
EPISODE SEBELUMNYA
Mereka yang mendengar suara seseorang dari arah belakang segera berbalik. Tampaklah sesosok manusia setengah ikan segera berusaha bengkit dengan ekornya. Mereka pun menghampirinya, dengan cepat Nadia membantu putri itu berdiri.
"Aduh, hati-hati, putri" kata Nadia memapah putri itu.
"Terimakasih.." ucap putri itu lemas.
"Eh!? ekor mu terluka, putri" kata Manda melihat luka di pangkal ekor gadis itu.
"Hemm..saatnya memancing mereka sesuai perintah panglima" batin Ibu Albert.
"Hemm..sepertinya kita harus mengantar sang putri pulang." ucap Ibu Albert.
"Hah!?" semua terkejut mendengar perkataan Ibu Albert.
"M..mengantar pulang?" tanya Fikram.
"Maksud Ibu Alberta?" tanya Manda menimpali.
"Iya, mengantarnya pulang. Masa kita membiarkan dia sendiri disini dengan keadaan terluka, lagi," jelas Ibu Albert.
"T..t..tap-" perkataan Fikram kembali terpotong.
"Bagaimana, putri?" tanya Ibu Albert.
"Emm.." ucap gadis ikan itu berpikir. "Ya baiklah, kalau kalian inginnya begitu" tambahnya.
"Hemh, bagus!" batin Ibu Albert karena rencananya berhasil.
"Ya sudah ayo," kata gadis itu.
"Sini biar aku bantu" ucap Gamma yang ingin membantu Nadia memapah gadis itu.
"Tidak!" keras Rio mencegat Gamma.
Sontak mereka pun menatap Rio, kenapa tiba-tiba ia berucap keras begitu. Karena merasa di tatap aneh Rio pun menjadi canggung.
"E..e..e..maksudku..Gamma kan sedang terluka, jadi biarkan ia istirahat dulu," kata Rio beralasan.
"Hemh! sekarang aku tau apa maksudmu, krucil!" batin Gamma.
"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula yang terluka hanya telapak tanganku, itu bukan masalah besar. Jadi, biar aku saja ya," kata Gamma membalas.
"Huh! dasar burung beo!" batin Rio kesal.
"A..ah..tidak apa-apa kau pasti lelah kan..biar aku saja." kata Rio.
"Oh, tidak-tidak biar aku saja." kata Gamma.
"Aku saja!" balas Rio tersenyum kecut.
"Aku saja tidak apa-apa!" balas Gamma.
"Dia tidak mau mengalah, rupanya," batin Rio menatap Gamma tajam.
"Tak akan aku bicarakan rencana pembalasan mu berhasil, krucil!" batin Gamma menatap tajam Rio berbalik.
Gamma pun meraih lengan gadis ikan itu dengan satu tangannya, tetapi di lepas oleh Rio secara paksa. begitu sebaliknya, apabila Rio yang meraihnya, maka akan dilepas paksa oleh Gamma, begitu seterusnya.
"Haah! biar aku saja!" gaduh mereka.
"Berhenti!!" ucap Ibu Albert menghentikan tingkah kekanak-kanakan mereka.
Gamma dan Rio pun menghentikan keributan mereka.
"Tidak di antara kalian yang akan membantu tuan putri!" ucap Ibu Albert pada Rio dan Gamma.
"Lalu siapa?" tanya Gamma dan Rio.
__ADS_1
"Fikram!" panggil Ibu Albert.
"Aku?!" bingungnya saat namanya terpanggil.
"Iya kau, siapa lagi!" kata Ibu Albert.
Fikram pun mendekat dan berdiri di samping Ibu Albert untuk memenuhi panggilannya.
"Iya," katanya.
"Cepat gendong sang putri!" titah Ibu Albert berkacak pinggang.
"What!!!" kaget Fikram.
"A...a..aku?" tanyanya tak percaya.
"Iya, cepat sana!" perintah keras Ibu Albert.
"T..t..tapi.."
"Cepat!!!" marah Ibu Albert dengan wajah yang mengerikan.
"E..e..iya..iya" melihat kengerian Ibu Albert Fikram pun menurutinya.
Dengan terpaksa ia berjalan menuju Nadia dan gadis itu untuk menggendong sang tuan putri. Namun, di saat kulit mereka bersentuhan...
"Hah!!"
Fikram merasakan ada sesuatu yang mengenai dirinya. Tanpa sadar matanya berubah menjadi biru kehijauan, (tetapi tak terlalu diperhatikan oleh teman-temannya). Tubuhnya menjadi gemetar. Terlihatlah riasan putih di tepi wajahnya bersinar samar-samar. Entah apa yang terjadi oleh Fikram saat ini.
"Fikram!" Nadia menepuk bahu Fikram.
"Hah!?"
Fikram tersadar dibuat Nadia dan tubuhnya menjadi normal kembali.
"Kau baik-baik saja?" tanya Nadia.
Fikram pun menggendong gadis itu dengan gaya bridal style.
"Apa-apaan itu tadi?" batinnya.
Dengan petunjuk dari gadis tersebut, Mereka pun mengantar gadis itu ke rumahnya
...๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ...
"Kenapa kita berhenti?" tanya Fikram. "Apa kita sudah sampai?" tambahnya.
"Kalau benar itu, artinya rumahmu disini? wah, rumahmu benar-benar ajaib. Rumah putri duyung memang hanya hamparan rumput laut ya? wah, wah keren" kata Manda.
Mereka memang berhenti di depan hamparan rumput laut hijau yang luas.
"Atau mungkin rumahmu transparan ya? wah, itu lebih keren" kata Fikram menimpali.
"Haah, tentu saja tidak" bantah gadis itu. "Kami suku duyung juga punya rumah nyata seperti kalian" kata gadis itu.
"Iya ini kan?" tanya Manda lagi.
"Bukan." jawabnya datar. "Kita akan sampai sebentar lagi," kata gadis itu menggerakkan tangannya seolah mengangkat sesuatu di depannya.
Tiba-tiba dari balik rumput laut yang lebat, terbanglah kerang kecil.
"Rumahmu kerang kecil itu?" tanya Fikram.
"Bisakah kau tunggu sebentar?๐" kata gadis itu.
"Haha, iya-iya" jawab Fikram.
Kerang kecil itu pun terbuka dan menampakan bagian dalamnya berserta mutiara berkilaunya. Mutiara itu pun menggelinding jatuh ke hamparan rumput laut itu.
__ADS_1
"Beberapa jam kemudian๐" kata Fikram yang sedari tadi sangat cerewet.
"Sabar, please" jawab gadis itu tersenyum kecut.
"Ya tapi mau sampai kapan? kau itu berat, tau!" kata Fikram pada gadis itu.
"Ssstt!!!" kata Dina kehabisan kesabaran. "Jika kau berkata satu kata lagi maka aku.." ancamnya pada Fikram.
"Apa? kau akan apa?" tantang Fikram.
"Hemh!" Dina bernafas kasar. "Ekhem..ekhem..Nadia, apa kau bawa belatimu tadi?" kata Dina.
"Ya, ada ini di sakuku" kata Nadia mulai mengeluarkan belatinya.
Fikram yang sudah tau mau ke arah mana pembicaraan ini pun berkata, "eh! eh! iya-iya aku diam, aku diam" kata Fikram menyerah.
Nadia pun berhenti mengeluarkan belatinya.
"Hem! baru dia mau menurut" kata Dina.
"Dina sangat sangar!" gumam Fikram yang masih bisa di dengar Dina.
"Apa!!" kata Dina sedikit kesal.
"Hah!? ah, tidak-tidak" terkejutnya ketakutan.
Dina pun memandangi Fikram dengan tatapan mengintimidasi. Fikram yang menyadari hal itu menunduk dan tidak ingin memandang balik mata ngeri itu. (Aut juga ngeri liatnya, hii๐)
Seketika hamparan rumput laut lebat itu menjadi layu dan membentuk lingkaran sempurna yang sangat besar. Di bagian tengah lingkaran itu yang tadinya hanya sebuah pasir laut kini berubah menjadi air, sehingga terbentuklah kolam yang luas dan bertepi rumput laut di situ.
"Wah, kolam di dalam danau" kata Manda takjub.
"Harusnya danau di dalam danau, haha" canda Fikram.
"Fikram," ancam Dina.
"Hah! iya-iya" nyali Fikram menciut.
"Sudah kita tinggal masuk kesitu." kata gadis ikan itu menunjuk ke arah kolam itu.
"Kalau kolam ini di dalam danau bagaimana dalam kolamnya ya?" batin Fikram. Ia pun membuka mulutnya, menandakan ia akan bertanya kembali. Mengetahui Fikram akan bersuara lagi, Dina pun tidak tinggal diam, "Fikram!" ancamnya.
"Iya-iya" kata Fikram, "tapi biarkan aku ber-"
"Fikram!" Dina menekan suaranya.
"Sedikit sa-"
"Masuk!" kata Dina menunjuk ke kolam.
"Sedik-"
"Masuk!!" bentak Dina semakin keras.
"Eh!? eh!? iya-iya sabar, sabar" Fikram menciut.
Ia pun masuk ke dalam kolam di dalam danau itu. Satu persatu dari mereka mulai masuk dan menyusul Fikram. Setelah mereka semua masuk. Kolam itu pun menghilang dan berubah kembali menjadi hamparan rumput laut yang luas.
...๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ...
"Hah!"
Setelah cukup lama menyelam di dalam kolam, Fikram pun akhirnya sampai di permukaan sebuah perairan, di susul teman-temannya.
"Wah, menakjubkan!" kagum Manda.
"Tempat apa ini?" tanya Nadia.
"Selamat datang di rumahku!" kata gadis itu bangga menyebutkan tempat itu adalah rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...