Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Pencarian Fikram


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Cepat bawa dia," komando seseorang.


"Baik," jawab seseorang lainnya.


Kedua pria itu pun membawa Fikram yang berada dalam karung entah kemana.


\~\~\~\~\~\~\~


~Kamar Ibu Alberta dan Nadia~


"Tidak ada yang terjadi, ini peluitnya rusak ya?" Manda berkata sambil terus-menerus meniup peluit yang diberikan Ibu Albert padanya dengan kencang.


"Jangan tiup peluitnya seperti itu!" kata Ibu Albert.


"Kenapa? Ini peluit pemberianmu sudah rusak!" kata Manda yang masih mencoba mengeluarkan suara dari peluitnya.


"Itu bukan rusak tapi-" kalimat Ibu Albert terpotong.


"Fuh ... fuh ... ini benar-benar rusak!" kesal Manda.


"Ah! nanti kau juga tau," kata Ibu Albert malas.


"Huuh! Terserah. Fuh ... fuh ...." Manda melanjutkan aktivitas meniup peluit kayunya itu.


"Hemm ... setelah mereka membawa Fikram kemari kita akan kembali ke tujuan kita sebelumnya," kata Ibu Albert.


"Mencari Rainy?" tanya Dina.


"Tidak!" bentak Ibu Albert. "Haih, maaf maksudku ... ya, segera cari dia dan kita bisa melanjutkan menyelesaikan tugas kalian," kata Ibu Albert melirih.


"Aku benar-benar penasaran apa kegunaan dan mengapa peluit ini dari tadi tidak mau berbunyi. Aneh!" kata Manda kebingungan.


Manda akan meniupnya sekali lagi, walau ia sudah lelah tetap saja rasa penasarannya mengalahkan rasa lelahnya.


"Berhenti meniup itu!" Kata Ibu Albert langsung mengambil peluit itu dari tangan Manda.


"Iih! Ibu Albert! Aku belum selesai dengan itu!" kata Manda.


"Kau mau temanmu nanti tuli? iya mau?" tanya Ibu Albert dengan suara meninggi.


"Apa hubungannya? Peluit itu saja tidak berfungsi bagaimana temanku akan tuli?" tanya Manda.


"Haduh! In-" perkataan Ibu Albert terpotong.


Drap! Drap! Drap!


Cittttt!


"Hah ... Hah ..." Gamma datang bersama Rio dengan nafas terengah-engah. "I ... I ... Ibu ... Fi ... Fik ... Fikram ... Fikram ...." kata Gamma mencoba menjelaskan.


"Apa? Ada apa dengan Fikram?" cemas Manda.


"D ... di ... dia ...." kata Gamma.


"Jelaskanlah!" kata Ibu Albert.


"Hah ... hah ... Fikram tidak ada di kamarnya," kata Rio.


Sontak semua terkejut, "APA!"


"Kau sudah periksa di kamar mandi?" tanya Manda.


"Sudah. Kami sudah periksa di semua sudut kamar dan hasilnya nihil," Gamma menjelaskan.


"Nyelip kali," kata Dina datar.


"Huss!" Nadia menepuk lengan Dina dengan keras.


"Aww! iya-iya," kata Dina seraya mengelus lengannya.


"Ya sudah kita bagi tim untuk mencarinya di setiap sudut istana," ujar Ibu Albert. "Gamma dan Rio cari ke arah utara kami bertiga akan pergi ke arah selatan," komandonya.

__ADS_1


Mereka hanya mengangguk paham.


"Bergerak!" perintah Ibu Albert.


Mereka pun keluar dan berpencar mencari Fikram di setiap penjuru istana sesuai arahan dari Ibu Albert.


"B ... b ... bagaimana kalian bisa menentukan arah? Hey!! Tunggu aku!!" kata Manda kebingungan dan panik sendiri karena hampir ditinggal teman-temannya.


Untung saja ia bisa menyusul Ibu Albert dan lainnya.


\~\~\~\~\~\~\~


"Hey! Lepaskan aku!" teriak Fikram.


Seseorang pun melepas karung yang membungkus Fikram itu. Namun Fikram belum sadar kalau karungnya sudah terlepas dan ia juga masih menutup kedua telinganya menggunakan tangannya sendiri.


"Lepas!" jeritnya semakin menjadi-jadi.


"Ekhem!" tegur Siera.


"Lep ... hah! Oh, Sorry" Kata Fikram tersadar.


"Kenapa telinga kamu di ...." tanya Siera.


"Hah?" Fikram baru menyadari bahwa tangannya masih menempel di telinga. "Oh. Ngga apa-apa," jawab Fikram melepaskan tangan dari kedua telinganya. "Bunyi itu sudah tidak ada," gumam Fikram.


"Apa?"


"Eh! Tidak-tidak," Jawab Fikram. "Tunggu ... kau!" ucap Fikram menyadari sesuatu.


"Haha, maaf kalau aku membawamu dengan cara seperti itu," Siera terkekeh.


Fikram pun bangkit dan berdiri dihadapannya.


"Jadi kau yang menangkapku. Huuh! Jangan-jangan suara itu kau juga yang buat!" Kesal Fikram melipat tangannya di depan dada.


"Suara? Suara ap-"


"Emm ... aku ...."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Fikram! Fikram!" panggil Gamma dan Rio berbarengan seraya mencari Fikram kesana-kemari.


"Fikram! Fikram!"


"Duh kemana sih ini anak! Bikin repot orang aja," keluh Gamma.


Rio tidak menanggapi.


"Hemmh! Dasar Krucil!" batin Gamma ucapannya tidak direspon.


Drap ... drap ... drap ....


Terdengar suara sepatu seseorang sedang bergerak cepat menuju ke arah mereka. Mendengar ada yang datang, mereka pun berbalik.


"Hey," Nadia melambai dari arah kejauhan menghampiri mereka.


"Nadia/ Nadi!?" Kompak Gamma dan Rio terkejut.


Citttt!


"Hah ... hah ...." Nadia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Di, ngapain kamu kesini?" tanya Rio.


"Hah ... hah ... sebentar," kata Nadia mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Rio.


Sehingga Rio pun bungkam.


"Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu sama ibu tadi," sekarang giliran Gamma yang bertanya.


"Emm ... iya, tapi Ibu Albert menyuruhku kemari," jelas Nadia.

__ADS_1


"Untuk?" tanya Gamma.


"Mungkin dia takut kalian bertengkar, haha ...." Nadia terkekeh.


"Mmm ...."


"Ya-ya baiklah, mungkin agar kita adil dan lebih cepat. Mengingat jumlah kalian berdua dan kami berempat jadi ya, supaya adil dan merata," jelas Nadia.


"Kaya pembagian sembako aja adil dan merata," ucap Gamma.


"Bisa aja sih," Nadia menyenggol bahu Gamma.


"Baiklah kita lanjut saja mencari Fikram. Ayo!"


Nadia menggandeng dan menarik tangan Gamma untuk melanjutkan pencarian Fikram.


"E ... eh!" Gamma tertarik.


"Hemm ...." Rio melipat dua tangannya di depan dada.


~Beberapa jam kemudian~


Nadia sedang bercengkramah dengan Gamma sambil menggandeng erat lengannya. Rio? Rio hanya di tinggal di belakang tanpa di ajak bicara, dilirik pun tidak oleh dua manusia itu.


"Ini mau nyari Fikram atau ngobrol!" gerutunya dalam hati.


"Wah! Ada bunga bagus banget! Aku kesana dulu ya, yank." Pamit Nadia melihat sebuah bunga yang menurutnya cantik.


"Hemm ... sejak kapan dia jadi seperti ini? Oh, mungkin ini memang sifat barunya," batin Gamma. "Ya." Balasnya mengiyakan."Tunggu, dia panggil aku 'yank'?!" Gamma tersadar dirinya dipanggil 'yank' oleh Nadia.


"Tunggu kau panggil ak-"


Belum selesai mengucapkan kalimatnya Nadia sudah pergi memetik bunga itu.


"Dah ..."


"Apa aku tidak salah, dia baru saja memanggilku 'yank'? Se ... se ... sejak kapan?" pikir Gamma.


"Dia memanggil Gamma 'yank'! Apakah mereka? Ah tidak-tidak. Mungkin aku salah dengar," pikir Rio. "tapi tadi aku mendengarnya dengan jelas, apakah mereka benar-benar ...."


"Apa kalian sudah menemukan Fikram?" tanya seseorang dari arah belakang mereka.


Rio dan Gamma pun berbalik untuk mengetahui siapa yang bertanya.


"Hah! Kalian?!" kaget Gamma dan Rio berbarengan.


Ternyata yang bertanya adalah Ibu Albert. Ia datang bersama Manda, Dina, dan jangan lupakan Nadia.


"Di ... Di ... Nadi/ Nadia!" ucap Rio dan Gamma terbata-bata.


"Iya aku," jawab Nadia.


"Jadi bagaimana? Ketemu belum? Atau ada tanda-tanda gitu?" tanya Manda.


"Sssstt!" bentak Rio dan Gamma pada Manda.


Manda langsung menciut.


"Di bukannya kamu tadi disana lagi pet ... petik bunga kan?" tanya Gamma dan Rio berbarengan.


"Tidak. Kapan aku kesini? Lagipula dari tadi aku bersama Ibu Albert mencari Fikram," jawab Nadia.


"Lah terus dia!" Rio dan Gamma berbalik memastikan bahwa Nadia sedang memetik bunga.


"Eh!"


Namun, tidak ada siapa-siapa disana selain hamparan bunga berjejer di taman istana.


"Hah?!" Gamma dan Rio tidak percaya Nadia yang mereka temui tadi tidak ada di taman.


"Jadi?" tanya Dina.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2