
EPISODE SEBELUMNYA
"B ... b ... buahahahaha!!"
Gamma tertawa terpingkal-terpingkal melihat Fikram basah kuyup.
"Haduh, haduh ... kalau mau mandi itu ngga usah pake bajunya, bro. Lagian disini ngga ada yang mau ngintip elu kok, pffffftt ...." Ucapnya menghampiri Fikram.
"(-_- gue lagi ngga mau mandi, bambank!" balas Fikram.
"Pffftt, udah sono lu! Udah selesai, kan? Gantian ya," kata Gamma mendorong paksa tubuh Fikram keluar kamar mandi. "Inget kalo mau mandi bajunya di buka, hahaha" ledek Gamma.
"Hiih! Diem lu!" Kesal Fikram yang membalik tubuh dan ingin memukul Gamma.
Buru-buru Gamma menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
Brak!
"Huh! Dasar!" Fikram mendengus kesal.
"Duh gue jadi basah deh!! Tadi baju gue kotor, sekarang malah basah. Gue pake baju apalagi dong. Ini baju satu-satunya punya gue," gerutu Fikram.
"Hemm .... Aha! Pinjem punya Rio aja," pikir Fikram.
Ia pun mencari-cari letak keberadaan baju kerajaan Rio yang diberikan oleh Rendi. Ya, daripada tidak dipakai lebih baik ia yang pakai.
Ceklek!
Gamma keluar dari kamar mandi dan mendapati Fikram sedang mencari sesuatu.
"Heh! Lu lagi ngapain?" tanyanya.
Mendengar ada yang berbicara dengannya Fikram pun menoleh.
"Gue lagi cari baju." Kata Fikram melanjutkan aktivitas mencari baju Rio.
"Baju apaan? Emang lu kesini bawa baju?" tanya Gamma lagi.
"Maksud gue baju kerajaannya si Rio, gue mau pinjem, daripada ntar gue masuk angin."
"Emm, daripada lu cari-cari kaga jelas. Nih! Pake punya gue aja, toh ukuran kita sama." Kata Gamma mengambil baju kerajaannya yang ia lipat dan menyodorkannya ke Fikram.
"Emang iya ukuran kita sama?" tanya Fikram.
"Udah pake aja." Gamma menjawab sambil berlalu pergi keluar kamar.
"Hemm, ya udahlah," kata Fikram pasrah.
\~\~\~\~\~\~\~\~
"Hey teman-teman! Apa yang ku lewatkan?" Tanya Fikram menghampiri teman-temannya.
"Oh, hai! Tunggu. Ini ... kau pakai baju siapa? Dan kemana baju biasamu?" tanya Dina melihat Fikram dari bawah hingga atas.
"Oh, ini ak-"
"Bajunya basah karena ia mengenakannya saat mandi, pffttt" kata Gamma menahan tawanya.
"Aku tidak sedang mandi!!" kesal Fikram.
"Ooo, begitu. Jadi dia pakai baju siapa?" tanya Dina lagi.
"Dan kenapa kau mengenakan baju saat mandi? Maksudku kan, ya kau kan sudah besar bagaimana bisa kau mandi mengenakan baju? Apa bersih jika kau mandi seperti itu?" tanya Manda.
__ADS_1
"Aku sudah bilang aku tidak berniat mandiðŸ˜ðŸ˜" ujar Fikram.
"Itu bajuku. Tadi aku pinjamkan, daripada mubazir tidak ada yang pakai," kata Gamma.
"Emm, maksudmu baju kerajaan yang diberikan Tuan Putri Siera untuk kau pakai malam ini, begitu?" balas Dina membenarkan.
"Iya itu maksudnya," kata Gamma.
"Hemm ...." Dina memutar bola matanya dengan malas.
"Perhatian para tamu yang terhormat!" ucap MC dengan disorot lampu.
Perhatian para tamu pun tertuju padanya.
"Mari Berdansa!" seru MC itu."Ajak pasangan kalian untuk berdansa ria! Ayo mulai dicari pasangannya!" tambahnya.
Para tamu pun mencari pasangan dansanya masing-masing. Fikram yang melihat Manda fokus memerhatikan para tamu berserta pasangannya yang bersiap untuk berdansa mengerti bahwa Manda juga ingin berdansa.
"Hemm ... sepertinya dia ingin berdansa juga. Aha! Saatnya PDKT," pikir Fikram.
"Ekhem!" tegur Fikram menghampiri Manda.
Manda pun menoleh.
"Bolehkan nona?" ucap Fikram mengulurkan tangannya, mengajak Manda berdansa.
Dina dan Nadia saling bertukar pandang.
"Emm, tapi ... eh!"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Fikram sudah menarik tangan Manda terlebih dahulu.
"Ah! Sudah ayo," katanya menarik Manda ke tempat dansa.
Perpaduan nada antar alat musik pun bergabung menjadi nada yang menenangkan nan romantis.
"Emm, emang lu bisa dansa?" tanya Manda pada Fikram.
"Bisa dong, Fikram gitu lo," jawabnya membanggakan diri.
"Masa sih si Juara Renang ini bisa dansa? Ngga salah tuh," balas Manda tak percaya.
Mendengar Manda meremehkannya, Fikram langsung menarik Manda ke arahnya. Sehingga jarak antara mereka hanya tinggal beberapa inci.
"Kita lihat saja ... ratu tari," kata Fikram menatap wajah Manda.
Mata Manda membulat kaget, namun kemudian ia membalas dengan seringainya.
"Buktikan saja," katanya.
Tangan Fikram melingkar erat di pinggang Manda. Sementara Manda, melingkarkan tangannya di tengkuk Fikram. Mereka saling menatap mata satu sama lain dengan jarak yang tinggal beberap inci saja.
Tak lupa mereka berdansa mengikuti alunan musik dan saling mengimbangi gerakan satu sama lain. Suasana hening, menenangkan, dan romantis menyelimuti para pasangan yang sedang berdansa ini, termasuk Manda dan Fikram.
"Sejak kapan Fikram bisa dansa?" Dina bertanya seraya melihat Fikram dan Manda berdansa tanpa kewalahan mengimbangi gerakan sang ratu tari tersebut.
Bagaimana tidak, pasalnya mereka hanya tahu kalau Fikram mahir berenang dalam air bukannya berdansa.
"Entahlah, emm ... Rio! Mungkin kau tau sesuatu mengenai Fikram?" tanya Nadia pada Rio.
" ...." tak ada jawaban dari Rio yang terus melipat tangannya. Namun akhirnya Rio menjawab, "Tidak. Aku tidak tau apapun," jawabnya datar.
"Emm, ok." Balas Nadia yang merasa ada yang aneh pada sikap Rio malam ini.
__ADS_1
"Kau mahir juga, Raja Renang." Kata Manda memanggil Fikram dengan julukan 'Raja Renang' karena Fikram memang mahir dalam hal olahraga air tersebut.
"Kan sudah kubilang, Ratu Tari." Balas Fikram yang memanggil Manda dengan 'Ratu Tari' karena memang selama mereka bersahabat Manda mahir dalam hal tari.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Tuk ... tuk ... tuk ....
Siera turun dari tangga yang melingkar megah yang menghubungkan lantai atas dengan aula istana.
"Hufff ...." Siera menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Manda pada Siera.
"Ya, kata tabib dia akan pulih dalam beberapa hari," jawab Siera.
"Syukurlah," lega Manda.
"Ya sudah aku istirahat dulu ya, kalian juga istirahat." Kata Siera berlalu pergi ke kamarnya.
Mereka pun mengangguk.
~Malam hari~
Di kamar para lelaki ....
"KEMARIKAN KUBILANG!!!!"
"LEBIH BAIK KAU MATI!!!!"
"HIAAAA!!!!"
"Hiks ... hiks ... maafkan orang tuamu ini, nak."
"Hah!?" Fikram terbangun dari tidurnya. Ia langsung dalam posisi duduk di tengah kasur, tempat ia berbaring. "Mimpi, mimpi itu lagi, wanita dan bayi itu lagi ... hah ... hah," pikirnya gelisah. "Apa-apaan semua itu?!" pikirnya dengan tubuh dipenuhi keringat dingin.
Ia kemudian melihat sekeliling dan mendapati ia sendirian di ruangan itu.
"Eh? Kemana dua bocah itu?" Fikram bertanya-tanya pada dirinya karena ia tidak melihat Gamma dan Rio disana. "Hemm, aneh?" Katanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ya sudah aku tidur saja lagi," kata Fikram beranjak tidur kembali. Tetapi ....
PRITTT!!!!
Suara peluit begitu keras terdengar di telinga Fikram, sontak ia pun bangun sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Aw! Suara apa ini!!" ucapnya.
"Aku sudah tak tahan!!"
Karena ia sudah tak tahan lagi akibat suara peluit yang begitu memekik telinganya dia pun beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.
"Astaga!! Hal aneh apa lagi ini ibu?" katanya mendongak ke atas.
"Mmmmmm ...."
Tiba-tiba Fikram dari arah belakang ada yang menangkapnya, ia seperti dimasukkan ke dalam sesuatu. Emm, semacam karung mungkin? Ya itu karung.
"Heh! Lepasin gue!!" teriak Fikram dari dalam. "Duh!! Mana suara ni sempritan kaga ilang-ilang lagi!!" Pikirnya yang masih menutup telinga dengan tangan.
"Cepat bawa dia," komando seseorang.
"Baik," jawab seseorang lainnya.
Kedua pria itu pun membawa Fikram yang berada dalam karung entah kemana.
__ADS_1
Bersambung ....