
EPISODE SEBELUMNYA
"Sial, bagaimana dia bisa lolos" umpat seseorang dari dalam danau.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
\~Di gubuk kayu tua\~
"Bagaimana keadaannya, Ibu Alberta?" tanya Nadia.
"Dia baik-baik saja..mungkin beberapa jam lagi ia akan siuman." ucap Ibu Albert.
"Hemmh" Wanita itu mulai siuman.
"Eh, dia bangun" seru Fikram melihat wanita itu siuman.
Mereka merapat ke arah wanita tersebut.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Manda pada wanita itu.
"Iya, apa kau baik-baik saja?" ucap Nadia menimpali.
"Emmmh..ya aku ok" kata wanita itu memegang kepalanya.
"Emm..apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Manda padanya.
"Ya, siapa kau? dari mana asalmu? dan bagaimana kau bisa tenggelam di danau itu?" tanya Fikram.
"Mmm..aku tidak ingat apa pun" ujar wanita itu memegang kepalanya.
"Namamu sekalipun?" tanya Rio.
"Kalau namaku? namaku? oh, namaku Rainy" kata wanita itu.
"Rainy..hmm..nama yang unik" kata Gamma.
"Ya, sudah...sebaiknya kau istirahat dulu" kata Ibu Albert.
"Iya supaya kau cepat pulih" kata Manda tersenyum.
"Ya sudah, Rainy..kami tinggal dulu" pamit Nadia pada Rainy.
Ibu Albert pun beranjak pergi membiarkan Rainny untuk beristirahat, begitu pun Nadia dan lainnya.
"Tunggu, kau!" seru Rainy.
Semua langkah mereka terhenti dan berbalik ke arah Rainy.
"Kau yang menyelamatkan aku, bukan?" tanya Rainy menunjuk ke arah Fikram.
"Mmmm..iya" jawab Fikram.
"Apa kau tahu apa yang terjadi disana tadi?" tanya Rainy lagi.
"Oh, iya..memang aku yang menyelamatkanmu tapi tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan lalu aku tertarik, dan kita tenggelam...lalu aku tidak ingat apapun sampai kita di daratan" jelas Fikram.
"Mmm...begitu..baiklah..thanks ya" ucap Rainy.
"Ya, sama-sama," kata Fikram.
Mereka pun akhirnya pergi dan membiarkan Rainy beristirahat di gubuk tuanya.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
\~PAGI HARI\~
"Hiks..hiks..maafkan orang tuamu ini, nak"
"Hah?!" kaget Fikram terbangun dari tidurnya.
"Apa apa itu? siapa? siapa dia?.." ucap Fikram gelisah.
Tiba-tiba..
"AAAAAA!!!!" teriak seseorang.
__ADS_1
"Hem!?..siapa itu?" kaget Fikram mendengar suara teriakan.
Fikram pun bergegas menuju sumber suara teriakan itu.
Tap..tap..tap
"Apa? Apa? siapa?" ujar Fikram mencari di luar gubuknya.
"AAAAA!!!" teriakan itu kembali datang dari arah danau.
"Hem?" Fikram berbalik dan langsung berlari ke arah danau.
Kresek...kresek...
"Hah! apa! apa! ada apa?" ujar Fikram tiba di tepi danau.
"Hah? aneh, tidak ada apapun disini" kata Fikram pada dirinya sendiri.
"Hemm..mungkin aku hanya mengigau tadi" ujarnya lagi.
"Ya sudahlah"
Karena tak menemukan apapun, Fikram akhirnya berbalik dan berniat untuk kembali ke gubuknya. Tanpa ia sadari dari dalam danau datanglah sebuah benda melintang seperti tanaman rambat mengincar kaki Fikram, benda itu melesat cepat dan langsung melilit pergelangan kaki Fikram, lalu menariknya dengan kuat.
"Hah!? AAAA!!!" tertarik ke arah danau.
"Datanglah padaku" kata seseorang menyeringai dari dalam danau.
\~Sementara itu\~
"Duh, kenapa Ibu Albert nyuruh kita kesini sih?" keluh Dina yang sedang duduk diatas batu besar tepi sungai.
"Dari pada kau terus menggerutu begitu..lebih baik kau turun dan bantu kita mencari hewan langka satu itu" kata Gamma yang berdiri di aliran sungai yang lumayan deras.
"Heegh..iya..iya.." kata Dina malas.
Bukannya turun dan membantu Dina malah mengambil batu di sekitarnya.
"Heh? kan aku sudah bilang turun dan membantu..kenapa kau masih di sit-"
"Awas!!!!" kata Dina.
Settt..
"Iih..kau ini! sedang apa kau melempar batu! kalau kena aku gimana! kalau kepalaku bocor gimana! mau tanggung jawab kau!!" omelnya pada Dina.
Dina pun turun dari batu besar itu dan berjalan ke aliran deras sungai tersebut, ia melewati Gamma dan mengabaikannya begitu saja, kemudian ia membungkuk seperti mengambil sesuatu dari dalam arus sungai itu.
"Iih...kau!" geram Gamma pada Dina.
"Kau apa, hah!" kata Dina mengangkat sebuah ikan berukuran sedang dengan mata besar dan dua taring panjang di mulut tepatnya di rahang bawah ikan tersebut.
"Hah?!" Gamma terbelakak melihat hewan yang mereka cari-cari sedari tadi ada ditangan Dina, pasalnya dari tadi mereka tidak menemukan ikan itu sedari tadi, tetapi Dina berhasil menemukan dan menangkapnya dengan satu lemparan batu saja. Sungguh hebat!!
"B...b..bagaimana bisa dia?" kata Gamma terbelakak.
"Hehe" Dina menyeringai.
"Wah, hebat kau Dina!" kata Nadia menghampiri Dina.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu?" tanya Rio ikut merapat ke arah Dina.
"Itu mudah." kata Dina.
"Saat Gamma tadi mengomel-omel panjang lebar, aku melihat sesuatu di belakangnya...kalian tau kan? aku mahir melempar..jadi aku melempar batu itu dan mengenai si ikan ini" jelas Dina.
"Ooo..." balas Rio dan Nadia.
"Mahir melempar katanya...apaan" kata Gamma.
"Emang iya kok..tau apaan lu!" kata Dina membalas.
"Huh..ngga percaya aku tuh" kata Gamma kembali.
"Hiii.." geram Dina.
__ADS_1
"Ya sudah, baguslah kau mendapatkannnya" kata Ibu Albert muncul dari arah belakang Rio dan Nadia.
"Eh, Ibu Albert?" kaget Dina melihat Ibu Albert sudah kembali.
"Kemarikan ikan itu" kata Ibu Albert pada Dina.
Dina pun menurutinya.
"Ingat tetap pegang apapun yang terjadi, ok" kata Ibu Albert pada Dina.
Dina mengangguk.
Ibu Albert lalu menekan rahang ikan itu sehingga mulut ikan tersebut terbuka dan menampilkan mulutnya yang berbaris rapi dan tajam setajam silet. Ia lalu mengambil selembar daun hijau yang memiliki bulu-bulu halus di permukaannya dari dalam tas. Dengan beralaskan daun tadi, Ibu Albert memegang salah satu taring kecil milik ikan itu, dan kemudian ia bersiap. Dan ia mencabut taring itu dengan kencangnya. Tentu saja ikan itu memberontak kesakitan.
Ikan itu pun mengibaskan ekornya dengan cepat dan mengenai wajah Dina yang berada di dekatnya. Wajah cantiknya seakan di tampar begitu keras berulang kali. Sontak Dina pun melepaskan ikan itu, alhasil ikan tersebut lansung meloncat kembali ke arus sungai dan meninggalkan jejak darah di air sungai itu
"Apa yang kau lakukan!..kan aku sudah bilang untuk memegangnya apapun yang terjadi" kata Ibu Albert.
"Tapi kan Ibu Albert..aku tidak tahan..ekornya mengenaiku" kata Dina.
"Kan kau bisa menghindar" kata Ibu Albert.
"Tapi kan aku tidak tahan, Ibu Albert" kata Dina tersenyum kecut.
"Eh, sudah-sudah...memangnya kalau di lepas begitu saja berbahaya Ibu Albert" kata Nadia melerai.
"Emm..tidak juga sih.." kata Ibu Albert.
"Tu..kan tidak apa-apa..lalu kenapa Ibu memarahi saya!!" ucap Dina agak membentak.
"Kau! kau berani membentakku!!" geram Ibu Albert berpikir Dina tidak sopan padanya.
"Aku tidak membentak!!" balas Dina.
"Lah itu..itu apa namanya kalau bukan membentak, hah!!..dasar bocah tidak tau sopan santun" ucap Ibu Albert.
"Eh, sudah-sudah..Ibu Albert maafkan Dina ya..dia memang agak sedikit..ya begitulah..maaf ya, Bu" kata Nadia melerai.
"Huh..untung saja ada anak baik ini..kalau tidak dia sudah...hii" geram Ibu Albert pada Dina.
"Apa! apa!" kata Dina.
"Hustt..Dina udah" lirih Nadia pada Dina.
"Tapi, Di.." kata Dina tak tahan.
"Ngga baik ngelawan orang tua, Din" lirih Nadia.
"Hemm..iya deh" kata Dina menurut.
"Sabar..sabar" kata Dina menenangkan dirinya.
"Emm..Ibu Albert untuk apa taring itu?" tanya Rio.
"Ini untuk...hah?!..astaga!..cepat semua keluar dari sungai!!.." kata Ibu Albert.
Sontak semua kaget dan langsung keluar dari aliran air sungai itu.
"Apa? ada apa?" kaget Gamma.
Tiba-tiba air di aliran sungai itu menjadi hitam pekat.
"Apa? apa yang terjadi?" tanya Nadia.
"Ini pasti akibat darah ikan Payara langka tadi" kata Ibu Albert.
"Ikan Payara?" kompak Rio, Nadia, dan Dina yang tidak tahu dengan maksud ucapan Ibu Albert tadi.
Bersambung...
Halo guys, di episode ini author mau ngerekomendasiin novel fantasi yang menurut author keren banget, asli.
Itu novelnya ya yang diatas⬆️
__ADS_1
Jadi, bagi kalian yang belum baca, segera baca ya dijamin kalian ngga nyesel baca deh, beneran. Bahasanya juga mudah di pahami, alurnya juga ngga ngebosenin, wis keren lah pokoke. Dadi di waca yo konco-konco sing ganteng sing ayu..bye..bye.
See you later...