Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Kesaksian Buku Resyana


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Dia mengambil buku Resyana dan membukanya. "Ini, Lihat dan amati baik-baik!" menunjukannya pada Marine.


FLASHBACK


"Siera, kau! Awas kau ya!"


"Huwaa, kabur! Ada kakak ngamuk!"


Siera pun ngacir menghindari sang kakak yang sedang murka besar karenanya. Adegan kejar-kejaran pun tidak dapat terelakkan. Beruntung, Siera melihat Marine yang sedang melintas, ini menjadi kesempatannya berlindung. Iapun berhambur ke arah ibunya.


"Mamah!" pekiknya, Marine kaget.


Siera bergerak ke belakang Marine seperti kata pepatah 'Berlindung di Sebalik Punggung'.


"Eh, eh! Apa-apaan ini!" Marine terkejut.


"Siera kemari kamu!" Fikram mengancam Siera.


"Wlee!" ejek Siera menjulurkan lidahnya.


"Siera!" geram Fikram.


"Heh, heh! Sudah jangan bertengkar, baru berapa hari tinggal bareng dah begini gimana seterusnya, aduh" Marine memijat pelipisnya.


"Siera tuh, Bu" Fikram mengadu.


"Lah kok aku? Kakak aja yang ngga mau ngalah, jelas banget aku menang tadi," ucap Siera dengan bangganya.


"Siera!" hal itu semakin membuat Fikram gemas.


"Hust! Sudah-sudah. Finn, lebih baik kamu latihan sekarang. Rendi sudah menunggumu di sana, sekarang jadwalmu, kan?" Marine melerai.


"Tapi, Bu...." rengek Fikram.


"Finn\~" Marine melayangkan pelototan halusnya.


"Hah! Emm... iya-iya, Finn berangkat" dengan berat hati Fikram pergi melasanakan perintah sang Ibu. "Awas kamu, Siera!" ancamnya sebelum pergi.


"Wleee! Ngga takut," ejek Siera.


"Ih, kamu!" Fikram berbalik, ingin memberi Siera satu cubitan yang sangat keras, namun lagi-lagi dicegah Marine.


"Finn, belum berangkat juga?" Marine menatapnya.


"Hah! Iya-iya, Bu. Finn berangkat!" Fikram langsung ngacir, takut terjadi hal yang tidak ia inginkan, apalagi nada bicara ibunya yang terkesan sedikit mengancam.


"Haha, untung ada Mamah" tawa Siera pecah dengan sendirinya.


"Wah, ada yang senang punya kakak nih," goda Marine.


"Hah! Tidak, Siera tidak ...." Siera mengalihkan pandangannya.


"Tidak apa, Mamah tahu kok. Tapi ingat! Jangan lupakan rencana kita, Siera" Marine berbalik, membelakangi Siera dengan raut wajah serius.


"Mamah, Mamah. Tenang saja, aku tidak akan lupa dengan alasan kita menerima putra kesayangan ayah berserta teman-temannya yang payah itu," ujar Siera memegang lembut bahu Marine.


"Omong-omong, Mamah sudah dapatkan kristal itu?" tanyanya kembali.


Marine menggeleng, "Tapi tenang saja, sebentar lagi kristal itu akan menjadi milik kita, HAHAHA!" tawanya penuh percaya diri. "Dan setelah kita dapat kristal itu, kita tidak membutuhkan Kakak b*dohmu itu lagi," sambungnya.


"Hahaha! Tapi, Mah bagaimana Mamah sangat yakin? Bagaimana jika ada yang mengacaukan rencana kita?" tanya Siera.


"Tenanglah, Anakku. Kakakmu itu sama seperti ayahmu, B*DOH! Percayalah, dia akan lebih memilih keluarga yang tidak pernah ia kenal dan temui daripada apapun, bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun" kata Marine tersenyum licik. "Kalaupun ia tidak melakukannya maka-"


Siera menyela, "Maka kita yang akan membuatnya melakukan apapun untuk kita, BUAHAHA!" tawa jahat Siera.


"Pintar anak Mamah," Marine ikut tertawa jahat bersamanya.

__ADS_1


"Ayah, buatlah pesta penyambutan untuk putra kesayanganmu itu karena dia akan segera berkunjung, BUAHAHA!"


\~Skip\~


ZRING!


"Tidak akan aku biarkan kau melakukan hal licik itu, Perempuan Licik!" Manda menarik Marine dan mengarahkan mata pisau dapur yang tajam ke leher Marine.


"F ... F ... Finn ...." rintih Marine gemetar.


"Manda! A ... apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" panik Fikram melihat aksi Manda.


"Tidak! Dia harus mau mengatakan yang sebenarnya dulu! Aku tidak akan membiarkan dia memanfaatkanmu, Fikram" kata Manda tegas.


"Memanfaatkan?" bingung Fikram dengan apa yang Manda katakan.


"Ya memanfaatkan, dia memanfaatkanmu! Percayalah, Fi. Wanita Licik ini memperdayamu!"


Tiba-tiba netra Marine melihat sosok yang ternyata adalah sang putri, Siera. Iapun menggunakan kontak mata untuk berkomunikasi dengannya.


"Mah, ini... haah, dia!" Siera ingin menyerang Manda saat itu juga, namun Marine melarang.


"Jangan Siera!"


"Kenapa, Mah? Dia bisa mengacaukan segalanya!"


"Tenanglah, lakukan saja sesuai rencana kita," perintah Marine.


"Tapi Mah,"


"Siera\~"


Siera tak bisa menolak, iapun menurut dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul.


"Itu kenyataannya Fikram! Aku sahabatmu, aku juga tidak akan tega membohongimu!"


"Ibu, apakah...." Fikram mulai ragu.


"Ini saatnya," batin Siera mantap.


"Itu tidak mungkin, Kak! Jangan percaya dia!" akhirnya Siera pun muncul melancarkan aksinya, memengaruhi sang kakak.


.


.


"Beri dia hukuman yang pantas, penjarakan di penjara terburuk bila perlu," kata Fikram dingin.


"Tidak Fikram! Mereka hanya memanfaatkanmu! Percayalah!"


Marine melirik ke arah Siera. Mereka saling melirik dan melempar senyum kemenangan.


"Benarkan kata Mamah?"


.


.


"Hemm, aku jadi ingin tau. Bagaimana kau keluar dari penjara? Ah, apakah kau tersesat? Tidak sengaja dikeluarkan?" tanya Fikram. "Kau pasti sangat rindu berada di sana, kan? Kalau begitu ...."


Ia menyeringai, "Mari, aku antar" Fikram mendekatkan wajahnya ke wajah Manda, mengikis jarak di sana.


"Mmmmm!"


Tanpa basa-basi lagi, Fikram menurunkan Manda dan menyeretnya keluar ruangan.


"Ckckck, usaha yang bagus, Gadis Manis" terlihat senyum kemenangan terukir di bibir Marine.


FLASHBACK END

__ADS_1


BUK!


"Kau lihat! Kau sudah lihat 'kan sekarang!" Nadia menutup buku Resnyana dengan kuat.


Gambar-gambar di setiap halaman bergerak dan bersuara seperti rentetan film itu berhenti ketika Nadia menutup buku tersebut.


"Masih mau mengelak?" Dina melipat tangannya.


"Buku itu! Seharusnya aku menyuruh Finn mengambil buku itu juga, ingin sekali aku menghancurkannya sekarang juga!" geram Marine dalam hati.


"Fikram, kau lihat 'kan tadi. Selama ini Manda itu benar, dialah yang seharusnya dihukum!" kata Nadia pada Fikram yang masih duduk dan menunduk.


"Ya, Fikram. Memang seharusnya wanita ini yang dihukum, sekalian itu... adikmu atau apalah si Siera itu!" Dina menimpali.


Fikram tetap bergeming. Tanpa merespon sedikitpun, ia tetap menunduk. Melihat hal itu Marine melihat kesempatan.


"Mulai bereaksi ya. Hemm, seperti aku harus mempercepat ini!" batinnya.


"Fikram, Fikram. Haloo, kau dengar aku at-"


Belum sempat Dina menyelesaikan kalimatnya, mendadak Marine menyela.


"Finn, Finn." Marine berhambur mendekati Fikram dan bersimpuh di sampingnya. "Ibu tidak melakukan itu, Finn. Percayalah, lagipula jika Ibu melakukan itu, itu demi kebaikanmu, Finn. Begitu juga dengan Siera yang ingin kakaknya baik-baik saja." Marine memprovokasi.


"Finn, percayalah. Ibu, Ibu memang menginginkan kristal itu, ya Ibu menginginkannya," ucapnya. "Ibu ingin kristal itu keluar dari tubuhmu, sudah hanya itu. Apa itu salah?"


"Cih! Dasar tukang akting," Ibu Albert memutar bola matanya jengah.


Ia berjalan menghampiri Marine.


Tap ... tap ... tap ....


"Heh!" Ibu Albert menarik lengan Marine dan memaksanya untuk bangkit. "Bangun!" kerasnya.


Marine pun bangkit karena lengannya tertarik.


PLAK!


Satu tamparan keras berhasil mendarat sempurna di pipi kanan Marine. Marine memegang pipinya yang memanas akibat tamparan Ibu Albert.


"Cukup! Sudah cukup kau banyak bersandiwara, menangis, mengoceh ini, mengoceh itu bla bla bla, terserah!" geram Ibu Albert.


"Aku sarankan kau mengaku dan tunjukkan wujudmu yang sebenarnya sekarang juga, atau ...." ancam Ibu Albert.


"Atau apa, hah!" Marine malah menantang.


Dengan geram Ibu Albert menarik lengan Marine hingga mendekat ke arahnya. "Atau aku akan membuat takdir kematianmu lebih buruk dari sebelumnya." Ucap Ibu Albert mencengkram kuat lengan Marine.


Marine meringis kesakitan, "Apa! Siapa dia sebenarnya?" pikir Marine bertanya-tanya.


HUH!


Ibu Albert melempar Marine begitu saja, sehingga tubuh Marine jatuh tersungkur ke tanah.


KRETAK! PRANG!


Tangan Fikram mengepal kuat, rantai yang mengikat dirinya di kursi pun hancur dengan sendirinya.


HAP!


Beruntung sebelum Marine benar-benar menyentuh lantai, Fikram sempat menangkapnya.


"Fikram!" kaget mereka melihat Fikram menangkap Marine.


"Nak, hiks... hiks" isak tangis Marine mendongak ke arah Fikram yang masih menunduk.


"BERANINYA KAU!" Fikram akhirnya mendongak, menatap tajam ke arah Ibu Albert. Tatapan amarah dan kebencian tergambar jelas disana.


Ibu Albert sedikit bergidik dan terperanjat. "Ini kekuatan kristal itu!" batinnya melihat aura kekuatan kuat terpancar dari diri Fikram.

__ADS_1


Diam-diam Marine tersenyum penuh kemenangan. "Ini pasti akan seru," batinnya.


Bersambung ....


__ADS_2