Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Tantangan Kedua


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Melihat sikap Fikram itu, kuda yang menggigit tangan Fikram meringkik penuh kemenangan. Sementara, Siera hanya bisa bertukar pandang dengan kuda hitamnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Tap ... tap ... tap ....


"Hoy! Ini mau sampai kapan kita berjalan?" tanya Dina yang sudah kelelahan.


"Hihihi, sebentar lagi juga sampe," jawab HIHIHI dari arah depan.


"Kapan? Aku udah capek nih!" kata Manda.


"Aku juga," kata Dina.


"Apa capek!" HIHIHI menghentikan langkahnya yang tidak menapak dan berbalik. "Kita baru berjalan satu menit, loh! Dan kamu capek?! Hihihi."


"Satu menit! Serius? Bagiku ini sudah satu tahun berjalan dan kakimu mati rasa," kata Manda menyandarkan dirinya dengan tangan melenggang di dahinya.


"Itu terlalu berlebihan, Manda" kata Dinda datar.


"Sudah-sudah. Sekarang ceritakan bagaimana kalian bisa terpikir rencana seperti tadi?" tanya HIHIHI menghadap ke belakang melayang mundur.


"Tadi ...." Ujar mereka saling bertukar pandang seraya mengingat-ingat.


...**FLASHBACK **...


"Astaga! itu bukan peluit biasa, tau! Itu peluit khusus yang ber- Aww!" Ibu Albert meringis kesakitan merasakan ada yang menyengatnya di area tangan.


Zratts!


"Bukan peluit biasa, oh! Mungkin ...." Pikir Nadia.


"Hiiii~" Manda ketakutan berlindung di balik Ibu Albert.


"Heh, guys! Sini deh," panggil Nadia lirih.


Mereka yang mendengar dipanggil Nadia pun merapat dan mendengarkan.


"Apa? Ada rencana?" tanya Dina.


Nadia mengangguk pelan.


"Ok. Dina lempar panah kecilmu untuk mengalihkan perhatian. Nanti kau Manda, tiup peluit itu sekencang-kencangnya. nanti Rio, Gamma, Dina kalian ikut aku kesana. Kita pak-" penjelasan Nadia dipotong oleh Manda.


"Tunggu-tunggu. Aku meniup peluitku? Bagaimana dan untuk apa? Apa gunanya?" tanyanya penuh kebingungan.


"Sudah tiup saja, pastikan frekuensinya hanya bisa didengar mereka," kata Nadia.


Manda pun tambah dibuat bingung olehnya. 'Frekuensi? Hanya bisa didengar Mereka?' itulah pertanyaan yang terbesit di pikirannya.


"Nanti kita paksa dia mengatakannya," sambung Nadia.


"Wah! Seperti biasa Nadia, hebat!" kata Dina memuji Nadia.


"Sudah cepat."


"Laksanakan!" kompak mereka.


~Skip~


"Bagus!" senang Nadia.


PRITTT!


"Eugh! Suara apa ini?!" HAHAHA serta HIHIHI menutup kedua telinganya menggunakan tangan mereka sendiri.


"Bagus, ayo cepat-cepat!" gegas Nadia.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Dina bingung.


"Sepertinya kaca ini tipis," Nadia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan belati pemberian Ibu Albert.


DUNG! KRETAK! PRANK!


"Cepat hentikan semua kegilaan ini, surutkan airnya!" tegas Dina melingkarkan erat lengan kirinya di leher HAHAHA.


...FLASHBACK END...


"Saat itu aku berpikir peluit Manda adalah peluit yang sama seperti peluit anjing," jelas Nadia.


"Peluit anjing? Apa itu?" tanya HIHIHI.


"Peluit yang bila ditiup, bunyinya hanya bisa didengar oleh hewan anjing itu sendiri," sahut Rio.


"Ya, tapi aku tidak tahu mekanisme peluit Manda bagaimana," kata Nadia melihat ke arah Ibu Albert.


Semua pun ikut melirik ke arah Ibu Albert untuk mendapat penjelasan.


Sadar telah ditatap, Ibu Albert pun angkat suara, "Nanti aku jelaskan," singkatnya.


"Haah! Selalu deh," kecewa mereka kompak kecuali HIHIHI dan Ibu Albert.


"Ya sudah fokus, kita harus lanjutkan dan selesaikan permainan ini," tegas Ibu Albert.


Tap ... tap ....


"Manda ... Manda ...."


Terdengar suara yang memanggil-manggil nama Manda. Merasa terpanggil iapun menoleh mencari sumber suara.


"Siapa? Siapa itu?" tanyanya celingukan. "Aneh. Ah! Mungkin aku salah dengar," Manda melanjutkan langkahnya.


"Manda ...."


Sekali lagi terdengar seseorang memangggil nama Manda. Karena merasa salah dengar Manda hanya berlalu tanpa menghiraukan suara itu.


Manda merasa terusik, "Apa sih!" ia menoleh. "Hah! Ngga ada siapa-siapa, jangan-jangan temennya Tante Kun lagi, hiii!"


(Kalian tahu kan temannya Tante Kun yang dimaksud, Wkwkwkw).


Manda buru-buru melanjutkan langkahnya, namun terhenti saat netra coklatnya menangkap sekilas sesosok manusia yang tidak asing baginya.


"Manda," ujar pria berkaus hitam, memakai celana panjang, dan bersepatu sneakres hitam putih.


Pria itu tersenyum kepada Manda.


"Hah! K ... k ... kau!" kaget dengan sesosok yang ia lihat. "Fikram!"


"Manda," panggil Fikram lembut.


"Selama ini kau disitu, hah!" Manda membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri. "Fikram kau ... kami mencarimu kemana-mana. Oh! Tunggu aku panggil teman-teman. Mereka pasti juga senang melihatmu disini."


"Manda," panggil Fikram.


"Iya, aku panggil mereka dul-" Matanya membulat ketika mendadak ada sepasang tangan yang muncul dari arah belakang dan membungkam serta menarik Fikram kedalam bayangan.


"Mmmmm!" berontak Fikram menghilang ditelan bayangan.


"FIKRAM!" Manda menjerit histeris. "Teman-teman tolong, tolong Fi ... kram," ucapnya melirih ketika melihat di depannya bukanlah sekerumun kelima manusia teman-temannya, melainkan cermin kaca panjang bertebaran dimana-dimana.


"Astaga! Apa ini? Di mana teman-temanku?" batin Manda menggigit jarinya panik.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"Haduh! Capeknya! Dasar kuda tidak tahu sopan santun, main gigit aja! Duh tangan berhargaku ternodai," gerutunya sedang duduk istirahat di sebuah bangku taman istana.


KRIET ....

__ADS_1


"Hemm!"


Tiba-tiba mata Fikram menangkap adanya pergerakan seseorang masuk ke dalam sebuah bangunan sambil menggendong sesuatu di tangannya. Hal ini sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya waktu itu.


"Dia! Tunggu apa aku bermimpi?" Fikram memastikan dengan mengucek matanya. "Ah, masa sih! Awww!" ia masih saja tidak percaya, untuk memastikan kembali, dia mencubit dirinya sendiri.


"Sakit, artinya aku tidak bermimpi, aku harus kesana," tekadnya.


Fikram pun bangkit dan mengikuti pria misterius itu masuk kedalam bangunan besar, secara diam-diam pastinya.


~Dalam bangunan~


Fikram memerhatikan pria itu dari balik benda besar yang ia sendiri tidak tahu. Pasalnya ruangan itu gelap dan minim penerangan. Sehingga hanya beberapa barang yang terlihat matanya.


"Dengar, Nak. Ayah sengaja mengajakmu kesini. Ayah tahu ingatanmu sangat tajam jadi suatu saat jika Ayah tidak di sisimu dan kau bertemu mereka ... semoga saja tidak," melirih di kalimat terakhir. "mungkin kau akan mengingat ini dan terhindar dari perempuan licik itu," ujarnya pada bayi tersebut.


"Tunggu! Ayah? Perempuan licik?" kaget Fikram lirih.


"Entah kenapa Ibumu menjadi begitu, Nak. Dia, dia berubah," ujar pria itu berubah sendu.


"Oh ya, lupakan itu. Sebelum semuanya terlambat, Ayah ingin memberimu sesuatu," tambahnya merogoh saku celana khas bangsawan Eropanya itu.


Belum selesai menunjukan sesuatu tiba-tiba datang seseorang.


BRAK!


".... Kembalikan anakku!" pekik seorang wanita menyeramkan dengan pakaian serba hitam dan kulit berkeriput.


"Dia lagi, siapa dia sebenarnya?" Fikram bertanya-tanya.


"Anak? Bahkan kau tidak memperlakukannya layaknya seorang anak! Dan sekarang kau menyebutnya 'anakmu'!" marah pria itu.


"Diam! Kemarikan anak itu!" ujar sang wanita langsung melesat ingin merebut bayi dari pria itu.


Dan ....


"Kak!"


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Fikram sehingga ia dibuat terkejut olehnya.


"Hah! Siapa?!"


"Ini aku, Kak" ucap Siera.


"Fiuhh, ternyata kamu Siera" Fikram lega.


"Ngapain, Kakak disini?"


"Oh, tadi Kakak lihat seseorang masuk kesini dan terlihat mencurigakan, jadi Kakak ngikutin dia kesini."


"Seseorang? Siapa?" tanya Siera.


"It-" Fikram hendak menunjuk ke arah dia melihat adegan tadi.


Tetapi saat menoleh, adegan itu sirna, hilang entah kemana.


"Kenapa tidak ada?" bingung Fikram.


"Mana, Kak? Tidak ada siapa-siapa," kata Siera tak percaya.


"* ... * ... * ... tadi ada ... di situ."


"Mungkin Kakak kecapean kali gara-gara latihan tadi, udah-udah yuk! Kakak istirahat ya," Siera menarik tangan Fikram untuk pergi dari situ.


"T ... t ... tadi ... di ... di situ."


"Sudahlah, Kak."


Fikram pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2