
EPISODE SEBELUMNYA
"Apakah kami akan..." pikir Nadia memejamkan mata.
"oh, tunggu..sepertinya aku tau!" terlintas sebuah ingatan di pikiran Nadia.
Nadia membuka mata dan maju ke hadapan pasukan zombie itu.
"Di..apa yang kau lakukan?" kata Manda bergidik.
"Nadia?" cemas Rio.
"Tenang semua, percaya padaku" kata Nadia memejamkan matanya yakin.
ZAAAA....
Pasukan itu semakin mendekat, bukannya mundur Nadia malah maju menghadap mereka. Seakan ia mempunyai sebuah rencana.
ZAAAA...
Para tangan zombie itu semakin meraih Nadia.
"Nadia!!" teriak panik semua memejamkan mata.
"Fuhh...hemm!" Nadia mengehentakkan kakinya di lantai ruangan itu.
Sinyal sirkuit menyebar ke seluruh lantai ruangan itu. Seketika itu juga dinding baja yang kokoh turun mengurung para zombie perak itu.
ZAAAA..
Nadia membuka matanya perlahan.
"Hah?" heran semua kecuali Nadia.
"Hemm..itu berhasil rupanya" kata Nadia tersenyum tipis.
Kini para pasukan zombie perak itu terkurung di balik pintu baja kuat.
"Wow, bagaimana kau melakukan itu Nadia?" kagum Fikram.
"Tidak tau.. terlintas di pikiranku begitu saja," kata Nadia.
"Emmm" kata Fikram.
BRAKKK...
"Hah?!" kaget mereka.
"Mereka sangat kuat!" kata Rio.
"Jangan-jangan nanti mereka bisa menembus dinding ini!" takut Manda.
BRAKK..
"Kita harus pergi dari sini, secepatnya" kata Nadia.
"Iya, tapi bagaimana?" cemas Fikram.
"Eh? apa ini?" kata Ibu Albert meraba.
Karena penasaran Ibu Albert pun menekannya.
BRAKKK...
"Aduh, dinding ini tidak akan bertahan lama" cemas Manda.
"Bagaimana ini?" cemas Fikram lagi.
"kalian tenanglah..kita pasti menem-" kata Rio terpotong.
"Hey!! ayo cepat ke sini" kata Ibu Albert menunjuk ke sebuah lorong gelap.
Mereka menghampiri Ibu Albert.
"Kita akan pergi ke situ?" tunjuk Manda bergidik.
"Ya mau bagaimana lagi," kata Ibu Albert.
"Ah, aku tidak mau..disana terlalu gelap" kata Manda.
__ADS_1
"Tapi Manda kita tidak punya pilihan lain" kata Nadia.
BRAKKK...
"Aduh, Sudalah cepat aku sudah tidak tahan dengan suara itu" kata Fikram yang memberanikan diri masuk ke lorong gelap itu terlebih dahulu.
"Kau sangat berani sekali ya Fikram.." kata Rio membuat langkah Fikram terhenti.
"Kalau aku jadi kau..mungkin aku akan di belakang..karena bisa saja di sana ada sesuatu yang..hii" kata Rio membuat Fikram sedikit takut.
"Apa..ada apa disana?" kata Fikram berbalik.
"Ya, mungkin saja ada.." (Rio)
"Ada apa?" (Fikram)
"Ya, di dalam kegelapan mungkin ada kelelawar penghisap darah..atau lintah yang menyedot darahmu..atau monster lainnya..hii" kata Rio menakut-nakuti Fikram.
"Benarkah?" katanya bergidik.
"Iya," kata Rio mengangguk.
"Hii..kelelawar dan lintah penghisap darah..lalu aku akan" pikir Fikram membayangkan yang bukan-bukan.
"AAA!!" tiba-tiba Fikram menjerit.
"Heh! kamu kenapa?" kata Manda.
"Oh..ah, tidak..tidak kenapa-kenapa..baiklah kalau begitu..aku akan berjalan terakhir saja" ciut Fikram bersembunyi di belakang Manda.
"Ih, apaan sih!" risih Manda.
BRAKK..BRAKK..
"Ya sudah...waktu kita tidak banyak..sebaiknya kita pergi sekarang" kata Nadia masuk ke lorong.
Yang lain hanya mengangguk.
"Hii" kata Fikram bergidik di belakang Manda.
"Iih apaan sih!" kata Manda memukul telapak tangan Fikram yang mencengkeram kuat di bahunya.
"Aduh..kepalaku" kata Dina membuka mata.
"Hah?!" (terkejut)
"Sedang apa laki laki ini di hadapanku?" pikir Dina melihat wajah Gamma di depannya.
"Hah..ada ada saja" kata Dina mencoba bangun.
"Hii..ah.." (mencoba bangun)
"Aduh, tangannya sangat berat" kesal Dina karena tidak bisa bangun di sebabkan tangan Gamma yang berada di atas perutnya.
"Iihh..ini..berat..sekali" katanya mencoba mengangkat tangan Gamma.
"Hah..hah..terbuat dari apa sih engkau..sampai tanganmu berat begini" kesal Dina yang masih terbaring di atas tumpukkan jerami.
"Haah..aku menyerah..huh" kesalnya.
"Emmmm" (Gamma)
"Hah..akhirnya dia bangun." kata Dina.
Bukannya bangun, Gamma malah semakin terlelap dan menarik tubuh Dina mendekat padanya.
"Eh?..apa ini" herannya karena tubuhnya tiba-tiba tertarik.
Kini tubuh Gamma dan Dina saling menghadap.
"Emmm..nyam..nyam" gumam Gamma tidak sadar.
"ih..apa yang dia lakukan?!" kata Dina mencoba melepas pelukan tangan Gamma yang semakin kuat dari pinggangnya.
"Ih..minggir, payah!" katanya menggeliat mencoba melepaskan.
"Emmm..jangan kemana-mana.." kata Gamma tidak sadar.
Gamma menarik Dina, Dan mereka berdekatan bahkan semakin mendekat.
__ADS_1
"Hah?!" (tertarik)
"Emmm" (Gamma)
Dina menatap wajah Gamma yang terlelap. Pelukan Gamma semakin erat membuat mereka semakin mendekat, bahkan tidak ada jarak di antara mereka kecuali tangan Dina yang menempel pada dada bidang Gamma. Dina hanya bisa diam memandang wajah di depannya.
"Apa..apa ini..rasa apa ini" pikir Dina karena detak jantungnya tak beraturan.
"Emmm" Gamma semakin erat memeluk Dina sampai sampai Dina kesulitan bernafas.
HUKKK...
Dina terhimpit.
PLAKKKK...
Dina melayangkan tamparan keras di pipi Gamma, sontak Gamma langsung bangun.
"Hah! apa ada apa" kaget Gamma terbangun.
"Aduhhh" rintihnya memegang pipi.
"Huh..huh..." Dina mengatur nafasnya.
"Aduhh..sakit sekali..siapa? siapa yang berani menamparku!" kata Gamma tidak sadar di depannya ada Dina.
"Aku, kenapa?" jawab Dina.
"Hah?!" (berbalik menghadap Dina)
"Ooo..jadi kau yang berani menamparku..berani-beraninya ya kau!" kata Gamma.
"Ya, aku memang berani..apalagi kepada laki-laki tidak sopan seperti dirimu ini.." kata Dina menunjuk ke arah Gamma.
"Laki-laki tidak sopan?..apa maksudmu?" kata Gamma.
"Ya, kau laki-laki tidak sopan," kata Dina
"Kenapa?..kenapa bisa aku tidak sopan, hah?" tantang Gamma.
"Karena..karena.." kata Dina terhenti.
"Karena apa?"
"Karena..ah, lupakan saja..malas aku membahasnya." kata Dina tak bisa berkata-kata.
"Huh" kesal Gamma.
Dina pun bangun, membenarkan topi yang ia kenakan lalu pergi meninggalkan Gamma.
"Hey! kau mau kemana!" kata Gamma sedikit berteriak.
"Bukan urusanmu!" jawab Dina ketus.
Gamma pun menyusul Dina. Tepat di tengah-tengah hutan ia kehilangan jejak Dina.
"Eh? kemana perginya anak itu..cepat sekali hilang" kata Gamma pada dirinya sendiri.
"Huuh..merepotkan saja" gerutu Gamma yang kemudian duduk di sebuah pohon besar yang bercabang.
Karena merasa bosan Gamma memainkan serulingnya.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Angin bertiup seakan mengikuti irama seruling Gamma. Burung-burung dan hewan lainnya tenggelam dalam alunan nada seruling yang begitu tenang dan menyejukkan. Tapi tiba-tiba..
Tes..Tes..
"Eh air apa ini?" Gamma memegang kepalanya karena merasa ada air yang menetes.
"Hemm..baunya seperti mangga" katanya mencium air itu.
"Dari mana asalnya?" kata Gamma mendongak ke atas.
"Hem?!" Gamma terkejut.
"AWASSS!!" teriak seseorang.
PLUKKK!!!
__ADS_1
Bersambung...