
EPISODE SEBELUMNYA
"HAHAHA, temui ajalmu!"
"Hei kau, lepaskan teman kami!"
Sontak si wanita menoleh ke belakang.
"Kalian lagi," ucapnya.
"Manda apa yang terjadi padamu!" cemas Fikram melihat Manda diselubungi tali-tali dengan noda darah di setiap sela.
"Lepaskan Manda, Wanita Jelek!" kata Dina.
"Oh, boleh."
"Benarkah?" tanya mereka, karena dengan mudahnya wanita ini menyerahkan tawanannya.
"Ya ambil saja sendiri! PASUKAN KEMARI!" Ia memanggil para pasukan hijaunya.
Seketika makhluk hijau itu tumbuh dan muncul dari tanah tempat Nadia dan yang lain berdiri.
"Eh-eh!"
Mereka lalu menghampiri majikannya dan menutupi Manda sehingga Manda dan wanita itu tidak terlihat lagi.
"Haah, mereka lagi, yang benar saja!" kata Dina malas.
"Kita kalah jumlah," kata Nadia bersikap siaga.
"Lalu bagaimana ini?" tanya Rio.
SYUTTT! BOOM!
Sapasang anak panah mendarat di salah satu bagian pasukan dari si wanita. panah-panah itu memunculkan debu putih yang mengaburkan pandangan si makhluk hijau. Sementara panah lain memunculkan pohon besar yang membuat pasukan itu terpental jauh.
"Apa yang ...?" mereka semua kebingungan dari aman datangnya panah ini.
SYUTTT! BOOM!
Panah itu terus-terusan datang dan menghabisi pasukan si wanita secara perlahan.
BOOM!
"Kalian!" geram si wanita.
"Hey dari mana datangnya ini?" tanya Nadia.
"Oh mungkin ...," Dina melirik ke arah Ibu Albert mereka pun ikut menatap Ibu Albert.
Merasa di tatap Ibu Albert pun berkata, "Serius ini bukan ulah ku," katanya datar, melipat tangan di depan dada.
SYUTT! BOOM!
Para mahkluk hijau itu telah habis, tidak lagi tampak makhluk bergerak yang membuat orang bersin itu. Tidak ada lagi penghalang yang menghalangi ketujuh manusia itu untuk menyelamatkan Manda.
"Bagus, ayo kita bebaskan Manda," kata Nadia.
"Maju!!" Fikram terus saja berlari diiukuti yang lain.
Si wanita panik dan marah. "Tidak secepat itu!" ia pun meluncur ke atas dengan bantuan batang pohon berwarna hijau dengan ukuran raksasa. Terdapat pula daun-daun tumbuh di batang tersebut.
Nadia dan para sahabatnya melongo. Ya, kecuali Ibu Albert, sepertinya dia biasa-biasa saja di segala kondisi dan situasi.
"Besar sekali," kata Fikram, matanya berbinar penuh takjub.
__ADS_1
Kini si wanita berada di puncak batang itu, ialah yang mengendalikan batang itu.
"Kalian akan mati bersama-sama! BUAHAHA!" Si wanita memunculkan duri-duri halus di batangnya.
Duri-duri itu pun lepas dari batangnya dan terbang ditiup angin. Kini itu terlihat seperti hujan rambut-rambut halus yang mengerikan.
HATCHUUU!
Ketujuh manusia ini kembali bersin bersamaan.
"Oh tidak lagi," kata Nadia.
"Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, jika kita terkena bulu-bulu itu maka kita akan bersin lalu mimisan lalu mati! yey selesai sudah," kata Dina dengan entengnya.
"Oh, selamat tinggal dunia," kata Fikram pasrah.
"Hey ayolah, pasti ada jalan. Lari!" ajak Nadia, memang sih mereka tidak ada pilihan selain lari.
Melihat ke tujuh manusia itu akan lari dari serangannya. Si wanita berseringai, "Ooo, tidak secepat itu."
Si wanita menggerakkan tangannya ke atas. Seketika tali-tali tanaman berbulu halus itu menjalin sebuah pagar yang sangaaaat besar dan tingggggi. Tentu hal itu membuat Nadia dan yang lain tidak bisa lari dari situ, mereka benar-benar terperangkap!
"Ada sedikit celah, kita bisa melewatinya," kata Rio.
Ide Rio hendak diterima dan dilakukan, tetapi Ibu Albert mencegah.
"Jangan! Kalian tidak lihat ada bulu halus di celah itu, kalian mau mati, hah?" cegahnya.
Mereka pun mengurungkan niat.
"Buahahaha, bersiaplah... ajal akan menjemput kalian, hahaha!"
Rambut-rambut kecil itu semakin mendekati mereka, mereka tidak bisa kemana-mana sekarang. Melihat hal itu
Namun ....
Merasa tidak ada yang terjadi pada mereka, mereka pun membuka kelopak matanya masing-masing.
"Hah?"
Lagi-lagi terjadi hal membagongkan. Kalian tahu? Bulu-bulu yang berterbangan itu kini terperangkap dalam sebuah cairan kental berwarna merah kecoklatan.
"Apa ini? Sirup maple?" duga Nadia mendekati cairan tersebut.
"Ini lagi, benda apa? Terus dari mana datangnya? Aih," ucap Dina menoel-noel benda itu.
"HAAAH, SIAPA YANG BERANI MENGACAUKAN SERANGANKU!" Si wanita tampak sangat-sangat murka.
Bulu-bulu halus kembali muncul dan mulai beterbangan bertubi-tubi bersamaan dengan amukannya.
"Oh bagus, dia mulai lagi," kata Gamma.
"Bersiap menghadap kematian, semua," Dina dan Fikram terlihat sudah sangat putus asa.
"Ayolah, kalian ini pasrah sekali sih!" tegur Nadia melihat tingkah dua sahabatnya itu.
Ratusan bulu-bulu itu semakin mendekat dan siap menghujam mereka.
POOF!
Ketujuh makhluk bernapas itu membeku seketika, Ibu Albert hanya memasang wajah sangat-sangat datar. Bukan karena bulu-bulu halus itu, tapi karena ada semacam cairan lengket berwarna merah kecoklatan yang membentuk seperti medan pelindung. Bulu-bulu itu pun bukan mengenai mereka tapi terjebak dalam perisai cairan itu. Sepersekian detik kemudian, cairan itu luntur dengan sendirinya.
"Haah, dasar Wanita Pemarah!"
Melihat ada bayangan di atas mereka, mereka mendongak. Apa yang mereka temukan? Dua sosok berjubah hitam jawabannya. Merekalah yang menolong ketujuh manusia ini.
__ADS_1
"Kenapa mereka bisa ada di situ?" heran Fikram.
"Kurasa lebih tepatnya, bagaimana mereka bisa ada di situ?" timpal Nadia.
Ya, tentu saja bulu itu masih berlanjut menyerang mereka. Manusia ini kembali ketakutan dan menyingkirkan segala pertanyaan yang mengganjal mereka tadi. Kedua sosok itu meluncur turun dari pagar raksasa. Salah satu dari mereka mengangkat busur mereka ting-
"Woaaaa, busur yang keren!" Fikram menyela perngetikan Author.
(–_–!! Fikram).
Fikram gagal fokus ketika melihat busur mereka yang menurutnya keren. Salah satu dari mereka memiliki busur dengan-
"Fikram, fokus!" tegur Rio.
(Sekali lagi kalian berani memotong perkataan Author ... Author akan–).
"Hehe, ya sudahlah silakan dilanjut," kata Fikram.
(Haah, sudahlah terserah).
Salah satu dari mereka melontarkan panah dari busur. Seketika panah itu berubah menjadi cairan lengket berwarna merah kecoklatan yang memerangkap semua bulu-bulu halus itu.
GRAAAA!
Si wanita terus saja melontarkan hujan bulu-bulu mematikan itu. Kedua sosok berjubah ini tidak bisa selamanya melindungi mereka, mereka harus segera bertindak untuk mengalahkan si wanita.
"Kita harus menyelamatkan Manda!" kata Nadia.
"Ya bagaimana?" tanya Dina.
"Kenapa kalian lama sekali berpikir! Tinggal ke sana saja apa susahnya!" kata Fikram.
"Andai kami bisa Fikram!" teriak Nadia, Rio, dan Dina membuat Fikram menciut.
Ya tentu saja mereka mengucapkan itu. Si wanita ini sangat-sangat peka terhadap gerakan, sekali saja bergerak wah, mungkin ia akan melakukan apa yang tidak bisa Author bayangkan. Terlebih lagi tanaman ini sangat-sangat raksasa.
"Hei, ambil saja kristal yang ada padanya. Dan cepat! Aku khawatir teman kalian sudah tidak bernapas," kata Ibu Albert membuat mereka tercengang.
"Jangan bilang begitu dong, Ibu Albert," kata Fikram.
"Apa aku salah?" tanyanya tidak merasa bersalah.
"Kita harus mengambil kristal itu?" Dina mendongak diikuti mereka yang juga mendongak ke arah atas.
Menjulang tinggi, bagai melihat menara yang sangat tinggi-tinggi sekali~.
"Sangat tinggi ya," Fikram menelan ludah.
"Yap," timpal mereka mengiyakan.
"Tenang aku ada cara bagaimana salah satu dari kalian bisa kesana," kata Ibu Albert.
"Salah satu dari kami?" kompak mereka curiga dengan kata 'salah satu' itu.
"Jika cara yang di maksud adalah memanjat, jangan menunjuk dan memojokkan ku. Aku tidak mau memanjat tanaman ini," kata Dina, ya memang setiap kali teman-temannya ingin mengambil sesuatu di pohon pasti Dina yang selalu mereka suruh untuk memanjat.
"Ooh, tidak ada yang memojokkanmu kok. Itu kan maumu sendiri," ujar mereka tidak merasa memojokkan padahal itu berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Dina menatap datar para sahabatnya itu.
"Tidak bukan itu. Percayalah, ideku lebih baik dan kalian pasti akan menyukainya...," kata Ibu Albert dengan senyum yang sulit di artikan.
Para manusia itu hanya bisa berpandangan satu sama lain.
Bersambung ....
__ADS_1