Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Menari Terus Menari!


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"AGGGHH!"


GRRRRRR!


Tiba-tiba gua itu mengeluarkan suara dan sedikit berguncang.


"Manda!"


Seluruh atensi kini terpusat pada tujuh orang yang baru datang. Tujuh orang itu adalah merah, kuning, hijau dilangit yang biru eh... bukan-bukan.


"Kalian! Bagaimana kalian bisa masuk kemari?" heran wanita itu.


"Makanya kalau naruh kunci yang bener," Nadia menunjukan kunci yang lagi-lagi terjalin dari tanaman.


FLASHBACK


"Aduh!"


Fikram telah menyelam, ia menuruti Ibu Albert untuk menutup matanya dan tetap ke bawah. Namun, bukannya menemukan Manda ia malah terjatuh di lubang yang sama di bawah lumpur hidup ini. Ia bangkit seraya meredakan rasa sakit akibat terjatuh. Tak lama, ia melihat kesekeliling, mencerna ada dimana dia saat ini. Ia melihat ke atas, barulah ia mengerti sekarang.


"Ada tempat rahasia di bawah lumpur itu!" kagetnya.


Ia melihat ke arah depan. Kegelapan, hanya kegelapan yang bisa ia lihat di depannya.


"Kalau Manda tenggelam disini, artinya dia jatuh ke sini dan kemungkinan berjalan kesana. Ya, benar tidak salah lagi," kiranya. "aku akan kesana," ia beranjak pergi. "eh tapi..." Fikram berpikir ulang. "huwaaa, gelap sekali. Aku minta bantuan yang lain saja deh," akhirnya ia memutuskan untuk memanggil bala bantuan.


~Di atas~


"Hoammm, terus ini kita ngapain?" tanya Dina bosan.


"Nunggu Fikram," jawab Nadia.


"Haah, mo berapa abad?" ucap Dina lagi. "Lagian aneh-aneh aja, katanya suruh ngambil Manda, tapi mata ditutup lah gimana itu. Gimana coba caranya liat tubuh Manda kalau mata ditutup? Kan aneh," kata Dina.


"Haish sudahlah, anggap saja bisa. Toh kenapa kamu baru protes sekarang bukannya tadi pas temanmu itu belum masuk," balas Ibu Albert. "Lagipula aku tidak punya cara lebih logis untuk membuatnya masuk dan menemukan lubang itu," pikir Ibu Albert.


"Aku baru kepikiran sekarang makanya aku protes," kata Dina.


Mendadak tali yang diikatkan kepada Fikram bergerak dengan sendirinya. Mereka pun terkesiap.


"Eh-eh, tali ini bergerak," teriak Gamma menyadarinya.


"Fikram yang menggerakkannya?" kata Rainny.


"Bukan. Dia ketemu biawak, nah biawak ntu yang nggerakin," balas Dina.


"Emang disana ada biawak?"


"Au ah," malas Dina.


"Pegang talinya," suruh Ibu Albert mengambil tali itu.


Mereka pun mengambil dan memegangnya.


"Eh-eh!" Mereka tertatik saat memegang tali itu.


"Harusnya kita yang narik kenapa jadi kita yang tertarik!" ucap Rio.


"Ngga nyangka Fikram jadi seberat ini, makan apa sih dia?" kata Dina.


Mereka berusaha untuk menahan diri dengan menarik ke arah berlawanan, namun tenaga tarikkan itu. Tak disanga, tali itu justru melilit tangan mereka. Tentu ini mengejutkan binti membagongkan.

__ADS_1


"Hah!"


"Hoaamm, memang harus begini ya?" batin Ibu Albert terlihat biasa saja.


Bisa-bisanya ia terlihat biasa saja sedangkan yang lain panik dan bingung.


Pada akhirnya mereka teetarik dan masuk kelubang lumpur secara bersamaan


~Lalu~


GABRUK!


Mereka sudah jatuh kedalam tempat yang sama dengan posisi jatuh bertumpuk-tumpuk.


"Aduh,"


Fikram yang melihat ada sekelompok makhluk hidup jatuh di pintu masuk memandang ngilu. Satu persatu dari mereka bangkit, mengurai tali yang mengikat tangan mereka.


"Ugh, baju ku penuh lumpur," kata Dina.


"Ya elah, sok-sok-an ngga suka lumpur, tiap hari mandi pake lumpur juga," kata Fikram.


"Lu kata gue kebo apa," balas Dina menatap datar sahabatnya itu.


"Fiki, lu yang narik kita? Jahat bin kuat banget lu?" kata Rio.


"Hah narik?" Fikram malah bingung. "Aku mana kuat narik kalian semua, mana badan pada gede-gede beut lagi. Tadi aku manggil-manggil kalian tapi kayanya ngga sampe deh, jadi aku narik-narik tali sebagai tanda kasih tahu kalian, tapi ngga sampe narik kalian kesini juga, bener dah," dia membentuk jarinya seperti huruf V.


"Kalau dipikir ada benarnya juga sih," kata Nadia.


"Jadi?" sahut Dina.


ZRASSSH!


Ibu Albert menyalakan obor yang tiba-tiba saja ada di tanganya.


"Ei," tegur mereka.


"Kalimat meresahkan ye," ucap Dina.


"Sudah, ganti pembicaraan ga jelas ini," Fikram menengahi.


Fikram pun menyampaikan apa yang ia duga, Manda ada di dalam sana. Walau sempat tidak percaya tetapi akhirnya kedelapan manusia ini berjalan berbarengan memasuki tempat yang gelap itu. Berjalan, terus berlajan, dan terus berjalan. Mereka terus berjalan hingga menemukan sesuatu. Obor sebagai satu-satunyasumber cahaya mereka pun di arahkan.


Tanaman!


Tanaman itu menjalin seperti pagar oh bukan pintu gerbang besar karena mereka menemukan lubang kunci di situ. Meraka saling berpandangan satu sama lain, kebingungqan. Namun, mereka pun mendapat solusi. Yah apalagi selain mencari kunci, siapa tahu saja ada di sekitar situ. Benar saja, tak lama Nadia menemukan sebuah kunci.


"Dari mana kau dapatkan itu?" tanya Dina.


"Tuh di bawah keset," jawab Nadia menunjuk.


Sebuah keset bertuliskan 'welcome' terlihat di sudut depan gerbang.


GUBRAK!


FLASHBACK END


Wanita ini menepuk dahinya. "Ah benar kunci cadangan. Lain kali akan ku taruh di dompet saja," gumamnya.


Mereka pun melihat Manda yang sedang menangis sengsenggukan, ia terlihat sangat menyedihkan dan memprihatinkan.


"Hey, apa yang kau lakukan kepada temanku, hah!" ucap Nadia.

__ADS_1


Wanita ini tertawa, "Tidak ada, hanya ... menepati kesepakatan saja," ucapnya.


"Kesepakatan?" bingung mereka.


"Hmmh, ya," Wanita itu membenarkan.


GREP!


Tiba-tiba muncul tali yang lagi-lagi dari tanaman, tali itu mengikat mereka erat.


"Apa-apaan ini!" Dina protes.


"Kesepakatan apa yang kau maksud, hah?" tanya Nadia.


"Ah, itu rahasia kami berdua," wanita ini bangkit dari kursi agungnya, ia berjalan menuruni. "Aku jadi punya ide. Rasa sakit sudah tidak mempan terhadapmu ...," ia mengarahkan penglihatannya ke arah Manda. "tapi... bagaimana kalau teman-temanmu yang merasakan! HAHAHA!" ia menggerakkan tangannya lagi.


Seketika tali yang mengikat delapan orang ini semakin mengikat mereka erat, jerit kesakitan pun mereka rasakan.


"EGGGH,"


Manda tidak tega menyaksikan teman-temannya seperti itu, apalagi ini semua gara-gara ulahnya.


"Kau belum bangkit juga, baiklah mari kita tambah keseruannya!" Wanita ini semkain membuat tali itu semakin erat.


Terlihat duri-duri halus mulai muncul dari tali itu. Manda membulatkannmata seketika. Ia tidak mau teman-temannya harus menderita karena dirinya lagi. Ia tahu rasa sakit yang ditumbulkan duri itu.


"Berhenti!" teriak Manda. "Baiklah aku akan menari sekarang juga, kumohon berhentilah," mohon Manda.


"Kalau begitu bangkit dan mulai menari," suruh wanita itu.


Tanpa pikir panjang Manda bangkit, mengusap kasar air matanya. "Baik aku menari, aku menari."


"Bagus."


Wanita ini mengurungkan niatnya menyiksa teman-teman Manda. Sementara Manda mulai menari kembali.


"Sebenarnya apa kesepatan yang dia buat dengan makhluk ini. ini berbahaya," kata Nadia.


"Menari terus menari! HAHAHA!"


"AW!" manda terjatuh lagi.


"Kau berhenti lagi!" wanita ini kelihatan marah.


Perlahan Manda bangkit lagi. Tenaganya terkuras, hatinya tidak ingin menari lagi. Namun, haah apalah daya ia tidak boleh berhenti saat ini.


"Nah, bagus," kata Wanita ini kembali ke kursinya.


"Manda," Nadia dan yang lainnya menatap Manda dengan iba.


"Dia tidak bisa terus seperti ini. Kita perlu membebaskannya," Fikram mencoba keluar dari lilitan tali. "Hei Makhluk Aneh, lepaskan dia!" pekik Fikram.


"Oh, kau yang selalu membelanya ya," kata wanita ini. "Melepaskan? Jangan harap!" katanya tersenyum miring.


"Hiih," geram Fikram.


Manda semakin berderai air mata. Kakinya sakit tidak tertahan, pegal dan nyeri ia rasakan.


"Manda,"


"Menari! Terus menari!" wanita ini semakin gembira melihat Manda tersiksa.


"Dia ...," geram Fikram

__ADS_1


"Hahaha. Hei wanita berkostum pekarangan rumah!" ucap Nadia, serentak semua pandangan tertuju kepadanya.


Bersambung ....


__ADS_2