert menjewer telinga Manda dan Fikram secara bersamaan.
"Aduh..aduh..sakit sekali" ucap Fikram kesakitan telinganya dijewer Ibu Albert.
"Aduh..sakit..tega sekali ibu pada kami" kata Manda kesakitan.
"Tega? ini akibat kesalahan kalian sendiri..siapa suruh tidak mau bangun..sudah salah kompak lagi" kata Ibu Albert geram, dan semakin kuat menjewer telinga mereka.
"Aduh..aduh.." kata mereka kesakitan karena jurus jeweran Ibu Albert semakin kuat.
"Hemm..rasakan" geram Ibu Albert lagi.
"Ampun bu😭" kata mereka memohon.
Tiba-tiba cahaya emas muncul dari dalam tas Ibu Albert.
"Bu..itu tasnya" kata Fikram mengalihkan.
"Iya, bu itu pasti Buku Resyana.." kata Manda juga mengalihkan.
"Ah, tidak kalian tidak bisa mengalihkan perhatian saya" kata Ibu Albert menjewer Fikram dan Manda semakin kuat.
"Aduh..aduh..bu" kata mereka kesakitan.
__ADS_1
"Tapi bu, tas ibu benar-benar bercahaya..ini pasti petunjuk selanjutnya dari Buku Resyana" kata Nadia.
"Eh, iya..benar," kata Ibu Albert.
Kemudian Ibu Albert melepaskan jewerannya dari telinga Manda dan Fikram, lalu mengambil Buku Resyana dari tasnya.
"Huh..kau penyelamatku Nadia" kata Fikram memegang telinga kanannya yang merah akibat terjewer jurus jeweran super Ibu Albert.
"Iya Nadia kau penyelamatku" kata Manda.
Ibu Albert lalu membuka Buku Resyana.
CLINGG..
Arloji yang dikenakan Dina di tangan kanannya pun berubah menjadi kristal berwarna cokelat polos yang kemudian terbang menuju Buku Resyana dan bersinggah di sudut halaman buku itu.
"Eh!? sejak kapan aku mulai memakai arloji?" batin Dina.
Seketika itu juga muncullah sebuah kata-kata yang menjadi kunci untuk menemukan batu elemen ketiga.
...THE BOOK ...
(Tempat kristal)
...Tugas kedua telah selesai ...
...Di ganti tugas yang baru ...
...Terungkapnya sebuah kejadian Mengembalikkan keseimbangan ...
...Dunia penuh ilusi dan kebohongan ...
...Sebuah dunia yang tak pernah, Berkata kebenaran ...
...Dunia yang hanya membawamu,...
...Dalam kesesatan ...
...Percayalah......
...Jika kau tidak ingin malapetaka datang ...
...Apapun yang kau temukan di sana ...
...Bunuhlah mereka ...
...Bunuhlah apa pun yang kau temui ...
...Jangan percaya apapun dan siapapun...
...Sungguh itu semua hanya ilusi ...
...PERCAYALAH.......
"Wah, wah..sungguh sajak yang bagus" kata Fikram.
"Sekarang kita disuruh membunuh apapun yang kita temui" kata Manda.
"Di sebuah dunia ya, bukan disini" kata Dina meluruskan.
"Iya.. iya" balas Manda.
"Tapi apa maksudnya ini?" tanya Nadia.
"TOLONG!!! TOLONGG!!!"
Tiba-tiba terdengarlah jeritan seseorang meminta bantuan.
"Apa kalian dengar ada yang meminta tolong?" tanya Gamma memastikan.
"Iya, aku mendengarnya" kata Fikram.
"Cepat!! ke sumber suara!" kata Dina.
Mereka pun bergegas menuju sumber suara. Tidak jauh dari tempat peristirahatan mereka, tepatnya di sebuah danau yang luas.
"Hah?! ada danau disini?" heran Fikram menemukan sebuah danau.
"TOLONG!! TOLONGG!!"
Tampaklah seorang wanita yang meminta tolong dan hampir tenggelam.
"Hah?! ternyata dia yang meminta tolong! aku harus membantunya" ujar Fikram.
Bersambung...
__ADS_1