
EPISODE SEBELUMNYA
Apa kau tak mengenaliku, Nak?"
"Nak?" tanya Fikram kebingungan.
Wushh ....
\~POV Fikram\~
Tiba-tiba tubuhku terdorong sangat cepat hingga akhirnya berhenti di sebuah ruangan. Penuh pernak-pernik mewah dan didominasi ukiran serta gambar putri duyung lengkap dengan ekornya.
Akupun mengedarkan pandangannya di ruangan itu.
"Hahaha ... ulululu manisnya,"
Indra pendengaranku menangkap gelombang suara dari salah satu sudut ruangan. Sontak akupun menoleh ke arah datangnya suara.
"Anak siapa? Anak siapa ini? Uuu ... manisnya." Ujar pria sedang duduk di samping wanita dengan masing-masing dari mereka menggendong seorang bayi.
"I ... i ... itu mirip keluarga yang ada di lukisan tadi," ujarku menelisik.
"Kita beri nama siapa?" tanya wanita pada sang pria.
"Emm ... bagaimana dengan Fi-"
Wushh ....
Lagi-lagi tubuhku terdorong sangat cepat dan berhenti kembali di sebuah ruangan asing.
"Baiklah semua! Perkenalkan putra tersayang kami, Pangeran FINN KRAIDE MARINE!" seru seorang pria berpakaian khas bangsawan Eropa seraya mengangkat tinggi bayi berselimut biru.
"Pangeran Finn?" Aku kebingungan. "Kenapa aku merasa ruangan dan kejadian ini tidak asing bagiku," ujarku mengamati sekeliling.
Wushhh ....
Lagi-lagi tubuhku kembali terdorong. Kali ini Aku kembali lagi ke ruangan yang kosong, hampa, dan serba putih.
"Apa kau sudah ingat, Finn?"
Terdengar suara seseorang memenuhi ruangan.
"S ... s ... siapa kamu?" tanyaku celingukan mencari wujud yang bertanya.
"Oh anakku. Setelah semua itu apakah kau belum ingat juga?" tanya suara misterius itu lagi.
"A ... a ... apa maksudmu! Ingat? Ingat apa?"
Tiba-tiba datanglah debu berwarna putih terbang melewatiku. Tentu saja Aku terkesima melihat debu yang entah dari mana asalanya. Debu itu lalu berhenti di satu sudut ruangan dan menampilkan wujudnya.
"Anakku Pangeran Finn," panggil seorang wanita bergaun putih dan berambut pirang itulah wujud yang dibentuk debu putih tadi.
"Deb ... deb ... debu itu!" terkejutku tak percaya.
"Kenapa, Anakku? Apa kau tidak ingin memelukku, ibumu sendiri?" ujarnya.
"Ibu? K ... k ... kau ibu kandungku?" tanyaku.
"Ya, tentu. Apakah kau tidak ingin memelukku, Nak?" Ujarnya merentangkan tangan dan mendekatiku.
"I ... I ... Ibu," Mataku berkaca-kaca ingin memeluk. "Tapi tunggu ...." pikirku.
"Tidak!" bantahku menjauh. "Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau ibu kandungku?!"
Wanita yang mengaku ibuku itu agak terkejut.
"Kau, tidak percaya padaku, Nak?" wanita itu sedikit sendu.
"Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja!"
"Baiklah, Ibu akan membuktikannya padamu," ujarnya.
Wushh ....
Sekali lagi tubuhku terdorong jauh melintasi ruang dan waktu. Aku pun berhenti di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar seorang bangsawan.
"D ... d ... dimana lagi aku sekarang?" tanyaku pada diriku sendiri.
Oeeeee! Oeeee!
__ADS_1
Mendengar ada suara di belakangku, Aku pun menoleh.
"Hah!"
...\~\~\~\~\~\~\~\~\~...
"Hah ... hah ... kemana sosok itu?" tanya Manda dengan memegangi perutnya seraya mengatur nafas.
"Ya, cepat sekali menghilang," ujar Dina ngos-ngosan.
Kriet ....
Terdengar suara decitan pintu di samping mereka, tentu mereka semua langsung menoleh.
Zlup!
Tampak seseorang misterius sedang mengintip dari balik pintu kayu besar.
"Hey! Dia disitu!" seru Gamma.
Sosok itu pun sontak lari terbirit-birit. Mereka pun mengejar sosok misterius itu lagi, tanpa menghiraukan tempat yang mereka masuki.
'LABIRIN TIPU DAYA'
...\~\~\~\~\~\~\~\~...
"Hah!"
"Ini bu anaknya," ucap seseorang perempuan menyerahkan seorang bayi pada wanita yang terbaring di kasur.
"Wah, ganteng sekali anak mama ya, ujar wanita itu mencium lembut kening anaknya.
Drap ... drap ... drap ....
Mendadak datang seseorang laki-laki dengan terburu-buru.
"Siapa dia? Apa itu suaminya?" pikirku.
"Ini bayi kita, Marine?" tanya laki-laki itu menghampiri sang wanita.
Wanita yang dipanggil 'Marine' itu mengangguk. Senyuman pun terukir di bibir pria bangsawan itu. Mereka pun saling mendekap dan berpelukan.
Wushh ....
"Hah!"
"Sadarlah, Kanda! Dia anak kita!" ujar seorang wanita menangis sambil mendekap erat bayinya.
"Tidak! Dia adalah makananku!" beringas sang pria bergigi tajam, berwajah mengerikan, dan berekor hitam lengkap dengan duri-duri panjang dan runcing.
"Mereka ... ini aku pernah melihatnya," pikirku. "tapi waktu itu aku melihat sang wanita berekor mengerikan kenapa ini jadi ...." ujarku mulai mengingat-ingat.
"Lepas!" jerit sang wanita yang diseret laki-laki mengerikan itu.
Wushh ....
Belum selesai menyaksikan kejadian menegangkan tadi, tubuhku sudah berada di sebuah tempat yang tidak asing bagiku.
"Ini ... ini depan panti asuhanku!" seruku.
"Hiks ... hiks ... maafkan orang tuamu ini, Nak" ujar sang Ibu mengelus bayinya yang ia tempatkan di keranjang.
Suasana saat itu sedang hujan lebat di depan panti.
"Ka ... kalimat itu ...." pikirku tak asing dengan kalimat yang diucapkan sang wanita bertudung merah itu. "Ya! Mimpi! Itu kalimat dalam mimpiku waktu itu!" pikirku lagi.
Ceklek!
Merasa ada yang keluar, wanita berjubah itu langsung pergi meninggalkan banyinya.
Oeeee! Oeeee!
"Hah! Bayi siapa ini?" ujar seorang wanita keluar dan mendapati ada bayi di depan rumahnya.
"Umi!" kagetku melihat yang keluar itu adalah Umi, sang pemilik panti yang merawatku bersama anak-anak panti lainnya.
Tampaklah wanita itu mendekat lalu mengambil sebuah kertas yang terdapat di keranjang bayi tersebut.
Akupun menghampiri sang pemilik panti dan mendapati ....
__ADS_1
"Hah! Ini ...." kaget Fikram.
Wanita pemilik panti itupun meletakkan kertas dan membawa masuk bayi berselimut biru dalam keranjang rotan tersebut ke dalam.
"Itu kertas yang Umi berikan padaku saat aku bertanya," kataku.
Akupun tertunduk dan mengepalkan tangannya kuat seakan menahan sesuatu, AIR MATA.
Sepotong kejadian pun kembali hadir dalam pikiranku.
"Hanya ini yang Umi temukan di keranjangmu, Nak" ujar pemilik panti memperlihatkan secarik kertas dengan tulisan kepadaku.
Saat itu aku menerimanya dengan penuh harapan sekaligus kecewa. Karena sebuah tulisan dalam kertas saja belum cukup untuk mengetahui dimana keluargamu berasal.
"Kau sudah percaya sekarang, Nak?" tanya wanita berambut pirang itu kembali muncul.
Seketika gambaran sekelilingku berubah menjadi ruangan putih polos kembali.
"Bahkan namaku tercantum dalam namamu, Anakku" ujarnya lagi.
Aku masih tertunduk.
"Apakah perlu Ibu buktikan lagi, Nak."
"Apakah semua bukti itu belum cukup? Katakan, Nak! Katakan!" desaknya.
"CUKUP!" bentakkupadanya. "Sekarang aku bertanya padamu," ujarnya mendongak perlahan. "Kenapa kau meninggalkan aku begitu saja? Kenapa? Kemana saja kau selama ini?!" pekikku berkaca-kaca.
"Nak, dengarkan Ibu dul-" ujar wanita itu mendekat.
"Jangan mendekat!" seruku menjauh. "Kau! Kau jangan mendekatiku!" ujarku. "Jawab! Jawab pertanyaanku!" Aku menuntut. "Kemana? Kemana saja kau selama ini! Kau biarkan aku hidup dihantui rasa penasaran dan kesepian tanpa tahu keluarga kandungku!" paparku.
"Nak, dengar ... dengarkan-" ujarnya menyentuh bahuku.
"Cukup! Jangan sentuh aku!" bentakku seraya menarik paksa tubuhnya menjauhi sang ibu.
"Dengar, dengar ...." Kini memegang kedua bahuku untuk menghadap ke arahnya.
Akupun memberontak, enggan menatap wanita yang mengaku ibuku itu.
"Dengar ... dengar ...." masih memaksaku menatapnya.
Aku tetap enggan dan masih menunduk.
"Dengar ... dengarkan Ibu dulu, Nak!" Wanita itu memegang kedua rahangku dan mendongakkannya untuk menatap dirinya.
Dapat terlihat di mataku terdapat tatapan sedih, rindu, dan kebencian bercampur disana. Wanita itu lalu memeluk erat diriku.
"Dengar ... dengar, Nak. Apapun yang ibu lakukan saat itu, itu semua demi kebaikan dan keselamatan dirimu, Nak" jelasnya dengan cairan bening mulai membasahi pelupuk matanya.
Aku masih tidak bergeming.
"Ayah, ayahmu ingin memakanmu waktu itu, Nak. K ... k ... kau sudah liat, kan tadi? Dia ingin memangsamu" jelasnya. "Ibu mana yang tega anaknya dimangsa suaminya sendiri? J ... j ... jadi Ibu terpaksa meninggalkanmu di sana, Nak."
"Percayalah semua yang Ibu lakukan itu demi kebaikan dirimu, Nak" tuturnya lagi meyakinkanku.
"I ... i ... Ibu!"
itulah kata yang keluar dari bibirku setelah mendengar penjelasannya. Aku pun mulai membalas pelukan dari wanita yang kupanggil 'ibu' itu.
"Hiks ... hiks ... Ibu tahu, Fikram sangat rindu dengan Ibu. Bertahun-tahun Fikram ingin mengetahui keluarga Fikram yang sebenarnya, hiks ... hiks" ujarku menangis meluapkan kerinduanku selama ini.
"Iya, Nak. Maafkan Ibu," lirih wanita itu.
Aku dan dirinya pun berpelukan cukup lama.
"Sudah, anak Ibu anak yang kuat, jangan menangis lagi ya? Masa anak lelaki cengeng gini, sih?!" ujarnya mengusap lembut air mataku yang membasahi pipi.
"Hiks ... hiks ...." Aku kembali menunduk.
"Kalau kamu cengeng begini apa kata adikmu nanti, hem?" kata wanita itu.
"Adik?" bingungku mendongak dan menatap lekat wanita itu.
POV Fikram End.
Bersambung ....
__ADS_1