
EPISODE SEBELUMNYA
"Kau benar-benar membuatku MURKA!"
"Oh, tidak."
"Bersiaplah kau!" tatapannya sangat tajam, bagai ular yang sedang mengincar tikus lezat tepat di depannya.
Tubuh Manda semakin gemetar melihat wanita itu mendekat. Ia mundur secara perlahan, hendak kabur darinya. Namun ada batu besar yang langsung membuatnya terpojok.
"Kau tidak akan bisa lolos kali ini!" si wanita menggerakkan tangannya lagi.
Seketika tali-tali tanaman melesat cepat ke arah Manda.
JREET!
Tali-tali itu pun menjerat Manda, mengikat erat tubuhnya di batu besar itu. Manda tak bisa berkutik, kemurkaan besar masih terlihat di mata wanita itu, ketakutan yang sama juga masih terlihat jelas di mata Manda. Si wanita melangkahkan kaki, mendekati Manda dengan tatapan membunuh.
Tap... Tap....
Mata Manda semakin memancarkan ketakutan yang besar.
"Jangan, jangan mendekat!"
----------------
"Sampai kapan kita akan melawan para makhluk ini!" pekik Fikram.
Ya, mereka masih dalam keriuhan yang sama. Melawan para makhluk berurat tanaman.
"Kurasa kita hanya buang-buang tenaga di sini," ujar Dina.
"Kita harus menyusul wanita itu. kalau kita bisa mengalahkannya, para makhluk ini juga akan lenyap dengan sendirinya," kata Rio.
"Ya aku tahu itu, tapi... bagaimana kita bisa menyusul wanita itu sementara kita dalam keadaan seperti ini," kata Nadia.
Di sisi lain, dua orang berjubah misterius itu mendengar percakapan mereka.
"Mereka benar, kita hanya buang waktu di sini," kata seorang berpakaian serba hitam itu.
"Apa kita lakukan itu sekarang?" tanya seorang berjubah lain menunjukan sebatang gandum matang di tangannya.
"Lakukanlah, toh tidak ada yang melihat."
Salah satu seorang berjubah yang memegang batang gandum itu mengangguk, iapun menggerakkan tangannya, membanting batang gandum itu ke tanah.
POOF!
Debu putih menyelimuti. Dua orang berjubah itu menghilang bersamaan. Para makhluk hijau ciptaan si wanita pun bingung kemana perginya musuh mereka itu.
Suit! Suit!
__ADS_1
Suara siulan membuat ratusan makhluk kebingungan itu menoleh ke sumber suara. Siapa yang bersiul? Itu adalah dua orang berjubah tadi.
Melihat musuh mereka di sana, makhluk itu pun mengejar dan hendak mendekati mereka lagi.
SERANGG!
Para makhluk itu berbondong-bondong menuju ke arah sepasang sosok misterius ini. Kedua orang itu hanya memandang mereka. Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka tidak lari?.
Para makhluk semakin mendekat, mereka masih saja diam membatu.
"Satu...."
"Dua...."
"Tiga!"
Mereka saling bersahutan menghitung. Senyum tipis pun terukir di wajah mereka.
Tak terduga!
Dalam diam disitu ada keberhasilan. Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk mereka berdua. Diam mereka adalah untuk menunggu para makhluk hijau itu masuk jebakan yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Dan bingo! para pasukan itu masuk ke jebakan mereka.
Cairan merah kecoklatan dengan rasa manis keluar dari pohon. Kalian tahu bukan? Ya, getah dari pohon mapel yang menjebak mereka. Ditambah dengan ribuan pohon gandum yang tumbuh tinggi menghalangi pandangan para makhluk itu.
"Bagus, kita kejar perempuan itu sekarang," mereka memutar badan hendak menyusul si wanita.
Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat para manusia itu kewalahan mengahadapi para makhluk hijau.
"Kau lupa ingatan?" balas Rio.
"Yang kekurangan darah itu lho, apa namanya?" Fikram meluruskan maksud dari perkataannya.
"Anemia, Fikram! A.N.E.M.I.A! Anemia!" koreksi Nadia.
"Ya, itu. Mimisanku parah– hatchuuu! Aku anemia, huwaaaa tolong!"
Darah lagi-lagi mengalir dari hidung mereka. Hal itu membuat hati kedua sosok berjubah ini tergerak untuk menolong. Toh mereka juga perlu bantuan mereka untuk mengalahkan si wanita. Mereka pun saling memberi anggukan kecil.
Poof!
Salah satu dari mereka membanting setangkai gandum lagi, lalu menghilang bak ditelan debu putih. Sementara sosok satunya mengangkat busur kayu tinggi-tinggi, membidik, lalu melontarkan satu anak panah ke arah keramaian di depannya.
Seketika dalam pertarungan Nadia dan teman-temannya, muncullah debu putih yang langsung mengaburkan pandangan mereka semua, termasuk para makhluk itu.
"Uhuk! Uhuk! Apa ini!?" bingung Nadia.
Dalam kekabutan itu, ternyata ada sosok hitam yang menarik mereka keluar dan seperti menabur sesuatu ke tanah.
"Sepertinya sudah semua," kata salah satu sosok berjubah muncul mendekati kawannya.
"Bagus, tugasku juga sudah selesai. Ayo pergi dari sini."
__ADS_1
Mereka pergi, dua sosok itu pergi meninggalkan Nadia dan yang lainnya.
"Uhuk, uhuk! Apa yang-" Nadia kaget melihat dirinya juga teman-temannya tidak berada dalam keriuhan makhluk hijau tadi.
Darah yang keluar dari hidung mereka pun berhenti seketika. Bingung, mereka semua bingung. Bagaimana mereka bisa keluar dari keriuhan itu? Dan lagi kemana perginya makhluk hijau itu? Aneh. Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak mereka. Kini mata mereka tidak menangkap penampakan satu pun dari makhluk hijau pembawa penyakit mimisan itu. Yang mereka lihat hanya segerombol pohon maple berdaun merah kekuningan
"Apa yang terjadi sebenarnya?" bingung Fikram tak mengerti melihat semua gerombolan pohon di depannya.
"Ya, sudahlah kita pikirkan itu nanti. Yang jelas kita bisa selamat dari para makhluk aneh itu. Apa semua sudah lengkap?" tanya Nadia memastikan semua teman-temannya ada.
"Eh tunggu! Dimana Ibu?" ucap Gamma menanyakan ibu tersayangnya.
"Oh, mereka sangat menyusahkan," datanglah rupa batang hidung yang ditanyakan Gamma.
Ibu Albert! Dengan menggunakan seranting kayu kecil, ia membersihkan bajunya dari bulu-bulu yang menempel, agaknya itu dari para makhluk hijau tadi. Seluruh atensi tujuh manusia ini pun jatuh padanya.
"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" bingung Ibu Albert dengan tatapan mereka.
"Mmm, ok itu Ibu Albert, tunggu sekarang di mana Man-" ucapan Nadia terpotong.
"Di mana Manda?" tanya Fikram.
"Oh dia, dia ku 'kirim' untuk mencegah si wanita jelek itu," katanya langsung membuat Nadia, Rio, Fikram, dan Dina melebarkan mata.
"Kau mengirim Manda! Bagaimana kau ....!" Fikram kehabisan kata-kata, tapi yang jelas ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ibu Albert pada Manda.
"Haah," Nadia memijat pelipisnya. "Baiklah, sekarang kita selamatkan Manda dulu, ayo cepat!" Nadia segera berlari, diikuti mereka.
----------------
"Jangan, jangan mendekat!" Manda memberontak berusaha lepas dari ikatan itu.
"Kau akan menyesal karena sudah membuatku murka!"
Si wanita menggerakkan tangannya. Seketika tali yang mengikat Manda kembali mengerat, malah semakin erat membelit Manda. Bukan hanya mengencang, tali itu juga bertambah. Kini tubuh Manda terikat erat oleh tali-tali tanaman si wanita. Wajah, tangan, badan, serta kedua kakinya tak bisa lagi ia gerakan karena tali-tali itu. Tak berselang lama, muncullah bulu-bulu halus dari tali-temali tersebut. Bulu-bulu halus kecil, namun bisa mematikan.
"Kau akan merasakan akibatnya!"
Mata wanita itu berapi-api. Ia kembali menggerakkan tangannya, seolah sedang menggenggam erat suatu benda. Manda mengerang karena kesakitan, ia juga memberontak kencang.
"Akan ku habisi kau!" ia melakukan gerakan menggenggam lebih kuat lagi.
"AAAAAA!" terdengarlah jerit kesakitan seorang Manda.
Cairan merah segar mulai mengalir dari sela-sela tali. Oh tidak! Apa yang terjadi pada Manda!
"HAHAHA, temui ajalmu!"
"Hei kau, lepaskan teman kami!"
Bersambung ....
__ADS_1