Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Dansa


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Let's go party!"


Semua atensi tertuju pada satu kaktus yang sudah berdiri di belakang sebuah alat, terlihat seperti seperangkat alat DJ utuh nan lengkap. Seperangkat alat DJ? Hemm entahlah, Author pun tidak tahu dari mana datangnya. Tak beselang lama setelah itu, si kaktus mengenakan headphonenya, kacamata hitam tentu tidak ketinggalan.


"Putar musiknya!" para kaktus ini bersorak ria.


"Wuw, party!" sorak Manda.


"Let's go!"


Dug Jedag Dug!


Ia mengubah nada lagu ini menjadi lagu ala-ala musik party. Seakan mendukung suasana berdisko, langit tiba-tiba meredup menjadi mendung, cahaya berwarna-warni mulai menembak lurus ke sembarang arah, entah dari mana datangnya. Para kaktus dan Manda sedang sibuk berjingkrak-jingkrak mengikuti melodi musik disko. Sementara Nadia berpikir ini waktu yang tepat untuk kabur.


"Teman-teman ini saatnya untuk kabur!" ucapnya pada mereka.


Namun, terlihat Dina, Fikram, serta Rainny ikut berjingkrak mengikuti melodi ini.


"Kau mengatakan sesuatu, Di? Aku tidak dengar!" balas Fikram mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya khas orang berdisko.


"Lupakan saja. Punya temen tukang party begini nih," gumam Nadia.


"Ayolah Di, nikmati saja dulu. Jarang-jarang di sini ada acara musik begini loh, ayolah" ajak Dina.


Dug Jedag Jedug!


"Iya, ayolah Di. Bersantai sebent-" Gamma hendak mengajak Nadia menari namun sudah di sela Rio terlebih dahulu.


"Bersantai sebentar, Di." Rio tersenyum manis, dia muncul menutupi Gamma yang hendak mengajak Nadia.


Nadia membalas dengan senyum serupa, "Kurasa sebentar saja bisa eh-eh." Rio menarik tangannya menjauh dari kerumunan temannya itu.


"Krucil!" geram Gamma dalam hati.


Ibu Albert? Dia? Dia sekarang sedang memutuskan antara ikut bersenang-senang atau hanya menonton.


"Haruskah aku ikut menari?" pikirnya melihat para remaja dan kaktus ini berjingkrak ria.


Dug Jedag Jedug!


"Tapi ...." perlahan kakinya mulai menghentakkan kaki mengikuti alunan musik. "Bagus juga selera musik anak-anak ini," dengan gerakan kecil ia ikut menari.


Tawa dan senyum ceria terpancar dari wajah mereka semua. Apalagi Manda, dia sangat senang dan bahagia dalam situasi ini.


"Haah, tiba-tiba aku jadi pengen dansa nih," mendadak keinginan itu terlontar dari mulutnya.


Seketika, musik disko pun berhenti. Semua berhenti menari dan memandang kebingungan ke arah sang DJ. Tanpa berlama-lama lagi sang DJ putar haluan, dia memutar kembali musiknya.


Aku di sini padamu


"Apa yang ...." Manda terheran-heran dalam batinnya.


"Ekhem," suara teguran terdengar di telinga Manda ia pun menoleh ke sumber suara.


Sekali lagi padamu


Kubawakan rindu yang kau pesan utuh


"Bolehkah, Nona?" ia mengulurkan lengannya.


Kaktus dengan tinggi hampir sama dengan Manda itu, menawarkan diri untuk mengajak Manda berdansa. Mata Manda berbinar, tangannya ingin menerima ajakan namun ....


"Sebentar," ia menyela. "Kau tidak sadar diri ya? Bagaimana aku bisa berdansa dengamu kalau tubuhmu saja banyak duri seperti itu? Bisa tertusuk kulit lembutku ini dengan durimu," dia melipat tangannya depan dada.


"Haha, benar juga. Tapi tenang, Nona ...," ia membalik tubuhnya.


Aku di sini untukmu


"Saya siap merontokkan duri saya hanya untuk Nona," dia membalikkan tubuhnya, mengedipkan salah satu matanya untuk Manda.


Klimis!


Ia sudah klimis, tidak ada satupun duri di tubuhnya.


(Habis difillet ya, Mas wkwkwk)


Selain berpenampilan besih tanpa satupun duri menempel di tubuhnya, ia juga menggigit setangkai mawar dimulutnya, bergaya ala pangeran tampan di komik-komik romansa. Cahaya disekitarnya seakan sudah ditambah bumbu filter dan gliter romantis.


Manda melongo melihat hal itu, dalam hatinya ia terheran-heran, 'Kaktus jenis apa sih mereka?'


"Ekhem, Nona?" dia masih menawarkan dirinya.


Manda tersenyum, "Keinginanku terkabul. Baiklah, dengan senang hati," jawab Manda menerima uluran lengan kaktus itu.


Sekali lagi untukmu


Percayalah tak perlu lagi kau gundah


Manda memulai dansanya dengan kaktus ini. Lagi-lagi kaktus di sekitarnya mengikuti dan ikut berdansa dengan pasangannya masing-masing.


~Di sisi lain~

__ADS_1


"Eh-eh!" Rio dan Nadia terkesiap ketika para kaktus di sekelilingnya memakas mereka untuk lebih mendekat.


"Hey, kalian sedang apa? Aduh-aduh!" Nadia tidak mengerti dengan tingkah laku mereka.


"Aduh-aduh, kalian sedang apa sih?" –Rio.


Para kaktus tidak menjawab dan tetap mendesak mereka. Mereka semakin tersudut dan mendekat karenanya. Mereka belum menyadari hal itu hingga ....


Pun aku merasakan getaranmu


Mencintaiku seperti 'ku mencintaimu


Sungguh kasmaran aku kepadamu


Set!


Tubuh mereka saling bersentuhan, seketika mereka mematung dengan posisi saling mengunci pandangan dari jarak yang amat dekat. Tangan Nadia yang tidak disengaja, menempel di dada bidang Rio dan tangan Rio yang secara reflek berada di pinggang Nadia, hal itu membuat mereka terpaku satu sama lain.


"Ayo dong dansa!" satu teriakan yang memicu banyak teriakan dari para kaktus itu berhasil membuat Rio dan Nadia tersadar dari adegan tatap-menatap mereka.


Secara bersamaan mereka melepas itu, lalu memalingkan wajah mereka ke arah lain.


"Ekhem," mereka berdehem. "Ma-ma- Maaf, Rio/Di." menengok lalu mengucapkan hal itu secara bersamaan, pipi mereka langsung bersemu dan lagi-lagi memalingkan wajah.


Mereka saling curi-curi pandang, tidak berani menatap, menyembunyikan wajah merah mereka agar tidak terlihat satu sama lain.


"Ayo menari dong!" para kaktus itu mendesak lagi. "Menari! Menari!"


Sementara mereka masih dalam mode canggung ini.


"Ayo menari!" desak mereka.


"Emmm," Nadia nampak kebingungan, dia ingin mengajak Rio menari tapi... ah rasanya ia terlalu malu mengatakannya.


Tiba-tiba ia bisa merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya, dia kaget dan mengengok ke arah Rio. Disana ia melihat Rio sudah memalingkan wajah dan berkata,


"Berdansalah bersamaku, Di" katanya.


Wajah Nadia bersemu seketika, "B-b-baiklah." Dengan perlahan dia mengalungkan tangannya ke leher Rio.


Hidup adalah tentangmu


Selalu saja tentangmu


Mereka pun melakukan gerakan kecil berdansa, wajah mereka belum juga mampu untuk saling menatap. Gerakan mereka juga seperti malu-malu kucing, jelas sekali mereka sangat canggung.


Tuk!


"Aw!"


"Eh Rio/Di, maaf aku–" mereka meminta maaf berbarengan lagi, sekarang pandangan mereka saling bertemu.


Kau buat aku tak mampu


Sepersekian detik mereka membeku, tak lama setelahnya mereka tertawa.


"Haha, kita kenapa sih, sangat canggung," kata Nadia.


"Ya, sangat tidak nyaman."


"Hey, kapan kalian akan menari dengan benar!" kata Kaktus itu.


"Wowowo, baiklah kami akan menari," kata Nadia. "Bahaya juga kalau tidak dituruti," lanjutnya membatin. "Rio, Ay-"


Saat Nadia berbalik Rio sudah membungkuk dengan mengulurkan tangannya. "Maukah kau menari denganku?" ucapnya mendongak.


Nadia menyambut hangat ajakan tersebut lalu tersenyum, "Dengan senang hati."


Pun aku merasakan getaranmu


Mencintaiku seperti 'ku mencintaimu


Sungguh kasmaran aku kepadamu


Mereka kembali bertautan, kecanggungan diantara mereka hilang. Kini mereka berani menatap manik mata lawannya dengan jarak yang begitu dekat.


"Memang kau bisa berdansa?" tanya Nadia.


"Oh jangan salah ...," ia menjeda. "tentu sangat payah, haha" gurau Rio.


"Sama," balas Nadia.


"Haha," adegan ini pun diakhiri dengan mereka berdansa ria berdua mengikuti alunan lagu.


Pun aku merasakan getaranmu


Mencintaiku seperti 'ku mencintaimu


Omong-omong soal kejadian injak-menginjak yang tidak sengaja. Ternyata pasangan sebelah juga mengalami hal yang sama.


"Aw!" seorang gadis bersurai hitam dan laki-laki ini sedikit menjauh tatkala merasa kakinya terinjak "Eh kau ...."


Kalimat dan adegan yang serupa seperti Nadia dan Rio. Dina dan Gamma, ya pasangan yang mengalami hal yang sama adalah mereka.

__ADS_1


"Kakimu terinjak kah?" berbarengan mereka mengucapkan kalimat tanya itu.


"Ma-"


Kalau tadi Rio dan Nadia meminta maaf lalu berakhir dengan berdansa, apakah Gamma dan Dina akan berakhir sama? Mari kita lihat.


"Ma-"


Minta maaf atau tidak? Hayo tebak, haha.


"Ma- makanya kalau nari pake mata dong! Gara-gara elu kaki gue juga keinjek tahu!" mereka mengucapkan rentetan itu secara serentak.


"Apa gue! eh dimana-mana nari pake kaki bukan mata tahu!" masih berbarengan.


"Lu apa-apaan sih kok ngikutin gue!"


"Gue? elu yang ngikutin gue!"


"Apa gue! Elu yang ngikutin gue! Agh! berhenti ngikutin perkataan gue! Ihhh, elu!" setelah percakapan berbarengan yang sangat memusingkan dan tidak jelas mereka pun berhenti dengan saling menatap dengan sengit.


"Dasar payah!" dengan penuh penekanan Dina mengatakan dengan tatapan kesal.


"Elu lebih payah!" balas Gamma dengan tatapan yang sama.


"Hiiii!"


Dekat, tatapan sudah dekat dan lekat tapi tatapan saling kesal itulah yang membedakan, haha. Baiklah, kita tinggalkan adegan yang jauh dari kata romantis itu.


"Pemain biola, ramaikan pesta ini!" ucap sang DJ menunjuk.


Benar saja satu grup berisi empat orang kaktus mengalunkan biolanya, menambah kesan romantisme dalam lagu Jazz yang berjudul 'Kasmaran' ini.


"Apa-apaan suasana ini?" pikir Fikram membuang wajahnya kearah lain.


Melihat hal itu, Rainny tersenyum tipis. "Suasana ini romantis ya? Jangan jatuh cinta padaku loh, xixi" ujar Rainny membuat Fikram mendongak.


Ya, pasangan ketiga yang sedang berdansa adalah Fikram dan Rainny.


"Tidak, aku tidak bisa dan tidak boleh jatuh cinta padamu atau pada siapapun... selain dia," ucap Fikram.


"Siapa yang membuat peraturan aneh itu? Memang kenapa kau tidak boleh jatuh cinta pada siapapun? sebagai seorang manusia itu wajar-wajar saja. Lalu dia? dia siapa?" balas Rainny.


"Ya, untuk saat ini aku tidak boleh. Dia... dia yang ada di hatiku, dia belum menjawab perasaanku walaupun.. haah, walaupun aku yakin dia juga tidak ingat akan perasaanku ini," Fikram sendu.


"Wow, dalam. Siapa dia?"


"Ada lah. Kau tidak perlu tahu,"


"Ya-ya aku mengerti, tetap semangat ya!" Rainny tersenyum.


"Terimakasih," Fikram membalas senyuman itu.


Dari kejahuan Manda yang sedang berdansa dengan kaktus memerhatikan mereka.


"Fikram dan Rainny... mereka..." kesal, entah kenapa Manda merasa sedikit kesal melihat mereka saling melempar senyum seraya berdansa.


"Eh-eh!" Tiba-tiba Manda tersandung kakinya sendiri, akibat ia kehilangan fokus.


BRUK!


Dia jatuh, tari dansanya dengan sang kaktus berhenti. Musik dan para pasangan maupun calon pasangan yang sedang berdansa di sekitarnya pun ikut berhenti. Semua atensi tertuju pada Manda untuk kesekian kalinya.


"Hemm, mari kita lihat adegan selanjutnya," Ibu Albert berada pada posisi favoritnya.


Dia tidak menari, menyenderkan diri pada pohon yang mati, mengunyah satu buah kaktus dan dengan santainya hanya menonton.


"Be careful, Kids" ucapnya dari kejauhan yang ditujukan untuk makhluk bernapas selain para kaktus itu.


"Aduh!" Manda mengaduh. Merasa diperhatikan, ia melirik kesana-kesini tanpa bangkit.


"Oh ya kita kan sedang mengejar para pencuri ini," kata salah satu kaktus mengingatkan.


"Eh benar juga," balas kaktus lainnya.


Sontak, semua langsung melihat ke arah para manusia yang diteriaki 'maling buah' itu.


GLEK!


Mereka sudah tidak bisa lari lagi karena sekarang terkepung sekelompok besar makhluk berduri, para kaktus itu membuat mereka terpojok.


"Ada yang punya ide?" tanya Nadia.


"Tidak," jawab Fikram.


"Bagus, matilah kita sekarang," Dina mengusap wajahnya frustasi.


"Oh, tidak."


HIAAA!


"Kembalikan buah kami, Pencuri!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2