
EPISODE SEBELUMNYA
"Ooo, kau mau tahu kehebatanku? Mari akan ku tunjukan," tantang Kakek San.
"Siapa takut."
"Pak Jamet jualan tomet yang beli harus hormet!" Kakek San mengucapkan jurus andalannya.
"Mak ijah pakai baju rombeng, hom pim pa alaium gambreng!" Penasehat Slys juga tak mau kalah.
HIAAAAA!
Mereka saling menyerang.
"Haha, gue dapet enam. Asikkk dapet tangga." senang Menteri Slys.
"Ceh, jangan sombong dulu, Ferguso!" balas Kakek San.
Apa yang mereka mainkan?
"Udah tua mainnya ular tangga," Rio dan Manda menatap datar dua orang yang sudah sepuh malah bermain ular tangga.
"Sihirnya terbuang percuma," kata Manda.
PLETAKK!
Dengan jitakan super dari Ibu Albeert Menteri Slys langsung saja tepar. Pohon mangga yang ada di sebelahnya pun mengikatnya untuk berjaga agar tidak kabur.
"Lihat, dengan begitu saja mudah, kenapa kau malah main permainan itu!" marahnya pada Kakek San.
"Sssst! Albert tanggung, bentar lagi aku menang," kata Kakek San malah tak menghiraukan Ibu Albert.
Ibu Albert geram, "Berhentilah bermain itu kalau kau tidak mau kena jitak!"
"Ampunnn!"
---------------
Drap! Drap!
Semua musuh telah habis, kini tinggal Nadia melakukan tugasnya. Menghabisi Raja Basilia, mencegah ia melkakukan hal yang tidak diinginkan.
Dekat, semakin dekat ia dengan Raja yang sedari tadi fokus melancarkan aksinya.
"ini saatnya!" tekadnya dalam hati. "HIAAAAA!"
Nadia melompat dan mengangkat belatinya tinggi-tinggi.
Seakan sudah tahu Nadia akan menyerang, menteri itu berucap keras. "Lindungilah Rajamu ini para pasukanku!"
SETT! ZUUUUUNG!
"Agh!"
Serangan Nadia digagalkan oleh pasukan nyamuk yang tiba-tiba saja menangkisnya dengan brutal. Nadia pun jatuh ke lantai jauh dari Raja Basilia berada. Raja itu pun kembali melakukan ritualnya.
Nadia bangkit, "Dasar," ia memegangi luka diperutnya yang masih terasa nyeri, menatap tajam ke arah Raja Basilia dan berniat menyerangnya. Ia bersiap, "Tak akan ku biarkan kau!"
ZUUUUNG! BZTS!
Kelompok itu mengepung Nadia seakan tau niatnya ingin menyerang Rajanya kembali. Nadia terkepung.
"Nadia dalam masalah, ayo bantu dia!" kata Rio.
"Benar, ayo!"
AUUUUU!
__ADS_1
Atensi mereka beralih pada sumber suara. Sepertinya tidak hanya pasukan nyamuk itu.
"Kita kedatangan tamu lagi rupanya," kata Putri Maple.
"Pohon dan kabut itu tidak mempan untuknya ternyata, jumlah mereka terlalu banyak,"
SYUTT!
Trigo dan Putri Maple mencoba menahan para srigala itu. Sesekali mereka bertarung karena ada serigala yang melewati.
"Sudah cukup, aku beristirahat! GUAAAAR!" Medusa kini menambah kekuataannya, ia berubah menjadi ular besar berkepala tuga dengan matanya yang berwarna merah.
Rio dan yang lain pun terkesiap.
"Oh tidak bagaimana ini!" panik Manda.
"Hehehe, aku akan membantu Yang terpilih saja deh, hehehe," HEHEHE langsung berubah menjadi sekumpulan nyamuk dan terbang menuju posisi Nadia untuk membantunya.
"HEHEHE, aku ikut denganmu!" kata Rio namun langsung di hentikan oleh Ibu Albert.
"Tidak, Nak. Kau membantu kami di sini melawan para serigala ganas itu," Hal itu membuat Rio agak khawatir terhadap Nadia. "Gamma dan kau kalian akan jadi tim jarak jauh, lindungi kami dan tembak jika ada kesempatan" Ibu Albert menunjuk pada Gamma dan Dina.
"Haah, berpasangan dengan bocah lamban ini lagi," Dina langsung saja pergi.
"Hey!" Gamma tak terima dirinya dipanggil Bocah lamban.
"Pangeran Finn Nak Manda ikut aku, kita lawan Medusa jelek itu," jelas Ibu Albert. "Penyihir tua kau bantu Vampirmu itu menyelamatkan Putri Nadi, bergerak sekarang!" komandonya.
Mereka mengangguk dan segera melaksanakan perintah Ibu Albert.
BZTTS! BZTTS! ZUUUNG! ZUUUNG!
Nadia berkali-kali diserang kawanan nyamuk ini dan tetap mencoba bertahan. Ia tidak bisa kabur karena kawanan nyamuk mengepungnya.
ZRINGG!
"Hehehe, biar saya membantu anda, Tuan Putri," ia mengulurkan tangannya dengan sopan.
Namun Nadia nampaknya enggan menyambutnya, "Enggg... maaf saya agak trauma sama kamu."
HEHEHE menatap datar Nadia, "Hehehe," tawanya hambar.
SUIT! SUIT!
Ia pun bersiul keras. terdengarlah sekerumunan nyamuk datang lagi.
ZRUUUUNG!
"Kau malah memanggil kawanan mereka apa yang kau-"
Zringg!
Ia mengibarkan jubahnya menutupi Nadia, ia dan nadia pun berubah menjadi sekelompok nyamuk dan menghilang dalam sekejap.
Mereka mendarat di tempat lain.
"Kenapa kau malah menambah- eh aku pindah tempat," bingung Nadia.
"Hehehe, perhatikan kawanan nyamuk itu baik-baik, Tuan Putri," HEHEHE menunjuk ke kelompok itu.
Nadia mencermati dengan teliti, benar saja. Ada perbedaan antar kedua kelompok nyamuk tersebut, mereka juga saling beradu dan saling menghabisi. Namun, Tenyata kelompok nyamuk milik Raja Basilian ini tak bisa dianggap enteng, mereka sangat pintar. Sebagian dari mereka berpencar dan mengarah menyerang pada Nadia dan HEHEHE.
Mereka terkesiap namun dengan cepat Nadia bersikap siaga, meskipun rasa nyeri masih melandanya.
"Jangan ganggu pelindung kami, nyamuk pembawa penyakit!"
CLINGGG!
__ADS_1
Beruntunglah Kakek San cepat membuat sebuah perisai sihir yang menahan dan menangkis serangan para nyamuk itu.
"Ha, terimakasih kembali," ia mengedipkan satu matanya.
Nadia dan HEHEHE menatap datar pria tua ini.
PRIIIIIIIT!
Nadia, si Vampir, dan Kakek San reflek menutup telinganya. Melihat para pasukan nyamuk, para nyamuk itu seketika terkapar di tanah.
"Heh, berhenti!" Ibu Albert membanting peluit yang berada di pita Manda. "Aku memerintahmu untuk meniup peluit agar hewan-hewan ini mati, bukan kita semua mati!! tegasnya.
"Ya, maaf. Aku belum terbiasa dengan peluit ini," sesal Manda.
"Kan kau sudah di suruh latihan... Aaa~ kau tidak latihan ya," Ibu Albert beranjak menjewer keras Manda.
"Aw, sakit Ibu Albert," aduh Manda.
Melihat masa depannya kesakitan, Fikram bertindak.
"Ibu Albert lepaskan dia, yang salah itu aku. Aku yang menyuruhnya tidak latihan."
"Ooo, begitu. Jadi kau yang menyuruhnya siapa yang menyuruhmu hah!" Ibu Albert juga menjewer Fikram.
"Aduh, aduh. Iya, Iya tapi lepaskan Mimoku,"
"Algaku," Manda terhura dengan tindakan Fikram.
"Tidak apa, Mimo," balas Fikram dengan senyuman di bibirnya.
Ibu Albert memperkuat jewerannya. "Bagus ya pacaran terooos, suruh latihan bolooss terus!" ia terus saja memperkuat jewerannya.
Sementara yang lain memandang ngeri, "Wuw, super."
GRUUUUUGH! JEDEERR!
"Para Rakyatku! Di darat, langit, maupun air. Kuperintahkan kekuatan hitam membimbing kalian untuk sampai padaku!"
GRUUUUUGH! JEDEEERRR!
Gerhana matahari cincin kini sepenuhnya terjadi, kekuatan hitam pun mulai menyelimuti seluruh wilayah negeri. Angin juga bertiup sangat kencang. Terlihat gemuruh dari kejauhan, itu adalah para makhluk yang datang karena pengaruh mantra sesat Raja Basilia.
"Oh tidak, kita terlambat," kata Kakek San.
"HAHAHAHA, HAHAHAHAHA! Aku merasakannya! Aku merasakan kekuatan dasyat itu!" Seketika para krital itu mengelilinya seakan memberi kekuatan pada Raja Basilia.
Melihat Para kristal itu mengapung bebas, Nadia melihat kesempatan untuk menghentikan semua kegilaan ini sebelum kekuatan itu semakin kuat.
Dengan segala nyeri yang ia tahan, ia langsung saja berlari menuju Raja Basilia.
"Eh, Tuan Putri Apa yang kau lakukan!?" Kakek San mencoba mencegat.
Mendengar kegaduhan Rio menilik dan melihat Nadia yang larinya sambil memegangi luka di perutmya.
"Dengan luka seperti itu ia masih saja dipaksa berlari," gumamnya.
KRAUK!
"Agh!" ia lengah, sehingga satu gigitan serigala berhasil membekas di lengan atasnya. "Kau...!" ia pun bangkit dan kembali melawan para kelompok serigala.
Drap! Drap!
Nadia semakin mendekati Raja Basilia yanpa hambatan. Ia bersiap mengeluarkan belatinya untuk berjaga-jaga.
"Sedikit lagi! Sedikit lagi!"
Bersambung ....
__ADS_1