Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Vampir


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Ahh, darah yang segar dan manis," ia mengelap sisa darah di bibirnya. Sadar apa yang baru saja ia lakukan ia pun membulatkan mata, "Haaa! Apa yang baru saja kulakukan! Apa ku meminum darah? Darah bangkai itu! Hoekk! Hoekkkkk!" ia seakan ingin muntah.


"SIAPAPUN TOLONG AKU!"


 ----------------


Rio memerhatikan dari kejauhan, menatap tajam dua orang yang terlihat sangat dekat. Di dinginnya malam, kesembilan makhluk hidup ini berkumpul untuk menghangatkan diri di sekitar api unggun. Tak lama Fikram mendekati Rio.


"Ri, dari tadi ku perhatikan Nadia nempel Gamma mulu. Kalian lagi kenapa? Berantem kah?" tanyanya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu dia kenapa?" jawab Rio tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Mungkin Nadia sedang ada urusan penting dengan Gamma, jadi begitu," sahut Manda berpikir positif, ia memberikan buah Manda yang ranum kepada Fikram.


"Wow, mangga. Dari mana kau dapat ini, Mimo?"


"Tunggu-tunggu, Mimo?" Rio kebingungan mendengar panggilan yang dilontarkan Fikram kepada Manda.


"Oh, kau belum tau ya. Mimo itu panggilanku untuk Manda. Kalau kau mau tahu, mimo itu aku ambil dari nama ilmiah Mimosa pudica," terang Fikram


"Yang artinya putri malu," terang Manda, ia pun mendekat ke arah Fikram, menggandeng lengannya.


"Biar ku tebak kalian sudah jadian ya?" Dina muncul dengan tiba-tiba, mengagetkan semuanya.


"Astaga naga!" Fikram dan Manda memegangi dada tempat jantung yang hampir saja mau copot.


"Aaaa, benar ya? Kalian sudah jadian?" ucap Rio.


"Cieee, cieee akhirnya setelah sekian lama, Fikram," Dina menyenggol lengan Fikram.


Sepasang insan ini saling memalingkan wajah dengan pipi merah padam.


"Btw, di mana kalian dapat mangga itu?"


"Ibu Albert," jawab Manda.


"Kok aku ngga tahu?! Wah, ada mangga ngga bagi-bagi, parah kau Ibu Albert!" Dina langsung bangkit menghampiri orang tua Gamma untuk menangih mangga bagiannya.


Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat pencinta mangga itu.


Fikram menyenggol lengan Rio."Ri, aku dan Manda sudah. Kau dan Nadia kapan nih," ejeknya.


"Apa maksudmu?" kata Rio memandangnya datar.


"Aih, masa ngga ngerti. Maksudnya, seperti aku dan Fiki sekarang," Manda dan Fikram saling merangkul.


Rio tidak menjawab apapun, ia kemudian mengalihkan pandangan, dan ia melihat Nadia dan Gamma masih bersenda gurau.


  ----------------


Tap... Tap....

__ADS_1


Di malam hari yang sepi dan senyap Nadia berjalan sendirian menuju tempat peristirahatan ia dan teman-temannya. Entah dari mana ia.


SRAKKK! SETT!


Sesuatu menjatuhkan tubuhnya, menempelkannya pada tanah lalu mengambil belati di saku miliknya. Tangan dingin pun terasa sedang menekan kepala dan mengunci tangannya agar ia tidak bisa bangkit. Nadia menggeliat memberontak.


"Diam!" hardik sosok misterius. "Cepat kembalikan tubuhku!"


Nadia tersenyum miring, "Kembalikan? Aku tidak mengambil apapun darimu kok."


Sosok lelaki bertaring ini semakin kesal. "Kau tidak mau mengaku, hah!" ia menempelkan belati itu ke leher Nadia untuk mengancam.


"Hehe, lakukan saja apa yang mau kau lakukan kepadaku. Aku tidak masalah kok, tapi sebelum itu .... TOLONG! TOLONG!" mendadak ia menjerit minta tolong.


"Apa yang kau lakukan! Diamlah!" vampir ini kebingungan.


Drap... Drap....


"Ada apa ini?"


Cahaya terang menyinari mereka. Segerombolan orang datang dengan membawa obor sebagai alat penarangan. Dalam pandangan mereka, Nadia ditindas dan terancam nyawanya oleh makhluk berkulit pucat.


"Nadia/Nadi!"


Mereka semua terutama Rio dan Gamma kaget melihat Nadia yang terancam pisau di lehernya.


"Gamma, tolong!" rintihnya.


"Teman-teman, dia ini bukan Nadia, aku Nadia," kata vampir ini.


"Manda aku bukan vam-" ucapannya terhenti ia pun membatin. "Tunggu, aku kan punya taring, aagh ya sudahlah berarti aku memang ada di tubuh vampir T_T"


"Cepat lepaskan teman kami, atau kau dalam masalah," kata Rio.


Mereka berada pada posisi siaga siap menyerang.


"Eh-eh teman-teman percayalah aku Nadia yang sebenarnya. Rio, kita sudah pernah membicarakan ini kan? Ayolah percaya padaku," makhluk ini mencoba meyakinkan mereka terutama Rio.


Hal itu berhasil membuat Rio meragu.


"Hey, jangan berani-berani kau mencuci otak si Krucil ya!" tegas Gamma.


"Guys, seranggg!" Dina mengaba-abani.


"Tidak teman-temannnn! Percayalah aku ini Nadia!"


  ----------------


"Ihhh! Teman-teman ini aku Nadia. Tolonglah pecaya padaku," ia menggeliat berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang membelit tubuhnya di batang pohon maple besar.


"Teetttt! Tidak!" serempak mereka dengan wajah sangar.


"Jahatnya T_T"

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan pada Nadiku sehingga ia ketakutan begini hah!" kata Gamma.


Nadia kini sedang menempal ketakutan pada lengannya.


"Aku yakin dia hanya pura-pura ketakutan! Heh, siapapun kau! Cepat kembalikan tubuhku! Aku tidak mau berada di tubuh ini," ucapanya yang ditujukan untuk Nadia. "Ibu Albert kau juga ada di sana kan. Dia itu bagian dari perkumpulanmu, iya kan!? ayolah jelaskan semua ini dan kembalikan tubuhku!" katanya dengan nada meninggi.


"Sekarang kau berani berbicara pada ibuku dengan nada seperti itu," Gamma hendak maju memukulnya namun dicegah oleh Trigo dan Fikram.


"Maaf aku tidak mengerti apa maksudmu," ucap Ibu Albert dengan wajah datarnya.


"Kau jangan-!" vampir ini tidak berkata-kata, ia sangat geram saat ini.


"Jadi kita apakan dia?" tanya Fikram


"Bakar dia! lenyapkan dia dari negeri ini!"  Dina berkobar-kobar.


"Hey bukankah itu terlalu ekstrim?" kata Rio.


"Bakar dia!" sahut Gamma menyetujui.


"Bakar! Bakar dia! vampir harus di bakar!" Fikram dan Manda serempak.


Mereka pun menyalakan obor mereka masing-masing. Ibu Albert hanya melipat tangan di depan dada tanpa berekpresi sama sekali.


Melihat obor yang menyala dengan semangatnya, vampir ini ketakutan. "Wowowow, teman-teman tidak bisakah kita bicarakan ini secara baik-baik?" vampir ini mencoba bernegosiasi.


"Tidak, kau harus dibakar!" ucap Fikram.


"Bakar dia, bakar!"


Vampir dengan jiwa Nadia itu semakin ketakutan. Ia menelan salivanya dengan berat. Keringat kecemasan bercucuran membasahi wajahnya.


"Hoaammmm.." Ibu Albert menguap dengan keras untuk mendapat atensi mereka. "Hey, ini sudah malam. Kita hukum dia besok saja, apa kalian tidak lelah?" katanya.


Mereka berhenti.


"Besok? Apa kau bercanda?" Fikram menaikkan salah satu alisnya.


"Kenapa tidak sekarang saja? Apa dia tidak akan lari jika kita menunda sampai besok?" tanya Dina.


"Ya, lebih cepat lebih baik," timpal Manda.


"Sudah percaya saja padaku," melihat tatapan mereka, Ibu Albert pun mengerti mereka sama sekali tidak percaya perkataannya. "Haagh, ya sudah terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi kalian tidak tahu kan, vampir negeri ini tidak bisa dibakar. Ada cara tersendiri, kalian tidak tahu caranya kan...?" mereka menggeleng.


"Memang apa caranya?" tanya Dina.


"Ada deh~ Aku akan memberitahunya besok. Ah tapi paling kalian tidak percaya, ya sudahlah terserah kalian. Silahkan bakar saja vampir itu, bisa-bisa hanya talinya yang dibakar dan dia malah lolos, haha percuma sekali," Ibu Albert pergi meninggalkan mereka


"Eh tunggu, Ibu Alberta! Beritahu kami caranya!"


Mendengar perkataan Ibu Albert yang sangat meyakinkan, mereka pun percaya. Mereka menyusul Ibu Albert. Si vampir pun bernapas lega. Sebelum pergi Nadia yang masih setia menempel di lengan kekar Gamma melirik vampir itu dengan sunggingan senyum penuh kelicikan.


"Hehehe, selamat malam, Vampir ups maksudku Yang Terpilih~"

__ADS_1


Vampir itu terlihat geram. Ia mengepalkan tangannya kuat. "Kau...!"


Bersambung ....


__ADS_2