
EPISODE SEBELUMNYA
"Kalian!" Manda terperanjat melihat segerombol makhluk hidup di depannya.
"Manda! Fikram!"
\~\~\~\~\~\~\~
Di sebuah ruangan terlihatlah sesosok perempuan bertopi sedang memegangi luka di pinggang rampingnya.
"Aduh!" rintihnya. "Makhluk apa yang melukaiku seperti ini! Apa salahku padanya! Dasar!" gusarnya berbicara sendiri.
TOK! TOK!
Terdengarlah suara ketukan pintu dari arah luar.
"Hemm? Siapa?" Dina bertanya-tanya siapa yang mengetuk pintu. "Nadia? Oh, atau ...." Mendadak manik matanya tertuju pada rompi Gamma.
Entah kenapa Dia berpikir ah, bukan! Tapi berharap yang datang itu adalah Gamma.
Dengan semangat dan penuh senyuman ia perlahan menuju pintu dan membukakannya.
KRIET ....
Pintu terbuka sempurna. Senyum yang tadinya tercetak di bibir, perlahan luntur ketika melihat siapa sebenarnya yang datang.
Melihat perubahan raut wajah Dina, sesosok manusia itu angkat bicara,"Kenapa? Ngga sesuai ekspektasi ya?" Ibu Albert membawa nampan berisi mangkuk obat-obat herbal, perban dan gunting.
"Oh, Ibu Albert. Tidak, sudah kuduga itu Ibu kok," bohong Dina terlihat kecewa. "Haah, mengecewakan ... eh! Apa yang telah aku pikirkan! Tidak mungkin dia kesini. Haah! Pikiranku!" batinnya.
"Haha, aku tahu kau mengharapkan siapa. Tapi tenang, walaupun dia tidak kesini setidaknya yang memintaku kesini adalah dia," ucap Ibu Albert langsung masuk ke kamar Dina begitu saja.
Mendengarnya entah kenapa secercah semangat yang tadinya hilang kini kembali hadir dalam dirinya dalam sekejap.
"Benarkah? Gamma ...." harapnya. "Tapi tunggu, memang dia yang dimaksud Ibu Albert atau ... jangan-jangan," batin Dina menatap curiga Ibu Albert.
"Sudahlah jangan berpikir terlalu keras. Anakku yang memintaku kesini, kelihatannya dia sangat khawatir padamu." ucap datar Ibu Albert sibuk mempersiapkan obat untuk luka Dina.
Mata Dina melebar kala mendengarnya.
"Kalau bukan karenanya aku tidak mau kesini, lukamu 'kan bisa sembuh dengan sendirinya," lanjut Ibu Albert. "Sudah cepat sini duduk!" perintahnya.
Dinapun menurut dan menduduki dirinya di atas tempat tidur. Dalam pikirannya ia berpikir.
"Benarkah dia mencemaskan aku?" senyum simpul tercetak di bibirnya. "Tapi kenapa tidak dia saja yang kesini kalau dia mencemaskan aku, huuh!" dia mengerucutkan bibirnya sendiri.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Ingat anakku itu laki-laki dan kau perempuan!" jawab Ibu Albert.
Dina tertohok. "Bagaimana dia bisa menjawab isi pikiranku, apa dia bisa membaca pikiran orang?" batin Dina.
"Ya aku bisa baca pikiran, terutama pikiran kotor!" balas Ibu Albert menyindir.
"Hah!" Dina semakin kaget dibuatnya.
"Sudah cepat, mana lukamu sini aku obati," kata Ibu Albert.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Tak! Tak!
Suara langkah kaki memakai sepatu terdengar menuruni anak tangga. Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibir sang gadis.
"Haha, sedihnya dipenjarakan sahabatnya sendiri. Wah, wah!" ejeknya.
Dari balik jeruji seorang perempuan berkuncir dua dengan memakai baju pink kesukaannya pun geram mendengarnya.
__ADS_1
"Kau jangan senang dulu, Perempuan Licik! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan rencana busuk itu!" ancamnya.
"Silahkan saja jikalau kau bisa, aku tidak melarang," dengan santainya ia berbalik dan kembali menaiki tangga untuk kembali keluar dari ruangan itu.
Manda hanya bisa mengepalkan kuat kedua tangannya melihat kepergian gadis tersebut.
"Fikram ... kenapa kau, tidak percaya padaku ... hiks," gumamnya.
Mengalirlah cairan bening yang saat ini membasahi pipinya.
FLASHBACK
"Kalian!" Manda terperanjat melihat segerombol makhluk hidup di depannya.
"Manda! Fikram!"
"Kalian! Kenapa kalian di sini! Bukankah kalian di kamar tamu? Sejak kapan?" Fikram semakin dibuat bingung.
"Akhirnya kami menemukan kalian," kata Gamma.
"Two in one, sangat menguntungkan," kata Dina santai.
"Manda kau sedang apa?" tanya Rio melihat Manda mengarahkan mata pisau yang tajam itu pada Marine.
"Manda, Turunkan pisau itu! Lepaskan Ibuku!" desak Fikram.
Perkataan Fikram barusan berhasil membuat segerombol manusia itu terkejut.
"Tidak akan! Percayalah Fikram, Percaya padaku! Dia tidak sebaik yang kau kira! Bahkan dia tidak pantas dipanggil 'Ibu'!" tegas Manda.
JEDER!
Bak di sambar petir, hati Fikram terasa hancur berkeping-keping. Namun Fikram hanya bungkam.
JEDER!
Kalimat yang dilontarkan Manda barusan sudah menguras habis kesabaran Fikram. Kini ia tidak bisa diam dan harus bertindak tegas.
"Cukup! Cukup, Manda. Kau sudah melewati batas! Kau bukan Manda yang aku kenal!" Fikram Tersulut emosi. "Ku beri peringatan kau, LEPASKAN IBUKU!"
"TIDAK! tidak akan! Dia harus mengakui rencananya di depanmu dulu!" balas Manda semakin mengancam Marine. "Ayo cepat katakan yang sebenarnya!" Manda semakin mengarahkan pisau itu ke Marine, hingga ....
"AWW!"
Satu teriakan terdengar di telinga Fikram.
"Fin ... dia, dia menyakiti Ibu, Finn. Leher Ibu, Finn. Tolong, hiks" Tangis Marine.
"A... a... apa! Tidak! Tidak! Fikram aku tidak melukai... meluka-" Manda merasa dirinya tidak melukai Marine sedikitpun.
"Kau... kau ...." Fikram menunduk, tangannya mengepal kuat. "KETERLALUAN!" Ia mendongak dengan tatapan penuh amarah.
Tangan kanan Fikram mengeluarkan air yang membentuk tali panjang. Ia mengayunkan tali air itu ke arah Manda dan berhasil mengikat pinggangnya.
"Menjauh kau dari IBUKU!"
Mata Manda membulat, Fikram menarik paksa tubuh Manda. Tidak bisa melawan, iapun terhempas hingga menabrak dinding. Pisau yang ia pegang tadi terlempar ke sembarang arah.
BUGH!
"Aduh!" Manda merintih kesakitan sekarang tubuhnya terasa rontok.
Iapun terjatuh ke lantai. Dalam keadaan lemah, pandangannya melihat sepatu sneakers hitam putih di hadapannya. Ia mencoba mendongak.
Namun, sebelum mendongak si pemilik sepatu mendadak bersimpuh dan mencengkram kuat rahang Manda, mengangkat serta membuat kepalanya bersandar di dinding.
__ADS_1
"Dengar, ini akibatnya jika kau berani melukai Ibuku!" kata Fikram menatap tajam Manda dengan membawa pisau di tangan kirinya.
SRING!
Fikram mengangkat pisaunya, mengarahkan ujung pisau itu ke arah Manda.
"Fi... Fi... Fikram ...." Manda gemetar dengan apa yang Fikram lakukan.
Fikram tidak memperdulikan Manda yang gemetar, dia tetap fokus menatap tajam Manda dan mulai melesatkan pisaunya dengan cepat seakan ingin menusuk tepat kepala Manda.
SREET!
Manda memejamkan mata, ketakutan. Ia membayangkan rasa sakit yang luar biasa akan terjadi padanya.
JLEB!
"Man-" reflek tubuh Dina ingin berlari ke arah sahabatnya namun, ia berhenti ketika melihat apa yang terjadi.
Tidak merasa kesakitan yang dibayangkan, Manda membuka matanya perlahan. Dengan gemetar ia menoleh ke arah samping. Terlihat satu pisau dapur tertancap sempurna di dinding. Beruntunglah Fikram memang tidak berniat menusuk kepala Manda. Pasalnya, hanya beberapa milimeter saja maka, ujung pisau itu akan tertancap di telinga Manda.
Fikram melepas kukungannya dan berbalik.
"Fikram, percayalah padaku!" Manda bangkit, ia ingin menjelaskan pada Fikram.
"Tuan Putri."
Tepat waktu, Rendi bersama dua prajurit mendadak muncul menghampiri sang tuan putri. Siera yang melihat Rendi datang langsung mengisyaratkannya untuk menghentikan Manda. Rendi mengerti, ia lalu memberi isyarat kepada dua prajurit di belakangnya untuk menangkap Manda. Prajurit itu mengangguk.
"Fikram dengarkan ak-" Manda terkejut saat dua prajurit menangkapnya. "Lepas! Fikram... Lepaskan aku! Fikram, tolong!"
Langkah Fikram sempat terhenti.
"Kak," panggil Siera.
Fikram tetap diam tanpa merespon, dia melirik Manda tanpa membalik tubuhnya. "Beri dia hukuman yang pantas, penjarakan di penjara terburuk bila perlu," kata Fikram dingin.
Mata Manda membulat tidak percaya mendengar perkataan Fikram.
Mendengar itu, prajurit segera menyeret Manda.
"Tidak Fikram! Mereka hanya memanfaatkanmu! Percayalah!"
Manda telah pergi dari ruangan itu.
"Ibu! Ibu tidak apa-apa?" cemas Fikram bersimpuh di samping ibunya.
Marine menatap manik mata cemas Fikram dan menjawab lirih, "Ya, Ibu tidak apa-apa, hanya ...." Marine menutupi lehernya dengan tangan.
Fikram yang melihat ibunya menutupi sesuatu, iapun membuka paksa tangan yang menutupi leher ibunya.
"Ibu pasti berbohong lagi," kata Fikram.
Akhirnya ia berhasil membuka sesuatu yang ibunya tutupi. Satu luka sayatan yang cukup dalam terdapat di leher Marine. "Kan, lagi-lagi ibu berbohong. Ayo, kita harus mengobatinya," kata Fikram cemas.
"Tidak, Nak. Ini hanya luka goresan saja, kok. Nanti juga sembuh sendiri," kilah Marine.
"Duh, Mah. Luka goresan darimana? Itu lukanya cukup dalam, Loh. Kalau ngga diobati bisa-bisa tambah parah lagi," Siera menghampiri.
"Nah, bener tuh kata Siera, Bu. Sudah ya, ayo kita obati," Fikram membantu ibunya berdiri dan berjalan.
Siera dan Rendi mengekori di belakang mereka.
FLASBACK END
Bersambung ....
__ADS_1