
EPISODE SEBELUMNYA
"Tidak! RIOOO!" Mata gadis berambut hitam legam itu membulat sempurna.
CLINGGG!
---------------
"Hah!" Nadia terbangun, langsung saja ia bangkit dari tempat tidur dan pergi ke luar kamar. "Rio!"
Drap! Drap!
Ia belari sangat cepat menuju sebuah tempat. Melewati lorong yang tak terlalu panjang.
"Rio!"
Hanya satu nama itu yang Nadia fokuskan untuk saat ini. Terlihat Fikram, Dina, dan Manda sedang berkumpul di depan kamar mereka.
"Fikram, di mana Rio! Apa dia di dalam! Dia pasti di dalam kan?! Jawab aku Fi, jawab!" desak Nadia.
"Ri-Rio tidak bersamaku, Di...," ragu Fikram menjawab.
"Apa maksudmu tidak bersamamu! Dia pasti di sekitar sini, ya aku yakin itu!" Nadia langsung saja menuruni anak tangga lalu mencari-cari Rio ke semua sudut penginapan itu. "Rio! Rio!"
Ia terus memanggil-manggil nama pemuda itu. Berharap ia menemukannya.
"Di, Nadia," Manda dan Dina juga Fikram berusaha menyadarkan Nadia yang panik.
"Rio, di mana kau? Ah, mungkin dia ada di luar, ya ada di luar," Nadia hendak pergi keluar namun segera di tahan oleh Dina.
"Nadia sadarlah, Rio sudah tiada!" teriaknya.
Nadia berhenti, ia menatap nanar Dina tak percaya, "Apa kau bilang? Rio tiada? Rio... tiada?" Nadia tersenyum pahit. "Beraninya... BERANINYA KAU BILANG SEPERTI ITU DINA!" pekiknya melawan. "Menyingkirlah, kau tidak tau apa-apa," Nadia langsung saja menghempaskan cekalan Dina.
Ia pun kembali mencari Rio ke luar penginapan.
Nihil, Nadia tidak menemukannya di mana-mana. Ia putus asa.
"Tunggu, Kakek San! Ya, Kakek San!"
Ia pun segera kembali ke hotel.
"Nadia!" panggil teman-teman Nadia.
"Kakek San! Di mana kau kakek San!" Nadia terus berteriak hingga salah satu resepsionis memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Kakek San? Di mana Kakek San?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Maaf, Nona kami tidak mengenal yang namanya Kakek San."
"Kau berbohong! Di mana dia! Di mana Kakek San!" Nadia mencengkram kerahnya.
"Nona, sudah saya katakan di sini tidak ada yang namanya Kakek Sa-"
Nadia tidak mengindahkan omongannya ia langsung saja pergi menilik bilik yang pernah ia temukan karena itu adalah penyebab semua ini. Ia pun masih ingat betul di aman letak bilik tersebut.
KRIEK!
Pintu usang itu dibuka, namun isinya tak sesuai harapan Nadia. Ia kecewa, isi dari ruangan itu hanya kotak-kotak berdebu tak berarti.
"Tidak! Tidak! Kakek San dan Rio pasti masih ada di sekitr sini aku harus menemukan mereka!"
"Nadia cukup!" Dina menghentikan Nadia. "Bukan hanya kau yang sedih kehilangan Rio!" Nadia membeku. "Kami juga sangat kehilangan dia, Di." Dina menunduk sendu. "Tapi bagaimana lagi, kita... haah, sangat berbahaya untuk menyelamatkannya saat itu, Di. Mustahil," katanya.
"Kita iklaskan saja ya, Di," kata Fikram sedih.
Nadia menatap manik mata Dina, air matanya pun tak bisa ia bendung. Ia terisak dalam pelukan teman-temannya.
"Nadia ...."
Ku tatap gelang berbandul bulan yang melingkar di tangaku. Angin semilir menemaniku menikmati pemandangan sore di tepi sungai. Pepohonan bergoyang-goyang, rumput-rumput seakan melambai padaku. Kenangan getir itu masih saja sering muncul dalam pikiranku. Menghantui tiap malam dan tidurku.
"Rio...," kusebut nama sahabatku yang saat ini masih kurindukan kehadirannya.
"Apa itu? Mayat?" batinku.
Tak lama, terlihat sosok itu menoleh ke arahku, sontak aku langsung saja mengalihkan pandanganku. Ya, agar aku tidak ketahuan sedang memerhatikannya pastinya. Ku arahkan pandanganku lagi ke sosok itu karena merasa ia sudah tak menatap. Mataku melebar saat itu juga.
Dia menghilang!
Aku langsung saja berlari mendekati tempat kejadian, guna memastikan.
Drap! Drap!
"Hosh- hosh! kemana dia? cepat sekali perginya!" aku memegangi lutut dan mengisi energiku.
Aku pun melihat benda yang kusangka adalah mayat itu. ku dekati guna melihat lebih jelas. Aku nyalakan senter di perangkat elektronikku untuk mendapat hasil yang akurat. Aku terkejut bukan main, dugaanku ternyata benar. Benda yang dibawa sosok itu adalah sebuah mayat. Keadaan mayat laki-laki berjas itu sudah mengenaskan, darah dan luka di mana-mana.
"Aku harus menelpon polisi," ku pencet beberapa nomor di gawaiku.
Bip... Bip... SRING!
CTAK! SRINGG!
SRAKK!
__ADS_1
Untung saja Dina memberiku tempat belati yang akan menyatu dengan pakaian apa saja yang aku kenakan. Belatiku dan pedangnya pun beradu, aku berhasil menangkis serangannya sebelum melukai diriku. Yah, gawaiku memang terjatuh, namun tidak apalah. Gawai mahal mah tahan banting, wkwk.
Author: Dih, Nadia pamer –_–.
"Siapa kau sebenarnya hah!" tanyaku.
CLING!
Ia memainkan pedangnya guna menyerangku secara bertubu-tubi, aku pun hanya bisa bertahan dahulu untuk saat ini.
BUHG!
Ku tendang dirinya saat ada kesempatan. Ia pun lengah karena merasa kesakitan. Ini kesempatanku menyerang dan mengetahui siapa dia.
"Hiaaa!"
WUSH!
Mataku membulat tatkala ia menghilang bak ditelan bayangan, sangat cepat. Seranganku gagal, aku celingukan mencari keberadannya.
"Manusia macam apa dia? Tunggu apa dia manusi-"
SRINGGG!
Belum sempat ku menyelsaikan pikiranku, tiba-tiba aku bisa merasakan ada pedang yang mengancam leherku. Kurasa sosok ini sedang menyeringai sekarang.
Aku membalas, ku gunakan siku ini agar punya kesempatan menyerang lagi. Aku berbalik ingin menyerang. Namun lagi-lagi ia menghilang begitu saja.
SWUSH!
Ia ada di belakangku, namun saat ku berbalik ia tidak ada. Lagi-lagi dia ada di belakangku, aku berbalik, namun ia tidak juga terlihat. Sekarang ia berada di belakang, oh tidak di samping ah tidak di sampingku satunya ah tidak.
"Dia di sana," kali ini aku benar-benar yakin di sana, aku pun berbalik.
KLONTANG! KLONTANG!
Belatiku jatuh, aku tersudut dan terkunci di dinding. Dekat, sosok itu dekat sekali diriku. Aku berusaha memberontak dan mencoba meloloskan diri, namun tenanganya lebih kuat dari perkiraanku.
Ia perlahan mendekat ke arah telingaku dan berbisik, "Jangan coba-coba kau melapor, Nona cantik!"
Suara itu.. Suara itu... Aku berhenti memberontak karena sangat mengenali suara itu. Aku melirik sedikit untuk memastikan wajahnya. Namun di kegelapan seperti ini, aku hanya bisa melihat matanya yang menyala terang.
Ia perlahan mendekat ke wajahku, dekat, semakin dekat.
"NADIA!"
Mendadak ada yang memanggil namaku, kami berdua terkesiap. Sepertinya itu para sahabatku. Si sosok itu pun melepaskan kunciannya lalu berlari dan menghilang di antar batas cahaya di ujung kolong jembatan.
Aku tidak mau kehilangan jejaknya, jadi sebisa mungkin menyusulnya. Ia sudah menghilang. Yah sosok itu sangat ahli dalam menghilang rupanya. Aku pun berbalik, namun kurasakan sepatuku telah menginjak sesuatu. Pandanganku ku arahkan ke bawah, ku ambil benda yang telah kuinjak itu.
__ADS_1
"Bulu burung hantu... hitam?"
~TAMAT~