Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Apa yang mereka lakukan?


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Alangkah terkejutnya ia saat melihat ....


"DARAH!"


"Darah?! Apa, kenapa!" Ya, Fikram melihat noda merah kental di telapak tangannya seusai batuk.


Berbagai macam pertanyaan sekarang memenuhi pikiran Fikram.


UHUK! UHUK!


Bantuk hebat kembali datang melanda Fikram. Kali ini sekujur tubuhnya terasa lemas, kepalanya seperti berputar-putar.


UHUK! UHUK!


BRUK!


"Uhuk!" Fikram terbaring lemas ke tanah, pandangannya kabur.


"Jangan... sak... sak... sakiti...." lirih Fikram sebelum akhirnya gelap gulita memenuhi pandangannya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sayup-sayup Fikram mulai membuka matanya.


"TIDAK!" Fikram langsung bangkit dan menduduki dirinya di atas tempat tidur. "Jangan- UHUK! UHUK!" ia masih terbatuk hebat.


Tiba-tiba pandangannya melihat ada tangan yang menyodorkan sebuah gelas dengan isi cairan emas yang sama seperti yang Siera bawa sebelumnya.


"Hah?" Fikram mendongak.


Sesosok wanita sedang tersenyum padanya.


"Minumlah," titahnya.


"Ibu, kau di sini? Sahabat, sahabatku bagaimana?" Fikram hendak turun keluar kamarnya, namun Marine mencegah.


"Finn, minumlah ini dulu."


"Tidak! Aku ingin sahabatku sekarang, Bu. Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka," Fikram ingin kembali pergi namun lagi-lagi Marine menarik tangan Fikram.


"Finn."


"Lepas, Bu."


"Finn."


"BU!"


"FINN, MINUM!" Marine mencapai batas kesabarannya.


Fikram tercengang, ini pertama kalinya sang Ibu membentak dirinya.


"Tidak, jawabanku tetap sama. Aku ingin sahabatku." Ia menurunkan nada bicaranya dan menunduk, kemudian ia melangkahkan kaki hendak ke tempat terakhir kali melihat teman-temannya.


Marine bangkit, "Finn, kalau kau tidak mau meminum ini, Ibu tidak akan memberitahu keberadaan sahabatmu itu!" ucapnya berhasil membuat Fikram menghentikan langkah.


Fikram menoleh dan menatap Ibunya.


----------------

__ADS_1


GLEK! GLEK!


Fikram kembali menegak habis cairan aneh itu. Setelah meminumnya tubuh Fikram bereaksi.


"Uhuk! Uhuk!" dirinya kembali terbatuk.


Tanpa Fikram sadari, Marine menyungging senyuman licik di bibirnya.


"Uhuk! Sekarang beritahu di mana para sahabatku," ucap Fikram.


"Baiklah janji tetap janji, mari ikut Ibu," Marine bangkit dan memimpin.


Fikram mengekori dari belakang, sesekali dalam perjalanan ia terbatuk bahkan tidak sekali dua kali saja. Dalam perjalanan, Fikram sempat berpikir, kenapa Ibunya berperilaku berbeda terhadapnya, dari cara bicara maupun sikap. Bahkan ia sempat berpikir bahwa tuduhan teman-temannya selama ini benar namun, ia kembali membantah pikiran itu.


Kini tibalah mereka pada sebuah ruangan. di depan ruangan itu terdapat singgasana berwarna emas nan megah. Fikram kagum bukan main. Ia mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruangan yang berkesan mewah itu. Ia terbuai oleh kagumnya hingga ia hampir saja melupakan tujuan utamanya mengikuti sang ibu.


"Uhuk! Ibu, di mana teman-temanku?" tanya Fikram.


"Tenanglah, Finn. Apa kau tidak ingin tahu, ini ruangan apa dan milik siapa?" Marine mengalihkan topik.


"Ibu, aku tidak ma-"


Belum selesai dengan kalimatnya, Marine langsung saja memotong. Ia berjalan di depan tangga yang menjadi jalan menuju singgasana emas tersebut.


"Kau tahu, Finn. Dulu ini singgasana Ayah dan Ibu, tapi ...." ia menjeda.


"Bu, Finn hanya ingin tahu di mana para sahabatku. Aku-" paksa Fikram.


"Tapi dia mengkhianati Ibu hanya demi kristal, Finn. Hanya demi kristal, hiks ... hiks!" terdengar isak tangis keluar dari mulut Marine.


Fikram yang tadinya hanya fokus pada sahabatnya kini merasa bersalah setelah mendengar isak tangis itu.


"Kau pasti berpikir ibu kejam saat kejadian di teras tadi, kau pasti meragu lagi pada Ibu. Tapi, Finn... percayalah Ibu waktu itu tidak bisa berpikir jernih, Ibu tersulut emosi, mereka... mereka membuatmu terluka, Finn" Marine mengeluarkan air mata buayanya.


"Ya, Ibu tidak bisa memaafkan orang yang membuatmu terluka, Finn. Maafkan Ibu... Ibu memang pantas ... Ibu bersalah! Ibu bersalah! Hiks hiks"


Hati Fikram semakin tak tega.


Drap... drap... GREP!


Fikram langsung menarik Ibunya kedalam pelukan. "Tidak, tidak Bu. Maaf, Finn terlalu memikirkan mereka," tangis Fikram pecah saat itu juga.


"Maafkan Ibu juga, Nak" ujar Marine membalas pelukan Fikram. "Hemmh, mudah sekali luluhnya," batin Marine menyeringai.


"Bu, apa aku bisa bertanya sesuatu?" ujar Fikram.


Marine mengangguk, Fikram melepas pelukannya dan menatap serius Marine.


"Pada saat terakhir kali ibu mengajakku melakukan ritual mengeluarkan kristal dari tubuhku apa itu berhasil?" tanyanya. "Apa yang terjadi selanjutnya, pada saat aku terbangun aku merasakan sakit di bagian keningku, kenapa?"


Marine tersenyum tipis, "Ya, Ibu berhasil. Pada saat itu, jiwa ayahmu telah mengusaimu, Finn. Kau murka, marah besar."


"Apa terjadi begitu saja tanpa sebab? Lalu bagaimana dengan perkataan Ibu kalau aku yang melukai para sahabatku?" Cecar Fikram.


"Ya, kau memang melukai mereka tapi itu... kejadian setelah mereka mencoba melukai Ibu. Bukannya terkena Ibu, malah kau yang terkena sebab itulah Ibu tersulut emosi dan ...." Marine menunduk.


"Itu menjelaskan luka di kakiku," pikir Fikram. "Mereka ingin melukai Ibu! Di mana? Di mana mereka sekarang, Bu!"


"Sejak kau pingsan tadi, Mereka kabur entah ke mana," kata Marine.


"Ini antara mereka menyelamatkan diri atau memang mereka bersalah, aku... aku... aku tidak tahu harus percaya siapa," pikir Fikram bingung.

__ADS_1


"Artinya kristal itu sudah di tangan Ibu?" tanya Fikram.


"Iya, tentu saja."


"Lalu apa yang akan Ibu lakukan dengan kristal itu?" tanya Fikram.


"Pastinya untuk kebaikanmu, Nak" kata Marine.


----------------


Fikram sedang duduk di atas kursi kayu biasa, ia sedang kebingungan dengan apa yang sedang dilakukan ibunya saat ini. Ya, Marine sedang mempersiapkan sesuatu yang pastinya akan menguntungkan untuk dirinya. Tak lupa ia meminta bantuan anak tercantiknya, Siera.


"Ini minumlah," kata Marine menyodorkan gelas dengan isi cairan yang sama.


Alhasil, hal itu membuat Fikram bertambah bingung, "Sepertinya ini cairan yang sama, kenapa sih aku harus meminum ini terus?"


"Itu obat untuk luka di tubuhmu, Finn. Supaya kau cepat pulih," jawab Marine.


"Ooo, baiklah" Fikram pun menegak habis cairan itu lagi.


"Ya, supaya kau cepat pulih dan tidak merasakan sakit untuk selamanya," senyum miring terukir di bibirnya.


Fikram selesai meminum cairan itu. Ketika sedang mengatur napasnya, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menutup matanya dengan kain.


"Eh!" Fikram panik.


"Tenang, Kak. Kami tidak akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak padamu, kok. Tenanglah" kata Siera menenangkan, dialah yang mengikat kain itu di mata Fikram.


Fikram menurut, "Kenapa ini? Apa aku diberi kejutan, wah! Tunggu, hari ini bukan hari ulang tahunku, Kok. Eh, memang sekarang tanggal berapa? Haah aku lupa ini bukan duniaku," batin Fikram.


\~Hening\~


Untuk beberapa saat Fikram tidak mendengar suara Marine dan Siera.


"Emm, Ibu, Siera kalian di mana?" Fikram kebingungan.


Tampak Marine sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan Siera di belakang. Perbincangan mereka diakhiri dengan anggukan Siera.


KREK! KREK!


Tangan dan kaki Fikram, Siera kaitkan di kursi menggunakan rantai. Sebenarnya Fikram merasa ada yang aneh, ia merasa tangannya diikat sesuatu yang terasa berbahan besi, namun Ia membuang pikiran itu.


Marine kini melangkahkan kakinya menghadap suatu jendela besar seraya membaca buku kuno. Sementara, Siera mengambil jarum suntik dan menyuntikan cairan berwarna kuning itu ke lengan Fikram.


"Aww! Apa ini!" Merasa ada yang menancapkan benda runcing pada lengan atasnya.


Siera mengambil satu jarum suntik lagi, bersamaan dengan itu Marine tetap fokus berkomat-kamit sendiri.


"Ini suntikan terakhir, semoga saja rencana Ibu berhasil," batin Siera melihat suntik.


Ia kembali menancapkan jarum suntik itu ke lengan yang sama. Secara perlahan ia dorong cairan itu masuk ke tubuh Fikram.


"Sebenarnya apa yang- ugh! apa- sakit!" Fikram merasakan sakit, ia meronta, tangannya ingin bebas namun tidak bisa.


Siera terus mendorong cairan itu masuk ke dalam tubuh Fikram.


"UGH! IBU!" Fikram menahan rasa sakitnya, luka goresan mulai bermunculan di sekujur tubuhnya, baik di tangan, kaki, leher maupun wajahnya.


"Sedikit lagi."


Tinggal sedikit lagi Siera akan selesai melaksanakan tugasnya. Ia terus mendorong cairan itu sementara Fikram semakin kesakitan.

__ADS_1


SYUT!


Bersambung ....


__ADS_2