Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Bukan Marine


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"KALIAN TIDAK BISA LARI LAGI DARIKU!" sosok berjenis kelamin wanita itu menatap mereka dengan tatapan mengerikan. Apalagi dengan seringaian kecil di bibirnya, semakin memancarkan aura mengerikan.


SYUT!


"TIDAK!"


Wanita itu memunculkan gumpalan-gumpalan air, lalu membentuknya menyerupai tali untuk mengikat para manusia tersebut.


"Waktunya bermain," katanya.


Keenam manusia itu tertarik sesuai gerakan tangan Marine. Ia menerbangkan tubuh mereka melewati jendela yang terbuka, lalu menempatkannya tepat di atas halaman istana. Bisa dibilang ruangan itu cukup oh tidak, sangat tinggi jika diukur dari lantai terdasar ataupun halaman istana.


Belum sampai disitu, Marine menambah sensasi ekstrim dengan membalikkan posisi tubuh mereka. Dengan kepala berada di bawah dan sebaliknya. Bisa dibayangkan jika kita dalam posisi itu. Ngeri, ngilu, dan semua bulu kuduk berdiri seketika. Mungkin itulah yang akan kita rasakan.


Karena posisi tubuh yang terbalik, rambut mereka berserta akseroris yang tidak menempel dengan kuat dan hanya mengandalkan gravitasi bumi saja pasti jatuh ke bawah. Seperti topi warna merah kesayangan Dina. Benda itu dengan mudahnya jatuh ke bawah. Yah, mau bagaimana lagi, tangan mereka terikat jadi tidak bisa menahan benda kesayangannya untuk jatuh jauh ke bawah.


"Haduh, aku pusing" keluh Manda, sepertinya tergantung-gantung dengan posisi terbalik membuatnya seperti berputar-putar.


"Topiku...." Pasrah Dina yang akhirnya harus merelakan topi kesayangannya itu. "Nguhuhu, topi diskonanku yang berharga," batinnya menangis.


"Ibu!" pekik Fikram khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Marine.


Marine menoleh, "Oh, kau belum ke alam baka rupanya. Mari aku bantu," ia membalikkan tubuhnya.


Fikram yang mendengarnya membulatkan mata. Lagi-lagi Marine membentuk tali untuk mengikat Fikram. Ia memerintahkan Siera untuk memberikan jarum suntik berisi cairan itu kepadanya. Siera menurut. Setelah ia menerimanya, ia membongkar suntikan itu lalu menuangkan cairan tersebut ke gelas besar dan mengisinya dengan air. Kini penuhlah gelas itu dengan cairan berwarna kuning mengkilap.


"Sepertinya dosis yang kuberikan padamu kurang ya? Kalau begitu ... MINUMLAH!" ia memaksa Fikram meminumnya.


"Tid- mmmmph!" Marine sudah meminumkan secara paksa cairan itu ke mulut Fikram.


GLEK! GLEK!


"Ibu, sebenarnya apa itu? Kenapa kau selal- AGH!" Fikram meringkuk kesakitan ke tanah sembari memegangi kepalanya. Marine melepas ikatannya, ia tersenyum puas.


"Ooh, bertahanlah sedikit, Finn. Setidaknya sampai pelantikan adikmu," kata Marine.


"Apa?" Manda kebingungan.


"Pelantikan apa?" Nadia juga kebingungan.


"Pelantikan ratu baru," kata Marine, tersenyum pada Siera.


Siera membalas senyuman itu dengan senyum yang sama


"Baiklah kita mulai saja pembukaannya ya," ucap Marine lagi.


"Sudah dimulai? Aku tidak melihat ada tamu di sini atau ini pesta pelantikan pribadi?" kata Gamma.


"Ckckck, tenang saja, rakyatku pasti melihat ini. Apalagi sudah lama mereka tidak melihat pengorbanan enam manusia sekaligus, Buahahaha!"


Hal itu membuat mereka bergidik ngeri.


"Haah, hanya ketinggian seperti ini? Bahkan aku pernah lebih ekstrim," kata Dina meremehkan.


"Benarkah? Kami tidak tahu itu?" Kompak Manda, Nadia dan Rio.


"Diamlah, aku hanya mengulur waktu supaya kita lebih lama menghirup udara," bisiknya.


"Hahaha, belum cukup ektrim ya? Baiklah ...," ia seperti merencanakan sesuatu. "BAGAIMANA KALAU INI!"


Halaman dibawah mereka membelah secara sendirinya dan terbentuklah sebuah lubang sempit yang cukup dalam.


"Jangan anggap remeh, di bawah sana ada besi-besi runcing yang akan langsung menusuk kalian dengan tajam dan dalam!" Marine menakut-nakuti.


Hal itu membuat Dina mendapat tatapan tajam dari teman-temannya.


"Ups, hehe ya ya baiklah, ini salahku." Dina menyengir kuda.


"Hemm, ini sudah waktunya ...."


"Waktu ap- AAAA!"


Marine dengan mudahnya melepas ikatan mereka. Alhasil, mereka langsung terjun bebas menuju lubang kematian itu.


Yah, kalian tahu apa ekspresi dan perasaan yang mereka semua rasakan saat ini bukan. Takut, tegang, dan berdebar! Ya, itulah yang dirasakan mereka saat ini. Mereka terus meluapkan ketakutannya dengan berteriak. Namun anehnya, Ibu Albert tetap diam, mungkin ia berteriak tapi dalam hatinya yang terdalam.


"Selamat tinggal dunia," kata Gamma pasrah.


"Hey-hey, lakukan sesuatu!" seru Dina.


"Ibu Albert, apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" tanya Nadia.


Ibu Albert nampak berpikir, "Mungkin tidak ada," katanya dengan begitu santai tanpa ada rasa berdosa.


"Apa?!"


"AAAAA!"

__ADS_1


----------------


"Apa yang kau lakukan!" geram Fikram pada ibunya.


"Kau masih bisa bertahan rupanya. Aku mengirim para temanmu ke neraka. Kenapa? Kau mau melawan?" tantang Marine.


Fikram terkejut mendengar perubahan sikap ibunya.


"Ibu kau- UHUK!" ia terbatuk.


"Ayolah, Finn. Lihat tubuhmu ... penuh luka dan tidak berdaya. Sebaiknya kau diam, duduk manis, dan menonton saja ya?" kata Marine meremehkan.


"Ibu, kenapa Ibu jadi seperti ini? Siera apa semua ini? Uhuk!"


"Hahaha, Finn. Kau itu bodoh atau naif? Kami hanya mau mengambil kristal itu darimu tidak lebih," kata Marine blak-blakan.


"Lebih tepatnya, kami hanya memanfaatkanmu saja," kata Siera penuh penekanan pada kata 'memanfaatkan'.


"Tapi Ibu bilang-"


"Oh, Ayolah kau percaya pada dongeng yang aku buat, hemm? Ckckck!" Marine memotong.


"Apa yang..." Fikram tidak percaya akan semua ini, orang yang ia percayai ternyata hanya memanfaatkannya saja. "J... j... jadi benar kata Manda... Nadia.. para sahabatku...," Fikram menunduk merenungi apa yang telah ia sia-siakan.


"Terlambat! Tidak akan ada yang menolongmu lagi, Anakku" ia mendekat.


"K... kau bercanda'kan Ibu? ini hanya mimpi, kan? Katakan ini hanya mimpi, Bu!" sangkal Fikram.


Marine menghentikan langkahnya, "Tentu, ini hanya mimpi. MIMPI TERBURUKMU!"


Ia kembali mengikat Fikram dan mengangkatnya. Fikram tersentak, lalu ia memberontak.


"Ya memang sulit membunuh keturunan suku-ku langsung tanpa menggunakan bubuk emas itu, tapi... melihat kondisimu ...," ia menjeda. "Aku bisa mengubahnya!" Ia mengubah gumpalan air menjadi pisau yang tajam dan mengarahkannya ke arah Fikram layaknya ingin menusuk.


Ia melancarkan aksinya, melesatkan cepat pisau itu ke arah Fikram.


Tetapi, tiba-tiba ....


"Berhenti!"


Marine menoleh ingin tahu siapa yang telah mengganggunya. Netra birunya menangkap ujung belati sudah di hadapkan ke arahnya, ya siapa lagi kalau bukan NADIA.


"Hmmh, kalian ... seharusnya aku tidak terkejut," ucap Marine.


Dina turun dari elang yang terbuat dari akar tanaman hijau itu, disusul Manda, Gamma dan terakhir Ibu Albert. Elang itu hilang dengan sendirinya. Bukannya takut, Marine justru tersenyum senang seperti menemukan apa yang ia cari selama ini.


"Sudah kuduga itu kau, Dry" batin Marine.


~FLASHBACK~


"AAAAA!" sebentar lagi mereka akan menjadi sate manusia yang tertancap di besi-besi runcing itu.


Namun ....


Merasa tidak terjadi apa-apa pada mereka, Nadia membuka matanya. Ia melihat ujung besi runcing itu, satu sentimeter lagi saja besi itu sudah menembus kepalanya. Ia pun merasa kebingungan dengan apa yang terjadi. Kenapa dan bagaimana?


Nadia menoleh ke arah samping, terlihat Dina, Manda, dan Gamma terlihat kebingungan juga sama sepertinya.


Gyut ....


"AAAA!" tubuh mereka tertarik ke atas.


Set!


Secara serempak mereka didaratkan di atas benda yang nampak sedang mengepakkan sayapnya.


"Apa! ini?" bingung Manda.


"Darimana datangnya benda ini?" tanya Nadia.


Ibu Albert yang duduk terdepan atau bisa dibilang pangkal leher benda seperti hewan elang itu menjawab, "Pegangan," katanya singkat.


"Apa? Memangnya kenapa kami har- Huwaa!"


Belum selesai menyelesaikan dialognya benda itu sudah melesat cepat ke atas.


"Apakah ini ...." Nadia menatap punggung Ibu Albert. "buatannya?"


~FLASBACK END~


"Lepaskan Fikram sekarang juga," kata Nadia.


Marine menoleh ke arah sang putri berdiri, Siera juga telah di kunci pergerakannya oleh Rio menggunakan tongkat. Ia kemudian menatap kembali netra gadis dewasa di belakangnya.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Marine.


"Kau!" Nadia geram.


Marine mengambil pisau dari tubuh belakangnya secara diam-diam dan menyerang Nadia dengan cepat. Bersamaan dengan itu Marine melepaskan ikatannya, alhasil Fikram pun jatuh ke tanah. Sementara, Nadia tampak terkejut.

__ADS_1


"Hemm, ibu-ibu ini bisa menggunakan pisau juga- aduh!" Gamma merasakan ada yang menjitak kepalanya.


"Cepat bantu dia," Ibu Albert berkacak pinggang. "kau juga bantu dia jangan diam mematung saja," kata Ibu Albert berbalik menjitak kepala Dina.


"Aduh! Iya-iya" Gamma dan Dina serempak mengelus-elus kepala mereka.


"Tim yang kurang tanggap!" batin Ibu Albert.


Nadia mundur beberapa langkah dengan cepat untuk menghindari serangan Marine. Marine mengambil satu pisau lagi di tubuh bagian belakangnya. Kini ia menggunakan dua pisau untuk menyerangnya.


SYUT!


Biji karet dan panah kecil kini tengah melesat bersamaan ke arah Marine. Bukannya menghindar, Marine justru memilih untuk diam dan mundur satu langkah.


PLETAK!


Biji karet dan panah mereka saling bertubrukan sehingga lemparan mereka pun gagal.


"Heeh! Engkau!" geram mereka.


"Ini semua salahmu!" Gamma dan Dina saling menyalahkan, Mereka saling menatap. Jika di gambarkan terdapat perempatan berwarna merah di atas kepala mereka.


"Ya ampun," Ibu Albert menepuk dahinya.


Marine menyerang Nadia dengan lihai. Ia menyerang dengan gerakan menusuk kepala Nadia namun masih bisa dihindari olehnya. Marine terus menyerang dan Nadia menghindar. Lelah terus menghindar, Nadia mencari celah.


Ia menyerang kepala Marine dengan cepat. Tentu saja Marine merendah hingga ia berada pada posisi jongkok saat itu. Kemudian, ia mengayunkan salah satu pisau yang ia pegang, menebas kaki Nadia untuk menjatuhkannya. Namun, untunglah hal itu masih bisa dihindari Nadia.


Nadia melompat memposisikan kaki bagian bawahnya berdekatan dengan tangan kirinya sehingga ia bisa meraih satu belati miliknya lagi. Setelah ia dapat meraihnya, ia melesatkan belati itu ke arah Marine. Marine sedikit terkejut, namun dengan cepat ia menghindarinya dengan memutar tubuhnya ke samping kanan membiarkan si belati melewatinya.


Nadia mengambil kesempatan itu. Ia mengambil tangan kiri Marine lalu memposisikannya di belakang badan, memutar tubuhnya, lalu menekannya sehingga ia berada pada posisi tengkurap dengan kedua tangan di belakang. Nadia berjongkok, mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar sepatah kata dari wanita itu dengan jelas.


"Kau sudah kalah, Ratu" kata Nadia.


"Ampun, baiklah aku mengaku kalah. Tolong lepaskan aku, jangan sakiti aku ... pffft!" Ia malah tertawa. "Kau mau mendengar itu dariku?" sindirnya melirik dari ekor mata. "Haha, mungkin bukan aku yang kalah, tapi kau."


Nadia terkejut.


"Apa kau belum mengerti, baiklah aku beritahu kau. Ratu tidak bisa menggunakan pisau saat bertarung," ujarnya.


"Apa! Kau!"


"Ada apa, Nona?" Marine menyeringai.


Mata Nadia membola saat melihat sosok di depannya bukan lagi Marine. Sosok ibu-ibu itu berubah menjadi seorang laki-laki yang menempatkan posisi panglima di kerajaan itu.


Ternyata dia adalah Rendi. Tiba-tiba ia berubah menjadi debu dan menghilang, begitu pula dengan Siera.


Sontak, Nadia dan Rio bingung kemana perginya mereka. Ibu Albert, Dina, Gamma, dan Manda menghampiri mereka. Sebelumnya, Nadia sudah membantu Fikram berdiri.


"BUAHAHAHA! Aku mendapatkannya!"


Indra pendengaran mereka menangkap gelombang suara di depan salah satu jendela yang terbuka di ruangan itu. Mereka pun terkejut saat melihat itu adalah Marine.


"Apa itu Ratu Marine?" bingung Nadia menyipitkan matanya.


"Itu Ibu ... sedang apa dia? Uhuk! Uhuk!" Fikram bertanya-tanya.


Manda memegangi Fikram yang hampir saja terjatuh. Fikram menoleh, ia mendapati Manda sedang tersenyum padanya. Hatinya seakan berbunga-bunga saat itu juga. Ia pun membalas dengan senyuman tipis.


"HAHAHA!"


CLING! WUSH!


Sinar terang dan angin kencang tiba-tiba saja datang dan menyilaukan pandangan mereka. Ketujuh manusia itu menempatkan kedua telapak tangannya di depan wajah untuk menghalangi sinar dan angin menerpa wajah mereka.


"BUAHAHAHA! Aku mendapatkannya!"


CLING!


Bersamaan dengan hilangnya cahaya silau dan angin kencang tersebut, si sosok yang di perkiraan adalah Marine pun ikut menghilang. Ketujuh manusia itu celingukan mencari-carinya.


Wushh!


Ada sosok hitam terbang dengan cepat ke sana kemari. Mereka tidak bisa melihat wujud sosok itu saking cepatnya. Mereka bersikap siaga seraya memerhatikan sosok yang seakan meneror mereka.


Seiring dengan gerakan sosok itu, lingkungan sekitar mereka perlahan berubah 180 derajat. Ruangan yang semula mewah dan berkesan modern khas kerajaan itu berubah menjadi tiang-tiang saka berwarna putih bersih dengan corak ukiran seperti zaman Yunani kuno. Tanpa atap dengan latar berlantai granit berwarna abu-abu.


Tidak mempunyai dinding, hanya terlihat birunya air dan ikan-ikan yang lalu lalang sesekali. Semua tampak berbeda kecuali singgasana berdominasi warna emas itu, ia tidak berubah sedikitpun.


"HAHAHAHA! SELAMAT DATANG MAKHLUK LEMAH!"


Terdengar suara dari arah belakang. Mereka menoleh ke sumber suara.


"Apa kalian merindukanku?" sosok yang terduduk di singgasananya itu tersenyum miring.


"Ibu... kenapa dia ...," batin Fikram terkejut.


"BUAHAHAHA!"

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2